Rabu, 19 Juli 2023

agronomi 6

at terjadi karena dengan pengolahan tanah yang baik,
bibit tumbuhan pengganggu yang ada ditanah tertimbun
sedemikian rupa sehingga tidak mendapat kesempatan
untuk berkecambah serta tumbuh dan berkembang lebih
lanjut. Sebaliknya, pengolahan tanah yang kurang baik akan
memberikan kesempatan pada biji gulma tumbuh subur
karena faktor-faktor tumbuh gulma yang tadinya tidak
tersedia, kini tersedia dan biji gulma yang dulunya dorman
malah berkecambah.
Perbaikan fisik, kimia dan biologis tanah dapat terjadi
dalam pengolahan tanah, karena tanah kita pecah-pecah
menjadi butiran-butiran yang lebih kecil dan halus sehingga
memiliki jumlah permukaan yang lebih besar dan
meningkatnya rongga-rongga antar butiran tanah.
Akibatnya udara dan air lebih leluasa masuk ke dalam tanah
yang memicu  sifat fisik dan kimia tanah meningkat
karena terjadi perubahan sruktur dan komposisi kimia
tanah. Disamping itu, pengolahan tanah yang bersifat
membalik tanah memicu  tanah dari bagian dalam
tertukar dengan tanah permukaan sehingga unsur-unsur
yang memungkinkan menimbulkan keracunan dapat
dihindarkan. Tanah yang lebih gembur memicu  cahaya
dapat lebih masuk ke dalam sehingga terjadi peningkatan
sifat biologis tanah karena aktivitas mikroorganisme lebihpesat. Dengan demikian, perubahan sifat fisik dan kimia
tanah dalam pengolahan juga akan mengubah sifat biologis
tanah, karena ketiga hal itu saling berpengaruh.

Alat-alat pengolahan tanah mulai dari yang primitif
sampai yang paling modern memiliki 4 prinsip fungsi, yaitu:
1. Membalik tanah
2. Membelah tanah
3. Memecah tanah
4. Meratakan tanah
Alat yang memiliki kemampuan untuk memikul ke empat
fungsi ini yaitu  cangkul, meskipun dia sederhana.
Dengan mencangkulkan alat cangkul ke tanah, pertama-tama
kita melakukan fungsi pembelahan. Kemudian sebagian
tanah yang berada di cangkul itu kita pindahkan dengan
gerak membalikkan tanah. Kalau tanahnya bergumpal,
dengan cangkul itu kita memecah-mecah gumpalan tersebut.
Kemudian agregat tanah yang sudah terpecah-pecah menjadi
butiran-butiran gembur, dengan cangkul itu lalu kita ratakan
sehingga menghasilkan permukaan tanah olahan yang rata.
Cangkul memiliki kemampuan demikian karena
memiliki tangkai yang dapat kita putar-putarkan. Jenis
tangkai cangkul beragam, panjang atau pendek, bebentuk
lurus, sedikit melengkung atau berbentuk menyerupai huruf
S. Panjang-pendek dan bentuk tangkai cangkul tergantung
pada berat ringannya tanah yang biasa diolah dan kebiasaan
petani. Kalau tanah berat (tanah liat), tangkai cangkul yang
baik digunakan yaitu  yang pendek dan sedikit melengkung.
Dengan begitu orang akan mengayunkan paculnya dengan
kekuatan tangan dan badan yang dibungkukkan lebih dalam.
Jarak geraknya yang lebih besar akan berakibat kekuatan
yang ditimbulkan oleh badannya lebih besar pula. Tetapi
kalau tanahnya ringan (tanah pasir), tangkai panjang bentuk
lurus lebih serasi, karena orang tidak perlu membungkuk
untuk mengayunkan canggkulnya. Tangkai melengkung
atau berbentuk S lebih serasi untuk pengangkatan cangkul
yang lebih tinggi, tetapi pengayunannya tidak memerlukanpembungkukan badan dalam-dalam. Cangkul jenis ini sesuai
untuk tanah yang sedang-sedang beratnya (misalnya tanah
lempung berpasir). Namun demikian, kebiasaan otang di
suatu daerah mempengaruhi panjang-pendek dan bentuk
tangkai cangkul yang digunakan. Orang dengan kebiasan
menggunakan cangkul bertangkai pendek (misalnya di
daerah Malang, Jawa Timur), apabila diganti dengan tangkai
panjang, tidak biasa, dan akan kembali lagi menggunakan
tangkai pendek. Hal ini karena orang sudah biasa
mencangkul dengan sikap membungkuk secara terus
menerus.

Pengolahan tanah yang baik terdiri atas 3 tahap, yaitu
pembersihan lahan (land-clearing), pembajakan
(ploughing) dan penggaruan (harrowing), tetapi tergantung
pula pada kondisi tanah setempat, jenis tanaman yang
hendak ditanam, dan bahan penanaman yang dipergunakan.
Land-clearing bermaksud membersihklan areal lahan
terhadap pepohonan, semak-semak dan alang-alang atau
tumbuh-tumbuhan lainnya. Pembajakan (ploughing)
menggunakan alat pengolah tanah yang disebut bajak, untuk
membelah dan/atau membalik tanah. Tujuan dari membajak
yaitu :
1. Membelah tanah menjadi bongkah-bongkah lebih kecil
sehingga penggemburan selanjutnya lebih mudah
dilakukan.
2. Membentuk lapisan bajak/lapisan kedap air (plough sole).
3. Memperbaiki tata udara tanah.
4. Merangsang pertumbuhan biji tumbuhan pengganggu
dan membalik/menimbun dengan tanah sesudah
berkecambah/tumbuh.
Penggaruan (harrowing) menggunakan alat pengolah
tanah yang disebut garu (harrow), untuk memecah dan
meratakan tanah. Tujuan dari menggaru yaitu :
1. Membantu terbenuknya lapisan kedap air.
2. Membantu terbentuknya struktur lumpur denganmenghancurkan bongkah-bongkahan besar menjadi
struktur remah.
3. Memberantas tumbuhan pengganggu yang sempat
tumbuh.
4. Membersihlkan tanah dari sisa-sisa perakaran tumbuh
liar, rumput yang mati, kemudian membenankan ke
dalam tanah.
berdasar  atas tahapan kegiatan, hasil kerja dan
dalamnya tanah yang menerima perlakuan pengolahan tanah,
kegiatan pengolahan tanah dibedakan menjadi dua macam,
yaitu pengolahan tanah pertama atau awal (primary tillage)
yaitu membajak, dan pengolahan tanah kedua (secondary
tillage) yaitu menggaru. Dalam pengolahan tanah pertama,
tanah dibelah atau dipotong kemudian diangkat terus dibalik
agar sisa-sisa tanaman yang ada dipermukaan tanah dapat
terbenam di dalam tanah. Kedalaman pemotongan dan
pembalikan umumnya di atas 15 cm. Pada umumnya hasil
pengolahan tanah masih berupa bongkah-bongkah tanah
yang cukup besar, karena pada tahap pengolahan tanah ini
penggemburan tanah belum dapat dilakukan dengan efektif.
Dalam pengolahan tanah kedua, bongkah-bongkah tanah dan
sisa-sisa tanaman yang telah terpotong pada pengolahan
tanah pertama akan dihancurkan menjadi lebih halus dan
sekaligus mencampurnya dengan tanah.
Alat dan mesin pengolahan tanah pertama (primary
tillage equipment) yang digunakan biasanya berupa bajak
(plow) dengan segala jenisnya. Contohnya bajak singkal, bajak
piringan, bajak putar, bajak pahat, dan bajak tanah bawah.
Sedangkan alat dan mesin pengolahan tanah kedua
(secondary tillage equipment) biasanya berupa garu dengan
segala jenisnya. Contohnya, garu piringan, garu sisir dan
garu bergigi (Wijayanto, 2013). Jenis-jenis peralatan
pengolahan tanah seperti pada Gambar 20 sedangkan contoh
gambar alat pengolahan tanah seperti pada Gambar 21
sampai 23berdasar  bentuk dan kegunaannya, secara garis
besar bajak dibedakan atas beberapa jenis, yaitu bajak
singkal (mold board plow), bajak piringan (disk plow), bajak
rotari atau bajak putar (rotary plow), bajak pahat (chisel
plow), dan bajak tanah bawah (sub soil plow). Sedangkan
macam-macam garu yang digunakan untuk pengolahan tanah
kedua yaitu : garu piringan (disk harrow); garu bergigi paku
(spikes tooth harrow); garu bergigi per (springs tooth harrow);
dan garu-garu untuk pekerjaan khusus (special harrow)
seperti garu pencacah gulma atau seresah (weeder mulcher);
garu potong putar (rotary cross harrow); dan garu
penggemburan tanah (soil surgeon) ,Cara pengolahan tanah sawah dan tanah darat (kering)
akan berbeda disebabkan oleh kondisi dan struktur tanahnya
yang berbeda. Pada pengolahan tanah sawah, sebelum
dibajak sawah digenangi air, umumnya seminggu sebelum
pembajakan dimulai, dengan tujuan agar tanah saat dibajak
cukup lunak. Kemudian jerami/rumput-rumput dibabat
sebelum dibajak dan lubang pemasukan/pembuangan air dari
petak sawah ditutup. Pembajakan dimulai dari pinggir
kemudian mengelilingi petak sawah dan berakhir di tengah.
