Minggu, 01 Desember 2024

dunia kuno 18




 elah memutuskan untuk tidak meminta bantuan Elam dalam menyelamatkan Merodach-baladan, lalu  bergerak 


ke Selatan dan mendekati Babilonia dari Tenggara. Strategi yang cerdik ini 


memiliki efek ganda yaitu memutus hubungan Merodach-baladan dengan 


sekutunya dari Elam dan jika ia mundur ke daerah asalnya keselamatannya 


akan terancam bahaya, karena di atas Teluk tentara-tentara Sargon sebenarnya 


lebih dekat dengan daerah asal Bit-Yakin daripada dengan Babilonia. Ia pun 


tidak dapat pergi ke Utara; kota-kota Utara Babilonia menyambut Sargon 


dengan perasaan lega, membuka gerbang baginya ”dengan kegembiraan yang 


meluap.” 20


Tulisan tahunan Sargon mencatat bahwa Merodach-baladan, saat  secara jelas melihat bahwa pertempurannya akan kalah, bahkan sebelum perang 


dimulai, mempertimbangkan untuk melarikan diri ke Elam dengan rombongan kecil, percaya bahwa kecepatannya dan datangnya kegelapan dapat 


membantunya melewati perkemahan Assiria:


saat  Merodach-baladan ... mendengar tentang kemenangan Assur di 


Babilonia ... ketakutan akan keselamatannya sendiri menjatuhkan dia di 


tengah kerajaannya sendiri. Ia, dengan para pahlawan yang mendukungnya, 


pergi malam-malam menuju ke ... Elam. Untuk meminta bantuan ShutrukNahhunte, orang Elam, ia mengirimkan perabot kerajaannya sebagai hadiah: 


tempat tidur perak, singgasana, meja, kendi pencucian raja, kalungnya sendiri. 


Bangsat dari Elam menerima sogokan tetapi ia ketakutan akan kekuatanku; 


maka ia menghalangi jalan Merodach-baladan dan melarangnya untuk pergi 


ke Elam.21


Shutruk-Nahhunte mungkin memang bangsat, tetapi ia berhasil memanfaatkan pertemuan itu, yang berakhir dengan pemberian harta karun 


Merodach-baladan dan masih bisa menghindari hukuman raja Assiria.


sesudah  dirampas selagi menjadi pelarian, Merodach-baladan harus memutar balik dan mengambil arah berbahaya ke Bit-Yakin. Di sini ia menderita 


persis seperti yang ia takutkan : ia dikepung dalam kota kelahirannya sendiri. 


Ia berjuang sekuat tenaga untuk melawan; catatan Sargon mengatakan bahwa 


ia ”meninggikan” tembok-temboknya, memperkuatnya, dan ”menggali 


selokan ... dan membanjiri sekitar kota dengan ombak lautan yang besar.”22


Akan tetapi parit keliling yang ditutup tiang darurat tidak mampu lama 


melindungi kota. Pasukan Assiria mencebur melewatinya dan merusak 


pertahanan. ”Aku bakar dengan api,” Sargon menyombong, ”dan bahkan 


pondasinya pun terkoyak keluar.”23


Sargon II sendiri lalu  memainkan kartu Napoleon, mengadakan 


pesta untuk menghormati Marduk dan ”menggandeng tangan” dewa tersebut 


sebagai raja Babilonia yang sebenarnya. Ia memulihkan kembali kota sampai 


ke akarnya, demikian ia menyatakan; ia yaitu  pemenang yang membebaskan 


rakyat dari penjajah Khaldea yang tidak tahu apa-apa tentang warisan bersama 


dari dua kota besar. Orang-orang Babilonia, yang mungkin telah kehilangan 


penglihatan mengenai siapa tepatnya yang sebenarnya memulihkan warisan 


pada saat itu, tunduk menyerah.


Pada bagian ini, perilaku Sargon terhadap ketua pahlawan Khaldea 


sangat menonjol dibandingkan dengan sikapnya terhadap Israel. Alih-alih 


menghukum Merodach-baladan, Sargon II menerima penyerahan dirinya 


dan (dengan tidak bijaksana) membiarkannya tetap menjadi ketua suku BitYakin yang terjajah. Kelihatannya Sargon II tidak sepenuhnya yakin bahwa 


bangsa Khaldea tidak semudah bangsa Israel untuk dikalahkan, dan lebih 


suka membiarkan kendalinya yang jauh di Selatan tanpa teruji.


Tanpa mengindahkan keberadaan daerah Selatan yang masih menunggu, Sargon saat itu merayakan kemenangan yang sempurna terhadap musuhmusuhnya. Relief-relief di istana barunya di Kota Sargon menunjukkan 


kebesarannya; sosoknya yang begitu besar bahkan mendorong gambar-gambar 


dewa-dewa mundur menjadi latar belakang. Ia yaitu  Sargon yang kedua, 


pendiri kerajaan yang kedua, raja dari Assiria kedua dengan perbatasanperbatasan baru, ibu kota yang baru, dan kekuatan baru yang menakutkan.


G A R I S WA K T U 5 1


 ASSIRIA DAN MESIR, ISRAEL, AND YUDA


 DAERAH SEKITARNYA


 Ashurnasirpal II (911-859) 


 Osorkon II (870-850)


 Shalmaneser III (858-824) 


 Shamshi-Adad V (823-812) 


 Sammu-amat 


 Adad-nirari III Dinasti 23 and 24


 Argishti (Urartu)


 Shalmaneser IV (782-770) 


 Ashur-Dan III (771-754) 


 Nabonassar Ashur-nirari V Dinasti 25, (Nubia)


 (Babylon) (753-746) Piankhi (747-716)


 Sarduri I Tiglath-Pileser III 


 (Urartu) 


 


 Midas (Frigia)


 (Yuda) (Israel)


 Merodach-baladan Shalmaneser V Ahaz


 (Babylon) Sargon II Hoshea


 (721-704) 


 Hizkia


 Kejatuhan Israel





    dari Babilonia, Sargon II meninggal 


dan menyerahkan kerajaannya pada anak laki-lakinya yang justru membencinya. Tidak ada dalam tulisan satu pun atau catatan tahunannya yang 


menyatakan bahwa Sannakherib mengakui keberadaan ayahnya.


Nampaknya Sargon lebih bersikap diam dalam hal menyebarkan pendapatnya ke luar negerinya tentang anaknya. saat  Sankherib naik tahta, 


provinsi-provinsi—yang yakin bahwa pangeran yang dinobatkan itu tidak 


bergigi dan belum matang—merayakan kebebasan mereka dari aturan-aturan 


Assiria. Kota-kota tua Palestina di Barat mulai merencanakan pemberontakan; 


dan di bawah—di bagian atas Teluk, Merodach-baladan mulai membuat persiapan kemerdekaan.


Tidak semuanya setuju bahwa Sankherib yaitu  raja yang lemah. Seorang 


bijaksana dari Yerusalem menasihati rajanya untuk tidak bergabung dengan 


pemberontakan, suatu gerakan yang berada jauh di Selatan. ”Cambuk yang 


memukul mereka mungkin saja hancur,” demikian seorang nabi Ibrani mengingatkan, ”tetapi orang-orang Palestina hendaknya tidak bergembira; si ular 


telah beranak naga”.1


Orang-orang Babilonia bahkan kurang berhati-hati. Sankherib tidak 


pernah peduli untuk mengikuti ritual ”memegang tangan Marduk”, dalam 


upacara penyerahan diri yang resmi pada dewa tersebut; ia cukup mengumumkan dirinya sebagai raja Babilonia tanpa upacara, dan hal ini merupakan 


penghinaan terhadap Babilonia dan dewa-dewa utama mereka.2


 Segera sesudah  upacara-upacara pentahtaan Sankherib berakhir, anak laki-laki seorang 


petinggi Babilonia menyatakan dirinya sebagai raja Babilonia.


