Rabu, 03 Mei 2023

gangguan kecemasan

Setiap hari manusia dihadapkan pada berbagai situasi atau kejadian yang 
dapat memicu munculnya kecemasan. Misalnya ujian mendadak, presentasi 
tugas, terlambat masuk kelas, deadline pekerjaan, dan sebagainya. Sebenarnya 
kecemasan adalah reaksi yang wajar yang dapat dialami oleh siapapun, sebagai 
respon terhadap situasi yang dianggap mengancam atau membahayakan. Namun 
jika kecemasan tersbut berlebihan dan serta tidak sesuai dengan proporsi 
ancamannya, maka dapat mengarah ke gangguan yang akan menghambat fungsi 
seseorang dalam kehidupannya.  
Kaplan, Sadock dan dan Grebb 
menyatakan bahwa kecemasan adalah respon terhadap situasi tertentu yang 
mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, 
perubahan pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam 
menemukan identitas diri dan arti hidup. Pada kadar yang rendah, kecemasan 
membantu individu untuk bersiaga mengambil langkah-langkah mencegah 
bahaya dan atau untuk memperkecil dampak bahaya tersebut. Kecemasan sampai 
pada taraf tertentu dapat mendorong meningkatnya performa dan produktifitas. 
Misalnya cemas mendapat nilai yang buruk, membuat seorang siswa belajar 
keras dan mempersiapkan diri menghadapi ujian. Kecemasan seperti ini disebut 
facilitating anxiety. Namun apabila kecemasan sangat tinggi, justru akan sangat 
mengganggu. Misalnya kecemasan berlebihan saat akan ujian, justru akan 
membuat blocking dan tidak bisa menjawab pertanyaan. Hal ini disebut sebagai 
debilitating anxiety.  
Kecemasan memiliki karakteristik berupa munculnya  perasaan takut dan 
kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan 
. Kaplan, Sadock & Greb menyatakan bahwa „takut‟ dan 
„cemas‟ merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya bahaya. 
Rasa takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas atau nyata, berasal dari 
lingkungan, dan tidak menimbulkan konflik bagi individu. Sedangkan kecemasan 
muncul jika bahaya berasal dari dalam diri, tidak jelas atau memicu konflik 
bagi individu.  
Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, maka makalah ini memberikan 
informasi penting untuk memahami batasan-batasan yang jelas kapan kecemasan 
yang dialami dikatakan sebagai sebuah gangguan, apa saja simptom atau gejala 
yang dimunculkan, apa saja jenisnya, bagaimana perspketif teoritis menjelaskan 
mengenai terjadinya gangguan tersebut, serta upaya penanganan apa yang dapat 
diberikan untuk mengatasi gangguan kecemasan.  
  
Kecemasan adalah suatu keadaan aprehensi atau keadaan khawatir 
yang mengeluhkan bahwa sesuatu yang buruk akan segera terjadi (Nevid,dkk 
2005). Banyak hal yang harus dicemaskan, misalnya kesehatan, relasi sosial, 
ujian, karir, kondisi lingkungan dan sebagaianya. Adalah normal, bahkan 
adaptif, untuk sedikit cemas mengenai aspek-aspek hidup tersebut. 
Kecemasan bermanfaat bila hal tersebut mendorong untuk melakukan 
pemeriksaan medis secara reguler atau memotivasi untuk belajar menjelang 
ujian. Kecemasan adalah respon yang tepat terhadap ancaman, tetapi 
kecemasan bisa menjadi abnormal bila tingkatannya tidak sesuai dengan 
proporsi ancaman, atau sepertinya datang tanpa ada penyebabnya – yaitu bila 
bukan merupakan respon terhadap perubahan lingkungan ,
Gangguan kecemasan diklasifikasikan sebagai neurosis hampir 
sepanjang abad ke-19. Istilah neurosis diambil dari akar kata yang berarti 
„suatu kondisi abnormal atau sakit dari sistem saraf‟ dan ditemukan oleh 
Cullen  pada abad ke-18. Neurosis dilihat sebagai suatu 
penyakit pada sistem saraf. Kemudian berganti dengan pengertian dari Freud 
pada abad ke-20. Freud mengatakan bahwa tingkah laku neurotik terjadi 
karena adanya ancaman bahwa ide-ide pembangkit kecemasan yang tidak 
dapat diterima akan muncul ke dalam alam sadar. Semua gangguan ini 
mencerminkan usaha ego untuk mempertahankan dirinya sendiri melawan 
kecemasan. Saat ini beberapa klini mengelompokkan masalah tingkah laku 
yang lebih ringan di mana orang-orang yang dikelompokkan di neurosis 
relatif masih mempunyai kontak yang baik dengan realitas sedangkan psikosis 
mempunyai ciri kehilangan kontak dengan realitas. 
 
2. Ciri-ciri Kecemasan  
Berikut ini dijelaskan ciri-ciri kecemasan 
2.1 Ciri – ciri fisik kecemasan 
a. Kegelisahan, kegugupan 
b. Tangan atau anggota tubuh bergetar  
c. Banyak berkeringat  
d. Telapak tangan berkeringat 
e. Pening  
f. Mulut atau kerongkongan terasa kering  
g. Sulit berbicara  
h. Sulit bernapas  
i. Bernapas pendek  
j. Jantung berdebar keras atau berdetak kencang  
k. Suara yang bergetar  
l. Jari-jari atau anggota tubuh menjadi dingin 
m. Leher atau punggung terasa kaku  
n. Sensasi seperti tercekik atau tertahan 
o. Sakit perut atau mual 
p. Sering buang air kecil 
q. Wajah terasa memerah 
r. Diare  
2.2 Ciri – ciri  Behavioral (perilaku) kecemasan 
a. Perilaku menghindar  
b. Perilaku melekat dan dependen  
c. Perilaku terguncang  
2.3 Ciri – ciri  Kognitif dari kecemasan  
a. Khawatir tentang sesuatu  
b. Perasaan terganggu akan ketakutan atau aprehensi terhadap sesuatu 
yang terjadi di masa depan  
 
c. Keyakinan bahwa sesuatu yang buruk atau mengerikan akan segera 
terjadi, tanpa ada penjelasan yang jelas  
d. Terpaku pada sensasi tubuh  
e. Sangat sensitif terhadap sensasi tubuh  
f. Merasa terancam oleh orang atau peristiwa  
g. Ketakutan akan kehilangan kontrol 
h. Ketakutan akan ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah 
i. Berpikir bahwa dunia akan runtuh  
j. Berpikir bahwa semuanya sudah tidak bisa dikendalikan 
k. Berpikir bahwa semuanya sangat membingungkan tanpa bisa diatasi 
l. Khawatir terhadap hal sepele  
m. Berpikir tentang hal yang mengganggu yang sama secara berulang-
ulang 
n. Pikiran terasa campur aduk 
o. Tidak mampu menghilangkan pikiran-pikiran negatif 
p. Berpikir akan segera mati 
q. Khawatir akan ditinggalkan sendiri 
r. Sulit berkonsentrasi atau memusatkan perhatian  
 
B. TIPE-TIPE GANGGUAN KECEMASAN  
1. Gangguan Panik 
1.1. Pengertian  
Gangguan panik mencakup munculnya serangan panik yang berulang 
dan tidak terduga. Serangan-serangan panik melibatkan reaksi 
kecemasan yang intens disertai dengan simtom-simtom fisik, seperti 
jantung yang berdebar-debar, nafas cepat, nafas tersengal atau 
kesulitan bernafas, banyak mengeluarkan keringat, dan terdapat rasa 
 
 
lemas dan pusing  Suatu diagnosis gangguan panik 
didasarkan pada kriteria sebagai berikut: 
1) Mengalami serangan panik secara berulang dan tidak terduga 
(sedikitnya dua kali. 
2) Sedikitnya satu dari serangan tersebut diikuti oleh setidaknya 
satu bulan rasa takut yang persisten dengan adanya serangan 
berikutnya atau merasa cemas akan implikasi atau konsekuensi 
dari serangan (misalnya, takut kehilangan akal „menjadi gila‟ 
atau serangan jantung) atau perubahan tingkah laku yang 
signifikan  Gangguan panik biasanya dimulai 
pada akhir masa remaja sampai pertengahan usia 30-an tahun. 
Perempuan mempunyai kemungkinan dua kali lebih besar untuk 
mengembangkan gangguan panik (Nevid, dkk, 2005). 
 
1.2. Ciri-ciri diagnostik  
PPDGJ III menunjukkan pedoman diagnostik dari gangguan panik 
sebagai berikut 
1) Gangguan panik baru ditegakkan sebagai diagnosis gangguan 
utama bila tidak ditemukan adanya gangguan anxietas fobik 
(F40,-) 
2) Untuk diagnosis pasti harus ditemukan adanya beberapa kali 
serangan anxietas berat (severe attacks of autonomic anxiety) 
dalam masa sekitar satu bulan: 
a. Pada keadaan-keadaan di mana sebenarnya secara 
objektif tidak ada bahaya 
b. Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau 
yang dapat diduga sebelumnya (unpredictable 
situations)  
 
c. Dengan keadaan yang relatif bebas dari gejala-gejala 
anxietas pada periode di antara serangan-serangan panik 
(tetapi umumnya dapat terjadi juga “anxietas 
antisipatorik,” yaitu anxietas yang terjadi setelah 
membayangkan sesuatu yang tidak diharapkan akan 
terjadi. 
 DSM-5 menunjukkan kriteria dianostik dari gangguan panik sebagai 
berikut 
1) Serangan panik tidak terduga berulang. 
Serangan panik adalah sebuah gelombang ketakutan yang sangat 
kuat akan ketidaknyamanan intens yang akan mencapai 
puncaknya dalam hitungan menit, selama 4 menit (atau lebih).  
Gejala-gejala yang terjadi: 
a. Jantung berdetak lebih cepat 
b. Berkeringat 
c. Gemetaran 
d. Sensasi sesak nafas atau rasa tercekik 
e. Perasaan tersedak 
f. Terasa nyeri di dada dan tidak nyaman 
g. Mual atau sakit perut 
h. Perasaan pusing atau pingsan 
i. Menggigil atau sensasi panas 
j. Sensasi geli 
k. Perasaan tidak sadar 
l. Takut kehilangan kontrol atau “menjadi gila” 
m. Takut mati 
  