Dengan demikian akan tertinggal bagian pojok-pojok petak
sawah yang tidak terkena bajak untuk dikerjakan dengan
cangkul. Dalamnya pembajakan 20-25 cm. Pembajakan yang
kurang dalam misalnya kurang dari 10 cm akan
mengakibatkan pertumbuhan gulma yang hebat sehingga
menyulitkan dalam perlindungan atau pembereantasan
gulma. Penggaruan dilakukan dengan arah memanjang
petak, kemudian melintang. Juga dilakukan dalam keadaan
tanah sawah yang cukup tergenang air.
Apabila tanah sawah cukup ringan, adakalanya tidak
dilakukan pembajakan, tetapi cukup dengan penggaruan.
Misalnya dilakukan 2 kali penggaruan dengan selang waktu7-10 hari. Setelah selesai menggaru yang kedua, petak sawah
dibiarkan tergenang air 4-5 hari supaya lumpur mengendap
dan petak sawah lebih rata. Satu sampai 2 hari sebelum
tanam, air dibuang dan tanah diratakan, baru kemudian bibit
padi ditanam.
Pada pengolahan tanah darat (tanah kering), tujuan
utamanya yaitu  untuk membentuk media tumbuh (-seed
bed) yang gembur dan mantap. Dengan menggemburkan
tanah berarti memberikan permukaan tanah yang lebih datar
sehingga memungkinkan benih yang ditanam kontak lebih
dekat dengan butiran tanah. Juga dengan penggemburan
tanah terdapat kemunginan bertambahnya molekul-molekul
air sebagai lapisan tipis (water film) pada butiran tanah
sehingga memungkinkan untuk diserap oleh benih.
Pengolahan tanah darat yang sempurna disamping
meningkatkan proses-proses kimia dan biologis yang erat
kaitannya dengan ketersediaan hara, juga mengurangi gas￾gas racun dari dalam tanah, misalnya asam sulfida. Hal
penting yang harus diperhatikan dalam pengolahan tanah
kering yaitu  mempertahankan bahan organik, karena
merupakan komponen tanah yang penting dalam
menyediakan unsur hara dan air.
Pada tanah kering, untuk mengatasi tanah dari
kemungkinan yang kurang sesuai diadakan pemulsaan
(mulching). Tujuan mulching yaitu :
1. Memperbaiki kondisi fisik tanah dipermukaan.
2. Absorpsi air oleh benih membaik karena penguapan dari
permukaan tanah dikurangi.
3. Run-off air dikurangi.
4. Fluktuasi dan suhu tanah lebih stabil.
5. Kemungkinan benih hanyut oleh air berkurang.
Disamping itu, belakangan ini pada tanah bermasalah
seperti tanah masam (tanah dengan kemasaman rendah,
tanah alkalin (tanah dengan kemasaman tinggi), tanah salin
(tanah dengan kadar garam NaCl tinggi), tanah berat (tanah
dengan kandungan liat tinggi) atau tanah pasir, sambil
melakukan pengolahan tanah dilakukan tindakan
pembenahan tanah/ameliorasi (amelioration) denganpenambahan kapur pertanian, pupuk organik, pembenah
tanah berisi mikro-organisma seperti mikorhiza,
dekomposan tanah dan penambat nitrogen.

Penanaman yaitu  kegiatan menanam, menyebar benih
atau memindahkan bibit dari tempat penyemaian ke lahan
yang sudah disiapkan. Proses menanam, menyebar benih
atau memindahkan bibit tidak boleh dilakukan dengan
sembarangan, perlu adanya metode yang baik agar tanaman
dapat tumbuh dan berproduksi dengan maksimal.
Apabila lahan sudah siap, maka bibit dapat segera
ditanam. Ada lima faktor penting yang perlu diperhatikan
dalam penanaman, yaitu waktu tanam, jarak tanam,
distribusi tanaman, arah barisan, dan sistem kontur/teras.
Waktu tanam berkaitan erat dengan iklim, karena akan
mempengaruhi ketersediaan air dan tingkat serangan hama
dan penyakit. Iklim di Indonesia dibedakan menjadi dua,
yaitu musim hujan (Oktober-Maret) dan musim kemarau
(April-September). Ada tanaman yang cocok ditanam di
musim penghujan, tetapi ada yang lebih baik bila ditanam
di musim kemarau. Di musim hujan air berlebihan dan di
tanah sawah tidak banyak tanaman yang baik ditanam,
kecuali padi. Sebaliknyan, di tanah-tanah kering pada musim
hujan walaupun suplai air baik untuk banyak tanaman, akan
tetapi cuaca yang lembab dan matahari jarang bersinar
memicu  banyak terjadi serangan penyakit. Di musim
kemarau, dengan sedikitnya suplai air seringkali kekeringan
mengancam terlebih dengan adanya fenomena perubahan
iklim global (global climate change). Waktu tanam juga
dipengaruhi permintaan pasar, dengan kemajuan teknologi
budidaya, untuk mengejar pasar kadang waktu tanam perlu
dilakukan di luar musim (off season).
Bila pemilihan saat tanam telah tepat dan persiapan
tanah telah dilakukan sebaik-baiknya (telah mengalami
pembajakan, penggaruan dan pencangkulan dengan
intensitas sesuai dengan sifat-sifat tanah), maka hal yangperlu ditentukan yaitu  jarak tanam. Jarak tanam
disesuaikan dengan besar kecilnya habitus tanaman dan
tingkat kesuburan tanah. Mengatur jarak tanam berarti
memberi ruang hidup (space) yang sama/merata bagi setiap
tanaman.
Dalam penyuluhan pertanian sering dianjurkan “tandur
jajar”, yaitu penanaman dengan jarak tanam yang teratur
dan barisan teratur. Dengan mengatur jarak tanam akan
diperoleh barisan-barisan tanaman yang teratur sehingga
mudah dalam melakukan pengelolaan tanaman selanjutnya.
Jarak tanam menentukan efisiensi pemanfaatan ruang
tumbuh serta jenis dan tingkat teknologi yang digunakan
dalam budidaya. Secara umum, jarak tanam ditentukan
oleh jenis tanaman, tingkat kesuburan tanah, kelembaban
tanah, tujuan pengusahaan tanaman, dan teknologi yang
digunakan (manual atau mesin). Berbagai keuntungan yang
didapat dari bertanam dengan jarak tanam yang teratur,
yaitu:
1. Pertanaman tampak rapi karena arah barisan diatur
sedemikian rupa.
2. Memudahkan dalam pemeliharaan, misalnya dalam
pemberian pupuk, penyiangan gulma, pengendalian
hama penyakit, dan sebagainya.
3. Dengan jarak tanam yang teratur dapat ditentukan
jumlah populasi tanaman tiap luas lahan sehingga
kebutuhan bibit/benih dapat ditentukan sebelumnya.
Pengaturan jarak tanam juga dimaksudkan agar
tanaman dapat memperoleh kebutuhan hidupnya secara
merata, khususnya dalam hal kebutuhannya akan air, unsur
hara, dan cahaya matahari. Masing-masing tanaman
memiliki  jarak tanam optimum yang berbeda dengan
tanaman lainnya. Jarak tanam akan mempengaruhi
kerapatan tanaman atau jumlah populasi per unit area,
dan jumlah populasi tanaman mempengaruhi pertumbuhan
relatif dan hasil bersih fotosintesis. Kecukupan akan ketiga
faktor kebutuhan hidup tanaman (air, unsur hara, cahaya
matahari) akan mengurangi terjadinya persaingan
(kompetisi) antar individu tanaman dalam memperebutkan
air, unsur hara, dan cahaya matahari, sehingga jarak tanammerupakan penentu besar kecilnya hasil panen yang
diperoleh.
Dari tanaman yang kita usahakan sebagai obyek
agronomi di unit agronomi, hasil yang kita peroleh
(sasaran agronomi) dapat berupa: (1) hasil ekonomi
(economic yield) atau hasil utama, bisa sebagai hasil
reproduktif (biji atau buah) atau hasil vegetatif (daun, umbi,
batang), dan (2) hasil biologis (biological yield) atau hasil
biomassa, yaitu total dari hasil ekonomi dan hasil
berangkasan tanaman (bagian tanaman selain yang dipanen
sebagai hasil ekonomi). Sebagai contoh, apabila yang
diusahakan yaitu  tanaman jagung, kentang dan sawi hijau,
maka yang disebut sebagai hasil ekonomi berturut-turut
yaitu  biji untuk jagung, umbi untuk kentang dan daun untuk
sawi hijau. Yang disebut hasil berangkasan pada ketiga
tanaman ini yaitu  bagian tanaman selain biji pada
jagung, umbi pada kentang dan daun pada sawi hijau. Jarak
tanam atau kerapatan tanaman/populasi tanaman memiliki
hubungan yang sangat erat dengan sasaran agronomi dari
kedua bentuk hasil tersebut.
