Rabu, 03 Mei 2023

kelainan bayi



Tidak semua persalinan membuahkan hasil sesuai dengan yang 
diinginkan, adakalanya bayi lahir dengan kelainan bawaan, yaitu kelainan 
yang diperoleh sejak bayi di dalam kandungan.1 
Kelainan bawaan merupakan masalah global dengan kejadian lebih 
besar di negara berkembang.2 The Centers for Disease Control and 
Prevention (2007) memperkirakan kelainan bawaan terjadi pada 1:33 bayi 
yang lahir setiap tahun di Amerika Serikat. World Health Organization 
menyatakan 260.000 kematian neonatal di seluruh dunia (7%) disebabkan 
sebab kelainan bawaan.3 Kematian akibat kelainan bawaan terjadi 1 dari 5 
kasus kematian bayi dengan rata-rata 137.6 kematian per 100.000 
kelahiran hidup, lebih tinggi dari pemicu kematian yang lain seperti 
respiratory distress syndrome (25.3/100.000).4 Diperkirakan 3,3 juta anak di 
bawah 5 tahun meninggal setiap tahun sebab kelainan bawaan dan 
terdapat sekitar 3,2 juta anak yang mampu bertahan tetapi hidup dengan 
berbagai keterbatasan.2 
Sekitar 3% bayi baru lahir memiliki kelainan bawaan (kongenital). 
Meskipun angka ini termasuk rendah, akan tetapi kelainan ini dapat 
memicu angka kematian dan kesakitan yang tinggi. Di negara maju, 
30% penderita yang dirawat di rumah sakit anak terdiri atas penderita 
kelainan kongenital dan akibat yang ditimbulkannya. Sepuluh persen 
kematian periode perinatal dan 40% kematian periode satu tahun pertama 
disebabkan oleh kelainan bawaan.5-9 

Dengan keberhasilan penanggulangan penyakit akibat infeksi dan 
gangguan gizi, masalah yang akan muncul ke permukaan adalah masalah 
genetik (termasuk di dalamnya kelainan bawaan). Di Inggris pada tahun 
1900 angka kematian bayi adalah 154 per 1.000 kelahiran hidup dan 3,5 di 
antaranya disebabkan kelainan genetik. Pada tahun 1986 angka kematian 
bayi turun menjadi 9,6 per 1.000 kelahiran hidup, tahun 1991 sebanyak 7,4  
per 1.000 kelahiran hidup, akan  tetapi angka kematian sebab kelainan 
genetik tidak berubah yaitu 3,5 per 1.000 kelahiran hidup. Dari angka 
ini dapat dilihat bahwa kontribusi kelainan genetik terhadap angka 
kematian bayi meningkat dari 3% menjadi hampir 50%.6  
Data kesehatan anak secara gelobal tahun 2012 menunjukkan bahwa 
kelainan bawaan merupakan 4% pemicu kematian anak, sedangkan 
peranannya dalam kematian perinatal adalah 22%.11 
Penurunan angka kematian neonatal akibat kemajuan pelayanan 
perinatologi akan menyebabkan bergesernya pemicu kematian ke arah 
kelainan bawaan.12 
Kelahiran bayi dengan kelainan bawaan ini menimbulkan berbagai 
permasalahan dalam keluarga meliputi perasaan tertekan, malu, rasa 
bersalah, serta masalah perhatian dan pembiayaan yang lebih besar 
daripada anak normal. Kelainan bawaan yang terjadi dapat disebabkan 
faktor genetik (defek gen tunggal, gangguan kromosom, multifaktorial) dan 
nongenetik (teratogen dan defisiensi mikronutrien).3  
Perlu dibedakan antara istilah ”kongenital” dan ”genetik”. Kelainan 
kongenital atau bawaan adalah kelainan yang sudah ada sejak lahir yang 
dapat disebabkan oleh faktor genetik maupun nongenetik. Ilmu yang 
mempelajari kelainan bawaan disebut dismorfologi. Dismorfologi 
merupakan kombinasi bidang embriologi, genetika klinik, dan ilmu 
kesehatan anak.
 
Menurut Etiologi 
Kelainan bawaan dapat dibedakan menjadi: 
a. Kelainan yang disebabkan oleh faktor genetik 
Kelainan sebab faktor genetik adalah kelainan bawaan yang 
disebabkan oleh kelainan pada unsur pembawa keturunan yaitu gen. 
Kelainan bawaan yang disebabkan oleh faktor genetik dikelompokkan 
ke dalam kelainan akibat mutasi gen tunggal, kelainan aberasi 
kromosom, dan kelainan multifaktorial (gabungan genetik dan 
pengaruh lingkungan). Kelainan bawaan yang disebabkan oleh mutasi 
gen tunggal dapat menunjukkan sifat autosomal dominan, autosomal 
resesif, dan x-linked. 
b. Kelainan mutasi gen tunggal (single gen mutant) 
Kelainan single gene mutant atau disebut juga pola pewarisan Mendel 
terbagi dalam 4 macam, antara lain autosomal resesif, autosomal 
dominan, x-linked ressesive, dan x-linked dominant. Kelainan bawaan 
autosomal resesif antara lain albino, defisiensi alfa-1-antitripsin 
thalassemia, fenilketonuria, serta galaktosemia. Kelainan bawaan 
autosomal dominan antara lain aniridia, sindrom Marfan, ginjal 
polikistik, retinoblastoma, korea Hutington, hiperlipoproteinemia, dan 
lain-lain. Kelainan bawaan x-linked ressesive antara lain diabetus 
insipidus, buta warna, distrofi muskularis Duchene, hemofilia, iktiosis, 
serta retinitis pigmentosa. Kelainan bawaan x-linked dominant sangat 
sedikit jenisnya, antara lain rakitis yang resisten terhadap pengobatan 
vitamin D. 