Ia berada di atas tahta dalam tempo satu bulan penuh. Merodach-Baladan 


yang tua datang berjalan pincang dari rawa-rawa di Selatan, dengan sanaksaudaranya di belakang dia, dan menurunkan raja yang baru (dengan bantuan delapan puluh ribu pemanah dan tentara berkuda, dikirim oleh raja Elam 


sebagai bantuan, yang selalu siap untuk menyengsarakan orang Assiria).3


Sekali lagi, Merodach-baladan mengumumkan bahwa ia mengaku sebagai pemulih tradisi kuno Babilonia yang sebenarnya: ”Tuan yang besar, 


dewa Marduk,” demikian terbaca di salah satu catatannya, “... melihat dengan belas kasih pada Marduk-apla-iddina II,** raja Babilonia, pangeran yang 


menghormatinya ... Raja dari para dewa berkata, ‘Ini jelas gembala yang akan 


mengumpulkan orang-orangnya yang tercerai-berai.’”4


Sankherib, yang marah, mengirim kepala jenderalnya dan satu detasemen 


tentara ke sana untuk memulihkan peraturan di Babilonia. Merodach-baladan membuat perencanaan yang tergesa-gesa dengan suku-suku Khaldea yang 


lain, orang-orang Aramea di Barat, serta orang-orang Elames di Timur. Ia 


bergerak keluar di hadapan kekuatan gabungan ini untuk menemui orangorang Assiria di Kish, dan membawa mereka kembali.


Itu yaitu  perbuatan sia-sia yang terakhir. Sankherib sendiri datang men-

yapu bagaikan kemarahan Assur dan menerobos garis depan yang terpadu, 


dan nyaris tidak berhenti. Merodach-Baladan lari dari medan perang dan 


merangkak ke dalam rawa Tanah Laut, yang ia kenal dengan baik, untuk 


bersembunyi; Sankherib menempuh sisa dari perjalanan ke Babilonia, yang 


dengan bijaksana membuka gerbangnya sesudah  mereka melihat raja Assiria di 


hadapan mereka. Sankherib melewati gerbang yang terbuka, namun ia memilih untuk mengirimkan pesan pada orang-orang Babilonia: ia merampok 


kota, mengambil hampir seperempat dari jutaan tawanan, dan membinasakan 


ladang-ladang dan belukar siapa saja yang telah bergabung dalam persekutuan 


melawannya.


Ia sendiri juga menghabiskan hampir satu minggu memburu MerodachBaladan ke seluruh rawa, tetapi rubah yang tua itu telah masuk ke dalam dan 


tidak bisa ditemukan.


E, K  P, tanpa mengindahkan nasib dari orangorang Babilonia, kini memutuskan untuk meningkatkan pemberontakan 


secara penuh, dan mengikat raja mereka yang setia pada Assiria dengan rantai. Kota Sidon dan Tyrus di Finisia juga telah memberontak; Hizkia raja 


Yuda masih duduk ragu-ragu di tengah-tengah, sambil mempertimbangkan 


peringatan Yesaya.


Sankherib siap-siap untuk meninggalkan Babilonia dan bergerak menuju 


pemberontakan tersebut. Ia menunjuk seorang raja-boneka untuk memerintah Babilonia untuknya; penguasa yang baru ini, Bel-ibni, dibesarkan di 


kerajaan Assiria. “Ia tumbuh dewasa bagaikan anak anjing di rumahku sendiri,” Sankherib mengamati dalam salah satu dari surat-suratnya, suatu kiasan 


yang menyiratkan kesetiaan, atau mungkin pemerintahan yang galak dan 


cakap.5


Pasukan Assiria lalu  pindah ke arah Barat yang menyusahkan. 


Catatan tahunan Sankherib menceritakan bahwa ia menaklukkan dan merampas dalam perjalanannya melalui daerah-daerah Semit Barat sehingga 


kota-kota itu bergegas untuk menyerah padanya. Namun demikian, waktu 


yang ditempuhnya untuk mencapai daerah-daerah pemberontak menandakan 


bahwa daerah perbatasan di Barat ternyata lebih sulit untuk ditempuh daripada yang sebelumnya diperkirakan..

Dan lalu , tiba-tiba, suatu ancaman tak diduga nampak di hadapannya. “Sankherib menerima pesan,” 2 Raja-Raja 19:9 menyebutkan, “bahwa 


Tirhakah, Kushite raja Mesir, sedang bergerak keluar untuk melawannya.”


Sebenarnya, Tirhakah belum menjadi pharaoh yang sebenarnya. Ia yaitu  


putra kecil dari pharaoh Piankhe, yang telah meninggal sekitar lima belas tahun 


sebelumnya. Kakak laki-laki Piankhe, Shabaka, saat itu telah menggantikan 


tahtanya, walau kenyataannya Piankhe memiliki dua putra yang masih hidup; 


Di Nubia, proses penggantian raja yang lazim yaitu  dengan mengadakan 


pertarungan antara saudara laki-laki yang memperebutkan tahta.6


 sesudah  


kematian Shabaka, kakak laki-laki Tirhakah menerima warisan; Tirhakah 


melayaninya sebagai panglimanya, dan juga ahli warisnya.


saat  Tirhakah dan pasukan Mesir terlihat dari jauh, Hizkia kelihatannya telah memutuskan untuk mempertaruhkan kekuatannya pada pasukan 


anti-Assiria. Merodach-Baladan telah bersikap ramah terhadapnya melalui pesan-pesan dari persembunyiannya selama beberapa saat. saat  Hizkia 


jatuh sakit dengan bisul-bisul, Merodach-Baladan bahkan “mengirimkan 


Hizkia surat-surat dan hadiah, karena ia telah mendengar tentang sakitnya 


Hizkia.”7


Hizkia, yang sangat memahami motivasi dibalik ucapan lekas sembuh 


ini, menerima hadiahnya dan menawarkan untuk mengajak para duta besar 


Khaldea berkeliling: “Tidak ada satu pun barang di dalam istananya,” 2 Raja 


Raja menulis, “yang tidak ditunjukkan Hizkia kepada mereka.” Termasuk 


persenjataan; Hizkia mengatakan pada mereka berapa peperangan yang dapat 


ia lakukan. 


Yesaya, nabi istana terkejut. “Apa yang telah kau tunjukkan pada mereka?” 


tanya dia pada raja. saat  Hizkia menjawab, “Aku menunjukkan mereka segalanya,” Yesaya meramalkan kiamat: “Segala sesuatu di istanamu,” ia berkata, 


“dan semua yang bapa-bapamu telah menimbun, dan keturunan-keturunanmu sendiri, akan dirampas.”


Hizkia tidak risau. “Ini bagus,” ia berkata kepada Yesaya, dan penulis dari 


Kino menambahkan,” Ia pikir, ‘Akan ada sekurang-kurangnya perdamaian 


dalam hidupku.’ “Didukung oleh harapan yang sempit, Hizkia menyetujui, sebagai isyarat anti-Assirianya yang pertama, untuk mengambil tanggung jawab 


raja Ekron yang sedang ditahan. Para pemimpin pemberontakan Ekron takut 


kalau-kalau kehadiran raja yang terus-menerus di sel tahanan Ekron mungkin mendorong kekuatan pro-Assiria yang lain di kota untuk meningkatkan 


perebutan kekuasaan; reputasi Assiria yang menakutkan menyiratkan bahwa 


selalu ada suatu suara keras yang berlawanan di dalam setiap alur cerita, ini 


membuktikan bahwa akan lebih baik jika tidak mendatangkan kehancuran 


terhadap kepala mereka sendiri.