 
2) Setidaknya satu serangan telah diikuti dari satu bulan (atau lebih) 
dari satu atau kedua hal berikut: 
a. Khawatir tentang panik tambahan atau konsekuensinya 
(Seperti, kehilangan kontrol, mengalami serangan 
jantung, “menjadi gila”) 
b. Perubahan perilaku maladaptif yang signifikan terkait 
dengan serangan tersebut (contohnya, perilaku yang 
dirancang untuk menghindari serangan panik, seperti 
menghindari latihan atau siatuasi yang tidak biasa. 
Penjelasan tambahan  
1. Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek psikologis suatu zat 
(pengobatan) atau kondisi medis lainnya (misalnya, 
hipertiroidisme, gangguan kardiopulmoner) 
2. Gangguan ini tidak dijelaskan dengan baik sebagaimental 
disfearedsocial situation, seperti dalam gangguan kecemasan 
sosial, sebagai respon atas situasi atau objek fobia tertentu, 
seperti dalam fobia spesifik; sebagai respon atas obsesi, seperti 
pada obsessive-compulsive disorder; sebagai respon atas ingatan 
event traumatik, seperti pada gangguan stress pasca-trauma; atau 
sebagai respon untuk pemisahan dari attachment figure, seperti 
dalam separation anxiety disorder. 
Gangguan panik dapat diturunkan dari kelurga. Dalam 
beberapa kasus, sensasi fisik yang disebabkan oleh suatu penyakit 
dapat memicu beberapa orang mengalami gangguan panik. 
Sebgaai contoh, sindrom penurunan katup kiri jantung 
memicu jantung berdebar, penyakit telinga bagian dalam 

memicu kepusingan yang dirasakan beberapa orang 
menakutkan dan memicu terjadinya gangguan panik.  
Dalam teori biologi, panik disebabkan oleh aktivitas yang 
berlebihan dalam sistem noradrenergic (neuron yang mengguakan 
norepinefrin sebagai neurotransmiter). Hasil dari penelitian 
menemukan bahwa yohimbine, obat yang merangsang aktivitas 
dalam locus ceruleus, dapat menghentikan seranga panic pada 
pasien gangguan panik. namun obat-obatan yang menghambat 
pembakaran dalam locus cereleus ternyata tidak efektif untuk 
menangani serangan panik. Aktivitas noradrenergik yang 
berlebihan dapat disebabkan oleh masalah dalam neuron gamma-
aminobutyric (GABA), yang secara umum menghambat aktivitas 
noradrenergik .  
Serangan panik juga berhubungan dengan pernapasan yang 
berlebihan atau disebut dnegan hiperventilasi. Hiperventilasi 
mengaktivasi sistem saraf otonom, sekaligus memicu aspek-aspek 
somatik yang tidak asing dalam suatu episode panik. Menghirup 
udara yang mengandung karbon dioksida (CO2) lebih banyak dari 
biasanya dapat menimbulkan serangan panik di dalam situasi 
laboratorium, reseptor CO2, yang terlalu sensitive dapat 
merangsang hiperventilasi. Dan kemudian serangan panic. Dari 
hasil peneltian hanya ada satu dari 24 seranagn yang terjadi, 
sehingga penelitian biologi mengenai hiperventilasi dianggap 
gagal. 
Perspektif psikodinamika menjelaskan bahwa kecemasan 
adalah suatu sinyal bahaya dimana impuls-impuls yang 
mengancam yang sifatnya seksual atau agresif (membunuh) 
mendekat ke taraf kesadaran. Untuk menghalau impuls-impuls 
 
 
yang mengancam ini, ego mencoba untuk menghalangi atau 
mengalihkannya dengan menggunakan mekanisme pertahanan diri 
(Nevid, dkk, 2005). Dalam gangguan panik, impuls seksualatau 
agresif yang tidak dapat diterima mendekati batas-batas kesadaran 
dan ego berusaha keras untuk melakukan mekanisme represi, 
sehingga menimbulkan konflik besar yang pada akhirnya 
menimbulkan serangan panik. Panik akan menghilang jika impuls 
sudah aman direpresi kembali.  
Dari perspektif teori belajar, kecemasan diperoleh melalui 
proses belajar, terutama melalui conditioning dan belajar 
observasional  Pembentukan gangguan panik 
mungkin merupakan suatu bentuk dari classical conditioning 
Dalam pandangan ini, baik tanda eksternal (misalnya berada di 
kerumunan orang banyak) maupun tanda internal (misalnya, 
palpitasi jantung dan pusing) mungkin menjadi stimulus 
terkondisi (CSs) yang menumbuhkan perasaan panik karena telah 
diasosiasikan dengan timbulnya serangan panik di masa lalu.  
Teori kognitif menjelaskan bahwa cara berpikir yang 
terdistorsi dan disfungsional memegang peranan penting dalam 
pengembangan gangguan kecemasan. Pendekatan ini memandang 
bahwa penderita gangguan panik menganggap kecemasan sebagai 
sesuatu yang tidak dapat dikendalikan dan tidak dapat diprediksi. 
Kemungkian lain bahwa gangguan panik terjadi pada orang yang 
memiliki kecemasan tinggi. Kesalahan dalam menginterpretasi 
yang bersifat merusak stimuli dapat mempengaruhi gangguan 
kepanikan. serangan panik tejadi apabila merasakan sensasi fisik 
dan menginterpretasinya sebagai tanda-tanda datangnya kematian. 
Hal tersebut dapat memicu kecemasan yang lebih besar lagi.   
Penaganan biologis diberikan obat-obat antipanik. Beberapa 
obatan tersebut menunjukkan keberhasilan sebagai penanganan 
biologi bagi penderita gangguan panic. Obat-obatan tersebut 
mencakup antidpresan  (seperti Selective Serotonin Re-uptake 
(SSRI), Serotonin and Norepinephrine Reuptake Inhibitors 
(SNRI), Trisiklik, Monoamine Oxidase Inhibitors (MAOIs), dan 
Noradrenaline andSpesifik Serotonergic Antidepressants 
(NASSAs) dan benzodiazepine (seperti Alprazolam atau Xanax). 
Pada sisi negatif pemberian obat-obatan dihentikan karena 
adanya efek samping seperti rasa gugup, berat badan bertambah, 
serta denyut jantung dan tekanan darah yang meningkat . Pada pemakaian benzodiazepine 
mmeberikan efek kecanduan dan menghasilkan samping kognitif 
dan motorik, seperti berkurangnya ingatan dan sulit dalam 
mengemudi. Walaupun hasilnya yang efektif, penanganan dengan 
obat-obatan harus terus dilakukan dalam waktu yang tidak 
terbatas karena sintom-sintom selalu muncul apapbila dihentikan 
Penangan biologis dengan pemberian pemaparan pada terapi dapat 
berguna dalam gangguan panik dengan agoraphobia. Beberapa 
studi menemukan bahwa efek pemaparan meningkat saat pasien di 
dorong untuk rileks, namun tidak adanya manfaat tambahan dari 
relaksasi. Penanganan psikologis terhadap gangguan panik telah 
berubah seiring berjalannya waktu. Barlow dan rekan-rekannya 
 
 
mengembangkan terapi pengendalian kepanikan (PCT-Panic 
Control Therapy) yang memiliki tiga komponen, yaitu: 
1) Training relaksasi. 
2) Kombinasi intervensi behavioral kognitif dari Ellis dan 
Beck. 
3) Pemaparan dengan tanda-tanda internal yang emmicu 
kepanikan. (Craske & Barlow; dalam Davison,dkk, 2004) 
2. Gangguan Cemas Menyeluruh  
2.1. Pengertian  
Salah satu tipe spesifik yang diakui oleh PPDGJ III dan DSM-V sebagai 
salah satu gangguan kecemasan adalah gangguan kecemasan 
menyeluruh atau generalized anxiety disorder. GAD (generalized 
anxiety disorder) yaitu suatu gangguan kecemasan yang ditandai dengan 
perasaan cemas yang umum dan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi 
dan keadaan peningkatan keterangsangan tubuh. GAD ditandai dengan 
kecemasan yang persisten yang tidak dipicu oleh suatu objek, situasi 
atau aktivitas yang spesifik, tetapi lebih merupakan apa yang disebut 
Freud dengan “mengambang bebas” (free floating). GAD merupakan 
suatu gangguan yang stabil, muncul pada pertengahan remaja sampai 
pertengahan umur dua puluhan tahun dan kemudian berlangsung 
sepanjang hidup (Rapee dalam Nevid, dkk, 2005).  
Gangguan ini muncul dua kali lebih  banyak pada perempuan 
dibandingkan pada laki-laki (APA dalam dalam Nevid,dkk, 2005). 
Orang dengan GAD adalah pencemas yang kronis, mungkin mereka 
mencemaskan secara berlebihan keadaan hidup mereka, seperti 
keuangan, kesejahteraan anak-anak, dan hubungan sosial mereka. Anak-
anak dengan gangguan ini mencemaskan prestasi akademik, atletik, dan 
aspek sosial lain dari kehidupan sekolah. Ciri lain yang terkait adalah:  
 
merasa tegang, waswas, atau khawatir; mudah lelah; mempunyai 
kesulitan berkonsentrasi atau menemukan bahwa pikirannya menjadi 
kosong; iritabilitas, ketegangan otot; dan adanya gangguan tidur, seperti 
sulit untuk tidur, untuk terus tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak 
memuaskan (APA dalam Nevid, dkk, 2005).Meskipun GAD secara 
tipikal kurang intens dalam respon fisiologisnya dibandingkan dengan 
gangguan panik, distress emosional yang diasosiasikan dengan GAD 
cukup parah untuk menganggu kehidupan orang sehari-hari.  GAD 
sering ada bersama dengan gangguan lain seperti depresi atau gangguan 
kecemasan lainnya seperti agoraphobia dan obsesif-kompulsif 
 
. Ciri-ciri diagnostik  
Pedoman diagnostik untuk gangguan kecemasan menyeluruh menurut 
PPDGJ-III (F41.1) 
 Penderita harus menunjukkan anxietas sebagai gejala primer yang 
berlangsung hampir setiap hari untuk beberapa minggu sampai 
beberapa bulan, yang tidak terbatas atau hanya menonjol pada 
keadaan situasi khusus tertentu saja (sifatnya free floating atau 
mengambang). 
 Gejala-gejala tersebut biasanya mencakup unsur-unsur berikut: 
a) Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, merasa seperti di 
ujung tanduk, sulit konsentrasi, dsb). 
b) Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak 
dapat santai). 
c) Over-aktivitas otonomi (kepala terasa ringan, berkeringat, 
jantung berdebar-debar, sesak napas, keluhan lambung, 
pusing kepala, mulut kering, dsb). 
 
 
 Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk 
ditenangkan (reassurance) serta keluhan-keluhan somatik berulang 
yang menonjol. 
 Adanya gejala-gejala lain yang sifatnya sementara (untuk beberapa 
hari), khususnyadepresi, tidak membatalkan diagnosis utama 
gangguan anxietas menyeluruh, selama haltersebut tidak memenuhi 
kriteria lengkap dari episode depresi (F32), gankap dari 
episodedepresi (F32), gangguan anxietas fobik (F40), gangguan 
panik (F41.0), gangguan obsesif-kompulsif (F42). 
 
Kriteria Diagnostik menurut DSM-V (300.02), sebagai berikut: 
 Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan yang timbul hampir 
setiap hari, sepanjang hari, terjadi sekurangnya 6 bulan, tentang 
sejumlah aktivitas atau kejadian (seperti pekerjaan atau aktivitas 
sekolah). 
 Individu sulit untuk mengendalikan kecemasan dan kekhawatiran. 
 Kecemasan diasosiasikan dengan 6 gejala berikut ini (dengan 
sekurang-kurangnya beberapa gejala lebih banyak terjadi 
dibandingkan tidak selama 6 bulan terakhir), yaitu kegelisahan, 
mudah lelah, sulit berkonsentrasi atau pikiran kosong, iritabilitas, 
ketegangan otot, dan gangguan tidur (sulit tidur, tidur gelisah atau 
tidak memuaskan). 
 Kecemasan, kekhwatiran, atau gejala fisik memicu distress 
atau terganggunya fungsi sosial, pekerjaan, dan fungsi penting 
lainnya. 
 
 
 Gangguan tidak berasal dari zat yang memberikan efek pada 
fisiologis (memakai obat-obatan) atau kondisi medis lainnya 
(seperti hipertiroid). 
 Gangguan tidak dapat  dijelaskan lebih baik oleh gangguan mental 
lainnya (seperti kecemasan dalam gangguan panik atau evaluasi 
negatif pada gangguan kecemasan sosial atau sosial fobia,  
kontaminasi atau obsesi lainnya pada gangguan obsesif-kompulsif, 
mengingat kejadian traumatik pada gangguan stress pasca 
traumatik, pertambahan berat badan pada anorexia nervosa, 
komplin fisik pada gangguan gejala somatik atau delusi pada 
gangguan schizophreniaor). 
 

Etiologi gangguan anxietas menyeluruh mencakup perspektif 
psikoanalisis,kognitif-behavioral, dan biologis. 

