Kamis, 04 Mei 2023
gigi 1
Pada panduan ini sistematika penulisan disusun dengan
menggunakan urutan :
1. Nama Penyakit
Berdasarkan daftar penyakit terpilih, namun beberapa penyakit
dengan karakterisitik yang hampir sama dikelompokkan
menjadi satu judul penyakit.
2. Kode International Classification of Diseases (ICD)10
Untuk mempermudah pencatatan dan pelaporan serta
pengolahan data, di sarana pelayanan kesehatan gigi dan
mulut,keanekaragaman informasi menyangkut jenis-jenis
penyakit, tanda dan gejala penyakit, penyebab, laboratorium
dan faktor-faktor yang memengaruhi status kesehatan dan
kontak dengan pelayanan kesehatan, maka perlu diterapkan
standar pengkodeanpenyakit menggunakan ICD versi 10.
Tujuan Penggunaan ICD-10 yaitu :
a. Sebagai panduan bagi petugas rekam medik (coder)
dalam pengkodean penyakit gigi dan mulut memakai
ICD-10.
b. Memeroleh keseragaman/standarisasi dalam klasifikasi
pengkodean penyakit gigi dan mulut dalam rangka
mendukung sistem pencatatan dan pelaporan penyakit
dan manajemen data di puskesmas.
c. Memeroleh keseragaman/standarisasi dalam klasifikasi
pengkodean penyakit dalam pelayanan kesehatan gigi
dan mulut
3. Definisi
4. Patofisiologis
5. Gejala klinis dan pemeriksaan
6. diagnosa Banding
7. Klasifikasi Terapi International Classification of Disease (ICD) 9
CM
8. Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
9. Pemeriksaan Penunjang
10. Peralatan dan bahan/obat
11. Lama perawatan
12. Faktor penyulit
13. Prognosis
Kategori prognosis sebagai berikut:
a. Baik
b. Buruk
Untuk penentuan prognosis sangat ditentukan dengan kondisi
pasien saat diagnosa di tegakkan.
14. Keberhasilan perawatan
15. Persetujuan Tindakan Kedokteran
16. Faktor sosial yang perlu diperhatikan
17. Tingkat pembuktian
a. Grade A
Terdapat bukti ilmiah yang benar-benar menunjukkan
manfaat pelayanan lebih besar daripada potensi risiko.
Dokter gigi harus mendiskusikan pelayanan yang akan
diberikan pada pasien sesuai indikasi
b. Grade B
Terdapat bukti ilmiah yang cukup menunjukkan manfaat
pelayanan lebih besar daripada potensi risiko. Dokter gigi
harus mendiskusikan pelayanan yang akan diberikan
pada pasien sesuai indikasi
c. Grade C
Terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan terdapat
manfaat dari pelayanan, namun rasio manfaat dan
kerugian terlalu kecil untuk pelayanan tsb dijadikan
rekomendasi umum. Dokter gigi tidak perlu memberikan
opsi perawatan ini kecuali dengan pertimbangan individu.
d. Grade D
Terdapat bukti ilmiah yang cukup menunjukkan potensi
risiko lebih besar daripada manfaat pelayanan.
PENATALAKSANAAN PENYAKIT
1. ACUTE NECROTIZING ULCERATIVE GINGIVITIS (ANUG)
No. ICD 10 : A69.10Necrotizing ulcerative (acute) gingivitis
a) Definisi
Suatu infeksi oral endogen dengan karakteristik nekrosis
gingiva.
b) Patofisiologi
Beberapa mikroorganisme yang umumnya ditemukan pada
jaringan periodontal, pada host dengankondisi kompromis
imun dapat menyebabkan mikroorganisme ini berubah
menjadi patogen. Produk endotoksin dan aktivasi sistem imun
dapat menyebabkan kerusakan jaringan gingiva dan
sekitarnya.
Faktor predisposisi:
- penurunan imunitas (terutama AIDS),
- merokok,
- stress,
- malnutrisi berat,
- kebersihan mulut yang buruk.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
1. Ekstra oral:
- pembesaran kelenjar limfe,
- limfadenopati
2. Intra oral:
- ulserasi nekrotik seperti kawah pada interdental papila
dan marginal gingiva,
- sakit,
- mudah berdarah spontan.
