Sabtu, 14 Januari 2023

paru paru

 ASMA 

Asma yaitu  penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai inflamasi saluran napas dan  spasme akut otot polos bronkiolus. Kondisi ini menyebabkan produksi mukus yang berlebihan dan menumpuk, penyumbatan aliran udara, dan penurunan ventilasi alveolus.
Asma terjadi pada pasien  tertentu yang berespon secara agresif terhadap berbagai  jenis iritan di jalan napas. Faktor risiko untuk salah satu jenis gangguan hiper-reponsif ini   adalah riwayat asma atau alergi dalam keluarga, yang mengisyaratkan adanya kecenderungan genetik. 
Gejalanya yaitu 
Peningkatan usaha bernapas, ditandai dengan retraksi dada, disertai perburukan kondisi, napas cuping hidung. 
Dispnea ,Batuk, terutama di malam hari,Pernapasan yang dangkal dan cepat. 
 Mengi yang dapat terdengar pada auskultasi paru. Biasanya mengi terdengar 
hanya saat ekspirasi, kecuali kondisi pasien parah. 


 Langkah pertama dalam pengobatan adalah mengevaluasi derajat asma yang Asma dibagi dalam empat stadium, bergantung pada frekuensi 
gejala dan frekuensi penggunaan obat 
Stadium asma, yaitu  1. ringan dan intermiten, 2.ringan dan persisten, 3.
moderat atau sedang,  4 berat. Tetapi yang diberikan berdasarkan stadium 
asma yang diderita ,  keempat stadium asma, pencegahan terpajan allergen yang telah diketahui adalah tindakan yang penting. Tindakan ini termasuk barang-barang di  rumah yang di ketahui memicu alergi seperti mengeluarkan 
binatang peliharaan,   menghindari asap rokok ,air conditioner 
pemakaian kortikosteroid oral atau inhalasi di awal periode serangan atau 
sebagai terapi pencegahan. Kortikosteroid bekerja sebagai agents anti-inflamasi obat-obat inhalasi yang menstabilkan sel mast 
digunakan untuk mencegah serangan asma. Efek dari obat yang diinhalasi ini 
 terbatas di sistem pernapasan, sehingga obat-obat tersebut aman dan efektif untuk menangani asma. Karena asma merupakan penyakit yang 
progresi, mempertahankan program terapi sangat penting bahkan pada periode 
di antara episode serangan asma. 
Bronkodilator yang bekerja sebagai penstimulasi reseptor beta adrenergik di 
jalan napas (agonis beta) merupakan terapi asma yang utama. Obat ini diinhalasi (atau diberikan dalam bentuk sirup pada anak yang masih sangat kecil) pada saat   serangan dan di antara serangan sesuai kebutuhan. Bronkodilator tidak  menghambat respon inflamasi sehingga tidak efektif jika digunakan secara  tunggal selama eksaserbasi asma sedang atau buruk, penggunaan terlalu sering  atau penggunaan  tunggal bronkodilator menyebabkan  kematian ,Saat ini telah tersedia agnosis beta adrenergik jangka panjang yang dapat menurunkan penggunaan inhaler ,
-Kombinasi produk yang mengandung kortikosteroid inhalasi dosis rendah dan 
agnosis beta-2 lepas lambat tampaknya memperbaiki tingkat kepatuhan dan 
menurunkan eksaserbasi.
- Agnosis-beta juga dapat digunakan sebelum olahraga pada individu pengidap 
asma yang dipicu aktivitas fisik berat.
 Leukotriene  adalah produk metabolism asam arakidonat dan berperan dalam proses  inflamasi. Produk leukotrien dapat dicegah dengan penggunaan inhibitor 5-lipoksigenase (zileuton) atau dengan menghambat reseptor leukotrien spesifik menggunakan leukotriene receptor antagonist (LTRA) seperti montelukast atau  zafirlukast. Menifestasi obat LTRA memiliki sifat bronkodilator dan anti-inflamasi,  serta mungkin digunakan untuk menunjang kortikosteroid.
 Obat antikolinergik dapat diberikan untuk mengurangi efek parasimpatis 
sehingga melemaskan otot polos bronkiolus.  tetapi, obat ini mempunyai  
rentang keamanan terapeutik yang sempit sehingga jarang digunakan dalam 
praktik umum. 
Intervensi perilaku, yang ditujukan untuk menenangkan pasien agar stimulus 
perasimpatis ke jalan napas berkurang, juga merupakan tindakan yang penting. 
Jika individu berhenti menangis akan memungkinkan aliran udara yang lambat 
dan sempat dihangatkan, sehingga rangsangan terhadap jalan napas berkurang.