Teori psikoanalisis berpendapat bahwa sumber kecemasan 
menyeluruh (GAD)  adalah konflik yang tidak disadari antara ego 
dan impul-impuls id. Impuls-impuls tersebut, biasanya bersifat 
seksual atau agresif, berusaha untuk mengekspresikan diri, namun 
ego tidak membiarkaan karena tanpa disadari ia merasa takut 
terhadap hukuman yang akan diterima. Sumber kecemasan 
sebenarnya yaitu hasrat-hasrat yang berhubungan dengan impuls-
impuls id yang ditekan dan berjuang untuk mengekspresikan diri 
selalu hadir. Dengan kata lain tidak ada cara untuk menghindari 
kecemasan, jika seseorang meninggalkan id ia tidak lagi hidup, 
dengan demikian orang tersebut hampir selalu mengalami 
kecemasan. Orang yang menderita gangguan anxietas menyeluruh 
 
 
(GAD)  tidak mengembangkan tipe pertahanan sehingga selalu 
merasa cemas.  
Pemikiran utama teori kognitif behavioral tentang orang yang 
menderita anxietas menyeluruh (GAD) adalah gangguan yang 
disebabkan oleh proses-proses berpikir yang menyimpang. Orang-
orang yang menderita GAD sering kali salah mempersepsikan 
kejadian-kejadian yang biasa seperti menyeberang jalan 
merupakan sesuatu hal yang mengancam dan di kognisi mereka 
terfokus pada antisipasi berbagai bencana pada masa mendatang 
. Perhatian para 
pasien GAD mudah terarah pada stimulus yang mengancam 
Terlebih 
lagi pasien GAD lebih terpicu untuk mengintrepetasi stimulus 
yang tidak jelas sebagai sesuatu yang mengancam dan untuk 
menilai berbagai kejadian yang mengancam lebih mungkin terjadi 
pada mereka 
Sensitivitas pasien GAD yang sangat tinggi terhadap stimulus 
yang mengancam juga muncul bila stimulus tersebut tidak dapat 
diterima secara sadar 
Pandangan kognitif lain diajukan oleh Borkovec dan para 
koleganya bahwa  mereka memfokuskan pada gejala utama GAD, yaitu 
kekhawatiranberdasarkan perspektif hukuman. Seseorang 
mungkin bertanya-tanya mengapa ada orang yang sering merasa 
khawatir karena kekhawatiran dianggap sebagai kondisi negatif 
yang seharusnya tidak mendorong pengulangan. Borkovec dan 
para koleganya mengumpulkan bukti-bukti bahwa kekhawatiran 
sebenarnya merupakan penguatan negatif; ia mengalihkan pasien 
dari berbagai emosi negatif sehingga diperkuat oleh hasil yang 
positif bagi individu terkait.  
Kunci untuk memahami posisi ini adalah menyadari bahwa 
kekhawatiran tidak menciptakan banyak ketegangan emosional, 
sebagai contoh hal itu tidak menciptakan berbagai perubahan 
fisiologis yang menyertai emosi, dan pada kenyatannya 
menghambat pemrosesan stimulasi emosional. Dengan demikian, 
melalui rasa khawatir, orang-orang yang menderita GAD  
menghindari berbagai citra yang tidak mengenakkan. dan sebagai 
konsekuensinya kecemasan yang mereka rasakan terhadap 
berbagai citra tersebut tidak hilang. Salah satu kemungkinan data 
yang menunjukkan bahwa penderita GAD menuturkan mengalami 
lebih banyak pascatrauma yang mencakup kematian, cedera, atau 
penyakit. namun demikian, hal tersebut bukan sesuatu yang 
mereka khawatirkan, kekhawatiran dapat mengalihkan para 
penderita GAD  dari berbagai citra pascatrauma yang 
menyakitkan.  
Beberapa studi mengindikasikan bahwa GAD dapat memiliki 
komponen genetik. GAD sering ditemukan pada orang-orang yang 
memiliki hubungan keluarga dengan penderita gangguan ini, dan 
terdapat kesesuaian yang lebih tinggi di antara kembar MZ 
dibanding kembar DZ. Namun tingkat komponen genetik ini 
tampaknya rendah 
 
Model neurobiologis yang paling umum untuk gangguan 
anxietas menyeluruh dilandasi oleh pengetahuan mengenai cara 
kerja benzodiazepine, suatu kelompok obat-obatan yang sering 
kali efektif untuk menangani kecemasan, para peneliti menemukan 
suatu reseptor dalam otak untuk benzodiazepine yang 
berhubungan dengan neurotransmitter penghambat yaitu asam 
gamma-aminobutyric (GABA). Pada reaksi ketakutan yang 
normal, neuron di seluruh otak memicu dan menciptakan 
kecemasan. Proses tersebut juga merangsang sistem GABA, yang 
menghambat aktivitas ini dan mengurangi kecemasan. GAD dapat 
disebabkan oleh kerusakana dalam sistem GABA sehingga 
kecemasan tidak dapat dikendalikan. benzodiazepine dapat 
mengurangi kecemasan dengan meningkatkan pelepasan GABA 
secara bersama, obat-obatan yang menghambat sistem GABA  
memicu peningkatan kecemasan  Banyak hal yang masih harus dipelajari, namun pendekatan 
ini tampaknya ditakdirkan untuk meningkatkan pemahaman kita 
terhadap kecemasan. 
2.4. Penanganan  
Seperti yang telah disebutkan bahwa GAD sulit ditangani dengan 
berhasil . Terapi mencakup pendekatan Psikoanalisis, behavioral, 
kognitif, dan biologis. 
Pendekatan Psikoanalisis memandang bahwa gangguan 
kecemasan menyeluruh berakar dari konflik-konflik yang di tekan, 
sehingga penting untuk membantu pasien menghadapi sumber-
sumber konflik yang sebenarnya. penanganannya hampir sama 
 
 
dengan penangan fobia. Suatu studi tanpa kontrol menggunakan 
intervensi psikodinamika yang memfokuskan pada konflik 
interpersonal dalam kehidupan masa lalu dan masa kini pasien dan 
mendorong cara lebih adaptif untuk berhubungan dengan orang 
lain. Pada saat ini, sama dengan para terapi kognitif behavioral 
mendorong penyelesaian masalah sosial. Hasil-hasil intervensi ini 
cukup mengembirakan dan pantas untuk diteliti lebih dalam 
dengan kontrol eksperimental yang lebih baik, seperti kelompok 
kontrol tanpa penaganan dan kelompok kontrol pembanding 
Para ahli klinis behavioral menangani kecemasan menyeluruh 
dengan berbagai cara. Jika terapi menganggap kecemasan sebagai 
serangkaian respon terhadap berbagai situasi yang dapat 
dindentifikasi, apa yang tampak sebagai kecemasan yang bebas 
mengalir dapat diformulasi ulang pada satu fobia lebih atau 
kecemasan bersyarat.  Kesulitannya yaitu menemukan penyebab 
spesifik kecemasan yang diderita pasien semacam itu. Kesulitan 
ini memicu para ahli klinis behavioral untuk memberikan 
penanganan yang lebih umum, seperti training relaksasi intensif, 
dengan harapan bahwa belajar untuk rileks ketika merasa tegang 
seiring mereka menjalani hidup akan mencegah kecemasan 
berkembang tanpa kendali 
Jika suatu perasaan tidak berdaya tampakanya mendasari 
kecemasan pervasif, terapis berorientasi akan membantu klien 
 
 
menguasai keterampilan apapun yang dapat menumbuhkan 
perasaan kompoten, keterampilan tersebut, termasuk asertivitas, 
dapat diajarkan melalui instruksi verbal, modeling, atau 
pembentukan operant dan sangat mungkin kombinasi secara hati-
hati dan ketiganya  
Bukan suatu hal yang mengejutkan, teknik-teknik kognitif juga 
digunakan dalam penanganan kekhawatiran kronis, komponen 
utama GAD. Kekhawatiran merupakan kejadian kognitif yang 
memikirkan tentang berbagai kemungkinan yang menakutkan. 
Pendekatan Borkovec  mengombinasikan berbagai elemen Wolpe Dan Beck, 
yaitu ia mendorong pemaparan bertingkat terhadap berbagai 
situasi yang memicu kekhawatiran seiring pasien mencoba 
menerapkan keterampilan relaksasi dan analisis logis terhadap 
berbagai hal.  Secara Kontras, Barlow dan rekan-rekannya lebih 
menyukai pemaparan dalam waktu lama dan berlebihan terhadap 
sumber masalah kecemasan berlebihan 
Anxiolytic, jenis obat yang disebutkan untuk menangani fobia dan 
gangguan panik, mungkin merupakan penanganan yang paling 
banyak digunakan untuk gangguan kecemasan menyeluruh. Obat-
obatan, terutama benzodiazepine, seperti Valium, Xanas, dan  
buspirone (BuSpar), sering kali digunakan karena pervasivitas 
gangguan. Setelah diminum, obat-obatan tersebut akan bekerja 
selama beberapa jam dalam berbagai situasi yang dihadapi. 
 
 
Sejumlah studi double blind menegaskan bahwa obat-obatan 
tersebut memberi lebih banyak manfaat bagi pasien GAD 
dibanding placebo 
Obsesif adalah pikiran, ide, atau dorongan yang intrusive dan 
berulang yang berada di luar kemampuan seseorang untuk 
mengendalikannya. Obsesi dapat menjadi sangat kuat dan persisten 
sehingga dapat menganggu kehidupan sehari-hari dan menimbulkan 
distress serta kecemasan yang signifikan. Misalnya orang yang selalu 
bertanya tanpa berekesudahan apakah pintu sudah dikunci atau tidak. 
Seseorang mungkin terobsesi dengan impuls untuk menyakiti 
pasangannya. Seseorang dapat mempunyai berbagai macam gambaran 
mental seperti fantasi berulang dari seseorang dari ibu muda bahwa 
anak-anaknya dilindas mobil dalam perjalanan pulang kerumah. 
Contoh pola pikiran obsesif yaitu berpikir bahwa tangannya tetap kotor 
walaupun dicuci berkali-kali, kesulitan untuk menghilangkaj pikiran 
bahwa seseorang dicintai telah terbunuh, berpikir berulang-ulang  
bahwa pintu rumah ditinggalkan terbuka tanpa dikunci dll. Secara 
klinis, obsesi yang paling banyak terjadi berkaitan dengan ketakutan 
akan kontaminasi, ketakutan mengekspresikan impuls seksual atau 
agresif, dan ketakutan hipokondrial akan disfungsi tubuh  Obsesi juga dapat 
berupa keragu-raguan ekstrem, prokrastinasi, dan ketidaktegasan. 
Kompulsif adalah suatu tingkah laku yang repetitif (seperti 
mencuci tangan atau memeriksa kunci) atau tindakan mentalritualistik 
(seperti berdoa atau mengulang kata tertentu) yang dirasakan oleh 
seseorang sebagai suatu keharusan atau dorongan yang harus 
 
 
dilakukan  Kompulsif terjadi sebagai 
jawaban terhadap pikiran obsesif dan muncul dengan cukup sering 
serta kuat sehingga menganggu kehidupan sehari-hari atau 
memicu distress yang signifikan. Contoh pola perilaku kompulsif 
yaitu mengecek kembali pekerjaan secara berulang-ulang, terus 
menerus mencuci tangan supaya bersih, mengecek kembali berulang-
ulang saluran gas sebelum meninggalkan rumah.
menyebutkan bahwa terdapat empat dimensi utama dari simtom OCD. 
Keempat dimensi tersebut adalah sebagai berikut 
a. Obsesi yang diasosiasikan dengan kompulsi untuk 
memeriksa sesuatu; 
b. Kebutuhan akan hal yang simetris dan meletakkan sesuatu 
sesuai dengan urutannya; 
c. Obsesi terhadap kebersihan yang kemudian diasosiasikan 
dengan kompulsi untuk membersihkan; 
d. Perilaku individu yang menumpuk barang. 
Adapun kriteria diagnostik untuk gangguan obsesif kompulsif 
berdasarkan PPDGJ III sebagai berikut:: 
1. Gejala yang timbul merupakan sumber penderitaan (distress) 
atau mengganggu aktivitas penderita. 
2. Gejala-gejala obsesif mencakup hal berikut: 
a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri  
b. Sedikitnya ada 1 pikiran atau tindakan yang tidak berhasil 
dilawan 
 