- hipersalivasi dan mulut terasa logam
d) diagnosa banding
- Gingivitis Marginalis Kronis
- Primary Herpetic Gingivostomatitis
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
- 89.31 Dental Examination;
- 24.99 other dental operation(other));
- 96.54 Dental scaling, polishing and debridement
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
- Melakukan ‘debridement’: menghilangkan jaringan nekrotik
dan mikroba penyebab menggunakan larutan H2O2 1.5-
3%.
- Kausatif: antibiotik golongan penisilin dan atau
metronidazole, Antiseptik: ditambahkan klorheksidin
glukonat 0.2 %.
- Simtomatik: analgetik, antipiretik
- Supportif: hidrasi, diet lunak tinggi kalori-protein, istirahat,
multivitamin.
- Jika kondisi akut telah mereda dapat dilakukan skeling dan
root planning.
g) Pemeriksaan Penunjang
Bila diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan cairan sulkus
gingiva, dengan pewarnaan gentian violet, akan tampak
bakteri spirochaeta/bacillus penyebab infeksi.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- alat diagnostik standar,
- spuit untuk spooling,
- kassa steril,
- antiseptik larutan H2O2 3 %, klorheksidin glukkonat 0.2%,
- antibiotik Amoxycillin 500 mg, Metronidazole 500 mg.
i) Lama perawatan
10-14 hari.
j) Faktor penyulit
Kondisi munokompromis berat seperti Human
Immunodeficieny Virus (HIV) dan keganasan darah.
k) Prognosis
Baik, jika segera dilakukan kontrol infeksi dan suportif.
l) Keberhasilan perawatan
Hilangnya peradangan, ulserasi, dan jaringan nekrotik,
keluhan subyektif tidak ada.
m) Persetujuan tindakan kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
o) Tingkat pembuktian
Grade B
2. RECURRENT HERPES LABIALIS
No. ICD 10 : B00.11Herpes simplex labialis
a) Definisi
Penyakit infeksi rekuren pada bibir akibat reaktivasi Herpes
Simplex Virus (HSV).
b) Patofisiologi
Rekurensi terjadi saat HSV bereaktivasi pada lokasi laten dan
berjalan sentripetal ke mukosa atau kulit yang bersifat
sitopatik terhadap sel epitel, menimbulkan infeksi HSV
rekuren dalam bentuk vesikel dan ulser terlokalisir.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Gejala prodromal berupa rasa gatal, sensitif, terbakar pada
daerah bibir atau perbatasan bibir dan kulit, diikuti timbulnya
makula, vesikel berkelompok, pecah membentuk ulser yang
ditutupi krusta kekuningan dan diakhiri penyembuhan lesi.
Rasa nyeri terjadi pada 2 hari pertama timbulnya gejala.
d) diagnosa banding
Eritema multiforme ringan
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- penyakit yang dapat sembuh sendiri jika daya tahan
tubuh membaik(Self limiting disease)
- Terapi kausatif: valacyclovir/famciclovir 500-1000 mg utk
episode yang sering, lesi besar atau pemicu EM.
- Supportif: imunomodulator, roborantia.
- Hilangkan faktor predisposisi untuk mencegah timbulnya
rekurensi lesi.
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, tampilan klinis dan riwayat menjadi
karakteristik khas.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Unit gigi lengkap,
- alat diagnostik standar,
- bahan antiseptik dan desinfektan,
- multivitamin,
- imunomodulator,
- acyclovir tablet 200 mg,
- acyclovir cream 5 %.
i) Lama perawatan
10-14 hari.
j) Faktor penyulit
Kondisi imunosupresi berat.