2. Bronkitis Akut
a. Pengertian bronkitis akut
Bronkitis adalah penyakit pernapasan obstruktif yang sering dijumpai yang disebabkan 
inflamasi pada bronkus. Penyakit ini biasanya berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri 
atau inhalasi iritan seperti asap rokok dan zat-zat kimia yang ada didalam polusi udara. 
Penyakit ini memiliki karakteristik produksi mukus yang berlebihan.
b. Gejala 
 Batuk, biasanya produktif dengan mukus kental dan sputum purulent.
 Dispnea.
 Demam.
 Suara serak.
 Ronki (bunyi paru diskontinu yang halus atau kasar), terutama saat inspirasi.
 Nyeri dada yang kadang timbul.
c .Prinsip terapi
 Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri primer atau sekunder.
 Peningkatan asupan cairan dan ekspektoran untuk mengencerkan sputum.
 Istirahat untuk mengurangi kebutuhan oksigen.
3. Bronkitis Kronis
a. Pengertian bronkitis kronis
Bronchitis kronis adalah gangguan paru obstruktif yang ditandai produksi mukus 
berlebihan di saluran napas bawah dan menyebabkan batuk kronis. Kondisi ini terjadi selama 
setidaknya 3 bulan berturut-turut dalam setahun untuk 2 tahun berturut-turut


Mukus yang berlebihan terjadi akibat perubahan patologis (hipertrofi dan 
hiperplasia)sel-sel menghasilkan mukus di bronkus. Selain itu, silia yang melapisi bronkus 
mengalami kelumpuhan atau disfungsional serta metaplasia. Perubahan pada sel penghasil 
mukus dan sel silia ini mengganggu sistem eskalator mukosiliaris dan menyebabkan 
akumulasi mukus kental dalam jumlah besar yang sulit dikeluarkan dari saluran napas. 
Mukus berfungsi sebagai tempat perkembangan mikroorganisme penyebab infeksi dan 
menjadi sangat purulent. Proses inslamasi yang terjadi menyebabkan edema dan 
pembengkakan jaringan serta perubahan arsitektur di paru. Ventilasi, terutama 
ekshalasi/ekspirasi, terhambat. Hiperkapnia (peningkatan karbondioksida) terjadi, karena 
ekspirasi memanjang dan sulit dilakukan akibat mukus yang kental dan adanya inflamasi 
.penurunan ventilasi menyebabkan rasio ventilasi: perfusi, yang mengakibatkan 
vasokontriksi hipoksik paru dan hipertensi paru. Walaupun alveolus normal, vasokontriksi 
hipoksis dan buruknya ventilasi menyebabkan penurunan pertukaran oksigen dan hipoksia.
Risiko utama berkembangnya bronkitis kronis adalah asap rokok. Komponen asap 
rokok menstimulus perubahan pada sel-sel penghasil mukus bronkus dan silia. Komponen￾komponen tersebut juga menstimulasi inflamasi kronis, yang merupakan ciri khas bronkitis 
kronis.
b. Gejala
 Batuk yang sangat produktif, purulen, dan mudah memburuk dengan inhalasi 
iritan, udara dingin, atau infeksi.
 Produksi mukus dalam jumlah sangat banyak.
 Sesak napas dan dispnea.
c. Prinsip terapi
 Penyuluhan kesehatan agar pasien menghindari pajanan iritan lebih lanjut, 
terutama asap rokok.
 Terapi antibiotik profilaktik, terutama pada musim dingin, untuk mengurangi 
insiden infeksi saluran napas bawah, karena setiap infeksi akan semakin 
meningkatkan pembentukan mukus dan pembengkakan.
 Karena banyak pasien yang mengalami spasme saluran napas akibat bronkitis 
kronis yang mirip dengan spasme pada asma kronis, individu sering diberikan 
bronkodilator.
 Obat anti-inflamasi menurunkan produksi mukus dan mengurangi sumbatan.
 Ekspektoran dan peningkatan asupan cairan untuk mengencerkan mukus.
 Mungkin diperlukan terapi oksigen.
 Vaksinasi terhadap pneumonia pneumokokus sangat dianjurkan.