c. Gangguan keseimbangan akibat kelainan aberasi kromosom 
Kelainan pada kromosom dibagi atas aberasi numerik dan aberasi 
struktural. Kelainan pada struktur kromosom seperti delesi, translokasi, 
inversi, dan lain sebagainya, ataupun perubahan jumlahnya (aberasi 
kromosom numerik/aneuploidi) yang biasanya berupa trisomi, 
monosomi, tetrasomi, dan lain sebagainya. Kelainan bawaan berat 
(biasanya merupakan anomali multipel) sering kali disebabkan aberasi 
kromosom. 
Aberasi numerik timbul sebab terjadi kegagalan proses replikasi 
dan pemisahan sel anak atau yang disebut juga non-disjunction, 
sedangkan aberasi struktural terjadi jika kromosom terputus, 
lalu dapat bergabung kembali atau hilang. Sebagai contoh 
aberasi kromosom antara lain sindrom trisomi 21, sindrom trisomi 18, 
sindrom trisomi 13, sindrom Turner, dan sindrom Klinefelter. Sejumlah 
gambaran yang lazim ditemukan pada anak yang mengalami kelainan 
kromosom antara lain bentuk muka yang aneh, telinga yang tidak 
normal, kelainan jantung dan ginjal, kaki dan tangan yang tidak normal, 
guratan-guratan simian, guratan tunggal pada jari yang kelima, serta 
lahir dengan berat badan yang rendah. 
Pada Tabel 1 di bawah ini ditunjukkan kelainan kromosom yang 
paling sering ditemukan. Tidak semua kelainan kromosom ini 
berhubungan dengan suatu penyakit, tetapi secara umum kelainan 
autosom menunjukkan gejala yang lebih berat bila dibandingkan 
dengan kelainan kromosom seks, delesi lebih berat daripada duplikasi. 
Pada kelainan autosom biasanya terdapat retardasi mental, 
malformasi kongenital multipel, dismorfik, dan gagal tumbuh (pre atau 
pascanatal). 

Tabel 1 Kelainan Kromosom yang Paling Sering Ditemukan 
Kelainan Angka Kejadian Saat Lahir 
Translokasi balans 1 dari 500 
Translokasi nonbalans 1 dari 2.000 
Inversi perisentrik 1 dari 100 
Trisomi 21 1 dari 700  
Trisomi 18 1 dari 3.000 
Trisomi 13 1 dari 5.000 
47,xxy 1 dari 1.000 laki-laki 
47,xyy 1 dari 1.000 laki-laki 
47,xxx 1 dari 1.000 perempuan 
45,x 1 dari 5.000 perempuan 
Sumber: Connor dan Smith8 
 
d. Kelainan multifaktorial 
Kelainan multifaktorial adalah faktor lingkungan (nongenetik) yang 
dapat menyebabkan kelainan kongenital. Faktor lingkungan ini 
termasuk faktor sosial, ekonomi, usia ibu saat hamil, teratogen, dan 
sebagainya. 
 
Kelainan yang Disebabkan Faktor Nongenetik 
Kelainan oleh faktor nongenetik adalah kelainan yang disebabkan oleh 
obat-obatan, teratogen, dan radiasi. Teratogen adalah obat, zat kimia, 
infeksi, penyakit ibu yang berpengaruh pada janin sehingga menyebabkan 
kelainan bentuk atau fungsi pada bayi yang dilahirkan. Beberapa teratogen 
yang diketahui dapat menyebabkan kelainan kongenital dapat dilihat pada 
Tabel 2. 
Meskipun berbagai obat-obatan seperti aspirin, parasetamol, 
sefalosporin, dan aminoglikosida dinyatakan tidak teratogen, keamanannya 
pada kehamilan belum diketahui dan bila mungkin sebaiknya dihindari. 
 
Alkohol yang  dikonsumsi ibu lebih dari 150 gram per hari, merupakan 
risiko penting bagi janinnya, tetapi kadar yang lebih rendahpun masih dapat 
membahayakan. Bayi yang lahir dari ibu mengonsumsi alkohol memiliki 
bentuk muka yang khas dengan fisura palpebra yang pendek dan filtrum 
yang rata (tanpa lekukan). 
Tabel 2 Teratogen pada Manusia 
Teratogen Periode  Kritis Malformasi 
Rubela Risiko tinggi 6 
minggu 
Risiko rendah >16 
minggu 
Penyakit jantung bawaan (PDA), 
katarak, mikrosefali, retardasi mental, 
ketulian sensori neural, retinopati, 
insulin-dependent diabetes mellitus 
(20%) 
Cytomegalovirus Bulan ketiga atau 
keempat 
Retardasi mental, mikrosefali pada 5–
10% 
Toxoplasmosis  Risiko 12%:  
6–17 minggu 
Risiko 60%: 17–18 
minggu 
Retardasi mental, mikrosefali, 
korioretinitis 
Alkohol Trimester pertama? Retardasi mental, mikrosefali, penyakit 
jantung bawaan, kelainan ginjal, gagal 
tumbuh, celah langi-langit, muka khas 
Fenitoin 
(hidantoin) 
Trimester I, sekitar 
10% terkena 
Hipoplasia falang distal, hidung pesek, 
pangkal hidung datar dan lebar, ptosis, 
celah bibir dan langit-langit, retardasi 
mental, lalu akan memiliki 
risiko tinggi terhadap keganasan, 
terutama neuroblastoma 
Talidomid  34–50 hari HPHT Phocomelia, penyakit jantung bawaan, 
stenosis ani, atresia meatus auditori 
eksternal 
Warfarin  Terpapar pada 6–9 
minggu, 
memicu 
anomali struktur 
pada 30%, setelah 
16 minggu mungkin 
hanya 
memicu 
retardasi mental 
Hipoplasia hidung, gangguan saluran 
napas atas, atrofi saraf optikus, falang 
distal pendek, retardasi mental 
Klorokuin  Ketulian, kekeruhan kornea, 
korioretinitis 
  Penyakit jantung bawaan 
Natrium valproat  Defek tabung saraf (1–2%), 
hipospadia, mikrostomia, hidung kecil, 
jari tangan panjang dan kurus, 
keterlambatan perkembangan 
Sumber: Connor dan Smith8 
 

Patofisiologi 
Berdasarkan patogenesis, kelainan kongenital dapat diklasifikasikan 
sebagai berikut: 
 