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Rasa sakit dan lesi hilang.
m) Persetujuan tindakan kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
o) Tingkat pembuktian
Grade B
3. PRIMARY HERPETIC GINGIVOSTOMATITIS
No ICD 10 : B.00.2 Herpesviral gingivostomatitis and
pharyngotonsilitis
a) Definisi
Penyakit mulut berupa vesikel atau ulserasi multipel pada gusi
dan mukosa mulut akibat infeksi primer dari virus Herpes
Simpleks tipe 1 atau 2 (HSV-1 atau HSV-2).
b) Patofisiologi
Faktor predisposisi dapat berupa
- Penurunan imunitas,
- terjadinya epidemi pada pergantian musim,
- defisiensi nutrisi,
- memilikipenyakit sistemik tertentu (imunokompromis).
Infeksi primer terjadi pada kontak awal dengan virus melalui
inokulasi mukosa, kulit dan mata atau sekresi tubuh yang
terinfeksi. Virus lalu bereplikasi di dalam sel-sel epitel
mukosa mulut dan atau kulit dan menyebabkan terjadinya
vesikel.
sesudah proses penyembuhan, virus akan berjalan sepanjang
akson saraf menuju ganglion syaraf, dan menimbulkan infeksi
laten.jika terdapat faktor predisposisi seperti maka akan
terjadi reaktivasi virus.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Gejala prodromal 1-3 hari :
Demam,kehilangan nafsu makan,malaise,myalgia,bisa
disertai sakit kepala dan nausea.
- Gejala ekstra oral: Vesikel dan atau ulserasi pada merah
bibir (vermillion border of lip,) ditutupi krusta yang berwarna
kekuningan.
- Gejala intra oral:
1) Erythema dan vesikel kecil diameter 1-3 mm,
2) terletak berkelompok pada palatum keras, attached
gingiva, dorsum lidah, dan mukosa non keratin di
labial, bukal, ventral lidah dan pallatum mole,
3) vesikel mudah pecah membentuk ulser yang lebih
besar dengan tepi tidak teratur dan kemerahan,
4) gingiva membesar berwarna merah, dan sangat
sakit,dapat terjadi pharyngitis.
d) diagnosa banding
- Stomatitis Aftosa Rekuren tipe herpetiformis,
- Eritema Multiforme,
- Hand Foot and Mouth Disease
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- KIE (Komunikasi, Informasi Dan Edukasi)
- penyakit yang dapat sembuh sendiri jika daya tahan
tubuh membaik(Self limiting disease)
- Terapi kausatif: acyclovir 15mg/kgBB pada anak, acyclovir
200 mg 5x/hari pada dewasa.
- Simtomatik: anestetik topikal, analgesik-antipiretik,
antiseptik kumur.
- Supportif: istirahat, hidrasi, imunomodulator, multivitamin.
- Pencegahan penularan melalui penyuluhan.
g) Pemeriksaan Penunjang
Pada umumnya tidak diperlukan, diagnosa ditegakkan
berdasarkan penampilan klinis dan riwayat penyakityang khas.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Unit gigi lengkap,
- alat diagnostik standar,
- bahan antiseptik dan desinfektan,
- multivitamin, imunomodulator,
- acyclovir 200 mg,
- acyclovir cream 5 %.
i) Lama perawatan
10-14 hari
j) Faktor penyulit
Kondisi imunosupresi berat.
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Rasa sakit dan lesi hilang.
m) Persetujuan tindakan kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
o) Tingkat pembuktian
Grade B
4. RECURRENT INTRA ORAL HERPES /STOMATITIS HERPETIKA
No. ICD 10: BOO.2 Herpesviral gingivostomatitis and
pharyngotonsilitis
a) Definisi
Penyakit mulut berupa vesikel atau ulserasi multipel pada
mukosa mulut akibat reaktivasi dari Herpes Simplex Virus
(HSV)-1 atau kadang-kadang HSV-2 yang laten pada ganglion
syaraf.
b) Patofisiologi
- Disebabkan oleh reaktivasi dari virus HSV-1 atau kadang-
kadang HSV-2
- Terjadinya reaktivasi dari HSV laten ke dalam saliva dan
sekresi oral akibat adanya faktor pemicu dan
menimbulkan ulserasi rongga mulut.