Raja Ekron dikawal ke Yerusalem dan diletakkan dalam pengawalan. 


saat  ia mendengar tentang tantangan ini, Sankherib—yang berada di kota 


Lachish, mengarahkan pengepungan—mengirim utusan ke Hizkia. Mereka 


bukanlah sembarang duta besar, tetapi jenderal pribadi Sankherib sendiri, 


pejabat kepala, dan panglima perang; dan mereka tiba di pusat suatu angkatan 


perang yang besar. Tiga pejabat dari istana Hizkia muncul untuk menemui 


mereka.


Kelihatannya Sankherib telah menginstruksikan mereka untuk mencoba 


semacam perang psikologis sebelum meluncurkan serangan. Para punggawa 


Assiria berdiri di atas rumput di depan tembok Yerusalem, yang menyebabkan separuh dari penduduk kota memanjatnya untuk menyaksikan apa yang 


sedang terjadi, dan mengumumkan (secara lantang dalam bahasa Ibrani), 


“Katakan pada Hizkia bahwa raja Assiria mengirimkan pesan untuknya. Anda 


tak memiliki seorang pun untuk bergantung; tanpa strategi, dan tanpa kekuatan pada dirimu sendiri. Anda mungkin saja bergantung pada Mesir untuk 


kereta-kereta dan penunggang kudanya, tetapi Mesir sendiri seperti sebuah 


rotan terbelah yang Ajda akan pakai sebagai tongkat. Rotan itu akan menembus tangan Anda jika Anda bersandar padanya.”8


Untuk hal itu, tiga perwakilan Hizkia memohon komandan untuk tidak 


memakai bahasa Ibrani, tetapi dalam bahasa Aramis, bahasa orang-orang 


Aramis, yang dimengerti oleh mereka (sebagaimana kebanyakan orang Assiria 


yang telah lama melayani di daerah di luar kerajaannya). “Jangan berbicara kepada kami jika terdengar oleh orang-orang di luar tembok,” mereka 


memohon. Namun komandan Assiria menolak dengan terang-terangan dan 


kata-kata kasar:


 ”Pesan ini juga buat mereka. Seperti Anda, mereka harus memakan kotoran mereka sendiri dan meminum air seni mereka.”


Orang-orang di luar tembok, yang telah lebih dulu diperingatkan oleh 


rajanya untuk tidak menanggapi ancaman mereka, tidak membuka mulut. 


Tetapi peringatan tersebut, yang tersebar ke seluruh penduduk Yerusalem 


dengan tombak-tombak Assiria yang berdiri tegak dan mengancam secara 


berlebihan, meluluhkan Hizkia. Ia ”menyewakan pakaiannya” dan (dengan 


kurang puitis) mengirimkan kepada Sankherib, di Lachish, sebelas ton perak 


dan hampir satu ton emas sebagai sogokan. Ia juga melepaskan rantai raja 


Ekron dan membiarkannya pergi; kemungkinan orang sial tersebut lari ke 


perkemahan Assiria dan menghadapi beberapa pertanyaan yang sulit tentang 


bagaimana ia membiarkan para bangsawan Ekron menguasainya.

Pada saat itu, kejadian tersebut mengangkat situasi yang kritis. Sankherib 


belum mengampuni Hizkia, namun ia mesti menghadapi orang-orang Mesir. 


Kedua pasukan bertemu di Eitekeh; rincian dari pertempuran tersebut 


belum diketahui, tetapi meskipun pasukan Mesir akhirnya berbalik pulang, 


Sankherib tidak mengejar mereka, sehingga mungkin ini menjadi pertanda 


bahwa kemenangan yang didapatkan tersebut cukup berat.


Namun demikian, kini ia dapat menaruh perhatiannya pada kota-kota 


yang memberontak di Barat tanpa adanya gangguan. Ia mengepung Ekron, 


yang akhirnya tumbang; dam lalu  ia menuju ke Yerusalem.


Sebagai kelanjutannya yaitu  pengepungan yang berakhir secara tiba-tiba, 


karena sebab yang tidak jelas, tanpa kemenangan Assiria. Sankherib berusaha 


sebaik-baiknya untuk meraih kemenangannya, dengan rincian yang dapat 


dikonfirmasikan bahwa raja-raja Assiria biasanya menghambur-hamburkan 


hanya pada operasi-operasi militer yang kurang sukses.9


 ”Sementara Hizkia si 


Yahudi,” demikian bualan dalam catatan tahunannya, ”Aku ratakan kota-kota 


di sekelilingnya dengan penggempur benteng dan mesin-mesin penghancur, 


aku berikan mereka pada raja Ekron; aku ambil alih dua ratus ribu dari orangorangnya dan binatang-binatangnya tanpa hitungan. Ia sendiri, seperti burung 


dalam sangkar, aku kurung dia di Yerusalem, di kota kerajaannya. Aku dirikan 


tembok tanah mengelilinginya dan membuatnya menjadi sengsara. Dan kemegahan dari kebesaranku yang menakutkan mengalahkannya.”10


Tentu, itu tidak sepenuhnya benar. saat  Sankherib bergerak kembali 


ke Assiria, pengepungan telah dicabut, tembok Yerusalem masih berdiri, dan 


kota masih tetap merdeka.


Menurut 2 Raja-Raja, malaikat dari Tuhan memukul 185.000 orangorang Sankherib dan mati di tengah malam: ”saat  penduduk bangun pagi 


berikutnya,” penulis mengatakan pada kita, ”ada tubuh-tubuh manusia yang 


mati. Maka Sankherib, raja Assiria, keluar dari perkemahan dan menarik diri. 


Ia kembali ke Nineweh dan tinggal di sana.” Herodotus menyampaikan versi 


kejadian yang sedikit berbeda, di mana ia mengatakan bahwa ia mendengar 


dari imam-imam Mesir: Sankherib memutuskan untuk menyerah dan pulang 


karena perkemahan Assiria diserang tikus, yang ”menggerogoti tempat anak 


panah dan busur dan pegangan dari perisai.”11


Tuan rumah Sankherib sedang menderita karena serangan binatang 


pengerat, dan mati dalam kemah mereka. Gabungan informasi ini menjelaskan bahwa hama telah datang menyerang di luar benteng Yerusalem, dan 


raja Assiria mundur di hadapan kematian yang semakin meningkat.


Di tempat tinggalnya, Sankherib menetapkan kota Nineweh sebagai ibu 


kotanya - sebutan yang dipertahankan oleh kota tersebut selama sisa sejarah Assiria - dan ia membangun istana baru di dalamnya, menghias dinding

mereka dengan relief luar biasa tentang peperangan yang ia menangkan dan 


tentang kota-kota yang ia kepung. Kota Yerusalem tidak terlihat dalam relief 


tersebut.


Satu tahun lalu , Babilonia muncul kembali dalam penglihatannya. 


Orang-orang Khaldea segera menyadari bahwa si penguasa-boneka Bel-Ibni 


bukanlah Sankherib, dan ia lari ke Selatan sesuka hatinya. sesudah  satu atau 


dua pejabat Assiria datang untuk memeriksa keadaan, Sankherib sendiri datang untuk meluruskan segalanya.