1. Malformasi 
Malformasi adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh kegagalan atau 
ketidaksempurnaan satu atau lebih proses embriogenesis. Perkembangan 
awal dari suatu jaringan atau organ ini berhenti, melambat, atau 
menyimpang sehingga menyebabkan suatu kelainan struktur yang 
menetap. Kelainan ini mungkin terbatas hanya pada satu daerah anatomi, 
mengenai seluruh organ, ataupun mengenai berbagai sistem tubuh yang 
berbeda. 
Istilah malformasi tidak secara langsung menggambarkan etiologinya, 
tetapi menggambarkan bahwa penyimpangan dalam perkembangan ini 
terjadi pada kehamilan muda, pada saat terjadi diferensiasi jaringan atau 
selama periode pembentukan organ. Sebagai contoh penyimpangan pada 
arkus brakialis pertama dan kedua akan menyebabkan mikrotia (telinga 
kecil). 
Malformasi dapat digolongkan menjadi malformasi mayor dan minor. 
Malformasi mayor adalah suatu kelainan yang jika tidak dikoreksi akan 
mengganggu fungsi tubuh serta mengurangi angka harapan hidup. 
Malformasi minor tidak akan menyebabkan problem kesehatan yang serius 
dan mungkin hanya berpengaruh pada segi kosmetik. Malformasi pada 
otak, jantung, ginjal, ekstremitas, saluran cerna termasuk malformasi 
mayor, sedangkan kelainan daun telinga, lipatan pada kelopak mata, 
kelainan pada jari, lekukan pada kulit (dimple), dan ekstra puting susu 
adalah contoh malformasi minor. 
Malformasi akibat infeksi rubela, cytomegalovirus atau toxoplasmosis 
biasanya disertai ikterus, purpura, dan hepatosplenomegali. Diagnosis 
ditegakkan dengan ditemukannya kenaikan kadar antibodi spesifik, 
terutama IgM. Pada infeksi rubela dan toxoplasma, infeksi dapat berulang 
terjadi pada fetus, imunitas ibu dapat mencegah kejadian serupa pada 
kehamilan berikutnya. 
Berbagai penyakit ibu dapat meningkatkan risiko malformasi, di 
antaranya insulin-dependent diabetes mellitus, epilepsi, pengonsumsi 
alkohol, dan phenylketonuria (PKU). Keturunan dari ibu dengan insulin-
dependent diabetes mellitus memiliki risiko 5–5% untuk menderita 
kelainan kongenital terutama penyakit jantung bawaan, defek tabung saraf 
(neural tube defect), dan agenesis sakral. Risiko juga meningkat sekitar 6% 
untuk timbulnya celah bibir dan penyakit jantung bawaan pada keturunan 
dari ibu penderita epilepsi, meskipun di sini sulit dibedakan apakah 
kelainan kongenital ini meningkat disebabkan oleh epilepsi itu sendiri atau 
akibat obat-obat epilepsi. Ibu dengan PKU yang tidak diobati akan 
menyebabkan janin yang dikandungnya memiliki risiko tinggi (25%) 
untuk menderita retardasi mental, mikrosefali, dan penyakit jantung 
bawaan. 
 
2. Deformasi 
Deformasi terbentuk akibat tekanan mekanik yang abnormal sehingga 
mengubah bentuk, ukuran, atau posisi sebagian dari tubuh yang semula 
berkembang normal. Misalnya kaki bengkok, mikrognatia (mandibula yang 
kecil). Tekanan ini dapat disebabkan oleh keterbatasan ruang dalam uterus 
ataupun faktor ibu yang lain seperti primigravida, panggul sempit, 
abnormalitas uterus seperti uterus bikornus, dan kehamilan kembar. 
Deformasi juga dapat timbul akibat faktor janin seperti presentasi abnormal, 
dan oligohidramnion. 
Sebagian besar deformasi mengenai sistem tulang rawan, tulang, dan 
sendi. Mungkin sebab jaringan yang lebih lunak bila terkena tekanan akan 
kembali ke bentuk semula. 
Bila tekanan mekanik yang abnormal itu dihilangkan, sebagian besar 
deformasi mulai  membaik secara spontan. Pertumbuhan yang abnormal 
sering terjadi pada bagian yang terkena, secara bertahap akan menghilang 
setelah beberapa bulan sampai beberapa tahun. Kadang diperlukan 
pengobatan unutuk mengembalikan tulang dan sendi ke konfigurasi 
normal. 
Deformasi yang disebabkan oleh setiap faktor yang membatasi 
gerakan janin akan menyebabkan kompresi dalam jangka panjang dan 
memicu postur yang tidak normal. pemicunya dapat intrinsik 
(penyakit neuromuskular, kelainan jaringan penunjang, kelainan susunan 
saraf pusat) atau ekstrinsik (primigravida, ibu bertubuh kecil, kehamilan 
kembar). Deformasi yang sering terdapat pada bayi baru lahir dapat dilihat 
pada Tabel 3. 
 
Tabel 3 Contoh Deformasi Kongenital 
Talipes 
Dislokasi sendi panggul kongenital 
Skoliosis kongenital 
Plagiosefali 
Tortikolis 
Mandibula tidak simetris 
Sumber: Connor dan Smith8 
 
3. Disrupsi   
Defek struktur juga dapat disebabkan oleh destruksi pada jaringan yang 
semula berkembang normal, berbeda dengan deformasi yang hanya 
disebabkan oleh tekanan mekanik, pada disrupsi dapat disebabkan oleh 
iskemia, perdarahan, atau perlekatan. Kelainan akibat disrupsi biasanya 
mengenai beberapa jaringan yang berbeda. Perlu  ditekankan bahwa baik 
deformasi maupun disrupsi biasanya mengenai struktur yang semula 
berkembang normal dan tidak menyebabkan kelainan intrinsik pada 
jaringan yang terkena. Angka kejadian ulang jarang, kecuali bila terdapat 
malformasi pada uterus. pemicu tersering adalah robeknya selaput 
amnion pada kehamilan muda sehingga tali amnion dapat mengikat erat 
janin, memotong kuadran bawah fetus, serta menembus kulit, muskulus, 
tulang, dan jaringan lunak. 
  