Faktor predisposisi:
- Demam,
- alergi,
- radiasi Ultra Violet,
- trauma,
- stress,
- menstruasi.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Gejala intra oral:
- Erythema dan vesikel kecil diameter 1-3 mm,
- berkelompok pada palatum keras, attached gingiva,
dorsum lidah, dan mukosa non keratin di labial, bukal,
ventral lidah dan pallatum mole.
- vesikel mudah pecah membentuk ulser yang lebih besar
dengan tepi tidak teratur dan kemerahan.
d) diagnosa banding
- Stomatitis Aftosa tipe Herpetiformis
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Pada pasien imunokompeten bersifat ‘Self limiting
disease’(penyakit yang dapat sembuh sendiri jika daya
tahan tubuh membaik)
- Terapi kausatif berupa antivirus untuk kasus yang
berat(diberikan pada tahap vesikel (72 jam pertama):
1) Acyclovir 1000 mg per hari, atau
2) Valacyclovir/famciclovir 500-1000 mg.
- Simtomatik: anestetik topikal, analgesik-antipiretik
- Supportif: imunomodulator, multivitamin
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, tampilan klinis dan riwayat menjadi
karakteristik khas.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- alat diagnostik standar,
- bahan antiseptik dan desinfektan,
- obat antiseptik kumur, anastetik topikal,
- multivitamin, imunomodulator,
- acyclovir 200 mg atau valacyclovir 500 mg.
i) Lama perawatan
10-14 hari
j) Faktor penyulit
Kondisi imunosupresi berat
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Rasa nyeri rongga mulut dan lesi hilang, rekurensi berkurang.
m) Persetujuan tindakan kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Komunikasi pasien yang kurang baik/tidak terbuka,
menyebabkan sulit untuk mencari faktor predisposisi utama.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
5. HAND, FOOT AND MOUTH DISEASE (FLU SINGAPURA)
No. ICD 10 : B08.4 Hand, foot, mouth disease.
a) Definisi
Penyakit vesikular yang dapat terjadi pada tangan, kaki, dan
rongga mulut.
b) Patofisiologi
- Disebabkan oleh: CoxsacKIE (Komunikasi, Informasi dan
Edukasi) Virus (CV) terutama: Enterovirus 71 (EV 71) dan
CV A16.
- Biasa terjadi ketika epidemi, (pada musim panas), pada
anak usia di bawah 10 tahun.
- Transmisi melalui rute fecal oral, atau dapat terjadi
penyebaran di saluran pernafasan atas.
- Virus bereplikasi pertama kali dalam mulut lalu
meluas ke saluran gastrointestinal bawah dan menyebar.
- Pada pasien imunokompeten: Self limiting disease (penyakit
yang dapat sembuh sendiri jika daya tahan tubuh
membaik).
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Demam derajat rendah, ruam kemerahan yang menjadi
makular dan vesikel pada kulit tangan dan kaki
(punggung, telapak, tumit), serta pinggul.
Lesi papula eritematosa nampak jelas pada telapak tangan pasien
hand, foot and mouth disease (kiri). Meski jarang, lesi papula dapat
terlihat pada telapak kaki (kanan)
- Ulserasi pada mulut dan tenggorokan yang diawali makula
eritematous, vesikel yang cepat pecah menjadi ulser, pada
lidah, palatum durum dan molle, mukosa bukal, bisa pada
semua mukosa mulut.
Tampak ulkus pada tepi lidah, diagnosa pasti
ditegakkan dengan melihat lesi yang ada pada kulit
(ekstra oral).
d) diagnosa banding
- Primary herpetic gingivostomatitis,
- chicken pox,
- infeksi mononukleosis.
- Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
e) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Pencegahan penularan melalui penyuluhan.
- Suportif: istirahat cukup, hidrasi, multivitamin, diet
lunak.
- Simtomatik: analgesik, antipiretik, anestetik topikal.