Ia memergoki sesuatu yang membuatnya frustrasi, yaitu bahwa MerodachBaladan sekali lagi sibuk untuk mencoba menyusun kekuatan penyerangan 


guna merebut tahta kembali. Saat kedatangan Sankherib, Merodach-Baladan 


lari menuju Tanah Laut. Tetapi kali ini, pasukan Assiria menyebar menyusuri 


rawa, mencari orang tua tersebut. Karena tempat persembunyiannya hampir ditemukan, Merodach-Baladan mengumpulkan sekutu-sekutunya dan 


mencebur ke air, berlayar ke Elam. Hal ini tidak memberikan kepuasan bagi 


Sankherib dalam hal pemenggalan kepala Merodach-Baladan, tetapi setidaknya ia telah mengusir orang tersebut sehingga untuk sementara waktu lenyap 


dari pandangannya: “ Ia lari sendirian ke Tanah Laut,” Catatan Sankherib 


menceritakan pada kita, “dengan tulang-belulang dari para ayahnya yang 


hidup sebelum dia, yang ia kumpulkan dari peti mayat mereka, dan dengan 


orang-orangnya, ia memenuhi kapal-kapal dan menyeberang ke sisi lain dari 


Laut-Pahit [Teluk Persia].”12


Sankherib memerintah Bel-Ibni untuk kembali ke Babilonia dan menunjuk putra tertuanya Ashur-Nadin-Shumi, yang dicintainya, untuk memerintah 


Babilonia sebagai gantinya. lalu  ia memulai membuat persiapan untuk 


pergi ke seberang laut ke Elam, demi duri dalam dagingnya. Ia mengupah para 


pembuat kapal dari Finisia untuk membuatkannya satu armada kapal, dan 


melengkapi kapalnya dengan tentara pelaut sewaan dari Sidon dan Tyrus dan 


dari pulau Siprus. lalu  ia harus menaikinya sepanjang sungai Tigris dari 


Assur masuk ke dalam Teluk. Tetapi, dengan berhati-hati terhadap kekuatan 


Elame di pinggiran sungai Tigris, ia mengapungkan kapal-kapalnya menuju 


ke Tigris sampai mereka rata dengan dengan saluran Arahtu, yang mengalir 


hingga sungai Eufrat. Ia lalu  memerintahkan agar kapal diangkat ke 


daratan dan menggiring alat penggulung ke saluran, di mana penggulung tadi 


diluncurkan ke arah cekungan Teluk Persia melalui sungai Eufrat. (Sankherib 


sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di daratan selama waktu itu).13


Perjalanan menyeberang ke Elam berhasil. Demikian juga operasi militernya; kapal-kapal Assiria mencaplok setiap kota tempat mereka singgah. 


Tetapi saat  Sankherib tiba di kota tempat perlindungan Merodach-Baladan, sesudah  pengerahan tenaga manusia dan uang yang besar jumlahnya, ia mengetahui bahwa Merodach-Baladan telah meninggal, karena usia tua; tepat 


sebelum kedatangannya.


S pulang ke Nineweh dalam keadaan yang memusingkan 


antara kemenangan dan kekesalan. Tetapi ia telah meletakkan dasar untuk 


kehancuran. Orang-orang Elam kini tahu di mana pangeran mahkota Assiria 


ditempatkan, dan mereka merencanakan balas dendam bagi kota-kota yang 


telah diserang Sankherib, dan keluarga-keluarga tak bersenjata yang telah ia 


bunuh.


Rencana itu memakan waktu yang lama untuk disusun; agen-agen Elam 


harus dipasang di Babilonia. Tetapi enam tahun lalu , saat  AshurNadin-Shumi berada sedikit di sebelah Utara dari kota, satu pasukan Elam di 


bawah Raja Kahllushu yang bersemangat menyerang ke seberang perbatasan 


dan menangkapnya. Mereka menahannya sebelum ke Elam dan, sebelum 


Sankherib bisa datang dalam amukannya yang mengganas ke Babilonia, dan 


mengukuhkan seorang penuntut Babilonia untuk naik tahta.


Hal ini menghasilkan peperangan yang meledak antara Assiria, Babilonia, 


dan Elam. Perkelahian berlangsung selama empat tahun. Sankherib menyerbu 


Elam dua kali; raja Elam sendiri datang untuk memimpin serangan balasan di 


atas tebing sungai Tigris.


Laporan Sankherib yang menggambarkan pertempuran itu yaitu  satusatunya uraian yang penuh kekerasan tentang peperangan Assiria yang pernah 


dilakukan:


 Dengan debu dari kaki mereka yang menutup langit bagaikan angin topan 


yang dahsyat ... mereka siap dalam rangkaian pertempuran di depanku 


... di atas tepi sungai Tigris. Mereka menghalangi jalan lintasanku dan 


menantang perang .... Aku mengenakan mantel bajaku. Helmku, lencana 


kemenangan, aku tempatkan di atas kepalaku. Kereta perang megahku yang 


mampu menundukkan lawanku, cepat-cepat aku naiki dalam kemarahan 


hatiku. Busur yang perkasa telah diberikan Assur padaku kusambar dalam 


tanganku; lembing, yang menembus kehidupan, aku tangkap.... aku 


menghentikan langkah maju mereka, dan berhasil mengepung mereka. 


Aku membantai tuan rumah musuhku dengan tombak dan panah. Semua 


tubuh mereka aku tusuk hingga tembus .... aku potong leher mereka, aku 


potong milik berharga mereka seperti orang memotong tali. Bagaikan 


luapan air dari hujan badai aku jadikan isi kerongkongan dan perut mereka 


tumpah di atas bumi yang luas. Kuda-kudaku yang berjingkrak-jingkrak,

kumanfaatkan untuk kunaiki, terjun ke dalam arus darah mereka seperti 


ke dalam sungai. Roda kereta perangku, yang merendahkan si penjahat 


dan pendosa, dikotori oleh kotoran dan darah. Dengan tubuh dari para 


prajurit mereka aku isi dataran, seperti rumput. Buah pelir mereka aku 


potong, dan aku robek keluar dari kemaluan mereka seperti biji ketimun 


bulan Juni.’14


Riwayat Babilonia hanya mencatat, dengan singkat, bahwa Assiria kalah.


Sankherib kembali ke Nineweh, meninggalkan Babilonia dalam tangan 


raja dari Khaldea dan sekutu-sekutunya dari Elam. Pasukan Sankherib telah 


berkelahi dengan semua perbatasan dari kerajaannya, tetapi jumlah orang yang 


dapat ia kirim untuk menangani masalah Babilonia hanya terbatas, begitulah 


terjadi berulang-ulang. Sesuatu perlu diseimbangkan sebelum Sankherib bisa 


menguasai kembali Babilonia.


Perubahan terjadi di tahun berikutnya. Berita mulai merembet keluar dari 


Elam bahwa raja yang memimpin pasukannya ke Babilonia telah diserang 


oleh penyakit; ia tidak lagi dapat bicara atau memberi komando. Mungkin ia 


kena serangan jantung.


Sankherib mengambil kesempatan dari ketidakhadiran orang Elam 


untuk mencoba sekali lagi. Kali ini ia berhasil, dan gerbang Babilonia roboh. 