4. Displasia 
Patogenesis lain yang penting terjadinya kelainan kongenital adalah 
displasia. Istilah displasia dimaksudkan dengan kerusakan (kelainan 
struktur) akibat fungsi atau organisasi sel abnormal, mengenai satu macam 
jaringan di seluruh tubuh. Pada sebagian kecil kelainan ini terdapat 
penyimpangan  biokimia di dalam sel, biasanya mengenai kelainan 
produksi enzim atau sintesis protein. Sebagian besar disebabkan oleh 
mutasi gen. sebab jaringan itu sendiri abnormal secara intrinsik, efek 
klinisnya akan menetap atau semakin memburuk. Hal ini berbeda dengan 
ketiga mekanisme patogenesis yang terdahulu. Malformasi, deformasi, dan 
disrupsi menyebabkan efek dalam kurun waktu yang jelas, meskipun 
kelainan yang ditimbulkannya mungkin berlangsung lama, tetapi 
pemicunya relatif berlangsung singkat. Displasia dapat terus menerus 
menimbulkan perubahan kelainan seumur hidup.  
Kelainan kongenital dapat disebabkan oleh faktor genetik, faktor 
lingkungan, dan interaksi keduanya. Secara terinci pemicu kelainan 
bawaan dapat dilihat pada Tabel 2. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa 
pemicu yang tidak idiopatik dan faktor multifaktorial merupakan 
pemicu terbanyak, diikuti kelainan gen tunggal dan kelainan kromosom, 
sehingga faktor genetik mencakup sekitar sepertiga dari kongenital yang 
diketahui pemicunya. 
Duplikasi yang dapat terlihat atau kekurangan setiap autosom hampir 
selalu berhubungan dengan gangguan mental, pertumbuhan, dan 
dismorfik. Kelainan multipel dan pertumbuhan janin terhambat juga sering 
timbul dan derajat beratnya berhubungan dengan luasnya imbalans 
kromosom. Pengenalan kelainan gen dan tunggal serta pola penurunan 
kelainan kromosom diperlukan dalam bidang klinik untuk mengetahui 
angka kejadian ulang.6 
 
Tabel 4 Etiologi Malformasi Kongenital 
Idiopatik  60% 
Multifaktorial 20% 
Kelainan gen tunggal 7,5% 
Kelainan kromosom 6% 
Penyakit ibu 3% 
Infeksi kongenital 2% 
Obat, sinar x, alkohol 1,5% 
Sumber: Connor dan Smith6 
 
Proses Embriogenesis 
Embriogenesis normal merupakan proses yang sangat kompleks. 
Perkembangan pranatal terdiri atas tiga tahap yaitu: 
1. Tahap implantasi (implantation stage), dimulai pada saat 
fertilisasi/pembuahan sampai akhir minggu ketiga kehamilan. 
2. Tahap embrio (embryonic stage), awal minggu keempat sampai 
minggu ketujuh kehamilan. 
» Terjadi diferensiasi jaringan dan pembentukan organ definitif. 
» Jaringan saraf berproliferasi sangat cepat dengan menutupnya 
tabung saraf (neural tube) dan fleksi segmen anterior membentuk 
bagian-bagian otak. 
» Jantung mulai berdenyut, sehingga darah dapat bersirkulasi 
melalui sistem vaskular yang baru terbentuk meskipun struktur 
jantung belum terbentuk sempurna. 
» Terlihat primordial dari struktur wajah, ekstremitas, dan organ 
dalam. 
3. Tahap fetus (fetal stage) dimulai minggu kedelapan sampai lahir. Pada 
tahap ini diferensiasi seluruh organ telah sempurna, bertambah dalam 
ukuran; pertumbuhan progresif struktur skeletal, muskulus, dan 
terutama otak. 
Perkembangan embrio awal meliputi beberapa fenomena yang 
berbeda:  
» Sel-sel membentuk berbagai jaringan, organ, dan struktur tubuh.  
» Proliferasi sel sederhana terjadi dengan kecepatan yang berbeda 
pada berbagai bagian tubuh, baik sebelum maupun sesudah 
diferensiasi menjadi jaringan spesifik.  
» Beberapa tipe sel seperti melanosit mengalami migrasi ke 
sekitarnya sampai akhirnya sampai ke lokasi yang jauh dari 
tempatnya semula. 
» Kematian sel yang terprogram, merupakan faktor penting dalam 
pembentukan beberapa struktur, seperti pada pemisahan jari 
tangan. 
» Penyatuan (fusi) antara jaringan yang berdekatan juga merupakan 
mekanisme penting dalam pembentukan beberapa struktur seperti 
bibir atas dan jantung. 
 

Seluruh proses perkembangan normal terjadi dengan urutan yang 
spesifik, khas untuk setiap jaringan atau struktur dan waktunya mungkin 
sangat singkat, oleh sebab itu meskipun terjadinya perlambatan proses 
diferensiasi sangat singkat, dapat menyebabkan pembentukan yang 
abnormal tidak hanya pada struktur tertentu, tetapi juga pada berbagai 
jaringan di sekitarnya.
Sekali sebuah struktur sudah selesai terbentuk pada titik tertentu, 
maka proses itu tidak dapat mundur kembali meskipun struktur ini 
dapat saja mengalami penyimpangan, dirusak, atau dihancurkan oleh 
tekanan mekanik atau infeksi.
 
Embriogenesis Abnormal 
» Kegagalan atau ketidaksempurnaan dalam proses embriogenesis 
dapat menyebabkan malformasi pada jaringan atau organ. 
» Sifat kelainan yang timbul bergantung pada jaringan yang terkena, 
penyimpangan, mekanisme perkembangan, dan waktu pada saat 
terjadinya.
» Penyimpangan pada tahap implantasi dapat merusak embrio dan 
menyebabkan abortus spontan. 
» Diperkirakan 15% dari seluruh konsepsi akan berakhir di periode 
ini.
 