 
c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut bukan merupkan 
hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar 
perasaan lega dari anxietas) 
d. Gagasan atau impuls tersebut merupakan pengulangan yang 
tidak menyenangkan 
e. Ada kaitan antara gejala obsesif-kompulsif dengan depresi. 
Penderita OCD seringkali juga menunjukkan gejala depresif 
begitupun sebaliknya. 
Dalam teori psikoanalisis, obsesif dan kompulsif 
dipandang sebagai hal yang sama, yang disebabkan oleh 
dorongan instingtual, seksual, atau agresif yang tidak dapat 
dikendalikan karena toilet training yang terlalu keras. Simtom-
simtom yang muncul dianggap mencerminkan hasil perjuangan 
antara id dan superego. Terkadang insting agresif id yang  
mendominasi atau superego yang mendominasi. Sebagai 
contohketika pikiran obsesif untuk membunuh muncul, saat itu 
dorongan id mendominasi. Namun jika superego lebih kuat 
maka pikiran obsesif untuk membunuh tersebut tidak terjadi 
. Psikoanalisa juga memandang bahwa 
obsesi sevagai representasi dari merembesnya impuls-impuls 
tak sadar ke dalam kesadaran, dan kompulsi adalah tindakan 
yang membantu untuk membuat impuls ini terepresi  Alfred Adler memandang gangguan obsesif 
kompulsif sebagai akibat dari rasa tidak kompeten. Adler 
percaya bahwa ketika anak-anak tidak didorong untuk 
mengembangkan suatu perasaan kompeten oleh orang tua yang 
 
 
terlalu memanjakan atau sangat dominan, mereka mengalami 
kompleks inferioritas dan secara tidak sadar dapat melakukan 
ritual kompulsif untuk menciptakan suatu wilayah di mana 
mereka dapat menggunakan kendali dan merasa terampil. 
Adler berpendapat bahwa tindakan kompulsif memungkinkan 
seseorang sangat terampil dalam suatu hal, bahkan jika suatu 
hal itu hanya berupa posisi menulis di meja 
 

Teori behavioral menganggap kompulsif sebagai 
perilaku yang dipelajari yang dikuatkan oleh reduksi rasa takut 
Sebagai 
contoh, mencuci tangan secara kompulsif dipandang sebagai 
respons-pelarian operant yang mengurangi kekhawatiran 
obsesional dan ketakutan terhadap kontaminasi oleh kotoran 
dan kuman. Ketidakmampuan untuk mengingat suatu tindakan 
secara akurat (seperti mematikan kompor) atau membedakan 
antara perilaku aktual dan perilaku yang dibayangkan 
("Mungkin saya hanya berpikir telah mematikan kompor") 
dapat memicu seseorang berulang kali melakukan 
pengecekan.  
Obsesi pasien penderita gangguan obsesif kompulsif 
biasanya membuat mereka cemas , sama halnya dengan pikiran yang 
agak mengganggu pada orang-orang normal tentang stimuli 
yang penuh stres, misalnya film yang menakutkan. Sebagian 
besar orang kadang-kadang memiliki pemikiran yang tidak 
diinginkan yang memiliki kesamaan isi dengan obsesi. Pikiran 
 
 
yang tidak menyenangkan ini bertambah ketika seseorang 
berada dalam kondisi stres. Individu normal dapat menoleransi 
atau menghapus kognisi tersebut. Namun, bagi indvidu yang 
menderita gangguan obsesif kompulsi pikiran-OCD juga dapat 
dipicu oleh keyakinan bahwa memikirkan tentang kejadian 
yang berpotensi tidak menyenangkan membuat kejadian 
tersebut lebih besar kemungkinannya untuk benar-benar terjadi 

 
Encefalias, cedera kepala, dan tumor otak diasosiasikan 
dengan terjadinya gangguan obsesif-kompulsif. Hal tersebut 
difokuskan pada area otak yang terpengaruh oleh trauma 
tersebut yaitu lobus frontalis dan ganglia basalis, serangkaian 
nukleisub-kortikal termasuk caudate, putamen, globus 
poallius,dan amygdala. Studi pemindaian dengan PET 
menunjukkan peningkatan aktivasi pada lobus frontalis pasien 
OCD, mencerminkan kekhawatiran mereka yang berlebihan 
terhadap pikirannya. Sedangkan pada ganglia basal yang 
merupakan suatu sistem yang berhubungan dengan 
pengendalian perilaku motorik disebabkan oleh relevansinya 
dengan kompulsif dan juga dengan hubungan antara OCD dan 
sindrom Tourette 
OCD disebabkan oleh suatu sistem neurontransmitter 
yang berpasangan dengan serotonin bila dipengaruhi 
antidepresan, sistem serotonin memicu perbuahan pada 
sistem lain yang merupakan lokasi sebenarnya dari efek 
terapeutik 
Terapi psikoanalisis untuk obsesi dan kompulsi mirip 
dengan untuk fobia dan kecemasan menyeluruh, yaitu 
mengangkat represi dan memberi jalan pada pasien untuk 
menghadapi hal yang benar-benar ditakutkannya. Karena 
pikiran yang mengganggu dan perilaku kompulsif melindungi 
ego dari konflik yang di tekan merupakan target yang sulit 
untuk intervensi terapeutik, dan prosedur psikoanalisis serta 
psikodinamika terkait tidak efektif untuk menangani gangguan 
ini (Esman, 1989 dalam Davison, dkk 2014) 
Salah satu pandangan psikoanalisis mengemukakan 
hipotesis bahwa keragu-raguan yang tampak pada sebagian 
besar penderita obsesif-kompulsif berasal dari kebutuhan 
terhadap kepastian benarnya suatu tindakan sebelum tindakan 
tersebut dilakukan 
Dengan demikian, pasien harus belajar untuk menoleransi 
ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan semua orang 
seiring mereka menghadapi kenyataan bahwa tidak ada sesuatu 
yang pasti atau dapat dikendalikan secara mutlak dalam hidup 
ini. Fokus akhir dalam terapi tetap berupa berbagai penyebab 
simtom yang tidak disadari 
3.4.2. Pendekatan Behavioral: Pemaparan dan Pencegahan 
Ritual (ERP- exposure and Ritual Prevention).  
Pendekatan behavioral yang paling banyak digunakan 
dan diterima paling banyak secara umum untuk ritual 
kompulsif, yang dipeloporkan di Inggris oleh Victor Meyer 
 
 
(1966) mengombinasikan pemaparan dengan pencegahan 
respons (ERP)  Pendekatan tersebut baru-baru ini berganti nama yaitu 
pemaparan dan pencegahan ritual untuk menggarisbawahi 
keyakinan magis yang dimiliki para penderita OCD bahwa 
perilaku kompulsif mereka akan mencegah terjadinya hal-hal 
yang menakutkan. Dalam metode ini (kadang disebut flooding) 
seseorang memaparkan dirinya pada situasi yang menimbulkan 
tindakan kompulsif seperti memegang piring kotor-kemudian 
menghindari untuk tidak melakukan ritual yang biasa 
dilakukannya- yaitu mencuci tangan. Asumsinya adalah bahwa 
ritual tersebut merupakan penguatan negatif karena mengurangi 
kecemasan yang ditimbulkan oleh suatu stimulus atau peristiwa 
dalam lingkungan seperti debu di kursi. Mencegah seseorang 
melakukan ritual akan memaparkannya pada stimulus yang 
menimbulkan kecemasan sehingga memungkinkan terhapusnya 
kecemasan tersebut. Kadangkala pemaparan dan pencegahan 
ritual ini dilakukan melalui imajinasi, terutama jika tidak 
memungkinkan untuk melakukannya secara nyata, contohnya, 
bila seseorang percaya bahwa ia akan terbakar di neraka jika 
gagal melakukan ritual tertentu. 
3.4.3. Terapi perilaku Rasional Emotif 
Terapi perilaku rasional emotif untuk mengurangi OCD 
adalah membantu pasien menghapuskan keyakinan bahwa 
segala sesuatu mutlak harus berjalan seperti yang mereka 
inginkan atau bahwa segala tindakan yang mereka lakukan 
harus mutlak memberikan hasil sempurna 
 
Dalam pendekatan ini, pasien didorong untuk menguji 
ketakutan mereka bahwa sesuatu yang mengerikan akan terjadi 
jika mereka tidak melakukan ritual kompulsif Jelaslah, bagian 
tak terpisahkan dalam terapi kognitif semacam itu adalah 
pemaparan dan pencegahan respons (atau ritual), karena untuk 
mengevaluasi apakah tidak melakukan ritual kompulsif akan 
memberikan konsekuensi yang mengerikan, pasien harus 
menahan diri untuk tidak melakukan ritual tersebut. 
  Obat-obatan yang meningkatkan level serotonin seperti SSRI 
beberapa tricyclic, merupakan penanganan biologis yang paling 
sering diberikan kepada pasien dengan gangguan obsesif-
kompulsif. Kedua kelompok obat-obatan tersebut telah 
memberikan hasil yang menguntungkan, walaupun perlu 
dicatat bahwa suatu kajian terhadap penanganan farmakologis 
oleh dua psikiater merendahkan pentingnya ERP sebagai 
pendekatan baris pertama Beberapa studi menemukan antidepresan 
tricyclic kurang efektif dibandingkan ERP, dan suatu studi 
terhadap antidepresan menunjukkan perbaikan dalam ritual 
kompulsif hanya pada pasien OCD yang juga menderita 
depresi. Dalam studi lain, manfaat antidepresan tricyclic bagi 
OCD ternyata hanya berjangka pendek; penghentian obat ini 
memicu 90 persen tingkat kekambuhan, jauh lebih tinggi 
dibanding pada pencegahan respons 
 
Masalah potensial dengan terapi obat adalah bahwa pasien 
kemungkinan menganggap perbaikan klinis yang terjadi 
disebabkan oleh obat dan bukan karena sumber daya mereka 
sendiri  Terapi obat biasanya 
dikombinasikan dengan terapi kognitif-behavioral. Beberapa 
bukti telah menunjukkan bahwa terapi obat tidak mengganggu 
efektivitas dari penanganan kognitif-Behavioral 
Kata fobia berasal dari bahasa Yunani phobos, berarti takut. 
Takut adalah perasaan cemas dan agitasi sebagai respon terhadap 
ancaman. Gangguan phobia adalah rasa takut yang persisten terhadap 
objek atau situasi yang tidak sebanding dengan ancamannya. Orang 
dengan gangguan phobia tidak kehilangan kontak dengan realitas, 
mereka biasanya tahu bahwa ketakutan mereka itu berlebihan dan 
tidak pada tempatnya (Nevid, dkk, 2005). Orang dengan phobia 
mengalami ketakutan untuk hal-hal yang biasa yang untuk orang lain 
sudah tidak difikirkan lagi, seperti naik elevator atau naik mobil di 
jalan raya. Fobia terdiri dari tiga tipe, yaitu fobia spesifik, fobia sosial 
dan agoraphobia 
Fobia spesifik adalah ketakutan yang beralasan dan disebabkan 
oleh kehadiran atau antisipasi suatu objek atau situasi spesifik  DSM-V-  membagi fobia berdasarkan sumber 
ketakutannya, yaitu: Specific Phobia, Animal; Specific Phobia, Natural 
Environment; Specific Phobia, Blood; Specific Phobia,Injection-
Transfusion;Specific Phobia,Other Medical Care; Specific Phobia 
,Injury; Specific Phobia,Situational; Specific Phobia,Other. 
 