Sankherib menangkap si penipu dari Khaldea dan mengirimnya dengan 


terikat rantai kembali ke Nineweh. Dan ia memerintahkan agar kota yang 


mengganggu itu diruntuhkan:


 Aku binasakan, aku hancurkan, aku bakar dengan api. Dinding dan 


dinding luar, kuil-kuil dan dewa-dewa, menara-menara kuil dari batu bata 


dan bumi, sebanyak yang ada, aku runtuhkan dan buang ke dalam selokan 


Arahtu. Melalui tengah-tengah kota aku gali saluran-saluran, aku genangi 


tempat tersebut dengan air .... Bahwa di masa yang akan datang, lokasi 


kota tersebut, serta kuil-kuil dan dewa-dewanya, tidak mungkin diingat, 


aku sama sekali menghapuskannya dengan banjir air dan menjadikannya 


seperti padang rumput.... Aku menyingkirkan debu Babilonia sebagai 


hadiah yang dikirimkan kepada orang-orang yang jauh dan di dalam Kuil 


Pesta Tahun Baru, aku menyimpan (beberapa) darinya dalam sebuah tong 


tertutup.15


Mengubah Babilonia menjadi suatu danau—menutup tanah yang telah 


dihuni dengan air, mengembalikan kota dewa Marduk menjadi kacau seperti 


aslinya—yaitu  suatu penghinaan kepada dewa tersebut. Sankherib menuntaskan semua ini dengan memerintahkan agar patung Marduk diseret pulang

ke Assiria. Debunya yang berterbangan menjadi peringatan yang menyeramkan bagi para dewa dari bangsa-bangsa yang lain.


Masalah Babilonia akhirnya dipecahkan. Namun tidak ada lagi terdengar 


tentang pangeran mahkota Ashur-Nadin-Shumi. Orang-orang Elam tidak 


membuat permintaan tebusan; kemungkinan besar mereka lebih senang 


untuk menyiksanya sampai mati sebagai ungkapan kebencian belaka terhadap 


Assiria. Pencarian yang ganas akan orang Khaldea yang telah berani menantang raja telah mengakibatkan kematian bagi putra tertuanya.


Sankherib tidak beruntung di antara anak-anaknya yang tersisa. Tujuh 


tahun lalu , di tahun 681 SM, ia dibunuh oleh dua dari putra-putranya 


yang lebih muda selagi mempersembahkan kurban bagi dewa Nabu, dewa 


kata-kata tertulis yang tertinggi, dalam kuil dewa di Nineweh.16


Meninggallah raja Assiria dan Babilonia, penguasa kerajaan Assiria dengan 


segala kemegahan dan kejayaannya. Tetapi, walaupun banyak peperangan ia 


menangkan, kerajaan ia perkuat, kota-kota ia hancurkan, tawanan ia tangkap, 


dan harta benda ia rebut, Sankherib lebih dikenal dalam peninggalan-peninggalan purbakala karena kegagalannya menguasai Yerusalem . Itu semua berkat 


Lord Byron, dan kekalahan yang satu ini pula—bukan kesuksesan yang berlimpah dalam karier kemiliterannya—yang paling diingat oleh kebanyakan 


mahasiswa berbahasa Inggris.


Orang Assiria datang bagai serigala di antara sekawanan domba,


Dan pasukannya bersinar dalam warna ungu dan emas;


Dan kemilau dari tombak mereka seperti bintang-bintang di lautan,


 Tatkala gelombang biru menggulung malam hari di kedalaman 


Galilea ....


Karena Malaikat Kematian membentangkan sayapnya dengan tiupan,


Dan bernapas di wajah musuhnya saat  berlalu;


Dan mata-mata orang yang tidur dilak rapat dan dingin,


Dan hanya sesekali jantung mereka berdenyut, dan selanjutnya diam!


Dan para janda Ashur kuat dalam ratapan,


Dan berhala-berhala pecah di kuil Baal;


Dan kekuatan dari orang Kafir, tanpa ditebas pedang,


Telah meleleh bagai salju dalam tatapan Tuhan

G A R I S WA K T U 5 2


ASSIRIA DAN


DAERAH-DAERAH SEKITARNyA


MESIR, ISRAEL, DAN yUDA


Shamshi Adad V (823-812)


Sammu-amat


Adad-nirari III Dinasti 23 dan 24


Argishti (Uraru)


Shalmanaser IV (782-770)


Ashur-Dan III (771-754)


Nabonassar Ashur-nirari V


(Babilon) (753-746)


Sarduri I Tiglath-Pileser III 


(Urartu)


Dinasi 25 (Nubian)


Piankhi (747-716)


Midas (Frigia)


Merodach-baladan Shalmaneser V


(Babilonia) Sargon II 


 (721-704)


 (Judah) (Israel) 


 Ahaz Hoshera


 Hizkia


 


Sankherib Shabaka Kejatuhan Israel 


 Tirhakah (690-664)






P ,     , telah lari ke Timur dan menetap 


di Loyang. Di sini ia menemukan dirinya di suatu kota yang sebenarnya 


yaitu  kota kembar. Duke Zhou, yang telah mendirikan kota itu tiga ratus 


tahun sebelumnya, telah membangun istana-istana dan kuil-kuil Loyang di 


sisi Barat; tempat pengasingan Shang yang telah dipindahkan ke sana untuk 


menjauhkannya dari pusat kerajaan Zhou kebanyakan menetap di luar kota 


di sebelah Timur.1


Di dalam kompleks kerajaan di Barat, P’Ing mempertimbangkan masalahmasalah yang ia hadapi sekarang. Perbatasan Barat telah remuk, dan secara 


terus menerus dilanggar oleh penyerbu. Di dalam, para bangsawan yang 


penuh ambisi bersiap untuk memerintah beberapa—atau semua—kerajaannya untuknya.


Ia telah mengatasi ancaman dari Barat dengan memberikan wilayah 


kerajaan tuanya kepada orang Ch’in; walaupun kelihatannya seperti suatu 


kekalahan, tetapi tindakan itu yaitu  melempar tanggung jawab secara 


halus dalam menghadapi orang-orang barbar ke atas pundak Duke Ch’In 


dan pasukannya. Sekarang ia menghadapi gangguan dalam negeri dengan 


cara mengabaikannya. Catatan-catatan sejarah hanya berisi garis besar dari 


sekitar permulaan abad pertama sesudah  pergeseran dari pemerintahan Zhou 


Barat ke Zhou Timur,** tetapi menurut jejak-jejak yang dapat diselamatkan, kita melihat para bangsawan mengelilingi satu sama lain, berebut posisi, dan 


mengawasi raja dengan sangat hati-hati. Sementara itu, pada lima puluh tahun 


pemerintahannya, P’Ing nyaris tidak melakukan apa pun untuk turut campur 


tangan dalam perselisihan antara para bangsawan. Upaya untuk menghindari 


perang ini menghasilkan julukan “P’Ing Yang Damai.”


Nyaris sesaat  itu juga, raja-raja kuat mulai melemparkan jaring kewaspadaan terhadap kerajaan-kerajaan di dekatnya. “Sepanjang pemerintahan 


Raja P’ing,” Sima Qian menulis, “di antara raja-raja feodal, yang kuat mencaplok yang lemah. Qi, Chu, Ch’In, dan Jin muncul sebagai penguasa-penguasa 


utama, dan kebijakan nasional dibuat oleh penguasa-penguasa lokal.”2


 Lima 


ratus tahun sebelumnya, China telah menjadi rumah bagi 1,763 wilayah terpisah. Sekarang negara-negara bagian bergerak bersama-sama seperti tetesan 


air di atas suatu permukaan yang halus, yang akhirnya tergabung ke dalam 


sedikitnya dua belas pusat kekuasaan utama: Qi, Chu, Ch’In, dan Jin, seperti 


dicatat oleh Sima Qian; bersama itu yaitu  tujuh negara bagian Yen, Lu, Wey, 


Wu, Yueh, Sung, dan Cheng; dan akhirnya negara Zhou terpusat di sekitar 


Loyang. Di sekitar negara-negara itu mungkin ada seratus enam puluh bidang

daerah yang lebih kecil, masing-masing menyombongkan kotanya yang berbenteng dan panglimanya yang pejuang.*3


Mahkota berpindah dari P’Ing kep cucu laki-lakinya (ia hidup lebih lama 


daripada putranya selama pemerintahannya yang panjang dan damai). Selama 


lima puluh tahun-tahun ganjil saat  P’Ing berada di atas tahta, tak seorang 


pun mencoba untuk mengambil alih kekuasaan; tetapi kini mulai jelas bahwa 


para bangsawan di sekeliling negara Zhou bahkan tidak tahan lagi mengikuti 


upacara kenaikan tahta kerajaan.