Bila proliferasi sel tidak adekuat dapat memicu defisiensi 
struktur, dapat berkisar dari tidak terdapatnya ekstremitas sampai ukuran 
daun telinga yang kecil.
Abnomal atau tidak sempurnanya diferensiasi sel menjadi jaringan 
yang matang mungkin akan menyebabkan lesi hamartoma lokal seperti 
hemangioma atau kelainan yang lebih luas dari suatu organ.
Kegagalan induksi sel dapat menyebabkan beberapa kelainan seperti 
atresia bilier, sedangkan penyimpangan imigrasi sel dapat menyebabkan 
kelainan seperti pigmentasi kulit.
Proses “kematian sel” yang tidak adekuat dapat menyebabkan 
kelainan, antara lain sindaktili dan atresia ani. Fusi jaringan yang tidak 
sempurna akan menyebabkan celah bibir dan langit-langit.
Beberapa zat teratogen dapat menganggu perkembangan, tetapi 
efeknya sangat dipengaruhi oleh waktu pada saat aktivitas teratogen 
berlangsung selama tahap embrio.   
Kromosom manusia yang normal berjumlah 46 buah terdiri atas 22 
pasangan autosom ditambah dengan pasangan kromosom XX sebagai 
kromosom wanita atau XY pada laki-laki.15      
Pertumbuhan normal tidak hanya bergantung pada macam gen yang 
terdapat dalam kromosom ini tetapi juga pada keseimbangan gen-gen 
ini.
Perubahan jumlah kromosom sering terjadi akibat kegagalan 
pendistribusian kromosom pada saat pembelahan sel. Pada saat 
pembagian reduksi saat gametic meiotic, salah satu dari tiap pasang 
autosom dan salah satu dari kromosom kelamin terbagi secara random 
kepada sel anaknya. Selama mitosis tiap kromosom yang terbagi memisah 
secara longitudinal pada sentromernya sehingga tiap sel anak menerima 
komplemen materi genetik yang identik.   
Mekanisme pemicu ketidakseimbangan genetik (kelebihan atau 
kekurangan pencetakan gen normal) terjadi sebagai akibat penyusunan 
dan maldistribusi kromosom. 
 
Mosaik 
Mosaik adalah keadaan yang menggambarkan suatu individu atau jaringan 
yang memiliki lebih dari satu garis sel yang berbeda secara genetik 

tetapi berasal dari satu zigot yang tunggal.  Walaupun selama ini telah 
terbiasa dengan pola pikir bahwa suatu individu tersusun dari sel yang 
seluruhnya membawa komplemen gen dan kromosom yang serupa, namun 
hal ini merupakan suatu konsep terlalu sederhana. 
Telah diketahui konsep mosaik yang terjadi akibat inaktivasi X yang 
menurunkan dua populasi berbeda pada sel somatis wanita, yang ternyata 
X paternal merupakan kromosom aktif dan X maternal juga merupakan 
kromosom aktif.  
Secara lebih menyeluruh, mutasi yang timbul dalam sel-sel tunggal 
baik pada kehidupan prenatal maupun postnatal akan menimbulkan 
penggandaan sel yang secara genetik berlainan dengan zigot asli.
Mutasi yang terjadi selama proliferasi sel, baik pada sel somatik 
maupun selama gametogenesis, menyebabkan proporsi sel-sel yang 
mengandung mutasi yang merupakan mosaik baik somatik maupun 
germinal. 
 
Klinis 
Kelainan bawaan adalah abnormalitas struktur dan fungsi tubuh yang 
timbul sejak lahir.
Secara klinis mungkin tampak saat lahir atau mungkin 
terdiagnosis lalu, sebagai contoh spina bifida merupakan kelainan 
bawaan struktural yang tampak jelas saat lahir, sedangkan hemofilia 
kelainan bawaan fungsional yang mungkin secara klinis timbul saat masa 
bayi atau anak-anak.9 Bayi baru lahir dengan kelainan bawaan akan 
memerlukan evaluasi genetik, kelainan bawaan dapat timbul sendiri atau 
berhubungan dengan kelainan yang lain. Ilmu yang mempelajari kelainan 
bawaan disebut dismorfologi.
Menurut berat ringannya kelainan bawaan terbagi menjadi dua:  
1. Malformasi mayor: abnormalitas bawaan yang memiliki dampak medis 
dan kosmetik serta memerlukan tindakan operatif, contoh cleft palate 
dan penyakit jantung kongenital seperti tetralogy of Fallot.
2. Malformasi minor: Kelainan bawaan yang tidak memerlukan tindakan 
medis atau kosmetik yang signifikan, tidak memengaruhi kesehatan 
dan perkembangan. Bayi dengan 3 atau lebih kelainan minor memiliki 
risiko tinggi memiliki kelainan mayor (20–25%) dan atau menjadi 
sindrom.
 
pemicu kelainan bawaan sangat banyak dan kompleks, kira-kira 
50% pemicu kelainan bawaan belum dapat dijelaskan pemicu 
spesifiknya, akan tetapi secara garis besar pemicu kelainan bawaan 
dibagi menjadi dua kelompok, yaitu:15 
1. pemicu genetik seluruhnya atau sebagian yang timbul sebelum 
konsepsi 
2. pemicu nongenetik yang timbul setelah konsepsi 
 