 
Fobia sosial adalah ketakutan menetap dan tidak rasional yang 
umumnya berkaitan dengan keberadaan orang lain. Individu yang 
menderita fobia sosial biasanya mencoba menghindari situasi yang 
membuatnya mungkin dinilai dan menunjukkan tanda-tanda 
kecemasan atau berperilaku secara memalukan ,
Fobia sosial dapat bersifat umum atau khusus, tergantung rentang 
situasi yang ditakuti dan dihindari. Orang-orang  dengan tipe umum 
mengalami fobia ini pada usia yang lebih awal, lebih banyak 
komorbiditas dengan berbagai gangguan lain, seperti depresi dan 
kecanduan alkohol, dan hendaya (gangguan) yang lebih parah. 
Gangguan ansietas sosial cenderung menjadi lebih kronis jika 
penanganannya tidak berhasil. Fobia sosial umumnya bermula pada 
masa remaja dan menghambat pembentukan hubungan persahabatan 
dengan teman-teman sebaya.  
Agoraphobia berasal dari bahasa Yunani yang berarti takut 
kepada pasar, yang sugestif untuk ketakutan berada ditempat-tempat 
terbuka dan ramai (Nevid, dkk, 2005). Agoraphobia melibatkan 
ketakutan terhadap tempat tempat atau situasi yang memberi kesulitan 
atau membuat malu seseorang untuk kabur dari situ bila terjadi 
simptom simptom panik atau serangan panik yang parah atau 
ketakutan kepada situasi dimana bantuan tidak bisa didapatkan bila 
problem terjadi. Agoraphobia dapat terjadi bersamaan atau tidak 
bersamaan dengan gangguan panik yang menyertai. Pada gangguan 
panik dengan agoraphobia, orang hidup dengan ketakutan terjadinya 
serangan yang berulang dan menghindari tempat-tempat umum. Orang 
orang dengan agoraphobia yang tidak punya gangguan panik dapat 
mengalami sedikit simptom panik seperti pusing yang menghalangi 
mereka untuk keluar dari tempat mereka.   
 

PPDGJ dan DSM-V mencantumkan beberapa simptom yang 
menjadi landasan seseorang menderita gangguan fobia. Simptom-
simptom tersebut sebagai berikut 
Pedoman Diagnostik:  
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti: 
a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus 
merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan 
sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau 
pikiran obsesif; 
b) Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi dalam 
hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi berikut: banyak 
orang/keramaian, tempat umum, bepergian keluar rumah, 
bepergian keluar rumah, dan bepergian sendiri; dan 
c) Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang 
menonjol (penderita menjadi “house-bound”). 
F40.1 Fobia Sosial 
Pedoman Diagnostik 
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti: 
a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus 
merupakan manifestasi sekunder dari anxietasnya dan bukan 
sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau 
pikiran obsesif; 
b) Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial 
tertentu (outside the family circle), dan  
 
 
c) Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang 
menonjol. 
 Bila terlalu sulit membedakan antara fobia sosial dengan 
agorafobia, hendaknya diutamakan diagnosis agorafobia 
(F40.0). 
F40.2 Fobia Khas (Terisolasi) 
Pedoman Diagnostik 
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti: 
a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus 
merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan 
sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau 
pikiran obsesif; 
b) Anxietas harus harus terbatas pada adanya objek atau situasi 
fobik tertentu (highly specific situations), dan  
c) Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya. 
Pada fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak 
seperti halnya agorafobia dan fobia sosial. 
 
DSM-V 
300.29 Fobia Spesifik 
Kriteria diagnosis: 
a) Menandai ketakutan atau kecemasan terhadap suatu objek atau 
situasi tertentu (terbang, ketinggian, binatang, jarum suntik, 
darah). 
b) Objek atau situasi fobia hampir selalu memancing ketakutan atau 
kecemasan tiba-tiba. 
c) Objek atau situasi fobia secara aktif dihindari atau diatasi dengan 
ketakutan atau kecemasan yang kuat. 
 
 
d) Ketakutan atau kecemasan itu tidak sesuai dengan bahaya 
sebenarnya yang ditimbulkan oleh objek atau situasi tertentu dan 
pada konteks kultur sosial. 
e) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran tersebut berlanjut, 
biasanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih. 
f) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran memicu 
gangguan-gangguan klinis yang signifikan pada kehidupan 
sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya. 
g) Gangguan tersebut tidak lebih baik dijelaskan oleh gejala dari 
gangguan mental lainnya, seperti ketakutan, kecemasan, dan 
penghindaran terhadap situasi dibantu dengan gejala seperti 
panik atau gejala ketidakmampuan lainnya (seperti pada 
agorafobia); objek atau situasi yang berkaitan dengan obsesi 
(seperti pada gangguan obsesif-kompulsif); ingatan atas suatu 
trauma (seperti pada gangguan stres pasca trauma); pemisahan 
dari rumah atau kasih sayang seseorang (seperti pada gangguan 
kecemasan pemisahan); atau pada situasi sosial (seperti pada 
gangguan kecemasan sosial). 
  300.23 Fobia Sosial 
Kriteria diagnosis: 
a) Menandai ketakutan atau kecemasan terhadap satu atau lebih 
situasi sosial dimana individu terlihat oleh pengamatan yang 
mungkin dilakukan oleh orang lain. Contohnya termasuk 
interaksi sosial (melakukan percakapan, bertemu orang asing), 
merasa diamati (makan dan minum), dan tampil di depan orang 
lain (memberi pidato). 
b) Individu merasa takut melakukan sesuatu jika menunjukkan 
gejala kecemasan akan ditanggapi negatif (akan dipermalukan, 
menuju pada penolakan atau penyerangan orang lain). 
 
 
c) Situasi sosial hampir selalu memancing ketakutan atau 
kecemasan. 
d) Situasi sosial dihindari atau diatasi dengan ketakutan atau 
kecemasan yang tinggi. 
e) Ketakutan atau kecemasan itu tidak sesuai dengan ancaman 
sebenarnya yang ditimbulkan situasi sosial dan pada konteks 
kultur sosial. 
f) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran tersebut berlanjut, 
biasanya berlangsung selama 6 bulan atau lebih. 
g) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran memicu 
gangguan-gangguan klinis yang signifikan pada kehidupan 
sosial, pekerjaan, atau bidang penting lainnya. 
h) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran tersebut tidak 
termasuk kedalam efek psikologis secara subtansi 
(penyalahgunaan obat-obatan, pengobatan) atau kondisi medis 
lainnya. 
i) Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran tidak lebih baik 
dijelaskan oleh gejala dari gangguan mental lainnya, atau 
gangguan spektrum autisme. 
j) Jika kondisi medis lainnya (penyakit parkinson, obesitas, cacat 
dari luka bakar atau cidera) ada, maka ketakutan, kecemasan, 
atau penghindaran jelas tidak terkait atau berlebihan. 
 

Freud menyatakan bahwa phobia merupakan pertahanan 
terhadap kecemasan yang disebabkan oleh impuls id yang ditekan. 
Kecemasan ini dialihkan dari impuls id yang ditakuti yang ditakuti dan 
 
 
dipindahkan ke objek atau situasi yang memiliki koneksi simbolik 
dengannya. Fobia adalah cara ego untuk menghindari konfrontasi 
dengan masalah sebenarnya, yaitu konflik masa kecil yang ditekan 

Teori behavioral berfokus pada pembelajaran sebagai cara 
berkembangnya fobia. Beberapa tipe dalam pembelajaran mungkin 
berperan dalam berkembangnya fobia dalam diri individu. 
Avoidance Conditioning menjelaskan fobia dalam perspektif 
behavioral adalah reaksi atau respon avoidance yang telah dipelajari 
oleh individu. Salah satu demontrasi yang dilakukan oleh  Watson dan 
Rayner  mengenai pengondisian terhadap 
suatu rasa takut atau fobia. Formulasi avoidance conditioning dilandasi 
oleh dua faktor yang diajukan oleh Mcwrer  yang menyatakan bahwa fobia berkembang dari dua rangkaian 
pembelajaran yang saling berkaitan.  
1) Melalui classical conditioning, seseorang dapat belajar untuk takut 
pada suatu stimulus netral (CS) jika stimulus tersebut dipasangkan 
dengan kejadian yang secara instrinsik menyakitkan atau 
menakutkan (UCS). 
2) Seseorang dapat belajar mengurangi rasa takut yang dikondisikan 
tersebut dengan melarikan diri atau menghindari CS. Jenis 
pembelajaran yang kedua ini diasumsikan sebagai operant 
conditioning, respons dipertahankan oleh konsekuensi mengurangi 
ketakutan yang menguatkan. 
Modelling menjadi salah satu faktor yang dapat memicu fobia. 
Selain belajar untuk takut terhadap sesuatu sebagai akibat dari 
pengalaman yang tidak menyenangkan, ketakutan juga dapat dipelajari 
dengan meniru reaksi dari orang lain. berbagai macam perilaku, 

 
termasuk respon-pespon emosional dapat dipelajari dengan 
menyaksikan suatu model. Pembelajaran terhadap rasa takut dengan 
mengamati orang lain secara umum disebut sebagai vicarious 
learning.Vicarious learning juga dapat terjadi melalui instruksi verbal, 
yaitu reaksi fobik yang dapat dipelajari melalui deskripsi yang 
diberikan orang lain tentang apa yang mungkin terjadi selain melalui 
observasi terhadap ketakutan orang lain. 
Pembelajaran yang Dipersiapkan (Prepare Learning) merupakan 
fakta yang menunjukkan bahwa stimulus tertentu yang netral atau 
stimuli yang dipersiapkan lebih mungkin dibandingkan stimuli yang 
lain untuk menjadi stimuli yang dikondisikan secara klasik yang 
mungkin berperan terhadap kecenderungan bahwa orang-orang hanya 
takut pada objek atau situasi tertentu seperti laba-laba, ular, dan 
ketinggian serta tidak merasakannya pada objek lainnya seperti domba. 
Beberapa ketakutan bisa saja sangat mencerminkan classical 
conditioning, namun hanya pada stimuli yang secara fisiologis 
memang sensitive bagi suatu organisme. Eksperimen pengondisian 
yang menunjukkan extinction rasa takut secara cepat mungkin 
menggunakan berbagai CS yang tidak siap dihubungkan dengan UCS  
oleh organisme bersangkutan. 
Diperlukan Diathesis. Beberapa orang yang memiliki pengalaman 
traumatis tidak mengalami ketakutan yang menetap. Contohnya, 50% 
diantara orang-orang yang sangat ketakutan terhadap anjing 
menuturkan pengalaman traumatis yang pernah mereka alami dengan 
anjing, begitu juga dengan 50% diantara orang-orang yang tidak takut 
anjing. Perbedaan diantara dua kelompok tersebut adalah kelompok 
fobik berfokus dan menjadi cemas terhadap kemungkinan munculnya 
kejadian traumatis yang sama pada masa mendatang. Dengan 
demikian, diathesis kognitif meyakini bahwa kejadian traumatis yang 
 
sama akan terjadi pada masa mendatang mungkin merupakan suatu hal 
penting dalam terbentuknya fobia. Kemungkinan diathesis psikologis 
lain adalah adanya riwayat yang menunjukkan ketidakmampuan 
mengendalikan lingkungan. 
Keterampilan Sosial yang Kurang dalam Fobia Sosial. Fobia sosial 
menganggap bahwa perilaku yang tidak tepat atau kurangnya 
keterampilan sosial sebagai penyebab kecemasan sosial. Pandangan 
tersebut menyatakan bahwa individu tidak pernah belajar cara 
berperilaku agar individu tersebut merasa nyaman dengan orang lain, 
atau individu tersebut berulangkali melakukan kecerobohan, kikuk dan 
secara sosial tidak kompeten, serta sering dikritik oleh rekan-rekan 
sosial. Penemuan yang menguatkan model ini menunjukkan bahwa 
orang-orang yang memiliki kecemasan sosial memang memiliki skor 
rendah dalam tingkat keterampilan sosial dan orang-orang tersebut 
juga tidak mampu memberikan respon pada waktu serta tempat yang 
tepat dalam interaksi sosial.Seseorang yang keterampilan sosialnya 
rendah memiliki kemungkinan menciptakan situasi yang menakutkan 
bersama orang lain. sebagai contoh, ketika individu tidak mengetahui 
cara merespon dengan sopan dan memicu situasi interpersonal yang 
tidak menyenangkan, bahkan konflik yang menegangkan. Dapat 
diduga bahwa hukuman yang diterima dari orang lain akan membuat 
orang tersebut lebih merasa takut berinteraksi dengan orang lain. 