Apabila economic yield-nya yaitu  biji (seed yield),
hubungan antara produksi dengan populasi tanaman
dinyatakan dalam hubungan parabolik (Gambar 24) yang
merupakan fungsi kuadratik ,
seperti di bawah ini.
Dimana:
Y = hasil biji per unit area)
X = populasi tanaman
a, b, c = konstanta regresi
Sedangkan untuk biological yield, hubungan antara
produksi dengan populasi tanaman dinyatakan dalam
hubungan hiperbolik tegak (Gambar 24), dan fungsinya
ditulis seperti di bawah ini (Sadras dan Calderini, 2015).Berbasarkan Gambar 24a dan 24b, bagi kita yaitu 
penting untuk mengetahui kerapatan tanam yang tepat
sehingga sasaran agronomi tercapai sesuai dengan yang
ditargetkan. Dalam hal yang dipanen yaitu  hasil biji, untuk
menentukan jarak tanam optimum dapat dilakukan dengan
mengukur pada jarak tanam mana mulai terjadi pendataran
garis grafik (leveling of) dari hasil bahan kering
berangkasannya. Umumnya pada kerapatan tanam itu
diperoleh produk maksimum dari biji/benih.
Distribusi tanaman, yaitu pengaturan letak tanaman
pada sebidang tanah mempengaruhi keefisienan penggunaan
cahaya (Gambar 25). Menurut Harjadi (1996) model
pengaturan jarak tanam ada beberapa macam, yaitu :
1. Baris tunggal (single row)
2. Baris rangkap (double row)
3. Jarak bujur sangkar (on the square)
4. Jarak sama segala penjuru (equidistant plant spacing)
Pada umumnya jarak tanam sama segala penjuru
(equidistant plant spacing) lebih efisien dari pada jarak
tanam yang lain, karena awal titik kompetisi terjadinya lebih
tertunda dibandingkan dengan yang lain.
Arah barisan dapat digunakan untuk menggunakan
cahaya secara efisien. Tanaman yang ditanam dengan arah
barisan Timur-Barat menggunakan cahaya lebih efisien
daripada dengan arah barisan Utara-Selatan. Dalam banyak
keadaan, penggunaan arah barisan ditentukan oleh arah
lereng ataupun teras-teras. Dilereng yang tidak berteras,
sebaiknya barisan atau guludan tegak lurus arah lereng, di
lereng yang berteras arah barisan sering sejajar lereng atau
tegaklurus teras. Dengan lereng yang landai tak berteras
dianjurkan bertanam menurut sistem “countur”, barisan￾barisan tidak perlu lurus, dapat berkelok-kelok sesuai
dengan keadaan bukit, tetapi harus sam tinggi (datar).
Untuk tanaman berbaris, jarak dalam barisan dan antar
barisan menentukan kerapatan (spacing). Jarak antar
barisan ditentukan oleh perlengkapan-perlengkapan untuk
penyiangan (dengan traktor, tangan, dan lian-lain).
Kecenderungan dewasa ini yaitu  ke jarak yang sempit dan
perlengkapan-perlengkapan sekarang diarahkan kesana.
Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan
produksi tanaman, terutama karena keefisienan penggunaan
cahaya.
Hubungan antara jarak tanam dan populasi tanaman
dapat diformulasikan dengan rumus: populasi = luas lahan
dibagi dengan luas areal yang ditempati oleh satu individu.
Apabila jarak tanam yang digunakan yaitu  segi empat maka
populasi per luas areal dapat dihitung dengan rumus:
populasi = luas lahan dibagi dengan jarak dalam barisan
dikali jarak antar barisan, sedangkan apabila jarak
tanamnya sama segala penjuru maka populasi dapat dihitung
dengan rumus: populasi = luas lahan dibagi alas dikalikan
tinggi.Pada umumnya jarak tanam sama segala penjuru
(equidistant plant spacing) lebih efisien dari pada jarak
tanam yang lain, karena awal titik kompetisi terjadinya lebih
tertunda dibandingkan dengan yang lain.
Arah barisan dapat digunakan untuk menggunakan
cahaya secara efisien. Tanaman yang ditanam dengan arah
barisan Timur-Barat menggunakan cahaya lebih efisien
daripada dengan arah barisan Utara-Selatan. Dalam banyak
keadaan, penggunaan arah barisan ditentukan oleh arah
lereng ataupun teras-teras. Dilereng yang tidak berteras,
sebaiknya barisan atau guludan tegak lurus arah lereng, di
lereng yang berteras arah barisan sering sejajar lereng atau
tegaklurus teras. Dengan lereng yang landai tak berteras
dianjurkan bertanam menurut sistem “countur”, barisan￾barisan tidak perlu lurus, dapat berkelok-kelok sesuai
dengan keadaan bukit, tetapi harus sam tinggi (datar).
Untuk tanaman berbaris, jarak dalam barisan dan antar
barisan menentukan kerapatan (spacing). Jarak antar
barisan ditentukan oleh perlengkapan-perlengkapan untuk
penyiangan (dengan traktor, tangan, dan lian-lain).
Kecenderungan dewasa ini yaitu  ke jarak yang sempit dan
perlengkapan-perlengkapan sekarang diarahkan kesana.
Kerapatan tanaman mempengaruhi penampilan dan
produksi tanaman, terutama karena keefisienan penggunaan
cahaya.
Hubungan antara jarak tanam dan populasi tanaman
dapat diformulasikan dengan rumus: populasi = luas lahan
dibagi dengan luas areal yang ditempati oleh satu individu.
Apabila jarak tanam yang digunakan yaitu  segi empat maka
populasi per luas areal dapat dihitung dengan rumus:
populasi = luas lahan dibagi dengan jarak dalam barisan
dikali jarak antar barisan, sedangkan apabila jarak
tanamnya sama segala penjuru maka populasi dapat dihitung
dengan rumus: populasi = luas lahan dibagi alas dikalikan
tinggi.Pada umumnya produksi tiap satuan luas yang tinggi
tercapai dengan populasi tinggi, karena tercapainya
penggunaan cahaya secara maksimum diawal pertumbuhan.
Akan tetapi pada akhirnya, penampilan masing-masing
tanaman secara individu menurun karena persaingan
(competition) untuk cahaya dan faktor-faktor tumbuh lainnya.
Tanaman memberikan respons dengan mengurangi ukuran
baik pada seluruh tanaman maupun bagian-bagian tanaman
(cabang, umbi atau polong).
Kerapatan tanaman penting diketahui untuk
menentukan sasaran agronomi, yaitu produksi maksimum.
Dari berbagai penelitian jarak tanam dapat diketahui jarak
tanam berapa mulai terjadi pendataran garis grafik. Berarti
setelah kondisi itu penambahan populasi tidak lagi dapat
meningkatkan produksi, bahkan terjadi persaingan yang
sangat ketat yang pada akhirnya terjadi penurunan
produksi. Kerapatan optimum ditentukan oleh
pertimbangan-pertimbangan ekonomi dalam menentukan
keuntungan optimum. Produksi akan naik dengan naiknya
populasi, kemudian pada saat titik kompetisi tercapai maka
produksi mulai menurun. Hal yang sama juga berlaku untuk
mutu hasil. Bila mutu hasil merupakan faktor penentu
harga, mutu optimum terjadi pada suatu populasi tertentu,
sesudah itu kenaikan populasi akan menurunkan mutu
sehingga harga jual atau keuntungan akan menurun.
Pada padi sawah, akhir-akhir ini lebih disarankan
menggunakan jarak tanam baris rangkap atau jarak tanam
ganda, atau sering disebut dengan “jajar legowo”. Kata
“legowo” di ambil dari bahasa jawa yang berasal dari kata
“lego” artinya “luas” dan “dowo” artinya “panjang”. Tujuan
utama dari tanam padi dengan sistem jajar legowo yaitu
meningkatkan populasi tanaman dengan cara mengatur
jarak tanam dan memanipulasi lokasi dari tanaman yang
seolah-olah tanaman padi berada di pinggir (tanaman
pinggir) atau seolah-olah tanaman lebih banyak berada di
pinggir. Secara teoritis, tanaman yang berada di pinggir akan
menghasilkan produksi padi lebih tinggi dan kualitas dari
gabah yang lebih baik, ini dikarenakan tanaman padi di
pinggir akan mendapatkan sinar matahari yang lebih banyak
dan sirkulasi udara yang lebih baik. Sistem Jajar Legowo
ada tiga tipe , yaitu:
1. Jajar Legowo 2:1, yaitu setiap dua baris diselingi satu
baris yang kosong dengan lebar dua kali jarak tanam,
dan pada jarak tanam dalam baris yang memanjang di
perpendek menjadi setengah jarak tanam dalam
barisannya.