Diagnosis 
1. Pendekatan dismorfologi pada anak dengan kelainan bawaan 
Komponen pada evaluasi dismorfologi:
a. Kecurigaan  
Biasanya orangtua atau perawat perinatologi akan membawa 
bayinya ke klinik dismorfologi bila ada kecurigaan akan suatu 
kelainan. Kecurigaan biasanya timbul bila terdapat kelainan 
kongenital, problem pertumbuhan, dan retardasi mental. 
b. Analisis 
Riwayat penyakit harus dicatat secara teliti dan lengkap, termasuk 
pedigree, riwayat kehamilan, persalinan, dan riwayat tumbuh 
kembang. 
Inti evaluasi dismorfologi adalah ditemukannya anomali mayor 
atau minor, oleh sebab itu pemeriksaan fisis menjadi sangat 
penting. Pendekatan yang mungkin sangat berguna adalah 
pemeriksaan menurut daerah anatomi, lalu pemeriksaan 
sistem organ, sebagai contoh bila didapatkan suatu kelainan pada 
kuku, maka harus diperhatikan secara khusus sistem ektodermal 
yang lain seperti rambut dan gigi. Pengukuran khusus gambaran 
fisik dapat sangat berguna dalam memastikan kesan akan 
terdapat kelainan. 
Dengan izin dari orangtua, dibuat foto muka, tangan, atau 
area lain yang menarik. Foto ini berguna untuk dibandingkan 
dengan sindrom yang sudah diketahui diagnosisnya atau dapat 
juga untuk memantau kemajuan penderita. 
Pada pemeriksaan laboratorium, pertama harus dibedakan 
pemeriksaan yang diperlukan untuk membuat diagnosis atau 
diperlukan untuk pengobatan. Sebagai contoh, seorang penderita 
kelainan bawaan menderita radang tenggorok, maka perlu 
dilakukan kultur tenggorok untuk petunjuk pengobatan. Sebagian 
besar anak dengan kelainan bawaan tidak memerlukan 
pemeriksaaan laboratorium yang spesifik atau pemeriksaan 
radiologi, tetapi pada beberapa keadaan tertentu diagnosis hanya 
dapat ditegakkan dengan pemeriksaan yang memadai. Analisis 
kromosom biasanya diperlukan untuk memastikan diagnosis 
kelainan kromosom yang sudah dikenal, atau pada kelainan 
kongenital multipel yang tidak dikenal. Anomali pada 3 organ 
berbeda yang juga disertai gangguan tumbuh tembang 
kemungkinan besar disebabkan oleh penyimpangan kromosom. 
Pemeriksaan kromosom dengan cara yang lebih canggih mungkin 
Simposium Building Golden Generation 
Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 
150 | Bandung, 20–21 September 2014 
juga diperlukan pada keadaan tertentu. Analisis asam amino, 
enzim, dan pemeriksaan lain untuk mendiagnosis  kelainan 
metabolisme (inborn errors of metabolism) kadang diperlukan. 
Pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan khusus yang lain 
juga penting. Pemeriksaan radiologis  terutama penting untuk 
evaluasi anak dengan tubuh pendek atau kelainan tulang. CT-scan 
digunakan antara lain untuk memeriksa cairan intrakranial dan 
kalsifikasi, ultrasonografi untuk mengevaluasi hidrosefalus pada 
neonatus serta melihat struktur jantung dan ginjal. Magnetic 
resonance imaging (MRI) untuk memeriksa secara terperinci 
jaringan lunak. Pemeriksaan lain yang mungkin diperlukan antara 
lain visual evoked response studies, brainstem auditory evoked 
potential, dan lain-lain. 
Untuk menegakkan diagnosis kadang diperlukan usaha lain, 
yaitu  memeriksa keluarga dan menunggu sambil mengamati 
(watchful waiting). Pada watchful waiting kita menunggu 
perkembangan berikutnya, sebagai contoh, diagnosis pasti tidak 
mungkin ditegakkan pada seorang bayi usia 3 bulan yang 
menderita hipotonia dan lingkar kepala yang relatif kecil. 
lalu diamati selama beberapa bulan. Bila tonus otot 
berangsur meningkat menjadi hipertonik dan kemampuan motorik 
kasar tertinggal dari kemampuan sosial, maka diagnosis yang 
paling mungkin adalah kerusakan otak (brain damage) pranatal. 
jika hipotonia menetap disertai nafsu makan yang meningkat 
dan obesitas, menunjukkan indikasi kuat sindrom Prader Willi. 
Orangtua harus diberi penjelasan tentang pemicu ditundanya 
penentuan  diagnosis 
c. Konfirmasi 
Idealnya pada tahap ini sudah didapatkan diagnosis akhir. 
Beberapa Macam Pengelompokan Kelainan Bawaan 
1. Menurut gejala klinis 
Kelainan bawaan dikelompokkan berdasarkan hal-hal sebagai 
berikut:
a. Kelainan tunggal (single-system defects) 
Porsi terbesar kelainan kongenital terdiri atas kelainan yang hanya 
mengenai satu regio dari satu organ (isolated). Contoh kelainan ini 
yang juga merupakan kelainan kongenital yang tersering adalah 
celah bibir, club foot, stenosis pilorus, dislokasi sendi panggul 
kongenital, dan penyakit jantung bawaan. Sebagian besar 
kelainan pada kelompok ini pemicunya adalah multifaktorial, 
menggambarkan efek kumulatif dari berbagai efek yang ringan 
dari berbagai gen, dan kemungkinan faktor lingkungan sebagai 
pencetusnya. Kelainan ini meningkat angka kejadiannya pada 
beberapa keluarga dan suku, tetapi tidak mengikuti pola hukum 
Mendel seperti pada kelainan yang disebabkan oleh mutasi gen 
mayor. Secara klinis (mungkin juga secara patogenesis) kelainan 
yang berdiri sendiri (isolated) ini identik dengan kelainan serupa 
yang merupakan bagian dari suatu sindrom. 
b. Asosiasi (association) 
Asosiasi adalah kombinasi kelainan kongenital yang sering terjadi 
bersama-sama. Istilah asosiasi untuk menekankan kurangnya 
keseragaman dalam gejala klinis antara satu kasus dan kasus 
yang lain. Sebagai contoh ”Asosiasi VACTERL” (vertebral, 
anomali, atresia anal, cardiac malformation, tracheoesophageal 
fistula, anomali renal, limbs defects). Sebagian besar anak dengan 
diagnosis ini, tidak memiliki keseluruhan anomali ini, 
tetapi lebih sering memiliki variasi kelainan di atas. 
Nilai utama asosiasi adalah untuk memikirkan berbagai 
kelainan tersembunyi yang harus dicari. 
Angka kejadian ulang kondisi ini sangat kecil dan 
prognosisnya bergantung pada derajat beratnya kelainan dan juga 
pada kemungkinan apakah kelainan ini dapat dikoreksi atau 
tidak. Perkembangan mental biasanya tidak terganggu, tetapi 
pertumbuhan mungkin agak terlambat. 
c. Sekuens (sequences) 
Adalah suatu pola kelainan kongenital multipel yang kelainan 
utamanya diketahui. Sebagai contoh, pada potter sequence 
kelainan utamanya adalah aplasia ginjal. Tidak terdapat produksi 
urin memicu jumlah cairan amnion setelah kehamilan 
pertengahan akan berkurang dan menyebabkan tekanan 
intrauterin dan akan menimbulkan deformitas seperti tungkai 
bengkok serta kontraktur pada sendi dan menekan wajah (Potter 
facies). Oligohidramnion juga berefek pada pematangan paru 
sehingga pematangan paru terhambat, oleh sebab itu bayi baru 
lahir dengan potter sequence biasanya lebih banyak meninggal 
sebab distres respirasi dibandingkan dengan sebab gagal ginjal. 
Sebagian besar pemicu sekuens tidak diketahui, 
kemungkinan disebabkan oleh multifaktorial. 
d. Kompleks (complexes) 
Istilah ini dipopulerkan oleh Opitz yang menggambarkan pengaruh 
berbahaya yang mengenai bagian utama suatu regio 
perkembangan embrio, yang memicu kelainan pada 
berbagai struktur yang berdekatan yang mungkin sangat berbeda 
asal embriologinya tetapi memiliki letak yang sama pada titik 
tertentu saat perkembangan embrio. Beberapa “kompleks” 
disebabkan oleh kelainan vaskular. Penyimpangan pembentukan 
pembuluh darah pada saat embriogenesis awal dapat 
menyebabkan kelainan pembentukan struktur yang diperdarahi 
oleh pembuluh darah ini. Sebagai contoh, absennya sebuah 
arteri secara total dapat menyebabkan tidak terbentuknya 
sebagian atau seluruh tungkai yang sedang berkembang. 
Penyimpangan arteri pada masa embrio mungkin akan 
memicu hipoplasia tulang dan otot yang diperdarahinya. 
Contoh “kompleks”, termasuk hemifacial microsomia, sacral 
agenesis, sirenomelia Poland anomaly, dan Moebius syndrome. 
e. Sindrom 
Seperti sudah dijelaskan di atas, kelainan kongenital dapat timbul 
secara tunggal (single) atau dalam kombinasi tertentu. Bila 
kombinasi tertentu dari berbagai kelainan ini terjadi berulang-ulang 
dalam pola yang tetap, pola ini disebut suatu ”sindrom”. Istilah 
syndrome berasal dari bahasa Yunani yang berarti ”berjalan 
bersama”. Pada pengertian yang lebih sempit,  sindrom bukanlah 
suatu diagnosis, tetapi hanya sebuah label yang tepat. jika 
pemicu suatu sindrom diketahui, sebaiknya dinyatakan dengan 
nama yang lebih pasti, seperti Hurler syndrome menjadi 
Mucopolysaccharidosis type I. Sindrom biasanya dikenal setelah 
laporan oleh beberapa penulis tentang berbagai kasus yang 
memiliki banyak persamaan. Sampai tahun 1992 dikenal lebih 
dari 1.000 sindrom dan hampir 100 di antaranya merupakan 
kelainan kromosom, sedangkan 50% kelainan kongenital multipel 
belum dapat digolongkan ke dalam sindrom tertentu.9 
 