Pandangan kognitif mengenai kecemasan secara umum dan 
fobia secara khusus berfkus pada proses berpikir manusia yang dapat 
berperan sebagai diathesis dan pikiran yang dapat membuat fobia 
menetap. Kecemasan dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar 
untuk menanggapi stimuli negative, menginterpretasi informasi yang 
tidak jelas sebagai informasi yang mengancam, dan mempercayai 
 
 
bahwa kejadian negative memiliki kemungkinan lebih besar untuk 
terjadi di masa mendatang. Isu utama dalam teori kognitif adalah 
kognisi memicu kecemasan atau kecemasan yang membentuk 
kognisi. Meskipun beberapa beberapa bukti eksperimental 
mengindikasikan bahwa cara menginterpretasi stimuli 
dapatmemicu kecemasan di laburatorium, namun tidak diketahui 
apakah bias kognitif menjadi penyebab gangguan anxietas. 
Teori kognitif mengenai fobia juga relevan untuk berbagai fitur 
lain dalam gangguan ini. rasa taku yang menetap dari fakta bahwa 
ketakutan tersebut sesungguhnya tampak tradisional bagi mereka yang 
mengalaminya. Fenomena ini dapat terjadi karena rasa takut melalui 
proses-proses otomatis yang terjadi pada awal kehidupan dan tidak 
disadari. Setelah proses awal tersebut, stimulus dihindari sehingga 
tidak diproses cukup lengkap dan yang dapat menghilangkan rasa 
takut tersebut. 
4.3.4. Faktor-faktor Biologis yang Memengaruhi 
Sistem saraf Otonom. Orang-orang yang mengalami fobia 
sosial sering kali merasa takut bahwa wajah mereka akan memerah 
atau berkeringat secara berlebihan di depan umum. Karena berkeringat 
dan memerahnya wajah dikendalikan oleh sistem saraf otonom, 
aktivitas sistem saraf otonom yang berlebihan kemungkinan 
merupakan suatu diathesis. Beberapa bukti tidak menunjukkan bahwa 
orang-orang yang menderita fobia sangat berbeda dalam pengendalian 
berbagai bentuk aktivitas otonomik, walaupun saat berada dalam 
situasi seperti berbicara di depan umum yang diharapkan akan terjadi 
perbedaan. Orang-orang yang menderita fobia sosial yang sebelumnya 
menuturkan bahwa memerahnya wajah secara actual tidak lebih 
memerah dibandingkan dengan orang-orang yang menderita fobia 
sosial yang tidak menuturkan memerahnya wajah. Dengan demikian, 
 
 
apabila aktivitas otonom yang berlebih memeliki relevansi dengan 
fobia sosial, rasa takut terhadap konsekuensi aktivitas otonom 
mungkin merupakan hal yang lebih penting. 
Faktor Genetik. Keluarga dekat memiliki gen yang sama dan 
memiliki kesempatan besar untuk saling mengamati serta 
mempengaruhi sehingga dapat mengindikasikan peniruan langsung 
dari satu anggota ke anggota keluarga lainnya. Walaupun terdapat 
beberapa alasan untuk mempercayai bahwa faktor-faktor genetic 
mungkin berperan dalam etiologi fobia, hingga saat ini belum ada 
bukti yang tegas menunjukkan sejauh mana peran faktor genetik 
dalam fobia yang dialami oleh individu. 

Pada pendekatan psikoanalilis seperti halnya teori psikoanalisis 
yang memiliki banyak variasi, demikian juga terapi psikoanalisis. 
Secara umum, semua penanganan psikoanalisis pada fobia berupaya 
mengungkap konflik-konflik yang ditekan yang diasumsikan 
mendasari ketakutan ekstrem dan karasteristik penghindaran dalam 
gangguan ini. Karena fobia dianggap simptom dari konflik-konflik 
yang ada dibaliknya, fobia biasanya tidak secara langsung ditangani, 
Dalam berbagai kombinasi tradisi psikoanalisis menggunakan 
berbagai teknik yang dikembangkan dalam tradisi psikoanalisis dalam 
membantu mengangkan represi. Dalam asosiasi bebas analisis 
mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang disebutkan pasien 
terkait dengan setiap rujukan mengenai fobia. Analisis juga berupaya 
menemukan berbagai petunjuk terhadap penyebab fobia yang ditekan 
dalam isi mimpi yang tampak jelas. Apa yang diyakini analisis 
 
 
mengenai penyebab yang ditekan tersebut tergantung pada teori 
psikoanalisis tertentu yang dianutnya. Analisis ego kontemporer 
kurang menfokuskan pada riwayat insight dan lebih fokus untuk 
mendorong pasien menghadapi fobia, 
Desensitisasi sistematik merupakan terapi behavioral utama 
yang pertama kali digunakan secara luas untuk menangani fobia 
(Wolpe, 1958., dalam Davison dkk, 2004). Individu yang menderita 
fobia membayangkan serangkaian situasi yang semakin menakutkan 
sementara berada dalam kondisi relaksasi mendalam (Davison dkk, 
2004). Flooding adalah teknik terapeutik dimana klien dipaparkan 
dengan sumber fobia dalam intensitas penuh. Rasa tidak nyaman 
ekstrem menjadi bagian tak terhindarkan mengggunakan teknik ini, 
kecuali mungkin menjadi jalan terakhir bila pemaparan secara 
bertingkat tidak mmbuahkan hasil. Pasien yang menderita fobia darah 
dan penyuntikan sekarang ini didorong untuk mengencangkan otot 
mereka, bukannya mengendurkan ketika menghadapi situasi yang 
mereka takuti. Mempelajari keterampilan sosial dapat membantu 
mereka yang menderita fobia sosial yang tidak mengetahui apa yang 
harus diucapkan atau dilakukan dalam berbagai situasi sosial. 
Beberapa terapis behavioral mendorong pasien untuk berlatih peran 
atau melatih pertemuan interpersonal  didalam ruangan konsultasi atau 
kelompok terapi kecil 
Modelling merupakan teknik lain yang menggunakan 
pemaparan terhadap berbagai situasi yang ditakuti. Dalam terapi 
modelling, klien yang ketakutan melihat orang lain yang berinteraksi 
dengan objek melalui film atau secara langsung fobik tanpa rasa takut, 
contohnya memegang ular yang tidak berbisa atau mengusap-usap 
 
 
anjing yang jinak. Menunjukan pada orang-orang yang mengalami 
kecemasan sosial bagaimana mereka dapat berinteraksi dengan orang 
lain secara lebih baik merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam 
pelatihan keterampilan sosial,

Terapi kognitif bagi fobia spesifik dipandang dengan skeptis 
kaarena karasteristik utama penentu fobia. Rasa takut fobia diakui 
penderitanya sebagai rasa takut yang berlebihan atau tidak beralasan. 
Jika penderita mengakui jika ia mengalami ketakutan pada sesuatu 
yang berbahaya, apa yang dapat dilakukan terapi tersebut untuk 
mengubah pikiran si penderita. Tidak ada bukti yang menunjukan 
bahwa hanya dengan menghapuskan keyakinan irasional tanpa 
pemaparan dengan situasi yang dilakukan dengan mengurangi 
penghindaran fobik 
Secara kontras berkaitan dengan fobia sosial, metode kognitif 
semacam itu kadangkala dikombinasikan dengan pelatihan 
keterampilan sosial lebih menjanjikan. Mereka mungkin dipersuasikan 
oleh terapis untuk menilai reaksi orang lain terhadap mereka secara 
akurat dan untuk tidak terlalu bergantung pada persetujuan orang lain 
untuk mempertahankan perasaan bahwa diri kita bermakna 
Dalam tahun-tahun terakhir obat-obatan yang pada awalnya 
dikembangkan untuk menangani depresi (antidepresan) menjadi 
populer digunakan untuk menangani masalah anxietas, termasuk fobia. 
Obat-obatan yang mengurangi kecemasan disebut sebagai sedatif, 
tranqilizer atau anxiolitic (Davison dkk, 2004). Penggunaan obat-
obatan tentunya memberikan efek samping bila dikonsumsi dalam 
dosis yang berlebihan. Beberapa obat dapat memicu 
 
 
ketergantungan dan kematian bila melaglami overdosis serta 
mempengaruhi berat badan. 
 