4. Penyakit Paru Obstruktif Kronis
a. Pengertian penyakit obstruktif kronis
Individu yang mengidap emfisema kronis biasanya juga menderita bronkitis kronis dan 
memperlihatkan tanda-tanda kedua penyakit. Keadaan ini disebut penyakit paru obstruktif 
kronis (PPOK, chronic obstructive pulmonary disease). Asma kronis yang berkaitan dengan 
emfisema atau bronkitis keonis juga dapat menyebabkan PPOK.
b. Gejala 
 akan dijumpai gejala-gejala dari kedua penyakit, emfisema dan bronkitis kronis.
 Dispnea yang konstan.
c. Prinsip terapi
 Long-acting beta-2 agonist (LABA) atau agonis beta-2 yang bekerja lebih lama 
dibandingkan dengan agonis beta-2yang bekerja cepat, memiliki potensi untuk 
memperbaiki bersihan mukosiliaris dan bekerja sebagai bronkodilator. Terapi 
kombinasi terdiri dari LABA dan kortikosteroid inhalasi memberi aktivitas anti￾inflamasi dan memperbaiki bersihan mukosiliaris.
 Penatalaksanaan untuk PPOK pada umumnya sama seperti pada bronkitis kronis 
dan emfisema, dengan pengecualian bahwa terapi oksigen harus dipantau secara 
ketat. Individu pengidap PPOK mengalami hiperkapnia kronis yang menyebabkan 
adaptasi kemoreseptor-kemoreseptor sentral, yang dalam keadaan normal 
berespon terhadap karbon dioksida. Faktor yang menyebabkan pasien terus 
bernapas adalah rendahnya konsentrasi oksigen di dalam darah arteri yang terus 
menstimulasi kemoreseptor-kemareseptor perifer yang relatif kurang peka. 
Kemoreseptor perifer ini hanya aktif melepaskan muatan apabila tekanan persial 
oksigen arteri menurun kurang dari 50 mmHg. Dengan demikian, apabla terapi 
oksigen bertujuan untuk membuat tekanan persial oksigen lebih dari 50 mmHg, 
dorongan untuk bernapas yang tersisa ini akan hilang. Pengidap PPOK biasanya 
memiliki kadar oksigen yang sangat rendah dan tidak dapat diberi terapi oksigen 
tinggi. Hal ini sangat memengaruhi kualitas hidup.
 Penghambat fosfodiesterase 4 (PDE4) merupakan kelas obat paten dan 
menjanjikan yang mengendalikan proses inflamasi pada pasien pengidap PPOK 
dengan menurunkan jumlah makrofag sel T CD8+ dan CD68+ serta neutrfil di 
mukosa bronkus.
5. Batuk 
a. Pengertian batuk
Tubuh manusia memiliki sistem pertahanan untuk melawan gangguan dari luar. Salah 
satunya adalah batuk. Batuk adalah respons alami yang dilakukan tubuh untuk 
membersihkan lendir atau faktor penyebab iritasi, seperti debu atau asap, agar keluar dari 
saluran pernapasan kita.
Batuk umumnya akan sembuh dalam waktu tiga minggu dan tidak membutuhkan 
pengobatan. Keefektifan obat batuk masih belum terbukti sepenuhnya. Ramuan buatan 
sendiri seperti air madu dan lemon bisa membantu meringankan batuk ringan.
b. Gejala 
 Suara lengkingan di setiap tarikan napas dalam-dalam setelah batuk.
 Batuk bertubi-tubi dan intens yang mengeluarkan dahak kental.
 Kelelahan dan wajah merah karena terus batuk.
 Muntah pada bayi dan anak-anak.
c. Prinsip terapi
1. Terapi non farmakologi (tanpa menggunakan obat)
Pada umunya batuk berdahak maupun tidak berdahak daat dikurangi dengan cara 
sebagai berikut:
 Memperbanyak minum air putih untuk membantu mengencerkan dahak, 
mengurangi iritasi dan rasa gatal.
 Menghindari paparan debu, minuman atau makanan yang merangsang 
tenggorokan seperti makanan yang berminyak dan minuman dingin.
 Menghindari paparan udara dingin.
 Menghindari merokok dan asap rokok karena dapat mengiritasi tenggorokan 
sehingga dapat memperparah batuk.