2. Menurut berat ringannya 
Kelainan bawaan dibedakan menjadi: 
a. Kelainan mayor  
Kelainan mayor adalah kelainan yang memerlukan tindakan medis 
segera demi mempertahankan kelangsungan hidup penderitanya 
b. Kelainan minor 
Kelainan minor adalah kelainan yang tidak memerlukan tindakan 
medis 
 
pelaksanaan 
Kelainan bawaan ini harus terdeteksi segera saat lahir untuk diinformasikan 
kepada dokter kebidanan dan keluarga pasien, sedangkan segi 
pelaksanaan terbagi atas: 
1. Kelainan bawaan yang memerlukan tindakan emergensi 
2. Kelainan bawaan yang tidak memerlukan tindakan emergensi, tetapi 
pendekatan secara cermat. 
a. Pendekatan dismorfologi 
b. Pendekatan sindromologi 
c. Pendekatan konseling genetik 
d. Konseling prakonsepsi 
 
1. Kelainan bawaan yang memerlukan tindakan emergensi 
Berikut ini adalah kelainan bawaan yang selain harus dilakukan konseling 
tapi harus mendapat tindakan segera: 
1. Celah bibir dan celah langit-langit 
2. Atresia koana 
3. Kelainan rongga toraks 
4. Hernia diafragmatika 
5. Kelainan rongga rerut 
6. Anus imperforat 
7. Hipospadia 
8. Meningomielokel (meningomyelocele) 
9. Kelainan ekstremitas  
10. Kelainan kromosom yang letal 
a. Trisomi 13 (sindrom Patau) 
b. Trisomi 18 (sindrom Edward) 
 
2. Kelainan bawaan yang tidak memerlukan tindakan emergensi, 
tetapi pendekatan secara cermat 
 
Pendekatan dismorfologi 
Istilah dismorfologi pertama kali dicetuskan oleh Dr. David Smith pada 
tahun 1960 untuk menjelaskan suatu ilmu mengenai kelainan bentuk fisik 
bawaan pada manusia. Secara istilah, dismorfologi diartikan sebagai ilmu 
pengetahuan mengenai bentuk yang abnormal yang menekankan pada 
perkembangan struktur abnormal. Sebagai disiplin ilmu pengetahuan, 
dismorfologi adalah suatu kombinasi konsep, ilmu pengetahuan, dan dilihat 
secara embriologi, genetika klinis, serta pediatrik. Sebagai suatu 
subspesialistik dalam bidang kedokteran, dismorfologi digunakan untuk 
seseorang dengan abnormalitas kongenital dan keturunannya. Kapanpun 
jika seorang dokter dihadapkan dengan pasien yang memiliki cacat 
lahir, maka dokter ini dikatakan sebagai seorang dismorfologis (ahli 
dismorfologi). 
Pendekatan dismorfik ini dapat dilakukan dengan beberapa cara: 
1. Scotland Yard 
2. Watson 
3. Sherlock Holmes 

Pemberian konseling atau nasihat genetik adalah suatu usaha pemberian 
advis terhadap orangtua atau keluarga penderita kelainan bawaan yang 
diduga memiliki faktor pemicu herediter, tentang apa dan bagaimana 
kelainan yang dihadapi ini, bagaimana pola penurunannya, serta 
bagaimana tindakan pelaksanaannya, bagaimana prognosisnya, dan 
juga usaha untuk melaksanakan pencegahan ataupun 
menghentikannya.
Berdasarkan definisi ini di atas, terdapat tiga aspek konseling 
genetik: 
a. Aspek diagnosis, tanpa hal ini semua saran/nasihat tidak akan 
berdasar dan hanya berdasarkan dugaan. Tidak ada cara lain untuk 
memperoleh diagnosis yang pasti. Untuk menilai risiko genetik 
diperlukan data riwayat keluarga yang tepat, lengkap, dan mendetil. 
b. Perkiraan risiko yang sesungguhnya, pada beberapa situasi hal ini 
mudah untuk dilakukan dan pada situasi yang lain akan sangat sulit. 
c. Tindakan suportif, untuk memberikan kepastian bahwa pasien dan 
keluarganya memperoleh manfaat dari nasihat yang diberikan dan 
tindakan pencegahan yang dapat dilakukan. 
 