2. Jajar Legowo 3:1, yaitu setiap tiga baris tanaman padi
di selingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali
jarak tanam, dan untuk jarak tanam tanaman padi yang
dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam
barisannya
3. Jajar Legowo 4:1, yaitu setiap empat baris tanaman padi
diselingi dengan satu baris kosong dengan lebar dua kali
jarak tanam, dan untuk jarak tanam tanaman padi yang
dipinggir menjadi setengah jarak tanam dalam
barisannya
Peningkatan populasi tanaman padi yang ditanam dengan
jajar legowo secara umum sesuai rumus: 100% x 1 :
(1+jumlah legowo) (Abdurahman et al., 2013). berdasar 
rumus ini maka peningkatan pupulasi sebagai berikut:
1. Jika legowo 2:1, peningkatan populasi per hektar: 100% 
x 1 : (1 + 2) = 33,3 %
2. Jika legowo 3:1, peningkatan populasi per hektar: 100% 
x 1 : (1 + 3) = 25 %
3. Jika legowo 4:1, peningkatan populasi per hektar: 100% 
X 1 : (1 + 4) = 20 %
Manfaat menanam padi dengan sistem jajar legowo, yaitu:
1. Meingkatnya populasi/jumlah tanaman per satuan luas.
2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas gabah.
3. Mengurangi serangan hama dan penyakit.
4. Mempermudah perawatan (pemupukan dan
pengendalian hama penyakit).
5. Menghemat pupuk, karena yang dipupuk hanya di bagian
dalam baris tanaman saja
Sedangkan kelemahan menanam padi dengan sistem
jajar legowo, yaitu:
1. Membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dan waktu lebih
lama pada saat penanaman.
2. Membutuhkan benih yang lebih banyak, karena lebih
banyaknya populasi.
3. Umumnya dengan jajar legowo rumput tumbuh lebih
banyak
6.4. Pupuk dan Pemupukan
Pupuk yaitu  bahan organik maupun anorganik yang
ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk
mencukupi kebutuhan unsur hara/nutrisi yang diperlukan
tanaman untuk memamksimalkan pertumbuhan dan
produktivitas. Sedangkan pemupukan yaitu  setiap usaha
dalam memberikan pupuk dengan tujuan untuk menambah
usur hara yang dibutuhkan oleh tanaman agar produksi dan
mutu hasil tanaman meningkat.
Pupuk mengandung bermacam-macam unsur hara yang
diperlukan tanaman untuk kelangsungan hidupnya. Secara
garis besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman meliputi
unsur hara makro dan unsur hara mikro. Unsur hara
makro yaitu  unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah
relatif banyak, yang terdiri atas 9 unsur yaitu C (Carbon), H
(Hidrogen), O (Oksigen), N (Nitrogen), P (Phosfor), K
(Kalium), Ca (Calsium), Mg (Magnesium) dan S (Sulfur/
Belerang). Belakangan ini sering para ahli mengelompokkan
unsur hara makro menjadi 3 kelompok, yaitu unsur hara
makro utama terdiri atas C, H dan O, unsur hara makro
primer terdiri atas N, P dan K, serta unsur hara makro
sekunder terdiri atas Ca, Mg dan S. Sedangkan unsur hara
mikro yaitu  unsur hara yang dibutuhkan dalam jumlah yang
relatif sedikit, yang terdiri atas 7 unsur yaitu Fe (Ferum/
Besi), B (Boron), Mn (Mangan), Zn (Seng), Cu (Cuprum/
Tembaga), Mo (Molibdenum) dan Cl (Clor). Dasar
pembagiannya menjadi hara makro dan mikro sebetulnya
tidak jelas. Dalam praktek, pembagian ini tidak banyak
artinya karena sangat tergantung jenis tanaman dan kondisi
lingkungan. Sebagai contoh, jenis unsur hara mikro sudah
sangat berkembang jumlahnya dengan dimasukkannya
berbagai unsur hara lain selain yang 7 di atas, seperti Si
(Silikon), Na (Natrium), Co (Cobalt), dan Ni (Nikel),

Pupuk berfungsi sebagai zat hara untuk mencukupi
kebutuhan nutrisi tanaman dan meningkatkan kesuburan
tanah. Aktivitas pertanian yang secara terus menerus
dilakukan pada suatu lahan mengakibatkan tanah
kehilangan unsur hara. Kehilangan yang dimaksud
disebabkan karena diserap oleh tanaman untuk membentuk
biomassa kemudian hasilnya diambil oleh manusia atau
dibawa keluar dari lahan tersebut, hanyut (mengalami erosi)
bersama air hujan dari permukaan tanah, dan hanyut ke
dalam (ke bagian yang lebih dalam dari permukaan tanah)
yang disebut dengan perkolasi, sehingga tidak dapat
dijangkau/dimanfaatkan oleh taaman. Oleh karena itu,
untuk mengembalikan ketersediaan hara pada media tanam
diperlukan penambahan pupuk.
Pupuk secara umum digolongkan menjadi dua jenis,
yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Namun, pupuk
juga dapat digolongkan berdasar  berbagai kriteria
lainnya seperti kandungan unsur hara, bentuk fisik, cara
aplikasi, cara melepaskan unsur hara setelah pupuk
diaplikasikan, dan lain-lain.
a. Jenis pupuk berdasar  sumber bahannya.
berdasar  sumber bahannya, pupuk digolongkan
menjadi dua jenis, yaitu pupuk organik dan anorganik.
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari
pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan bahan alam
lainnya, baik yang diproses secara alami maupun melalui
rekayasa/campur tangan manusia. Contoh pupuk organik
antara lain pupuk kompos, pupuk kandang, pupuk hijau,
humus dan pupuk organik buatan. Pupuk kompos berasal
dari sisa-sisa tanaman dan pupuk kandang berasal dari
kotoran ternak. Pupuk organik memiliki  komposisi
kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap
jenis unsur hara ini rendah. Sesuai dengan
namanya, kandungan bahan organik pupuk ini termasuk
tinggi. Pupuk anorganik yaitu  pupuk buatan atau
pupuk alami yang terbuat dari bahan kimia. Pupuk
anorganik buatan dibuat oleh pabrik dengan cara
meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki
persentase kandungan hara yang tinggi. Contohnya,
pupuk urea, ZA, TSP, Rustika dan Nitrophoska.
Sedangkan pupuk anorganik alami yaitu pupuk yang
terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam tanpa
proses yang berarti. Misalnya, pupuk alami batuan
phosfat.b. Jenis pupuk berdasar  bentuk fisiknya
berdasar  bentuk fisikya, pupuk digolongkan
menjadi dua jenis, yaitu pupuk padat dan pupuk cair.
Pupuk padat yaitu pupuk dengan bentuk fisik padatan,
dapat berupa butir (granule), kristal, tablet atau tepung.
Pada umumnya pupuk padat yaitu  pupuk yang
mengandung unsur hara makro. Pupuk padat ada yang
diaplikasikan secara langsung pada media tanam, ada
juga yang dicampur dengan air untuk kemudian
disemprotkan ke tanaman ataupun media tanam. Contoh
pupuk padat butiran: SP-36, sedangkan contoh pupuk
padat kristal: urea. Pupuk cair yaitu pupuk yang
berbentuk cair atau diproduksi dalam bentuk cair. Pupuk
cair biasanya yaitu  pupuk dengan unsur hara mikro,
namun demikian ada beberapa jenis pupuk makro yang
juga berbentuk cair.
c. Janis pupuk berdasar  jumlah unsur hara yang
dikandungnya
berdasar  jumlah unsur hara yang dikandung,
pupuk digolongkan menjadi dua jenis, yaitu pupuk
tunggal dan pupuk majemuk. Pupuk tunggal yaitu 
pupuk dengan kandungan unsur hara satu macam saja,
biasanya berupa unsur hara makro primer. Contohnya,
pupuk urea hanya mengandung N. Pupuk majemuk
ialah pupuk yang mengandung unsur hara lebih dari
satu macam. Penggunaan pupuk ini lebih praktis karena
hanya dengan satu kali penebaran, beberapa jenis unsur
hara dapat diberikan. Namun, dari sisi harga pupuk ini
lebih mahal. Contohnya: pupuk NPK mengandung unsur
hara N, P dan K, pupuk diamoniomphosfat mengandung
N dan P, dan pupuk rustika mengandung unsur hara N,
P dan K.
d. Jenis pupuk berdasar  macam hara yang
dikandung.
berdasar  macam atau jenis hara yang dikandung,
pupuk digolongkan menjadi tiga jenis, yaitu pupuk
makro, pupuk mikro dan pupuk campuran. Pupukmakro ialah pupuk yang mengandung hanya hara makro
saja, contohnya pupuk NPK, nitrophoska, dan rustika.
Pupuk mikro ialah pupuk yang hanya mengandung hara
mikro saja, misalnya mikroplet dan metalik. Pupuk
campuran ialah pupuk yang berisi campuran hara makro
dan mikro, misalnya pupuk gandasil, bayfolan, dan
rustika. Sering juga dalam pupuk campuran ditambahkan
juga zat pengatur tumbuh (hormon tumbuh).
e. Jenis pupuk berdasar  tempat aplikasinya
berdasar  tempat aplikasinya, pupuk digolongkan
menjadi dua jenis, yaitu pupuk daun dan pupuk akar.