 Menggunakan zat – zat Emoliensia seperti kembang gula, madu, atau permen 
hisap pelega tenggorokan. Ini berfungsi untuk melunakkan rangsangan batuk, 
dan mengurangi iritasi pada tenggorokan dan selaput lendir.
2. Terapi farmakologi (dengan menggunakan obat)
Pengobatan batuk harus diberikan berdasarkan jenis batuknya, apakah termasuk jenis 
batuk berdahak atau batuk kering. Hal ini penting agar obat yang digunakan tepat 
untuk sesuai dengan tujuan terapinya. Terapi farmakologi (dengan obat) pada batuk 
dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obat sebagai berikut :
a. Antitusif
Antitusif digunakan untuk pengobatan batuk kering (batuk non produktoif). 
Golongan obat ini bekerja sentral pada susunan saraf pusat dengan cara 
menekan rangsangan batuk dan menaikkan ambang rangsang batuk. Obat 
golongan ini tidak sesuai bila digunakan untuk batuk yang berdahak, karena akan 
menyebabkan dahak menjadi kental dan susah dikeluarkan. Contoh obat 
golongan ini adalah codein, dekstrometorfan, noskapin, prometazin, 
difenhidramin.
b. Ekspektoran
Ekspektoran digunakan untuk batuk berdahak. Golongan obat ini bekerja dengan 
cara meningkatkan sekresi cairan saluran pernafasan sehingga kekentalan dahak 
menjadi berkurang akibatnya dahak akan mudah dikeluarkan. Obat golongan ini 
tidak sesuai bila digunakan untuk batuk kering karena akan menyebabkan 
frekuensi batuk menjadi meningkat. Contoh obat golongan ini adalah guaifenesin 
(gliseril guaikolat), Amonium klorida, OBH.
c. Mukolitik
Mukolitik digunakan untuk batuk dengan dahak yang kental sekali, seperti batuk 
pada bronchitis dan emfisema. Golongan obat ini bekerja dengan jalan memutus 
serat-serat mukopolisakarida atau membuka jembatan disulfide diantara 
makromolekul yang terdapat pada dahak sehingga kekentalan dahak akan 
menjadi berkurang, akibatnya dahak akan mudah dikeluarkan. Contoh obat 
golongan ini adalah N-asetilsistein, karbosistein, ambroksol, bromheksin dan 
erdostein.








F. KELAINAN, GEJALA, DAN PRINSIP TERAPI 
1. Kelainan Gagal ginjal kronik (chronic kidney disease/CKD)
Pengertian gagal ginjal kronik adalah kondisi dimana saat fungsi ginjal mulai menurun 
secara bertahap. Kondisi ini bersifat permanen. Status CKD berubah menjadi gagal ginjal 
ketika fungsi ginjal telah menurun hingga mencapai tahap atau stadium akhir. CKD adalah 
penyakit yang umumnya baru dapat dideteksi melalui tes urin dan darah.
Gejala penyakit gagal ginjal kronik antara lain:
 Berkurangnya urin saat buang air
 Mual
 Muntah
 Hilang nafsu makan
 Lelah dan lemah
 Bermasalah dalam tidur
 Penurunan mental secara tajam
 Otot berkedut dan kencang
 Bengkak pada area kaki
 Timbul rasa gatal
Penyebab gagal ginjal kronik 
Ada beberapa kondisi yang lebih tidak umum, tapi juga berisiko menyebabkan 
penyakit ginjal kronik yaitu:
1. Gangguan ginjal polisistik: Kondisi saat kedua ginjal berukuran lebih besar dari normal 
karena pertambahan massa kista. Kondisi ini bersifat di wariskan.
2. Peradangan pada ginjal
3. Infeksi pada ginjal
4. Penyumbatan, seperti yang disebabkan batu ginjal dan gangguan prostat