5. Gangguan stres Akut dan Gangguan Stres Pasca Trauma  
 
Gangguan stres akut adalah suatu reaksi yang diperkirakan dari 
seseorang yang mengalami suatu trauma yang sangat berat, saat ini 
individu membutuhkan jumlah dan jenis stres yang berbeda untuk 
menimbulkan gangguan tersebut. Gangguan stress akut secara khas 
akan menghilang setelah 1 hingga 2 minggu (apabila berlanjut), tetapi 
jika gangguan berlangsung lebih dari sebulan, diagnosis perlu diubah 
menjadi gangguan stres pasca trauma. 
Gangguan stress akut (acute stress disorder/ASD) adalah suatu 
reaksi maladaptif yang terjadi pada bulan pertama sesudah 
pengalaman traumatis. Gangguan stres pasca trauma(post traumatic 
stress disorder/PTSD) adalah reaksi maladaptive yang berkelanjutan 
terhadap suatu pengalaman traumatis. ASD adalah faktor resiko mayor 
untuk PTSD karena banyak orang dengan ASD yang kemungkinan 
mengembangkan PTSD (Harvey & Bryant dalam Nevid,dkk, 2005). 
Berlawanan dengan ASD, PTSD kemungkinan berlangsung berbulan-
bulan, bertahun-tahun, atau sampai beberapa dekade dan mungkin 
baru muncul setelah beberapa bulan atau tahun setelah adanya 
pemaparan terhadap peristiwa traumatis (Zlotnick dkk dalam Nevid, 
dkk, 2005).  
Hampir semua orang yang mengalami trauma mengalami stres, 
kadangkal hingga tingkat yang sangat berat. Hal ini normal. Jika 
stressor memicu kerusakan signifikan dalam keberfungsian 
sosial dan pekerjaan selama kurang dari satu bulan, diagnosis yang 
ditegakkan adalah gangguan stres akut. Walaupun beberapa orang 
dapat mengatasi gangguan stress akut yang mereka alami, jumlah yang 
signifikan kemudian menderita PTSD . Dimasukkannya stress berat dalam DSM sebagai faktor 
penyebab signifikan PTSD dimaksudkan untuk menunjukkan 
pengakuan resmi bahwa penyebab PTSD yang utama adalah peristiwa 
yang terjadi, bukan orang yang bersangkutan. 
Pada ASD dan PTSD, peristiwa traumatis tersebut melibatkan 
kematian atau ancaman kematian atau cedera fisik yang serius, atau 
ancaman terhadap keselamatan diri sendiri atau orang lain. Respons 
terhadap ancaman tersebut mencakup perasaan takut yang intens, 
perasaan tak berdaya, atau rasa ngeri (horor). Anak-anak dengan 
PTSD kemungkinan mengalami ancaman ini dengan cara lain, 
misalnya dengan menunjukkan kebingungan atau agitasi.   
ASD dan PTSD memiliki ciri yang sama yaitu mengalami 
kembali peristiwa traumatis; menghidari petunjuk atau stimuli yang 
diasosiasikan dengan peristiwa tersebut; mati rasa dalam resposifitas 
secara umum atau dalam segi emosional; mudah sekali terangsang; 
gangguan fungsi atau distress emosional yang penting. Perbedaan 
utama antara kedua gangguan tersebut adalah pada ASD 
penekanannya ada pada disosiasi – perasaan asing terhadap diri sendiri 
atau terhadap lingkungannya. Orang-orang dengan gangguan stress 
akut mungkin merasakan terbengong-bengong atau dunia ini dirasakan 
sebagai suatu tempat dalam mimpi atau suatu tempat yang tidak nyata. 
Dalam gangguan stress akut, orang mungkin juga tidak dapat 
melaksanakan tugas-tugas yang perlu, misalnya mendapatkan bantuan 
medis atau bantuan hukum yang diperlukan 
Dalam gangguan stres akut atau pascatrauma, peristiwa 
traumatis mungkin seakan dialami kembali dalam berbagai macam 
cara. Mungkin dalam bentuk ingatan-ingatan yang intrusive, mimpi-
mimpi mengganggu yang berulang-ulang, dan perasaan bahwa 
peristiwa tersebut memang terulang kembali (seperti “kilas balik” 
peristiwa tersebut). Pemaparan terhadap peristiwa yang menyerupai 
pengalaman traumatis dapat memicu distress psikologis yang 
inrens. Orang-orang dengan reaksi stress traumatis cenderung untuk 
menghindari stimuli yang membangkitkan ingatan terhadap trauma. 
Misalnya, mungkin mereka tidak mampu menghadapi tayangan 
televisi tentang hal tesebut atau keinginan teman untuk 
membicarakannya. Mungkin mereka mempunyai perasaan terasing 
atau terpisah dari orang lain. mereka mungkin menunjukkan sikap 
kurang responsive terhadap dunia luar setelah peristiwa traumatis, 
kehilangan kemampuan untuk menikmati aktifitas yang dahulu disukai 
atau kehilangan perasaan mampu mengasihi. 
 

 Harus ada kaitan waktu yang jelas antara terjadinya 
pengalaman stres yang luar biasa (fisik atau mental) 
dengan onset dari gejala, biasanya beberapa menit atau 
segera setelah kejadian  
 Selain itu ditemukan gejala-gejala :  
a) Terdapat gambaran gejala campuran yang biasanya 
berubah-ubah, selain gejala permulaan berupa keadaan 
“terpaku” (daze). Semua hal berikut dapat terlihat 
depresi, ansietas, kemarahan , kecewa, overaktif dan 
 
 
penarikan diri. Akan tetapi tidak satupun dari gejala 
tersebut yang mendominasi gambaran klinisnya untuk 
waktu yang lama  
b) Pada kasus yang dapat dialhkan dari lingkup stressor-
nya, gejala-gejala dapat menghilang dengan cepat 
(dalam beberapa jam)dalam hal dimana stres menjadi 
berkelanjutan atau tidak dapat dialihkan gejala –gejala 
biasanya baru mereda setelah 24-48 jam dan biasanya 
hapir menghilang setelah 3 hari.  
 Diagnosis ini tidak boleh digunakan untuk keadaan 
kambuhan mendadak dari gejala-gejala pada individu yang 
sudah menunjukkan gangguan psikiatrik lainnya.  
 Kerentanan individual dan kemampuan menyesuaikan diri 
memegang peranan dalam terjadinya atau beratnya suatu 
reaksi stres akut.  
 
Kriteria Diagnostik:  
A. Paparan terhadap kematian yang sebenarnya, cedera serius, 
atau pelanggaran seksual yang serius dalam satu (atau 
lebih) hal berikut: 
1) Langsung mengalami peristiwa traumatis  
2) Menyaksikan, secara langsung, kejadian traumatik, 
seperti yang terjadi pada orang lain. 
3) Belajar bahwa kejadian tersebut terjadi pada anggota 
keluarga dekat atau teman dekat. 
4) Mengalami keterpaparan berulang atau ekstrem 
terhadap rincian kejadian traumatis yang tidak 
 
 
menyenangkan (misalnya, responden pertama yang 
mengumpulkan jenazah manusia, petugas polisi 
berulang kali terpapar dengan rincian penganiayaan 
anak)  
B. Kehadiran sembilan (atau lebih) dari gejala berikut dari 
salah satu dari lima kategori gangguan, disosiasi mood 
negatif, penghindaran, dan gairah, diawali atau diperburuk 
setelah peristiwa traumatis terjadi.  
Gejala Intrusi (gangguan)  
1) Ingatan berulang, tidak disengaja, dan mengganggu 
dari kejadian traumatis.  
2) Mimpi buruk yang menyengat dimana konten dan / 
atau pengaruhnya terhadap mimpi berhubungan 
dengan kejadian tersebut.  
3) Reaksi disosiatif (mis, flashback) di mana individu 
merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa traumatis 
berulang (reaksi semacam itu dapat terjadi pada suatu 
kontinum, dengan ekspresi paling ekstrem adalah 
hilangnya kesadaran akan lingkungan yang ada 
sekarang). 
4) Intensor tekanan psikologis yang berkepanjangan atau 
reaksi fisiologis yang ditandai sebagai respons 
terhadap isyarat eksternal eksternal yang 
melambangkan atau menyerupai aspek kejadian 
traumatis.  
Mood Negatif: 
5) Ketidakmampuan yang terus-menerus untuk 
mengalami emosi positif (eginabilitas untuk 
 
 
mengalami kebahagiaan, kepuasan, atau cinta 
perasaan)  
Gejala disosiatif:  
6) Perasaan yang berubah tentang lingkungan seseorang 
atau diri sendiri (mis, melihat diri sendiri dari sudut 
pandang orang lain, sedang dalam keadaan linglung 
melambat).  
7) Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari 
kejadian traumatis (biasanya karena amnesia disosiatif 
dan tidak pada faktor lain seperti cedera kepala, 
alkohol, atau obat-obatan terlarang).  
Gejala Menghindar 
8) Upaya untuk menghindari kenangan, pikiran, atau 
perasaan yang menyedihkan tentang atau terkait erat 
dengan kejadian traumatis. 
9) Upaya untuk menghindari pengingat eksternal (orang, 
tempat, percakapan, aktivitas, objek, situasi) yang 
membangkitkan pikiran kenangan yang menyedihkan, 
atau perasaan tentang atau terkait erat dengan kejadian 
traumatis.  
Gejala Gangguan  
10) Gangguan tidur (misalnya, sulit jatuh atau tertidur, 
tidur nyenyak). 
11) Perilaku yang tidak enak dan ledakan kemarahan 
(dengan sedikit atau tanpa provokasi) biasanya 
dinyatakan sebagai agresi verbal atau fisik terhadap 
objek. 
12) Hipervigilance  
13) Permasalahan dengan konsentrasi  
 
 
14) Respon mengejutkan berlebihan.  
C. Durasi gangguan (gejala pada Kriteria B) adalah 3 hari 
sampai bulan setelah terpapar trauma. 
D. Gangguan tersebut memicu gangguan atau 
penurunan signifikan secara klinis di area kerja sosial, 
pekerjaan, atau bidang penting lainnya. 
E. Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologis zat 
(misalnya obat atau alkohol) atau medical lainnya. Injeksi 
otot ringan dan tidak lebih baik dijelaskan oleh kelainan 
psikotik singkat.  
308.3F43.0) : Gangguan Stres Akut 
 

 Diagnosis baru ditegakkan bilamana gangguan ini timbul 
dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatis berat 
(masa laten berkisar antara beberapa minggu sampai beberapa 
bulan , jarang melampaui 6 bulan),  
 Kemungkinan diagnosa masih dapat ditegakkan apabila 
tertundanya waktu mulai saat kejadian dan onset gangguan 
melebihi 6 bulan, asal saja manifestasi klinisnya adalah khas 
dan tidak didapat alternatif kategori gangguan lainnya  
 Sebagai bukti tambahan selain trauma, harus didaoatkan 
bayang-bayang atau mimpi –mimpi dari kejadian traumatik 
secara berulang-ulang kembali (flashback).  
 Gangguan otonomil, gangguan afek dan kelainan tingkah laku 
semuanya dapat mewarnai diagnosis, tetapi tidak khas.   
 
 Suatu “sequele” menahun yang terjadi lambat setelah stres 
yang luar biasa misalnya saja beberapa puluh tahun setelah 
bencana, diklasifikasikan dalam katagori F 62.0 (perubahan 
kepribadian yang berlangsung setelah kejadian katas trofi 
 
DSM (309.81) 
Kriteria Diagnostik:  
A. Paparan kematian aktual atau terancam, luka serius, atau 
kekerasan seksual dalam satu (atau lebih) dari cara berikut:  
1) Langsung mengalami kejadian traumatis.  
2) Menyaksikan secara pribadi kejadian seperti yang 
terjadi pada orang lain. 
3) Belajar bahwa peristiwa traumatis terjadi pada anggota 
keluarga dekat atau teman dekat. Dalam kasus keluarga 
atau calon keluarga kematian yang sebenarnya atau 
terancam, acara tersebut pasti bersifat kekerasan atau 
tidak disengaja.  
4) Mengalami keterpaparan berulang atau ekstrem 
terhadap rincian kejadian traumatis yang tidak 
menyenangkan (misalnya responden pertama 
mengumpulkan sisa-sisa manusia; petugas polisi 
berulang kali terpapar dengan rincian tentang pelecehan 
anak).  
B. Kehadiran satu (atau lebih) gejala intrusi berikut yang terkait 
dengan kejadian traumatis, dimulai setelah peristiwa 
traumatis. 
1) Ingatan berulang, tidak disengaja, dan mengganggu 
kenangan akan kejadian traumatis.  
 