- Rujuk kepada dokter yang kompeten
f) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, tampilan klinis dan riwayat menjadi
karakteristik khas.
g) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- alat diagnostik standar,
- bahan antiseptik dan disinfektan,
- anastetik topikal, obat kumur antiseptik,
- multivitamin.
h) Faktor penyulit
Kondisi imunosupresi berat
i) Prognosis
Baik
j) Keberhasilan perawatan
Rasa nyeri rongga mulut dan lesi hilang,tidak terjadi
komplikasi.
k) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
l) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
m) Tingkat pembuktian
Grade B
6. MUMPS (PAROTITIS EPIDEMICA)/GONDONGAN
No. ICD 10 : B26.9 MUMPS (PAROTITIS EPIDEMICA)
without other complication
a) Definisi
Infeksi virus akut yang disebabkan oleh paramyxovirus RNA
yang terjadi pada kelenjar liur parotis, dapat juga terjadi pada
kelenjar liur submandibularis atau sublingualis.
b) Patofisiologi
- Disebabkan oleh Paramyxovirus,
- terjadi pada masa epidemik,
- transimisi melalui kontak langsung droplet saliva,
- Self limiting disease.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Masa inkubasi 2-3 minggu, terjadi pembesaran dan
inflamasi kelenjar liur, nyeri preaurikuler, demam,
malaise, sakit kepala, myalgia.
- Melibatkan kelenjar liur parotis, terkadang submandibula.
- Pembesaran kelenjar saliva kedua dapat terjadi 24-48 jam
sesudah yang pertama.
- Pembengkakan bilateral, nyeri pada palpasi, edema pada
kulit di atasnya.
d) diagnosa banding
Abses bukalis
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
1) Simtomatik: analgesik, antipiretik.
2) Supportif: immunomodulator, istirahat cukup, hidrasi, diet
lunak Tinggi Kalori-Protein.
3) Rujuk kepada dokter yang kompeten
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan, tampilan klinis dan riwayat menjadi
karakteristik khas.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnostik standar,
- Bahan antiseptik dan disinfektan.
i) Faktor penyulit
Kondisi imunosupresi berat
j) Prognosis
Baik
k) Keberhasilan perawatan
Rasa nyeri rongga mulut dan lesi hilang, tidak terjadi
komplikasi.
l) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
m) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
n) Tingkat pembuktian
Grade B
7. STOMATITIS KANDIDIASIS PSEUDOMEMBRAN AKUT
No. ICD 10 : B37.00 Acute pseudomembranous candidal
stomatitis
a) Definisi
Penyakit mulut berupa bercak putih multipel pada mukosa
mulut akibat infeksi Candida sp.
b) Patofisiologi
- Faktor predisposisi:
1) Faktor lokal: Perubahan kondisi saliva (hiposalivasi,
penurunan pH saliva), atropi epitel rongga mulut,
pemakaian gigi tiruan.
2) Faktor sistemik : penurunan imunitas, defisiensi
nutrisi nutrisi, memiliki penyakit sistemik tertentu
(imunokompromis), pemakaian obat-obatan yang
mempengaruhi saliva atau pempengaruhi imunitas,
merokok,Diabetes(kelainan endokrin), Cushing’s
disease, defisiensi Fe dan vitamin B12, bayi dan usia
lanjut.
- Candida melekat pada epitel dan penetrasi ke dalam epitel
menyebabkan inflamasi dan kematian sel epitel, oedema,
dan agregasi PMN leukosit (mikroabses).
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Lesi putih pada mukosa oral seperti kepala susu atau plak
yang dapat diangkat, dan meninggalkan daerah kemerahan.
Gambar 6
Pseudomembranous Candidiasis pada dorsum lidah.
Gambar 7
Pseudomembranous Candidiasis pada mukosa bukal dan
lidah.
Gambar 8
Terlihat plak-plak putih pada palatum durum dan palatum
molle.
d) diagnosa banding
Thermal burn, Trauma
Gambar 9
Thermal burn. Tampak jaringan nekrotik pada posterior
kanan, palatum molle.