Kemarahan pertama datang dari pemimpin negara Cheng yang agak kecil, 


di sisi Timur dari Zhou. “Duke Chuang dari Cheng datang ke istana,” Sima 


Qian menulis, “dan Raja Huan tidak memperlakukannya menurut normanorma yang ada.” 


Cheng seharusnya setia kepada Zhou; negara-negara Cheng dan Jin, yang 


sekarang mengepung wilayah Zhou dari tiga sisi, memiliki  akar keturunan yang sama dengan penguasa-penguasa Zhou.4


 Tetapi, khususnya negara 


Cheng agak berduri. “Norma” kelihatannya melibatkan suatu pengakuan 


akan kekuasaan Duke, dan Raja Huan telah lalai untuk menunjukkan rasa 


hormat yang pantas didapatkan oleh keluarga jauhnya.


Duke Chuang menanggapinya dengan merampas salah satu dari tempat 


kediaman raja untuk digunakannya sendiri; tempat itu terletak di wilayah Hsil, 


negara yang kecil dan tidak mengancam di sebelah Selatan dari kedua pusat 


kekuasaan Cheng dan Zhou. Tetapi itu yaitu  istana tempat raja melakukan 


pemujaan, yang berarti bahwa perampasan oleh Duke Cheng yaitu  tuntutan 


kekuasaan atas Hsu, dan atas rumah ibadat raja: perannya dalam upacaraupacara resmi yang merupakan salah satu dari beberapa kekuatan yang masih 


tersisa baginya.


Raja Huan memerlukan delapan tahun penuh untuk menghancurkan 


dirinya sendiri dengan melakukan pembalasan dendam—atau menyusun 


pasukannya untuk siap bertempur. “Pada tahun yang ketiga belas,” lanjut 


Sima Qian, “raja menyerang Cheng.”5


Serangan tersebut menjadi bencana. Raja Huan sendiri terluka oleh sebuah panah dalam perkelahian dan terpaksa mundur, meninggalkan Cheng 


bebas tanpa hukuman dan Hsu masih di tangan musuhnya. Tetapi walaupun

Cheng telah menantang otoritas raja, Duke Cheng tidak mencari keuntungan lebih lanjut. Kelemahan identitas yang menghubungkan negara-negara 


bagian China bersama-sama ke dalam satu bangsa sangat tergantung pada kesediaan mereka untuk menerima kekuasaan nominal dari Putra Surga. Tanpa 


aturan yang mempersatukan negara-negara itu, misalnya saja jika melempar 


jaring ke semua wilayah itu, jaring itu pasti akan terkoyak; dan orang-orang 


barbar dari Utara dan Barat akan masuk dan menghancurkan negara-negara 


yang terpisah itu satu per satu. 


D  Raja Hsi, cucu laki-laki Raja Huan, ancaman dari 


orang-orang barbar muncul kembali.


Suku-suku yang menyerang bernama Yi dan Ti, para pengembara lainnya yang tinggal di daerah tinggi dan tidak pernah mengakui kekuasaan tuan 


tanah maupun raja. Pasukan Zhou tidak siap untuk melawan serangan mereka: “[Kedudukan dari] Putra Surga telah menjadi rendah dan lemah.” Kata 


Guanzi (sebuah buku berisikan cerita-cerita bersejarah yang ditulis sekurangsekurangnya dua ratus tahun lalu  dan dihimpun tiga ratus tahun 


sesudahnya). “Raja-raja feodal menggunakan energi mereka untuk menyerang 


[satu sama lain]. Yi dari Selatan dan Ti dari Utara melibatkan Negara-Negara 


Tengah dalam pertempuran, dan adanya Negara-Negara Tengah yang berkelanjutan kelihatannya [bergantung pada] suatu benang yang halus.”6


“Negara-Negara Tengah” yaitu  Cheng, Wey, Jin, dan daerah Zhou 


sendiri: pusat negara China. Melihat ancaman kekacauan yang menelan negeri-negerinya di arah Barat, Duke Qi yang baru tergerak untuk bertindak. 


“Ia ingin menghidupkan sesuatu yang sedang sekarat,” Guanzi menceritakan, 


“dan untuk melestarikan apa yang berhenti hidup.”7


Duke Qi, laki-laki muda yang baru saja menerima warisan kekuasaan, 


mungkin berkeinginan untuk memelihara keberadaan Negara-negara Tengah 


demi kepentingan budaya mereka bersama, tetapi ia mungkin termotivasi oleh 


kepentingan yang lebih praktis. Qi mendaki ke tepi Timur laut dari dataran, 


yang meliputi muara sungai Kuning, dan membentang meliputi semenanjung 


Shantung. Kekacauan di sepanjang batas Barat Qi seharusnya telah menjadi 


bencana bagi Duke tersebut.


Namun kelihatannya jelas bagi Duke muda tersebut bahwa Raja Hsi tidak 


mampu untuk mempertahankan keselamatan Negara-Negara Tengah. Tiga 


tahun sesudah  penobatan Hsi, ia mengumumkan dirinya sendiri sebagai pemimpin militer China yang baru: “Pada tahun ketiga pemerintahan Raja Hsi,”

Sima Qian mengatakan dengan terus terang, “Duke Huan dari Qi** pada 


awalnya dianggap Hegemon (kekuatan tertinggi).”8


 Tahun itu yaitu  679 


SM.


Pengakuan gelar hegemoni, atau “tuan besar,” yaitu  suatu deklarasi 


kekuasaan atas negara-negara sekelilingnya. Namun Duke Qi berniat untuk 


menggunakan kuasa ini untuk mempersatukan negeri-negeri yang bertengkar dalam mempertahankan diri melawan penyerbu Yi dan Ti, belum lagi 


orang-orang pengembara lain yang menjelajahi sepanjang tanah tinggi dan 


yang cemburu dengan daerah-daerah Zhou Timur yang subur. Dengan dipimpin oleh Duke dan menterinya, Kuan Chung, pasukan Qi mengancam 


negeri-negeri lain agar tunduk demi kebaikan bersama tersebut. Raja-raja 


yang bertengkar, berhadapan dengan baris depan pasukan Qi yang marah dan 


bersenjata, setuju untuk menghentikan perkelahian di antara mereka sendiri 


yang cukup lama, untuk memperbantukan tentara-tentara mereka agar bergabung dengan kekuatan koalisi yang akan bergerak di sepanjang perbatasan 


dan memukul mundur serangan orang-orang barbar.


Duke Qi tidak pernah mencoba untuk menuntut jabatan raja; ia sudah 


puas meninggalkan hal itu melalui tangan wakil Zhou. Namun “raja” tidak 


lagi diartikan sebagai “penguasa,” seperti yang lazim di Barat; Duke Qi bisa 


memerintah negeri China tanpa pernah mengerti makna kata itu sendiri. 