Pupuk daun ialah pupuk yang cara pemupukan
dilarutkan dalam air dan disemprotkan pada permukaan
daun. Biasanya pupuk daun memiliki kandungan unsur
hara mikro. Pupuk akar atau pupuk tanah ialah pupuk
yang diberikan ke dalam tanah disekitar akar, bisa
dengan ditabur/ditebar, di tugal, atau disemprotkan ke
pangkal batang (soil drenching). Pupuk akar biasanya
memiliki kandungan unsur hara makro.
f. Jenis pupuk berdasar  reaksi fisiologisnya
berdasar  reaksi fisiologisnya, pupuk dibedakan
menjadi dua macam, yaitu pupuk dengan reaksi fisiologis
masam dan reaksi fisiologis basa. Pupuk memiliki 
reaksi fisiologis masam artinya bila pupuk tersebut
diberikan ke dalam tanah maka kecenderungannya tanah
menjadi lebih masam (pH menjadi menurun
dibandingkan sebelum pemupukan), contohnya ZA dan
urea. Sedangkan pupuk yang memiliki  reaksi fisiologis
basa ialah pupuk yang bila diberikan ke dalam tanah
memicu  pH tanah cenderung naik, contohnya
dolomit, gipsum dan kalsium sianida.
g. Jenis pupuk berdasar  cara melepaskan unsur
hara
berdasar  cara melepaskan unsur hara, pupuk
dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu pupuk
fast release dan slow release. Pupuk fast
release (cepat tersedia) yaitu pupuk yang dalam waktu
singkat setelah pemberian, unsur haranya segera
terlepas sehijgga dengan cepat dapat dimanfaatkan oleh
tanaman (unsur haranya mudah dan cepat dapat diserap
oleh tanaman). Kelemahan pupuk ini yaitu  terlalu cepat
habis, bukan hanya karena diserap oleh tanaman tetapi
juga menguap atau tercuci oleh air. Contoh pupuk fast
release antara lain urea, ZA dan KCL. Pupuk slow
release atau yang sering disebut dengan pupuk lepas
terkendali (controlled release) yaitu pupuk yang akan
melepaskan unsur hara yang dikandungnya sedikit demi
sedikit sesuai dengan kebutuhan tanaman. Dengan
demikian, manfaat yang dirasakan dari satu kali
aplikasi lebih lama bila dibandingkan dengan pupuk fast
release. Mekanisme ini dapat terjadi karena unsur hara
yang dikandung pupuk slow release dilindungi secara
kimiawi dan mekanis. Perlindungan secara mekanis
yaitu dengan adanya pembungkus bahan pupuk dengan
selaput polimer atau selaput yang mirip dengan bahan
pembungkus kapsul. Contohnya, polimer coated urea
dan sulfur coated urea. Perlindungan secara kimiawi
dilakukan dengan cara mencampur bahan pupuk
menggunakan zat kimia, sehingga bahan ini lepas
secara terkendali. Contohnya Methylin urea, urea
formaldehide dan isobutilidern diurea. Pupuk jenis ini
harganya sangat mahal sehingga hanya digunakan untuk
tanaman-tanaman yang bernilai ekonomis tinggi.
h. Jenis pupuk berdasar  cara penggunaannya
berdasar  cara penggunaannya, pupuk dibedakan
menjadi lima macam yaitu pupuk yang diberikan dengan
cara larikan, sebar, pop-up, tugal dan fertigasi. Cara
larikan yaitu dengan membuat membuat parit kecil
disamping barisan tanaman sedalam 6-10 cm. Pupuk
kemudian ditempatkan di dalam larikan tersebut, lalu
tutup kembali. Cara ini dapat dilakukan pada satu atau
kedua sisi baris tanaman. Pada jenis pepohonan, larikan
dibuat melingkar di sekeliling pohon dengan jari-jari 0,5-
1 kali jari-jari tajuk. Pupuk yang tidak mudah menguapdapat langsung ditempatkan di atas tanah, setelah itu
larikan ditutup kembali dengan tanah tipis. Pemberian
pupuk dengan cara larikan umumnya cocok untuk
tanaman dengan pertumbuhan cepat dan perakaran yang
terbatas. Cara sebar (broadcast) yaitu dengan
penebaran secara merata di atas permukaan tanah,
biasanya dilakukan sebelum penanaman untuk tanaman
yang ditanam dengan jarak tanam rapat. Pemberian
pupuk dengan cara ini tidak disarankan untuk pupuk
urea karena sangat mudah menguap. Pop-up yaitu
pemberian pupuk dengan cara dimasukkan ke lubang
tanam pada saat penanaman benih atau bibit. Cara ini
cocok untuk pupuk yang memiliki kadar garam yang
rendah agar tidak merusak benih atau biji. Cara ini lazim
digunakan untuk pupuk jenis SP36, pupuk organik, atau
pupuk slow release. Cara tugal yaitu pupuk
ditempatkan ke dalam lubang di samping tanaman
sedalam 10-15 cm. Lubang ini dibuat dengan alat
tugal. Kemudian setelah pupuk dimasukkan, lubang
ditutup kembali dengan tanah untuk menghindari
penguapan. Cara ini dapat dilakukan disamping kiri dan
samping kanan baris tanaman atau sekeliling pohon.
Jenis pupuk yang cocok diaplikasikan dengan cara ini
yaitu  pupuk slow release dan pupuk tablet. Fertigasi
yaitu pemberian pupuk dengan cara dilarutkan dalam
air dan disiramkan pada tanaman melalui air irigasi.
Lazimnya, cara ini dilakukan untuk tanaman yang
pengairannya menggunakan sistem irigasi tetes (drip
irigatian), irigasi curah (sprinkle irrigation) atau
penanamannya dengan sistem hidroponik.
Selain itu, dalam praktek perlu juga diketahui istilah￾istilah khusus yang sering digunakan terkait dengan pupuk,
yaitu:
1. Mutu pupuk atau grade fertilizer, yaitu angka yang
menunjukkan kadar hara tanaman utama (N, P, dan K)
yang dikandung oleh pupuk yang dinyatakan dalam
prosen N total, P2O5
 dan K2O. Misalnya pupuk RustikaYellow 15-10-12 berarti kadar N 15%, P2O5
 10% dan K2O
12%.
2. Perbandingan pupuk atau ratio fertilizer, yaitu
perbandingan antara unsur N, P dan K yang dinyatakan
dalam N total, P2O5
 dan K2O yang merupakan
penyederhanaan dari grade ferilizer. Misalnya grade
fertilizer 16-12-20 berarti ratio fertilizernya 4:3:5.
3. Mixed ferilizer atau pupuk campur, yaitu pupuk yang
berasal dari berbagai pupuk yang kemudian dicampur
oleh pemakainya. Misalnya pupuk Urea, TSP dan KCl
dicampur menjadi satu dengan perbandingan tertentu
sesuai dengan mutu yang diinginkan. Hal ini berbeda
dengan pupuk majemuk yaitu pupuk yang memiliki 
dua atau lebih hara tanaman dibuat langsung dari
pabriknya.
Bahan pupuk yang paling awal yaitu  kotoran hewan,
sisa pelapukan tanaman dan arang kayu. Pada masa silam,
kebanyakan pupuk merupakan bahan organik buangan,
seperti pupuk kandang, sisa-sisa tanaman, darah dan sisa￾sisa ikan. Pemakaian pupuk kimia kemudian berkembang
seiring dengan ditemukannya deposit garam kalsium di
Jerman pada tahun 1839. Dalam pemilihan pupuk perludiketahui terlebih dahulu jumlah dan jenis unsur hara yang
dikandungnya, serta manfaat dari berbagai unsur hara
pembentuk pupuk tersebut. Umumnya pada kemasan pupuk
yang diberi label terdapat petunjuk jenis dan unsur hara
yang dikandung. Kadangkala petunjuk pemakaiannya juga
dicantumkan pada kemasan. Karena itu, sangat penting
untuk membaca label kandungan pupuk sebelum memu￾tuskan untuk membelinya. Selain menentukan jenis pupuk
yang tepat, perlu diketahui juga cara aplikasinya yang
benar, sehingga takaran pupuk yang diberikan dapat lebih
efisien. Kesalahan dalam aplikasi pupuk akan berakibat pada
terganggunya pertumbuhan tanaman. Bahkan unsur hara
yang dikandung oleh pupuk tidak dapat dimanfaatkan
tanaman.
6.4.2. Pemupukan
Pemupukan dilakukan untuk mencukupi kebutuhan
unsur hara bagi tanaman. Pada pertanian konvensional
(dilakukan pada hamparan lahan), pemupukan lebih
merujuk pada mencukupi atau mengganti unsur hara yang
telah hilang. Pemupukan secara umum bertujun untuk:
1. Meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman
2. Meningkatkan kualitas hasil tanaman
3. Mempertahankan kesuburuan tanah, karena setiap
pemupukan tidak semua unsur hara terambil oleh
tanaman atau hilang dari tanah, yang berarti sebagai
cadangan bagi tanaman selanjutnya.
4. Mengurangi bahaya erosi, karena akibat pemupukan
terjadi pertumbuhan vegetatif lebih baik, tanah tertutup
oleh vegetasi dan tidak terkena pukulan langsung curah
hujan.
Usaha pemupukan tidak akan mencapai tujuan dan
sasaran apabila:
1. Tanaman yang kita pupuk tidak memberikan respon
terhadap pemupukan.