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
1) KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
2) Hilangkan faktor predisposisi:
Mekanis: pembersihan reservoir (dorsum lidah, protesis)
Identifikasi kondisi sistemik host
1) Terapi kausatif: antifungal topikal atau
sistemik(tergantung perluasan lesi dan keparahan)
2) Simtomatik : analgesik, antipiretik (bila diperlukan)
3) Suportif : multivitamin (untuk mengatasi defisiensi yang
ada(defisiensi zat besi dan vitamin B12 serta untuk
meningkatkan daya tahan tubuh)
g) Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan mikologi langsung (ditemukan adanya koloni
Candida sp) dan biakan dari swab mukosa oral (akan
terlihat koloni dan hifa)
- Media kultur: agar Saboroud (identifikasi berdasarkan
pewarnaan).
- Selain dari Swab/smear, specimen untuk kultur mikologi
dapat berasal dari: saliva dan dari berkumur.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Unit gigi lengkap,
- Alat diagnostik standar,
- Bahan antiseptik dan desinfektan,
- Antifungal: Nystatin oral suspension
- Antiseptik kumur: klorheksidin glukonat 0.2 %
i) Lama perawatan
7-10 hari
j) Faktor penyulit
- Pada penderita imunokompromis: penderita dengan
perawatan radiasi di daerah kepala dan leher (atropi
kelenjar saliva dan menyebabkan hiposalivasi).
- Penderita dengan kelainan hepar (sehingga kontraindikasi
pemberian antifungal sistemik yang bersifat hepatotoksik.
- Lesi oral menyulitkan intake, sehingga mungkin
membutuhkan hospitalisasi pada anak
- Pengguna denture, pembersihan reservoir pada base-
denture: menggunaan antifungal untuk denture atau
rebasing bila diperlukan.
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Plak putih hilang, rasa nyeri/ terbakar rongga mulut hilang.
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
o) Tingkat pembuktian
Grade B
8. KANDIDIASIS ERITEMATOUS KRONIK
(Denture Stomatitis/Candida-associated denture stomatitis)
No. ICD 10 : B37.03 Chronic erythematous (atrophic)
candidal stomatitis
a) Definisi
Infeksi yang disebabkan oleh Candida sp yang terjadi pada
area yang ditutupi basis gigi tiruan atau karena pemakaian
gigi tiruan yang tidak baik.
b) Patofisiologi
- Predisposisi:
1) Ill fitting denture,
2) hiposalivasi,
3) penurunan imunitas,
4) defisiensi nutrisi,
5) memiliki penyakit sistemik tertentu (imunokompromis).
- Gigi tiruan melindungi Candida sp dari aliran saliva. Pada
awalnya Candida harus melekat di permukaan epitel
untuk dapat menginvasi lapisan mukosa.
- Jenis Candida yang mempunyai potensi adhesi lebih kuat
akan lebih patogenik.
- Penetrasi yeast jamur dipengaruhi oleh aktivitas enzim
lipasenya. Untuk tetap berada dalam epitel, yeast jamur
harus dapat mengatasi deskuamasi rutin permukaan sel
epitel.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Tipe I : Tipe minor/lokal: Eritema hanya terjadi pada
sedikit area mukosa mulut yang teriritasi protesa
yang tidak baik.
- Tipe II : Tipe mayor/generalized: Eritema yang
luas/seluruh mukosa yang teriritasi protesa yang
tidak baik.
- Tipe III : Tipe granular: lesi eritema bergranular pada
mukosa yang teriritasi protesa, terutama pada
palatum bagian tengah.
d) diagnosa banding
- Tipe I dan II dengan Acute athropic
candidiasis/erythematous candidiasis
- Tipe III dengan epulis fibromatosa/epulis granulomatosa
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
1) KIE (KOMUNIKASI, INFORMASI DAN EDUKASI)
2) Mekanis:
a. Pembersihan reservoir (basis gigi tiruan dibersihkan
dan dihaluskan, lidah),
b. Perbaikan gigi tiruan (gigi tiruan baru,
relining/rebasing),
c. Tidak memakai gigi tiruan saat tidur.
d. Merendam gigi tiruan dalam larutan antiseptik.