Di sisi lain, raja negeri China masih memegang semacam kekuasaan rohani 


yang bahkan merupakan kekuasaan tertinggi yang tidak bisa diabaikan begitu 


saja. saat  Hsi meninggal sebelum waktunya, sesudah  pemerintahannya yang 


singkat selama lima tahun, putranya mengambil alih tahta dan lalu  


meresmikan kekuasaan yang telah diambil Duke darinya; “ia menganugerahkan Duke Huan dari Qi gelar Penguasa Tertinggi.”*


Sekali lagi Duke Huan—yang kemungkinan telah berhasil menghalau 


para penyerbu barbar dengan kekuatan koalisinya—dikenal sebagai jenderal 


kepala negara China. Ia sebenarnya telah bertindak dalam kapasitas ini selama 


bertahun-tahun. Tetapi sekarang gelar Penguasa Tertinggi telah diresmikan, 


diakui oleh rajanya sendiri; dan negara China telah berhasil mengubah dirinya 


menjadi suatu negara berkepala dua dengan seorang pemimpin militer dan 


seorang pemimpin religius.


P  saat  cucu laki-laki Hsi dinobatkan, Penguasa Tertinggi—masih 


Duke Huan dari Qi, yang saat itu telah menghabiskan puluhan tahun ber-

perang untuk China—menemukan dirinya memerangi serangan orang-orang 


barbar dari jenis yang berbeda.


Invasi dimulai sebagai pertarungan antara saudara kandung. Saudara sebapak Raja Hsiang, Shu Tai, menginginkan tahta untuk dirinya sendiri; untuk 


mendapatkan pasukan guna merebut kekuasaan, ia pergi ke tempat suku 


barbar dari Ti dan Jung untuk mencari persekutuan. Rencananya yaitu  memerintahkan Ti untuk turun ke bawah dengan mengeroyok Jin, negeri yang 


terletak di antara bangsa barbar di Utara dan daerah Zhou sendiri. Sementara 


itu, suku bangsa yang kedua, Jung, akan bergerak ke bawah menuju ke ibu 


kota Zhou melewati pasukan Jin selagi mereka sibuk menangkis invasi Ti. 


Mereka akan menyerbu istana, membunuh Hsiang, dan mentahtakan Shu Tai 


sebagai penggantinya.


saat  Raja Hsiang mendengar tentang negosiasi rahasia ini, ia 


memerintahkan untuk menangkap dan membunuh adiknya. Shu Tai, 


mendengar kabar angin mengenai perintah penangkapannya itu, lari 


menghadap Penguasa Tertinggi untuk meminta perlindungan.


Ini merupakan situasi yang rumit bagi Penguasa Tertinggi. Jika ia menolak untuk melindungi Shu Tai, itu berarti ia mengakui ketakutannya terhadap 


kekuatan raja. Sebaliknya, jika ia memberikan perlindungan yang diminta, ini 


berarti bahwa ia menyatakan permusuhan dengan raja dan mungkin akan merasakan kesedihan yang tak terkira.


Ia mengambil jalan tengah. Dengan mengabaikan pokok permasalahan 


tentang pengkhianatan Shu Tai—seiring dengannya, Penguasa Tertinggi mengirimkan dua menterinya sendiri untuk menegosiasikan perjanjian antara orang 


Zhou dan orang Jung, dan antara orang Jin dan penyerang orang Ti. Negosiasi 


itu kelihatannya berhasil. Penyerangan dapat dialihkan; Shu Tai nampaknya 


berusaha keras untuk menganggap dirinya tidak pernah terlibat apa-apa dalam 


masalah itu; dan bencana dapat dicegah.


Ini yaitu  jenis perjuangan kekuatan yang sangat berbeda dibandingkan 


dengan perselisihan yang berlangsung jauh di Barat. Para raja dari Timur Dekat 


kuno ditangkap dalam suatu pertarungan yang berputar-putar; raja mana pun 


yang tidak segera bersiap untuk menaklukkan wilayah yang berisiko kehilangan 


sebagian dari miliknya terhadap musuhnya yang mungkin berbicara dalam 


bahasa yang berbeda dan memuja dewa yang berbeda. Negosiasi antara negeranegera bagian China lebih seperti pertempuran antara saudara sepupu, yang 


semuanya akan berakhir dalam rumah liburan yang sama selama musim panas, 


tidak mempedulikan bagaimana sengitnya mereka berkelahi dari waktu ke 


waktu. Ada banyak ambisi untuk mendirikan kerajaan di negeri China, tetapi itu 


jauh lebih halus dibandingkan perselisihan bersenjata di tempat yang lebih jauh 


ke Barat. Pendiri-pendiri kerajaan melakukan usaha yang terbaik saat  mereka

menganggap dirinya sebagai pengawal China yang melawan seluruh dunia, 


mempersatukan negara-negara untuk melawan ancaman liar dari luar China.


Enam tahun sesudah  negosiasi tentang keselamatan daerah Zhou dan Jin 


terhadap orang-orang barbar, Penguasa Tertinggi meninggal tanpa melimpahkan kekuasaannya kepada ahli waris. Dalam kekosongan kekuasaan yang 


ditinggalkan oleh Penguasa Tertinggi, Raja Hsiang membuat usaha percobaan 


untuk menjerat wewenang kemiliteran dari Penguasa Tertinggi dan mencabutnya kembali masuk ke dalam kerajaan.


Ia sesaat  itu juga dimaafkan; negeri Cheng yang agak kecil mengambil 


keputusan yang buruk dengan membuang salah satu dari duta besar raja ke 


dalam tahanan. Raja Hsiang memutuskan untuk menghukum, dengan tegas, 


penghinaan terhadap kekuatan kerajaan ini.


Sayangnya, ia justru memilih jenis strategi yang salah. Ia menawarkan 


diri untuk menikah dengan anak perempuan pemimpin orang-orang Ti dan 


menjadikannya permaisurinya, jika orang-orang barbar Ti sudi membantunya 


menyerang dan menghukum orang-orang Cheng.


Catatan kejadian musim Semi dan Gugur, yang disusun sekurangnya tiga 


ratus tahun sesudah  kejadian, memberi peringatan yang menyeramkan bagi 


mulut salah satu penasihat Raja Hsiang. Orang Ti tidak seperti orang Zhou, 


penasihat memperingatkan; mereka berbeda sedikitnya dalam empat hal. 


“Mereka yang telinganya tidak bisa mendengar keselarasan dari lima suara 


berarti tuli,” ia menjelaskan, “Mereka yang matanya tidak bisa membedakan 


antara lima warna berarti buta; mereka yang pikirannya tidak sejalan dengan 


standar kebajikan dan kebaikan berarti keras kepala; mereka yang mulutnya 


tidak mengucapkan kata-kata kesetiaan dan iman berarti tukang ngomel yang 


bodoh. Orang Ti mematuhi keempat masalah ini.”10 


Raja Hsiang tidak menaruh perhatian. ”Di tahun kelima belas,” menurut Sima Qian, ”Raja mengirim kekuatan Ti untuk menyerang Cheng,” 


dan menyiapkan diri untuk menjadikan putri mahkota orang barbar Ti 


menjadi permaisurinya.


Apa yang selanjutnya terjadi tidak dicatat oleh Sima Qian, tetapi 


kelihatannya penyerangan itu gagal. Negeri Cheng masih tetap berdiri, 


dan tahun sesudah  penyerangan tersebut, Raja Hsian memutuskan untuk 


menyingkirkan istrinya yang baru.


Karena itu, Ti berbalik dan menyerbu ibu kota Zhou. Hsiang melarikan diri. Shu Tai, saudara satu-ayahnya, yang lebih tua tetapi tidak 


lebih bijaksana, lalu  muncul kembali di permukaan dan menawarkan dirinya untuk dinobatkan. Ti, yang (bagaimana pun juga) sejak 


awal dilibatkan ke dalam kericuhan oleh Shu Tai sendiri, dengan antusias 


menyetujui penobatan itu; Shu Tai menikahi istri saudara laki-lakinya

putri orang barbar yang telah dicampakkan — dan menjadikan dirinya raja. Ia juga menyiapkan suatu istana raja yang baru di Wen, empat 


puluh delapan kilometer sepanjang sungai Kuning dari tempat kediaman 


kerajaan tua saudaranya.