2. Unit agronomi tidak menjamin ketersediaan unsur
tumbuh yang cocok bagi tanaman, seperti ketersediaan
air dan cahaya.
3. Unsur hara yang kita tambahkan melalui pemupukan
hilang karena hanyut di permukaan tanah (erosi) atau
hanyut ke lapisan tanah yang lebih dalam (perkolasi) dan
hanyut ke petakan sebelah (leaching) sehingga tidak
tejangkau oleh akar tanaman, atau diikat oleh senyawa
lain sehingga tidak tersedia bagi tanaman.
Untuk mengurangi hilangnya pupuk dari tanah,
ditanggulangi dengan usaha-usaha antara lain melakukan
rotasi tanaman, pemupukan dengan pupuk organik dan
menerapkan cara pemupukan secara tepat.
Rotasi tanaman yaitu  praktik penanaman berbagai
jenis tanaman secara bergiliran di satu lahan. Rotasi tanaman
terutama dengan jenis polong-polongan dapat meningkatkan
kesuburan tanah karena melalui rotasi, jenis hara yang
terambil tidak sama bahkan tanaman rotasi mampu
memberikan hara bagi tanah melalui sistem fiksasi.
Disaming itu, melalui rotasi memperkecil erosi tanah.
Penambahan bahan organik dapat mengurangi hilangnya
pupuk dari tanah karena bahan organik tanah merupakan
salah satu bahan pembentuk agregat tanah yang memiliki 
peran sebagai bahan perekat antar partikel tanah untuk
bersatu menjadi agregat tanah sehingga dengan adanya
bahan organic unsur hara pupuk tidak hilang.
Selain itu, ada lima faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pemupukan agar tanaman dapat tumbuh
dengan optimal. Dalam istilah pemupukan hal tersebut
dinamakan 5 (lima) tepat pemupukan, yaitu:
1. Tepat jenis, yaitu jenis pupuk disesuaikan dengan unsur
hara yg dibutuhkan tanaman. Misalnya pada pemupukan
padi, jika tanaman kekurangan N (bisa dilihat dari hasil
analisis tanah atau analisis jaringan tanaman) maka
harus dipupuk nitrogen (bisa urea atau jenis pupuk N
yang lain), dan jika kekurangan unsur P maka perlu
diberikan pupuk SP36 atau pupuk lain yang mengandung
unsur P. Apabila jenis pupuk yang digunakan salah, maka
respon pemupukan tidak mengenai sasaran.
2. Tepat dosis, yaitu jumlah pemberian pupuk per satuan
luas per satuan waktu harus tepat takarannya,
disesuaikan dengan jumlah unsur hara yang dibutuhkantanaman sesuai fase pertumbuhan tanaman. Untuk
tanaman semusim diperhitungkan untuk seluruh
hidupnya, untuk tanaman tahunan dipertimbangkan
setahun atau semusim, sedangkan untuk tanaman dalam
wadah diperhitungkan per jumlah media tertentu (satu
drum, satu pot, satu lonjor, dan lain sebagainya).
Umumnya anjuran dosis pemberian tertera pada label
pupuk. Pemberian dosis yang salah memicu 
ketidakefisienan pemupukan, bahkan memicu 
kerusakan pada tanaman. Tepat dosis dimaksudkan agar
dosis yang kita berikan ke tanaman tidak sampai terlalu
sedikit ataupun terlalu banyak. Apabila dosis yang
berikan terlalu sedikit, maka tanaman masih
kekurangan unsur hara sedangkan sebaliknya dosis
terlalu banyak memicu  pupuk bisa saja menjadi
toksik bagi tanaman itu sendiri.
3. Tepat waktu, yaitu waktu pemupukan harus sesuai
dengan saat kebutuhan hara/ umur tanaman dan kondisi
iklim/cuaca. Waktu pemberian bisa sekaligus atau terbagi
(split application) sebagai pupuk dasar dan pupuk
susulan. Waktu pemupukan bisa sebelum penanaman,
saat tanam dan/atau setelah tanam, pada fase vegetatif
dan/atau fase generatif, pada pagi atau sore hari.
4. Tepat tempat, pemupukan harus memperhatikan
tempat atau lokasi pemberian pupuk, apakah di daun
atau di akar/tanah. Kalau di tanah, berapa kedalaman
atau jaraknya dari pangkal akar agar mudah diserap
tanaman dan pupuk tidak hilang. Artinya, pemupukan
yang baik harus memperhatikan peletakan pupuk pada
tanaman.
5. Tepat cara, yaitu cara mengaplikaskan pupuk harus
disesuaikan antara lain dengan bentuk fisik dan sifat
pupuk, jenis tanaman, dan kondisi lahan. Misalnya, cara
sebar di permukaan tanah (broad casting) bisa secara
manual dengan tangan, atau bisa dengan alat mesin
(traktor). Pilhan cara bisa dengan system alur (band
placement), disamping tanaman (side dressing), atau
ditebar pada saat sudah ada tanaman (top dressing) dan
sebagian pupuk dapat terkena pucuk tanaman. Cara tuga
dipilih untuk memisahkan pupuk yang tidak boleh
dicampur, atau untuk efisiensi penggunaan pupuk. Jadi,
cara pemupukan harus tepat pada sasaran yang ingin
dipupuk, seperti pemberian pupuk harus berada didalam
radius daerah perakaran tanaman, sebelum dilakukan
pemupukan areal pertanaman harus bersih dari gulma,
cara menyemprot, cara menugal atau membenamkan
pupuk juga harus tepat. Cara pemberian pupuk yang
salah akan membuat pupuk terbuang sia-sia ataupun
tercuci oleh air sehingga tidak dapat ditangkap
langsung oleh tanaman.
6.4.2.1. Pemupukan Anorganik
a. Pemupukan Nitrogen
Pupuk nitrogen setelah diaplikasikan pada media tanam,
diserap oleh hampir semua tanaman dalam bentuk nitrat
(NO3
-
) atau amonium (NH4
+
). Ion nitrat dan amonium
dalam tanah jumlahnya bergantung pada jumlah pupuk yang
diberikan dan kecepatan dekomposisi bahan tanah. Pada padi
sawah, lebih baik digunakan pupuk berbentuk amonium
(NH4
+
) karena pada tanah yang tergenang, nitrogen mudah
berubah menjadi gas N2
. Umumnya pupuk dengan kadar N
yang tinggi dapat membakar daun tanaman sehingga
pemakaiannya perlu lebih hati-hati.----- Beberapa jenis
pupuk N yang banyak beredar dipasaran dengan persentase
kandungan nitogrennya masing-masing seperti pada
Tabel 8.
Manfaat pemupukan nitrogen sebagai berikut:
1. Meningkatkan pertumbuhan vegetatif, merangsang
pertunasan, menambah tinggi tanaman, dan warna daun
menjadi lebih hijau.
2. Pengisian biji pada tanaman biji-bijian lebih baik.
3. Mempertinggi kandungan protein.
4. Mempertinggi kemampuan tanaman untuk menyerap
unsur hara lain, seperti phsofor, kalium, magnesium, dan
lain-lain.
5. Mengaktifkan pertumbuhan mikroba agar proses
penghancuran/dekomposisi bahan organik berjalan
lancar.
Walaupun pemupukan nitrogen memberikan banyak
manfaat bagi pertumbuhan dan produksi tanaman, tetapi
terlampau banyak nitrogen mengakibatkan:
1. Pertumbuhan vegetatif terlalu giat (dominasi vegetatif)
sehingga menghambat pembungaan, pembentukan dan
pemasakan buah atau biji.
2. Tanaman lemah dan mudah rebah.
3. Kualitas hasil pada tanaman biji-bijan rendah.
4. Tanaman menjadi peka terhadap penyakit
Sebaliknya, tanaman yang kekurangan nitrogen
memicu :
1. Tanaman kerdil
2. Perkembangan akar terhambat.
3. Daun-daun tanaman menjadi kekuning-kuningan dan
mudah rontok.
Kegiatan pemupukan berhubungan erat dengan sifat
kimia tanah. Dengan mengetahui sifat kimia tanah,
khususnya kadar atau persentase unsur hara dalam tanah
akan didapat gambaran tentang kesuburan tanah sekaligus
juga jenis dan jumlah pupuk yang dibutuhkan. 
Kesuburan tanah biasanya dinilai pada kedalaman 0-30
cm (lapisan top soil) dan kriteria persentase unsur hara yang
dikandung dihitung berdasar  berat tanah. Untuk unsur
hara nitrogen, persentase N tanah digolongkan rendah
apabila d” 0,2%, sedang apabila 0,2-0,5% dan tinggi apabila
e” 0,5%. Kriteria penilaian ini ditentukan oleh para
ahli tanah, dan besarannya relatif untuk suatu daerah
tertentu. Kebutuhan pupuk dapat dihitung dengan
rumus: 100 dibagi persentase kandungan hara pupuk
dikalikan dosis rekomendasi. berdasar  atas kriteria dan
perhitungan kebutuuhan pupuk tersebut, berikut diberikan
contoh pemupukan nitrogen pada tanaman kelapa:
1. Hasil survey tanah menunjukkan angka N-total tanah
di unit agronomi suatu perkebunan kelapa sebesar 1,7
g/kg tanah, atau =0,17% sehingga tergolong rendah.