Akhir-akhir ini makin meningkat pasangan suami istri yang 
memerlukan pelayanan konseling untuk mencegah kelahiran kelainan 
bawaan, baik didasari oleh riwayat kelahiran kelainan bawaan pada 
keluarganya, ataupun kekhawatiran sehubungan dengan usia pasangan 
ini yang agak lanjut.22,23      
Dahulu banyak yang beranggapan bahwa nasihat genetik ini hanyalah 
suatu pemecahan masalah secara statistik untuk memperkirakan 
kemungkinan berulangnya suatu kelainan genetik. Adapula yang 
beranggapan bahwa kegiatan ini hanyalah suatu pemeriksaan kromosom 
untuk melihat hasil analisis sitogenetik limfosit. Ternyata masing-masing 
anggapan ini memiliki kebenaran, tetapi tidak lengkap.      
Sebagai kelanjutan pelaksanaan konseling genetik ini akan timbul 
permasalahan yang sering terjadi pada keluarga penderita. Hal-hal ini 
harus dapat diperbincangkan untuk dapat dibuat suatu penyelesaiannya, 
antara konselor genetik dan penderita.
 
                            
 
Tujuan konseling genetik untuk mengumpulkan data medis maupun 
genetik dari pasien ataupun keluarga yang berpotensi, dan menjelaskan 
langkah-langkah yang dapat dilakukan. Konseling genetik dimulai dengan 
pertanyaan mengenai kemungkinan terjadinya kelainan genetik yang 
diajukan oleh orangtua/wali penderita.15,22,23      
Dari fakta-fakta yang disebutkan di atas, tampak bahwa hal yang 
paling penting pada konseling genetik adalah hasil diagnosis yang tepat. 
Hasil diagnosis yang tepat ini hanya dapat diperoleh dengan membangun 
kerjasama yang baik, profesional, dan multidisiplin antara dokter anak, 
dokter kandungan, ahli sindromogi, biologi molekular, sitogenetik, radiologi, 
neurologi, kardiologi, pekerja sosial, psikiater, dan lain sebagainya.      
Kegiatan konseling genetik harus diatur dengan baik bersama-sama 
dengan disiplin ilmu yang lain yang mendukung genetik klinis, seperti 
terlihat pada diagram di bawah ini. Kenyataannya tidak mungkin untuk 
melakukan kegiatan genetika klinis secara sendiri-sendiri, hal ini mutlak 
dilakukan secara kooperatif dari berbagai disiplin ilmu.  
 
Masalah Konseling Genetik 
Berbagai permasalahan sering dijumpai pada pelaksanaan konseling 
genetik ini, antara lain:15,22 
a. Penderita hidup di masa lalu dan pada masa ini belum 
didapatkan pemeriksaan yang relevan 
b. Penderita meninggal sebelum sempat dilakukan pemeriksaan yang 
lengkap 
c. Tidak berhasilnya  diperoleh  diagnosis  yang jelas, walaupun  
penderita masih hidup 
d. Penegakan diagnosisnya salah 
 
Pemecahan Masalah 
a. Penderita harus selalu diperiksa teliti 
b. Anggota keluarga berisiko juga selalu harus diperiksa 
c. Pemeriksaan dilakukan berulangkali agar jawaban yang diperoleh lebih 
akurat 
d. Keluarga yang sudah tua ditanya dengan teliti dan lengkap, sebab 
informasi  akan didapat lebih luas 
e. Buat perencanaan pertemuan selanjutnya dengan teratur dan lebih 
matang 
 
f. Dilakukan pemeriksaan pendukung yang lengkap untuk memperoleh 
diagnosis yang tepat seperti pemeriksaan sitogenetik, analisis DNA, 
enzim, biokimiawi, radiologi, USG, CT-scan, dan sebagainya. 
 
Masalah Konseling Genetik di negarakita 
Masalahan konseling genetik di negarakita juga bersifat spesifik, sebab di 
negarakita dapat dikatakan kegiatan ini belum ada, dalam arti belum sesuai 
dengan yang seharusnya dilaksanakan sesuai dengan definisi ataupun 
skema kerja konseling genetik. Hal ini disebabkan antara lain oleh 
sebab:23 
a. Kurikulum pendidikan dokter di negarakita saat ini telah memasukkan 
genetik medik, namun penerapannya masih sebatas ilmu dasar, 
mungkin sebab masih banyak masalah lain yang masih dominan 
untuk dipelajari. 
b. Masih  sangat  kurangnya  pencatatan data pribadi, baik untuk bidang 
umum ataupun khususnya bidang kesehatan. Hal ini sangat 
menyulitkan penelusuran data untuk penelaahan analisis pedigree. 
c. Biaya untuk pemeriksaan pendukung diagnosis yang mahal, 
menyebabkan hanya sebagian kecil warga yang dapat 
melakukan pemeriksaan ini. 
d. Dari segi etik dan moral, beberapa hal yang menyangkut tahap akhir 
konseling genetik tidak dapat dilaksanakan, sehingga tindakan hanya 
sebatas perhitungan risiko berulang (penilaian recurrence risk) yang 
sudah tentu segi ketepatannya bersifat relatif. 
e. Budaya warga kita yang bersikap pasrah dan cenderung apatis, 
menyebabkan sering terjadi pengulangan kejadian kelainan genetik. 
 
Berhubung dengan beberapa kendala dalam hal masalah etis dan 
moral di beberapa negara yang sedang berkembang termasuk negarakita, 
Simposium Building Golden Generation 
Dies Natalis Ke-57 Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran 
160 | Bandung, 20–21 September 2014 
kegiatan nasihat genetik ini kurang dapat berkembang dengan optimal, 
sehingga dipertimbangkan untuk melaksanakan hal-hal  yang  sepenuhnya  
tindakan  ke arah  pencegahan  kelahiran bayi dengan kelainan bawaan. 
Tindakan ini adalah pelaksanaan konseling prakonsepsi. 
 
 

Related Posts:

  • kelainan bayi Tidak semua persalinan membuahkan hasil sesuai dengan yang diinginkan, adakalanya bayi lahir dengan kelainan bawaan, yaitu kelainan yang diperoleh sejak bayi di dalam kandungan.1 Kelaina… Read More