 
2) Mimpi buruk yang menyebalkan dimana konten dan / 
atau pengaruhnya terhadap mimpi berhubungan dengan 
kejadian traumatis. 
3) Reaksi disosiatif (misalnya kilas balik) di mana individu 
merasa atau bertindak seolah-olah peristiwa traumatis 
berulang (Reaksi semacam itu dapat terjadi pada sebuah 
kontinum, dengan ekspresi paling ekstrem menjadi 
hilangnya kesadaran akan lingkungan sekitarnya).  
4) Tekanan psikologis yang intens atau dalam saat terpapar 
isyarat internal atau eksternal yang melambangkan atau 
menyerupai aspek peristiwa traumatik  
5) Reaksi fisiologis yang ditandai dengan isyarat internal 
atau eksternal yang melambangkan atau menyerupai 
aspek peristiwa traumatik.  
C. Penghindaran stimuli yang terus-menerus terkait dengan 
kejadian traumatis, dimulai setelah peristiwa traumatis terjadi, 
sebagaimana dibuktikan oleh salah satu atau kedua hal 
berikut: 
1) Penghindaran atau upaya untuk menghindari kenangan, 
pikiran, atau perasaan yang menyusahkan. atau terkait 
erat dengan kejadian traumatis. 
2) Penghindaran atau upaya untuk menghindari pengingat 
eksternal (orang, tempat, percakapan, aktivitas, objek, 
situasi) yang membangkitkan kenangan, pikiran, atau 
perasaan yang menyedihkan tentang atau terkait erat 
dengan peristiwa traumatis )  
D. Perubahan negatif dalam kognisi dan suasana hati yang terkait 
dengan kejadian traumatis, awal atau perburuk setelah 
 
 
peristiwa traumatis terjadi, sebagaimana dibuktikan oleh dua 
(atau lebih) hal berikut:  
1) Ketidakmampuan mengingat aspek penting dari kejadian 
traumatis (biasanya karena amnesia disosiatif dan bukan 
pada faktor lain seperti cedera kepala, alkohol, atau obat-
obatan terlarang) 
2) Keyakinan negatif atau eksploitatif yang berlebihan 
terhadap diri sendiri, orang lain, atau dunia (mis "Saya 
buruk", "Tidak ada yang bisa dipercaya", "Dunia ini 
benar-benar berbahaya", "Seluruh sistem saraf saya 
hancur secara permanen").  
3) Kognisi yang terus-menerus dan menyimpang tentang 
penyebab atau konsekuensi dari kejadian traumatis yang 
memicu individu menyalahkan dirinya sendiri atau 
orang lain.  
4) Keadaan emosional negatif yang terus-menerus (mis., 
Takut, ngeri, marah, bersalah, atau malu)  
5) Secara jelas mengurangi partisipasi insterestor dalam 
aktivitas signifikan  
6) Perasaan atau detasemen atau keterasingan dari orang 
lain.  
7) Ketidakmampuan terus-menerus untuk mengalami emosi 
positif (misalnya ketidakmampuan untuk mengalami 
kebahagiaan, kepuasan, atau perasaan cinta).  
E. Perubahan yang ditandai dalam reaktivitas rangsang dengan 
awal atau pemburukan traumatis setelah kejadian traumatis 
terjadi, sebagaimana dibuktikan oleh dua (atau lebih) dari:  
 
 
1) Perilaku yang tidak mudah marah dan ledakan kemarahan 
(dengan sedikit atau tanpa provokasi) biasanya dinyatakan 
sebagai verbal. atau agresi fisik terhadap orang atau benda.  
2) Perilaku sembrono atau merusak diri sendiri  
3) Hipervigilance  
4) Respon mengejutkan yang berlebihan  
5) Masalah dengan konsentrasi  
6) Gangguan tidur (mis., Sulit tidur atau tidur atau tidur 
gelisah)  
F. Durasi gangguan (kriteria B, C, D dan E lebih dari 1 bulan 
G. Gangguan tersebut memicu gangguan atau penurunan 
signifikan secara klinis di area kerja sosial, pekerjaan, atau area 
penting lainnya yang tidak berfungsi.  
H. Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologis atau zat 
(misalnya obat-obatan, alkohol) atau kondisi medis lainnya.  
309.81 (F43.10): Posttraumatic Stress Disorder tentukan 
Dengan gejala disosiatif (Depersonalisasi & Derealization) 
dengan ekspresi tertunda. 

Horowitz  menyatakan bahwa 
ingatan tentang kejadian traumatik muncul secara konstan dalam 
pikiran seseorang dan sangat menyakitkan sehingga secara sadar 
mereka mensupresinya (melalui distraksi, contohnya) atau 
merepresinya. Orang yang bersangkutan diyakini mengalami semacam 
perjuangan internal untuk mengintegrasikan trauma ke dalam 
keyakinannya tentang dirinya dan dunia agar dapat menerimanya 
secara masuk akal. 
Penelitian pada orang kembar dan keluarga menunjukkan 
kemungkinan diathesis genetik dalam PTSD . Terlebih lagi, trauma dapat 
mengaktivasi sistem noradrenergik, meningkatkan level norepinefrin 
sehingga membuat orang yang bersangkutan lebih mudah terkejut dan 
lebih cepat mengekspresikan emosi dibanding kondisi normal. 
Konsisten dengan pandangan ini adalah penemuan bahwa level 
norepinefrin lebih tinggi pada pasien penderita PTSDdibanding pada 
kelompok control   Selain itu, menstimulasi sistem noradrenergik memicu 
serangan panic pada 70 persen dan kilas balik pada 40 persen 
penderita PTSD; tidak ada satupun dari peserta kelompok kontrol yang 
mengalami hal semacam ini   Terakhir terdapat bukti mengenai meningkatnya sensivitas 
reseptor-reseptor noradrenergik pada penderita PTSD 
Pemaparan memicu berkurangnya simtom-simtom 
dengan memungkinkan pasien menyadari sesuatu yang berlawanan 
dengan pemikiran-pemikiran mereka yang salah satu yaitu bahwa (a) 
berada dalam situasi yang secara objektif aman yang mengingatkan 
seseorang pada trauma merupakan sesuatu yang tidak berbahaya; (b) 
mengingat trauma tidak sama dengan mengalaminya kembali; (c) 
kecemasan tidak dialami tanpa batas ketika berada dalam situasi yang 
ditakuti atau ketika mengingat situasi tersebut, namun justru berkurang 
bahkan tanpa melakukan penghindaran; dan (d) mengalami simtom-
 
 
simtom kecemasan / PTSD tidak lantas memicu hilangnya 
kendali 
 Debriefing Stress Insiden Kritikal adalah perilaku mengintervensi 
dalam masa ketika orang-orang berada dalam fase akut periode pasca 
trauma. Perilaku mengintervesi sebanyak mungkin korban selamat 
dalam 24 hingga 72 jam setelah terjadinya peristiwa traumatik, tepat 
sebelum PTSD memilki kesempatan untuk berkembang, dan 
mendorong mereka untuk mengkaji secara detail apa yang telah terjadi 
dan mengekspresikan sekuat mungkin perasaan mereka tentang 
kejadian mengerikan tersebut (Bell dalam Davison, dkk, 2004).     
Menurut pendapat banyak ahli mngenai hasil terapeutik CISD 
dan berbagai prosedur terkait tidak mendukung efektivitasnya dan 
cukup banyak penelitian mutakhir yang menunjukkan bahwa 
pendekatan tersebut lebih banyak keburukannya daripada kebaikannya 
Kritik mendasar bahwa 
segera setalah terjadinya suatu bencana, hal terbaik adalah para korban 
mendapatkan dukungan sosial yang biasanya diperileh dalam keluarga 
serta komunitas mereka dan bahwa pemaksaan, bahkan jika dilakukan 
secara halus dan dengan maksud baik yang dilakukan oleh orang asing 
tidak akan membantu, bahkan dapat menganggu serta memberi efek 
buruk. Kritik lain pada CISD bahwa penderitaan merupakan bagian 
normal kehidupan dan bahwa, setelah bencana, seseorang tidak perlu 
menghindar dari rasa sakit dan duka cita, namun lebih memanfaatkan 
kejadian traumatic tersebut sebagai kesempatan untuk mengahadapi 
berbagai krisis kehidupan yang tidak dapat dihindari dan menemukan 
hikmah dibaliknya. 
Sebagaimana yang sudah diketahui, prinsip dasar terapi 
perilaku berbasis pemaparan adalah cara terbaik untuk mengurangi 
atau menghapus rasa takut adalh dengan menghadapkan orang 
bersangkutan dengan sesuatu yang paling ingin dihindarinya. 
Diagnosis PTSD mencakup referensi mengani hal yang memicu 
masalah dan biasanya kita mengetahui apa kejadiannya. Dengan 
demikian, keputusan tersebut merupakan kepuusan taktis, yaitu 
bagaimana memaparkan pasien pada sesuatu yang menakutkan 
baginya. Banyak teknik yang tekah digunakan. Walaupun demikian, 
melakukan terapi pemaparan semacam itu merupakan hal yang sulit 
bagi pasien dan terapis karena melakukan kajian ulang secara rinci 
terhadap kejadian yang memicu trauma. Kondisi pasien untuk 
sementara dapat lebih buruk pada tahap-tahap awal terapi, dan terapis 
sendiri dapat merasa sedih ketika mereka mendengarkan penuturan 
tentang kejadian mengerikan yang dialami pasien.    
Pada tahun 1989, Shapiro mulai memublikasikan suatu 
pendekatan untuk menangani trauma yang disebut dengan Eye 
Movement Desensitization and Reprocessing (EMDR). EMDR 
dimaksudkan untuk dilakukan dengan cepat – sering kali hanya 
dilakukan satu atau dua kali sesi – dan lebih efektif dibanding prosedur 
pemaparan standar. Dalam prosedur ini, pasien membayangkan suatu 
situasi yang berkaitan dengan masalahnya, seperti kecelakaan mobil 
yang mengerikan. Dengan tetap membayangkan kejadian tersebut, 
pasien memandang jari terapis dan mengikutinya dengan 
pandangannya seiring terapis menggerakkannya maju mundur kira-kira 
satu kaki di depan pasien. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 
satu menit atau sampai pasien menuturkan bahwa kengerian baying 
 
 
tersebut telah berkurang. Kemudian terapis meminta pasien 
menceritakan semua pikiran negatif yang muncul dalam pikirannya, 
sekali lagi dengan mengarahkan pandangannya pada jari terapis yang 
terur bergerak. Terakhir, terapis mendorong pasien untuk berpikir 
secara lebih positif, seperti “saya dapat mengatasi hal ini”, dan hal ini 
juga dilakukan sambil memandang jari terapis yang bergerak. Namun, 
ada banyak sekali kontroversi mengenai teknik ini. Di satu sisi, para 
pendukung AMDR berargumentasi bahwa mengombinasikan gerakan 
mata dengan pikiran kejadian yang ditakuti memicu 
pendekondisian atau pemrosesan ulang stimulus yang menakutkan 
secara cepat. Di sisi lain studi menunjukkan bahwa gerakan mata tidak 
memberi tambahan apapun pada hasil pemaparan itu sendiri. Dan 
bahwa klaim efektivitas dilandasi berbagai eksperimen yang memiliki 
banyak kelemahan metodologis.  
 

Pendekatan psikodinamika dari Horowitz  memiliki banyak kesamaan dengan penanganan yang telah 
disebutkan sebelumnya, karena mendorong pasien untuk membahasa 
trauma dan memaparkan diri mereka pada kejadian yang memicu 
PTSD. Namun, Horowitz menekankan cara trauma berinteraksi dengan 
kepribadian pratrauma pasien, dan penanganan yang ditawarkannya 
juga memilki banyak persamaan dengan berbagai pendekatan 
psikoanalitik lain, termasuk pembahasan mengenai pertahanan dan 
analisis reaksi transferensi oleh pasien. Terapi kompleks ini 
memerlukan verifikasi empiris. Beberapa studi terkendali yang 
dialkukan sejauh ini hanya memberikan sedikit dukungan empiris 
mengani keefektivitasannya 
 

Berbagai obat-obatan psikoaktif telah digunakan untuk para 
pasien PTSD. Termasuk antidepresan dan tranquilizer (rangkuman 
obta-obatan yang digunakan untuk menangani seluruh gangguan 
anxietas. Mungkin penanganan yang paling banyak digunakan adalah 
obat-ovatan anxiolytic yang diberikan oleh para praktisi medis. 
Manun, obat-obatan mudah disalahgunakan, dan penghentian biasanya 
memicu kekambuhan. Pwnggunaan dalam jangka panjang dapat 
memicu efek samping dan tidak mengenakkan dan belum dapat 
dipahami sepenuhnya.       
 
 
 
 
 

Related Posts:

  • gangguan kecemasan Setiap hari manusia dihadapkan pada berbagai situasi atau kejadian yang dapat memicu munculnya kecemasan. Misalnya ujian mendadak, presentasi tugas, terlambat masuk kelas, deadlin… Read More