Namun demikian, strategi Shu Tai untuk mendirikan kerajaan tidak 


bergaung lebih keras dibandingkan strategi saudaranya. Raja Hsiang pergi 


menyamar ke Jin dan tiba di istana pemimpin Jin. Duke Wen, meminta 


bantuan untuk melawan orang-orang barbar itu. Duke dari Tin sekarang memiliki  kesempatan untuk mengulangi prestasi Duke Qi; ia mengumpulkan 


tentara Jin miliknya sendiri, mengirimkan mereka untuk menghalau orang Ti 


keluar dari istana Zhou, dan membunuh Shu Tai dengan tangannya sendiri. 


Apa yang terjadi pada putri Ti tetap tak diketahui.


Ia lalu  menggunakan tentaranya sendiri untuk mentahtakan kembali Raja Hsiang. Dan, tidak mengejutkan, jika Hsiang lalu  sepakat 


untuk mengakui Duke Wen dari Jin sebagai Penguasa Iertinggi, ahli waris 


untuk kekuatan Maharaja. Sebagai tambahan, Hsiang juga memberikan sebidang tanah yang subur pada Jin.


Penguasa Tertinggi yang baru menggunakan kuasanya dengan begitu 


boros sehingga, tidak seperti pendahulunya, ia hampir menjadikan dirinya 


sebagai raja. Tiga tahun sesudah  ia diumumkan sebagai Penguasa Tertinggi, ia 


mengirimkan perintah raja ke Raja Hsiang: “ Di tahun yang ke dua puluh,” 


Sima Qian menulis, “ Duke Wen dari Jin memanggil Raja Hsiang. Dan Raja 


Hsiang pergi menemuinya.” Dalam catatan sejarah kerajaan pemerintahan 


Hsiang, peristiwa itu dicatat dengan ungkapan yang lebih halus, seakan-akan 


“Raja surgawi melakukan perjalanan inspeksi.’” Ia memeriksa kewenangan 


Penguasa Tertinggi, dan menemukan dirinya hanyalah seorang yang tak berarti.


Ke arah , negeri Chu yang sangat besar telah merencanakan untuk 


berurusan dengan orang-orang barbar yang mondar-mandir melalui Jin dan 


Cheng, keluar masuk ibu kota Zhou. Duke Chu telah memesan suatu dinding yang sangat besar, “Dinding Segi Empat,” yang ditegakkan sepanjang 


perbatasan Utaranya. Tembok ini berguna baginya, tidak hanya untuk melawan orang-orang barbar, tetapi juga melawan ambisi dari Penguasa Tertinggi 


yang baru itu. Dinding Segi Empat menghalangi rute yang mungkin diambil 


oleh pasukan Jin, seandainya ia bergerak lurus menuju ke bagian Timur daerah Zhou ke dalam wilayah Chu.


Sekarang Chu dan Jin saling berhadapan, yang satu di sebelah Utara dan 


yang lain di sebelah Selatan dari raja Zhou yang rendah hati, satu sama lain 


saling menatap melalui kepalanya. Di sebelah Timur dan Barat orang-orang Ch’in dan Qi juga saling berhadapan; orang-orang Qi lenyap dari permukaan sebagai daerah Penguasa Tertinggi, namun sama sekali tidak berarti 


telah tersingkir, dan orang-orang Ch’in menguasai daerah tua Zhou di Barat. 


Kekuasaan Zhou Timur telah diubah menjadi tembok negara-negara bagian 


yang kuat dengan raja Zhou gemetar di tengah-tengahnya.

G A R I S WA K T U 5 3


ASSIRIA DAN


DAERAH-DAERAH SEKITARNYA


CHINA


Ashur-Dan III (771-754)


Nabonassar Ashur-nirari V


(Babilon) (753-746)


Sarduri Tiglath-Pileser


(Urartu) 


Midas (Frigia) 


Merodach-baladan Salmanaser V


(Babilonia) Sargon II


(721-704)


 Sankherib


Zhou Timur (771-221)


 P’ing


 Duke Chuang dari Cheng


 Huang


Chuang


His (Duke dari Qi)


Hui


Hsiang


 Duke Wen dari Jin













D   di kuil Nabu, semua neraka kekerasan pun menjadi semakin longgar di Assiria.


Dua pembunuh melarikan diri, menurut catatan yang dipelihara dalam 


buku Yesaya, “ke daerah Ararat.” Ini mungkin berarti bahwa mereka lari ke 


Utara, ke dalam wilayah pegunungan Urartu. Kerajaan telah menyatukan diri 


kembali sesudah  Rusas I bunuh diri; raja yang baru, Rusas II - cucu Rusas I, 


mulai membangun kembali angkatan perangnya. Ia senang melepaskan diri 


dari Assiria dengan menawarkan keramahtamahan kepada para pembunuh 


raja.*


Sementara itu, kompetisi antarputra-putra Sankherib yang masih ada 


meletus ke dalam suatu peperangan gencar saling berebut untuk menjadi 


pengganti. Pemenang terakhir, Esarhaddon anak yang lebih muda, menulis 


suatu catatan pada sebuah prisma (pilar batu dengan enam hingga sepuluh 


sisi) yang ditemukan di antara reruntuhan istananya:

Di antara abang-abangku, saudara termuda yaitu  aku,


tetapi atas perintah Ashur dan Shamash, Bel, dan Nabu,


ayahku mengagungkanku, di tengah-tengah kerumunan abangku:


ia menanyakan Shamash, “Apakah ini ahli warisku?”


dan dewa-dewa menjawab, “Ia yaitu  kau yang kedua”. . .


Dan saudara-saudaraku menjadi marah.


Mereka menarik pedangnya, dengan fasik, di tengah-tengah Nineweh.


Tetapi Ashur, Shamash, Bel, Nabu, Ishtar,


 |semua dewa memandang dengan murka pada perbuatan bangsat-bangsat 


tersebut,


menjadikan kekuatan mereka lemah dan hina di bawahku.2


Jelas bahwa Esarhaddon menang dalam kontes perebutan mahkota itu, 


tetapi cerita tentang pengakuan dari ayahnya sebelum pembunuhan orang 


tua tersebut kelihatan seperti dongeng belaka yang dikarang sekadar untuk 


pengesahan. Dan ini setidaknya kelihatan ganjil, bahwa Esarhaddon tidak secara langsung membicarakan tentang pembunuhan Sankherib. Barangkali ia 


tidak ingin kejadiannya diamati terlalu dekat.


Dengan dimahkotai secara resmi, Esarhaddon memimpin kerajaan yang 


pinggirannya sudah mulai compang-camping. Surat-surat resmi menunjukkan 


bahwa lima belas atau enam belas kota, pusat-pusat dari provinsi-provinsi 


Assiria, telah cukup tertinggal dalam urusan pemberian upeti, dan Sankherib 


tidak begitu peduli untuk menindaklanjuti hutang-hutang upeti tersebut.3


Lebih parah lagi, begitu berita tentang kematian Sankherib tersebar ke seluruh reruntuhan Babilonia, pemberontakan Khaldea mulai dipimpin oleh 


siapa lagi kalau bukan putra Merodach-baladan tua. Namanya yaitu  Nabuzer-ketti-lisher, dan ia telah memerintah Bit-Yakin, di wilayah cekungan