3) Terapi kausatif:
a. Antifungal topikal (terapi antifungal yang lazim
digunakan yaitu golongan polien atau azole)
b. Alternatif pertama dan biasanya ditoleransi dengan
baiknystatin suspensi 100.000 u/ml 4kali sehari
selama 7hr (pemberian sesudah makan, diletakkan
sebagian di basis gigi tiruan yang menutupi lesi, kulum
selama 1 menit, telan; anjuran untuk tidak
makan/minum/dibilas s.d 30 menit):
c. Eksisi lesi tipe III kemungkinan diperlukan jika
mikroorganisme terdapat di fisur yang dalam dari
jaringan granulasi.
4) Suportif : multivitamin
g) Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan mikologi: Smear dari dasar lesi kemerahan
menggunakan KOH 15% untuk melihat adanya Candida
sp.
- Kultur: Identifikasi dan kuantifikasi jamur penyebab
dilakukan dengan kultur menggunakan Sabouraud Broth
Agar, agar darah atau cornmeal agar.
- Pasien dengan kandidiasis oral biasanya mempunyai hasil
kultur lebih dari 400CFU/mL.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Unit gigi lengkap,
- Alat diagnostik standar,
- bahan antiseptik dan desinfektan,
- Nystatin oral suspension 100.000 u/ml,
- Antiseptik kumur: klorheksidin glukonat 0.2%.
i) Lama perawatan
10-14 hari
j) Faktor penyulit
Kondisi imunokompromis berat
k) Prognosis
- Baik, jika terapi yang diberikan tepat dan efektif.
- Relaps berhubungan dengan patient’s compliance, belum
terkendalinya faktor predisposisi terhadap infeksi.
l) Keberhasilan perawatan
Rasa nyeri pada mukosa mulut hilang, gambaran klinis lesi
terkait infeksi hilang.
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Kepatuhan pasien
o) Tingkat pembuktian
Grade B
9. PERSISTENSI GIGI SULUNG
No. ICD 10 : K00.6 Retained (persistent) primary tooth
a) Definisi
Gigi sulung belum tanggal, gigi tetap pengganti sudah erupsi
b) Patofisiologi
Gangguan tumbuh kembang geligi tetap dan lengkung rahang
(maloklusi).
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Tampak gigi sulung dan gigi tetap pengganti sejenis dalam
rongga mulut
- Sakit negatif/ positif
- Derajat kegoyangan gigi negatif/ positif
- Gingivitis negatif/ positif
d) diagnosa banding
Gigi berlebih (supernumerary teeth)
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination;
23.01Extraction of deciduous tooth;
23.11 Removal of residual root
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Kondisikan pasien agar tidak cemas sehingga kooperatif
- Sterilisasi daerah kerja
- Anestesi topikal atau lokal sesuai indikasi(topikal
lalu disuntik bila diperlukan)
- Ekstraksi
- Observasi terhadap susunan geligi tetap (3 bulan)
- Preventif, bila tampak gejala maloklusi menetap,
lanjutkan dengan merujuk perawatan interseptif
ortodontik
g) Pemeriksaan Penunjang
Xray gigi periapikal bila diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan standar
- Βahan anestasi dan antiseptif/desinfektan
- Alat set pencabutan gigi sulung
i) Lama perawatan
1 (satu) kali kunjungan
j) Faktor penyulit
Pasien yang tidak kooperatif perlu dilakukan rujukan ke
spesialis KGA
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Bila gigi sulung tercabut dengan baik
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Tertulis dari Orang tua
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Untuk pasien anak-anak harus mempunyai tingkat
kepatuhan yang baik, kooperatif dan orang tua yang positif
memberikan dukungan untuk fokus terhadap perbaikan
kesehatan gigi dan mulut anak.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
10. IMPAKSI M3 KLASIFIKASI IA
No. ICD 10 : K01.1 Impacted teeth
K01.16 Maxillary molar
K01.17 Mandibular molar
a) Definisi
Impaksi gigi yaitu gigi yang mengalami
kesukaran/kegagalan erupsi, yang disebabkan oleh malposisi,
kekurangan tempat atau dihalangi oleh gigi lain, tertutup
tulang yang tebal dan/ atau jaringan lunak di sekitarnya.
b) Patofisiologi
Tidak Ada
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Ekstra oral:
1) Adanya pembengkakan
2) Adanya pembesaran kelenjar limfe
3) Adanya parestesi
d) diagnosa banding
- Ameloblastoma
- Odontoma
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
87.11 Full mouth x-ray of teeth
87.12 Other dental x-ray
23.19 Other surgical extraction of tooth (Removal of impacted
tooth)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Odontektomi
1) Dilakukan disinfeksi jaringan di luar dan di dalam
rongga mulut sebelum odontektomi, dapat digunakan
obat kumur antiseptik selanjutnya dilakukan blok
anestesi.