2. Untuk 1 ha pertanaman kelapa (populasinya 124 pohon)
pupuk yang diperlukan terdiri atas 70 kg N, 30 kg P2O5
,
137 kg K2O, 17 kg CaO, dan 32 kg MgO.
3. Perakaran kelapa yang efektif diperkirakan sedalam 50
cm. Apabila berat jenis tanah pada pertanaman kelapa
ini 0,9 maka untu 1 ha tanah, terdapat berat tanah
10.000 x 0,5 x 0,9 ton = 45 x 105
 kg.
4. N total tanah itu yaitu  = 45 x 105
 x 1,7 g = 765 x 104 g =
7650 kg.
5. Diketahui N yang dapat tersedia (N available) dari N
total yang ada pada tanah itu ± 0,15%, sehingga N
available = 0,15% x 7650 kg = 11,5kg
6. N yang perlu diberikan untuk tanaman kelapa tersebut
= 70 kg – 11,5 kg = 58,5 kg.
7. Pupuk urea yang diperlukan = 100/46 x 58,5 kg = 127,17
kg urea/ha.
berdasar  rumus kebutuhan pupuk = 100 dibagi
persentase kandungan hara pupuk dikalikan dosis
rekomendasi, berikut diberikan contoh cara menghitung
pemberian pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
a. Contoh penghitungan pupuk tunggal
- dosis rekomendasi pupuk untuk tanaman jagung per
hektar:
• 135 kg N
• 36 kg P2O5
• 60 kg K2O.
- Pupuk yang tersedia untuk memupuk dan
kandungannya:
• Urea = 46% N
• SP36 = 36% P2O5
• KCl = 60% K2O.
- Kebutuhan pupuk tanaman jagung:
• N = 100/46 x 135 kg = 293,48 kg.
• P = 100/36 x 36 kg = 100 kg.
• K = 100/60 x 60 kg = 100 kg.
b. Contoh penghitungan pupuk majemuk
- Dosis rekomendasi pupuk untuk tanaman jagung per
hektar:
• 135 kg N
• 36 kg P2O5
• 60 kg K2O.
- Pupuk yang tersedia untuk memupuk yaitu  pupuk
majemuk NPK (15:15:15) dan pupuk tunggal.
- Langkah perhitungan kebutuhan pupuk:
• Karena kandungan unsur hara NPK dalam pupuk
majemuk sama (15-15-15), pilihlah dosis
rekomendasi yang terkecil untuk menghitung
kebutuhan pupuk majemuk. Dalam hal ini yaitu 
dosis P2O5
 yaitu 36 kg/ha. Dengan demikian maka
kebutuhan pupuk majemuk = 100/15 x 36 kg = 240
kg.
• Setelah itu, hitung kebutuhan unsur lain (N dan
K) yang sudah terpenuhi dari pupuk majemuk.
- Unsur N = 15/100 x 240 kg = 36 kg.
- Unsur K = 15/100 x 240 kg = 36 kg.
- Hitung kekurangan unsur hara dari dosis
rekomendasi yang belum terpenuhi.
- Unsur N = 135 kg -- 36 kg = 99 kg.
- Unsur K2O = 60 kg – 36 kg = 24 kg.
- Hitung kekurangan pupuk dengan pupuk tunggal.
- Unsur N (bila yang digunakan urea) = 100/46 x 99 kg
= 215,21 kg urea.
- Unsur K2O (bila yang digunakan KCl = 100/60 x 24
kg = 40 kg KCl.
- Kesimpulan: dari perhitungan di atas maka tanaman
jagung kita harus dipupuk dengan 240 kg pupuk
majemuk NPK (15-15-15) serta 215,21 kg urea dan
40 kg KCl.
b. Pemupukan Fosfor
Unsur fosfor (P) berperan penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan tanaman, karena fosfor termasuk unsur
hara makro esensial. Namun demikian, kandungannya lebih
rendah dibandingkan unsur N, K, dan Ca. Konsentrasi P
dalam tanaman umumnya berkisar antara 0,1-0,4%. Unsur
P terdapat dalam seluruh sel hidup tanaman yang menyusun
jaringan tanaman seperti asam nukleat, asam deoksi￾ribonukleat, fosfolipid, dan fitin. Tanaman menyerap P dari
larutan tanah dalam bentuk ion fosfat, terutama ion H2PO4
-
dan HPO4
-2. Untuk ion H2PO4
-
 lebih banyak dijumpai pada
tanah yang lebih masam sedangkan ion HPO4
-2 pada pH yang
lebih tinggi (kemasamannya lebih rendah, tetapi masih pada
kisaran < 7).
Tanah pertanian di kawasan tropika termasuk di
Indonesia umumnya memiliki  kandungan fosfor yang
rendah. Disamping rendahnya kandungan fosfar dalam
larutan tanah, sifat unsur ini juga mudah terikat (terfiksasi)
oleh unsur lain sehingga memicu  walaupun
sesungguhnya fosfor ada dalam tanah tetapi kondisinya
menjadi tidak tersedia (unavailable) bagi tanaman. Pada
tanah masam (pH < 7) P terfiksasi oleh unsur Al dan Fe
dalam bentuk Al-P dan Fe-P, sedangkan pada tanah basa
(pH > 7) P terfiksasi oleh Ca dan Mn menjadi Ca-P dan Mn￾P. Adanya pengikatan-pengikatan P ini memicu 
pupuk P yang diberikan menjadi tidak efisien. Oleh karena
itu, dalam pemupukan P disamping mempehitungkan
menambah kecukupannya kita juga harus mengingat kondisi
tanah agar P yang kita berikan tetap ada dalam larutan
tanah (tidak terfiksasi) sehingga bisa diserap oleh tanaman.
Kondisi fosfat tanah oleh para ahli dikatagorikan
berdasar  kriteria kandungan P2O5
 rendah, sedang dan
tinggi. Tanah dikatagorikan memiliki fosfat rendah apabila
kandungan P2O5
 tersedia < 140 ppm (part per million), sedang
bila kandungan P2O5
 tersedia antara 140-180 ppm, dan tinggi
bila > 180 ppm.
Cara pemberian pupuk P agar tersedia (available) bagi
tanaman harus dilakukan dengan baik, seperti dilakukan
pada kondisi pH tanah sedang (intermediate), diberikan pada
awal tanam (untuk tanaman semusim) atau pada awal siklus
pertumbuhan/setelah panen (untuk tanaman tahunan)
karena pupuk ini lambat tersedia sehingga ada kesempatan
bagi tanaman untuk mengambilnya sewaktu P sudah dalam
keadaan tidak terfiksasi, dan mempertimbangkan jenis
pupuk fosfat yang diberikan karena ada jenis yang lambat
larut dalam air misalnya Ca3
(PO4
)
3
 dan Fe3
(PO4
)
2 dan ada
yang agak cepat larut dalam air yaitu ammonium fosfat
(NH4
)
2PO4
. Macam-macam pupuk fosfat dan kadungan hara
fosfornya seperti pada Tabel 9.
Manfaat pupuk fosfat yaitu :
1. Meningkatkan pembentukan sel-sel, lemak dan albumin.
2. Memperbaiki pembungaan, pembuahan dan
pembentukan benih.
3. Memprcepat pemasakan buah sehingga dapat mengatasi
pengaruh negatif dari pupuk nitrogen.
4. Meningkatkan pertumbuhan perakaran terutama akar
lateral dan sekunder.
5. Memperbaiki jerami sehingga mengurangi roboh.
6. Memperbaiki kualitas, khususnya tanaman rumput dan
sayuran.
7. Meningkatkan ketahanan terhadap penyakit.Kekurangan pupuk fosfor mnyebabkan daun tua
menjadi keunguan cenderung kelabu, tepi daun cokelat ,
tulang daun muda berwarna hijau gelap, pertumbuhan daun
kecil, kerdil, dan akhirnya rontok, pertumbuhan menjadi
lambat dan tanaman kerdil. Sedangkan kelebihan
memicu  penyerapan unsur lain terutama unsur mikro
seperti besi (Fe), tembaga (Cu), dan seng (Zn) terganggu.
Namun gejalanya tidak terlihat secara fisik pada tanaman.
c. Pemupukan Kalium
Kalium (jenis hara yang memiliki  tingkat mobilitas
sangat tinggi dalam berbagai jenis pupuk K yang telah
tersedia di pasaran. Contoh macam-macam pupuk kalium
dan kadungan hara kaliumnya seperti pada Tabel 10.