5. Penggunaan rutin obat-obatan tertentu dalam jangka panjang, seperti anti-inflamasi 
non-steroid (non-steroidal anti-inflammatory drugs/AIDS), termasuk asprin dan 
ibuprofen.
6. Lupus eritematosus sistemik (kondisi saat sistem kekebalan tubuh menyerang dan 
mengenali ginjal sebagai jaringan asing).
7. Kegagalan pertumbuhan ginjal pada janin saat dalam kandungan.
Prinsip Terapi
Terapi Farmakologi
1. Obat Tekanan Darah Tinggi
Penderita gagal ginjal kronis dapat mengalami perburukan tekanan darah tinggi, 
sehingga tak jarang dokter merekomendasikan obat untuk menurunkan tekanan 
darah (hipertensi) biasanya berupa angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor 
(contohnya captopril) atau angiotensin II receptor blocker- dan mempertahankan 
fungsi ginjal. Obat tekanan darah tinggi pada awalnya dapat menurunkan fungsi ginjal 
dan mengubah kadar elektrolit, sehingga diperlukan periksa darah rutin dan 
pengawasan dari dokter.
Disamping itu, Penderita Gagal Ginjal juga direkomendasikan untuk diet rendah garam.
2. Obat Penurunan Kolesterol
Pasien gagal ginjal kronis sering mengalami kadar kolesterol jahat yang tinggi, untuk 
membuktikan hal itu diperlukan pemeriksaan darah kolesterol lengkap. Jika memang 
kolesterol tinggi dan kondisi ini dibiarkan saja, maka dapat meningkatkan risiko 
penyakit jantung. Oleh karena itu, diperlukan obat penurunan kolesterol , yang biasa 
dipakai yatu golongan statin. Contohnya: Simvastatin
3. Obat gagal ginjal untuk mengatasi anemia
Dalam situasi tertentu, dimana pasien mengalami anemia akibat gagal ginjal kronik, 
diperlukan suplemen hormon erythropoietin, kadang-kadang di tambah dengan zat 
besi.
Suplemen erythropoietin dapat meninduksi dan meningkatkan produksi sel darah 
merah, sehingga dapat meredakan kelelahan dan kelemahan yang disebabkan oleh 
anemia.
4. Obat gagal ginjal untuk mengatasi 
Pada gagal ginjal kronis terjadi penumpukan cairan dalam tubuh yang jumlah dapat 
berlebihan sehingga menimbulkan, terutama pada lengan dan kaki serta dapat 
menyebabkan tekanan darah tinggi. Obat yang disebut Diuretik dapat membantu 
menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dengan membuang cairan tersebut 
sehingga dapat menurunkan darah tinggi dan menghilangkan.
5. Obat gagal ginjal untuk melindungi tulang
Dokter mungkin meresepkan suplemen kalsium dan vitamin D untuk mencegah 
pengeroposan tulang dan menurunkan risiko patah tulang. Anda juga dapat 


mengambil obat untuk menurunkan jumlah fosfat dalam darah, sehingga 
meningkatkan jumlah kalsium yang tersedia bagi tulang.
Terapi non-Farmakologi
1. Diet rendah protein
Diet rendah protein bertujuan untuk meminimalkan produk limbah dalam darah. 
Tubuh kita akan memproses protein dari makanan, pada proses tersebut terbentuk 
juga produk limbah dalam darah yang harus disaring oleh ginjal. Untuk meringankan 
pekerjaan ginjal, maka dokter biasanya merekomendasikan makan lebih sedikit 
protein. Dokter juga mungkin meminta Anda untuk berkonsultasi dengan ahli gizi yang 
dapat menyarankan cara untuk menurunkan asupan protein dengan tidak 
meninggalkan makan makanan yang sehat.
2. Penatalaksanaan penyakit ginjal stadium akhir
Jika ginjal sudah tidak mampu lagi menyaring limbah dalam tubuh sehingga produk 
limbah tersebut membahayakan tubuh, dan Anda mengembangkan gagal ginjal 
lengkap atau hampir lengkap, itu artinya Anda memiliki penyakit ginjal stadium akhir. 
Pada saat ini obat-obat gagal ginjal tidak lagi berperan, yang di butuhkan yaitu 
hemodialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal.
 Hemodialisis (Cuci darah)
Hemodialisis atau cuci darah pada gagal ginjal kronik bertujuan untuk 
menghilangkan produk limbah dan cairan ekstra pada darah ketika ginjal tidak 
mampu melakukan fungsi-fungsi normalnya ini.
 Transplantasi ginjal
Jika Anda tidak memiliki kondisi medis yang mengancam jiwa selain gagal ginjal, 
maka transplantasi ginjal bisa menjadi pilihan untuk Anda. Transplantasi ginjal 
atau pencangkokan ginjal merupakan prosedur operasi atau pembedahan 
dengan menempatkan ginjal yang sehat dari donor ke dalam tubuh sebagai 
pengganti ginjal yang rusak. Transplantasi ginjal bisa berasal dari donor yang 
baru meninggal atau dari donor hidup.
2. Sistitis
Sistitis adalah inflamasi kandung kemih. Inflamasi ini dapat disebabkan oleh infeksi 
bakteri (biasanya Escherichia coli) yang menyebar dari uretra atau karena respons algerik 
atau akibat iritasi mekanis pada kandung kemih. 
Gejala
Sering berkemih dan nyeri (disuria) yang dapat disertai darah dalam urin (hematuria). 
Prinsip terapi 
Pengobatan sistitis adalah dengan pemberian analgetik (anti nyeri) dan antibiotik. 

Related Posts:

  • paru paru  ASMA Asma yaitu  penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai inflamasi saluran napas dan  spasme akut otot polos bronkiolus. Kondisi ini menyebabkan produksi mukus yan… Read More