Unsur K bukan merupakan unsur penyusun jaringan
tanaman, tetapi peran K bagi tanaman sangat penting yaitu
dalam pembentukan pati, mengaktifkan enzim, pembukaan
stomata, proses fisiologis dalam tanaman, pengaturan
osmotik di dalam sel, sintesis asam amino dan protein,
mempengaruhi penyerapan unsur-unsur lain, mempertinggi
daya tahan terhadap kekeringan dan serangan penyakit,
mengeraskan jerami dan meningkatkan kualitas buah￾buahan
d. Pemupukan Hara Makro Sekunder
Pupuk sebagai sumber unsur hara makro sekunder
mengandung Ca, Mg dan S, beik secara tunggal maupun
majemuk. Beberapa pupuk anorganik sebagai sumber hara
maskro sekunder yang beredar di pasaran antara lain
dolomit, kalium magnesium sulfat, gipsum, dan bubuk
belerang
Dolomit (kapur karbonat) dengan rumus kimia
CaMg(CO3)2
 dan sering disebut kapur dolomit atau kapur
pertanian yaitu  pupuk sebagai sumber calsium (Ca) dengan
kandungan Ca 30% dan dikenal sebagai bahan untuk
menaikkan pH (kemasaman) tanah. Pupuk ini juga
mengandung Mg sebesar 19%. Secara fisik berbentuk
butiran kasar sampai butiran halus/bubuk, berwarna putih
keabu-abuan, bersifat higroskopis sehingga mudah
menyerap air dan mudah dihancurkan. Kualitasnya sangat
ditentukan oleh ukuran butiran, semakin halus butirannya
semakin baik kualitasnya.
Kalium magnesium sulfat dengan rumus kimia
K2
SO4
.MgSO4
 yaitu  salah satu pupuk yang menyediakan
magnesium (Mg), disamping juga sebagai penyedia unsur K
dan S. Kalium magnesium sulfat mengandung 30% K2O, 12%
S dan 12% MgO. Secara fisik, kalsium magnesium sulfat
berbentuk butiran sampai butiran halus/bubuk berwarna
kuning keputihan dan juga ada yang kristal pink.
berdasar  keasaman, kalium magnesium sulfat
merupakan pupuk netral dan memiliki pH 7 pada larutan
5%. Sifatnya agak sukar larut dalam air, selain untuk
memperbaiki defisiensi Mg, pupuk ini juga bermanfaat
untuk memperbaiki kejenuhan basa pada tanah asam.
Gypsum atau sering disebut kapur gipsum dengan
rumus kimia CaSO4
.2H2O yaitu  pupuk yang mengandung
39% Ca dan 53% S, berbentuk bubuk dan berwarna putih.
Pemakaiannya umumnya ditebarkan dalam sekali aplikasi.
Jika terkena air, gypsum yang ditebarkan akan menggumpal
dan mengeras seperti tanah liat (cake). Gypsum digunakan
untuk menetralisir tanah yang terganggu karena kadar
garam yang tinggi, misalnya pada tanah di daerah pantai.
Aplikasi gypsum tidak banyak berpengaruh pada perubahan
pH tanah. Gypsum yaitu  batu putih yang terbentuk karena
pengendapan air laut, disamping untuk pupuk gypsum juga
dipergunakan dalam pembuatan semen, bahan bangunan,
dan bahan dasar untuk pembuatan kapur, bedak, untuk
cetakan alat keramik, tuangan logam, gigi dan sebagainya.
e. Pemupukan Mikro
Pemupukan dengan hara mikro sudah semakin
berkembang di Indonesia. Pupuk sebagai sumber unsur hara
mikro tersedia dalam dua bentuk, yaitu bentuk garam
anorganik dan organik sintetis. Kedua bentuk tersebut
sifatnya sama yaitu mudah larut dalam air. Contoh pupuk
mikro yang berbentuk garam organik yaitu  Cu, Fe, Zn dan
Mn yang seluruhnya bergabung dengan sulfat (CuSO4
, FeSO4
,
ZnSO4
, dan MnSO4
.). Pupuk mikro sebagai sumber boron
umumnya digunakan sodium tetra borat yang banyak
digunakan sebagai pupuk daun, sedangkan sebagai sumber
Mo umumnya digunakan sodium atau amonium molibdat.
Bentuk organik sintetis ditandai dengan adanya agen
pengikat unsur logam yang disebut chelat. Chelat yaitu 
bahan kimia organik yang dapat mengikat ion logam seperti
yang dilakukan oleh koloid tanah. Unsur hara mikro yang
tersedia dalam bentuk chelat yaitu  Fe, Mn, Cu, dan Zn.
Selain terdapat dalam dua bentuk diatas, unsur hara mikro
juga disediakan oleh pupuk majemuk yang beredar di
pasaran. Pupuk slow release dan pupuk daun umumnya juga
dilengkapi dengan satu atau lebih unsur mikro.
Faktor-faktor yang memicu  tanaman mengalami
defisiensi unsur hara mikro, antara lain yaitu karena
pengurasan hara oleh tanaman dan terangkut melalui panen,
penggunaan pupuk makro secara intensif, kehilangan hara
tanah karena erosi dan leaching akibat penerapan pertanian
intensif, dan semakin meningkatnya pengetahuan manusia
dalam mendiagnosis gejala defisiensi. Tanah yang secara
terus menerus dieksploitasi dengan penanaman tanpa
menambah unsur-unsur makro dan mikro, akan mengalami
kemunduran, karena unsur haranya ikut terpanen
bersamaan dengan tanaman yang dipanen. Oleh karena itu,
selain menambah unsur makro, maka unsur mikropun wajib
ditambahkan disaat mulai persiapan penanaman dan masa
pemeliharaan tanaman. Untuk mengatasi kekurangan hara
mikro dilakukan pemupukan dengan pupuk mikro, bisa
dalam bentuk padatan atau larutan. Karena jumlah yang
dibutuhkan sedikit, umumnya pupuk mikro sering diberikan
lewat daun. Menurut Marschner (2012) jumlah unsur hara
mikro yang dibutuhkan tergantung dari jenis tanaman, umur
tanaman, kondisi tanah setempat, dan lain-lain. Di bawah
ini disebutkan beberapa contoh ukuran kebutuhan hara
mikro pada tanaman secara umum, yaitu besi (Fe) 30 g/ton
berat kering tanaman, klor (Cl) 30 g/ton berat kering
tanaman, mangan (Mn) 15 g/ton berat kering tanaman, boron
(Bo) 6 g/ton berat kering tanaman, seng (Zn) 6 g/ton berat
kering tanaman, tembaga (Cu) 1,8 g/ton berat kering
tanaman, dan molybdenum (Mo) 0,03
g/ton berat kering tanaman.
6.4.2.2. Pemupukan Organik
Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari sisa￾sisa bahan tanaman, kotoran hewan, dan pupuk hijau. Unsur
hara dari pupuk organik akan tersedia setelah sisa bahan
tanaman dan kotoran hewan ini mengalami pelapukan
atau proses pembusukan oleh mikroorganisme. Pupuk
organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan
untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. 
Kandungan unsur hara yang terdapat di dalam pupuk
organik jauh lebih kecil daripada dalam pupuk buatan. Cara
aplikasinya juga lebih sulit karena pupuk organik
dibutuhkan dalam jumlah yang lebih besar daripada pupuk
kimia sehingga tenaga kerja yang diperlukan lebih banyak.
Namun, hingga sekarang pupuk organik tetap digunakan
karena fungsinya belum tergantikan oleh pupuk buatan.
Jenis pupuk organik yang banyak dikenal yaitu pupuk
kompos, pupuk hijau dan pupuk kandang. Beberapa manfaat
penting dari pemupukan dengan pupuk organik, yaitu:
1. Menyediakan unsur hara makro dan mikro meskipun
dalam jumlah kecil.2. Memperbaiki granulasi tanah sehingga meningkatkan
kualitas aerasi, drainase, dan kemampuan tanah dalam
menyimpan air.
3. Mengandung asam humat (humus) yang mampu
meningkatkan kapasitas tukar kation tanah.
4. Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah.
5. Pada tanah asam, penambahan pupuk organik dapat
membantu meningkatkan pH.
a. Pupuk Kompos.
Pupuk kompos dibuat atau hasil pembusukan sisa-sisa
tanaman yang disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme
pengurai. Kualitas kompos ditentukan oleh besarnya
perbandingan antara jumlah karbon (C) dan nitrogen (N)
yang disebut dengan C/N ratio. Jika C/N rasio kompos tinggi,
berarti bahan penyusun kompos belum terurai secara
sempurna atau kompos masih belum matang. Kualitas
kompos dianggap baik jika memiliki C/N rasio antara 12-15.
Bahan kompos seperti sekam, jerami padi, batang jagung dan
serbuk gergaji memiliki C/N rasio antara 50-100, sedangkan
daun segar memiliki C/N rasio sekitar 10-20. Bahan-bahan
ini dalam proses pengomposan C/N rasionya kemudian
menurun hingga 12-15, yang tercapai ketika proses
penguraian telah sempurna. Kandungan unsur hara dalam
kompos sangat bervariasi tergantung dari jenis bahan asal
yang digunakan dan cara pembuatan kompos. Ciri fisik
kompos yang baik berwarna cokelat kehitaman, agak lembab,
gembur dan bahan pembentuknya sudah tidak tampak lagi.
Penggunaan dosis tertentu pada 

Related Posts:

  • agronomi 6 at terjadi karena dengan pengolahan tanah yang baik,bibit tumbuhan pengganggu yang ada ditanah tertimbunsedemikian rupa sehingga tidak mendapat kesempatanuntuk berkecambah serta tumbuh dan … Read More