2) Dibuat insisi dengan memperhitungkan garis insisi
tetap akan berada di atas tulang rahang sesudah
pengambilan jaringan tulang pasca odontektomi, dan
selanjutnya dibuat flap.
3) Tulang yang menutup gigi diambil seminimal mungkin
dengan perkiraan besar setengah dari besar gigi yang
akan dikeluarkan.
4) Selanjutnya dilakukan pemotongan gigi yang biasanya
dimulai dengan memotong pertengahan mahkota gigi
molar ketiga impaksi ke arah bifurkasi atau
melakukan pemotongan pada regio servikal untuk
memisahkan bagian mahkota dan akar gigi.
Selanjutnya dilakukan pemotongan menjadi bagian-
bagian lebih kecil sesuai dengan kebutuhan. Mahkota
gigi dapat dipotong menjadi dua sampai empat bagian,
demikian pula pada bagian akarnya, lalu bagian-
bagian ini dikeluarkan satu per satu.
5) Selanjutnya dilakukan kuretase untuk mengeluarkan
kapsul gigi dan jaringan granulasi di sekitar mahkota
gigi dan dilanjutkan dengan melakukan irigasi dengan
air steril atau larutan saline 0,09 % steril.
6) Pada saat melakukan pemotongan tulang dan gigi
dengan menggunakan bur, tidak boleh dilakukan
secara blind akan tetapi operator harus dapat melihat
secara langsung daerah yang dilakukan pengeboran.
Tindakan pengeboran secara blind akan dapat
menyebabkan terjadinya trauma yang tidak diinginkan
dijaringan sekitarnya.
7) Penjahitan dilakukan mulai dari ujung flap dibagian
distal molar kedua dan dilanjutkan ke arah anterior
lalu ke arah posterior.
g) Pemeriksaan Penunjang
- Foto periapikal
- Foto oklusal
- Foto panoramik
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnostik standar,
i) Lama perawatan
2 (dua) kali kunjungan
j) Faktor penyulit
- Perdarahan, Infeksi,
- Fragmen akar tertinggal,
- Fragmen akar terdorong ke dalam sinus maksilaris,
- Lesi N.mandibularis,
- Trauma gigi tetangga,
- Laserasi,
- Perforasi sinus maksilaris,
- Fraktur rahang
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Penutupan luka dengan sempurna tanpa komplikasi
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Tertulis
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak Ada
o) Tingkat pembuktian
Grade B
11. KARIES TERHENTI / ARRESTED CARIES
No. ICD 10 : K02.3 Arrested Caries
a) Definisi
Karies yang perkembangannya terhenti oleh karena
peningkatan kebersihan rongga mulut, peningkatan kapasitas
buffer saliva, dan aktivitas pulpa melalui pembentukan dentin
reparatif.
b) Patofisiologi
Proses karies terhenti karena remineralisasi
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Tidak ada gejala; pemeriksaan tes vitalitas gigi masih baik.
Bagian dasar gigi terdapat jaringan keras kecoklatan hasil dari
pertahanan lokal tubuh.
d) diagnosa banding
Hipoplasi Email
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
23.2 Restoration of tooth by filling
23.70 Root canal, not otherwise specified
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Dental Health Education (DHE): edukasi pasien tentang
cara menggosok gigi, pemilihan sikat gigi dan pastanya.
Edukasi pasien untuk pengaturan diet.
- Tindakan preventif: bila masih mengenai email dengan
pemberian fluor untuk meningkatkan remineralisasi
- Tindakan kuratif: bergantung lokasi dan keparahan, bila
kavitas masih pada email dilakukan ekskavasi debris,
remineralisasi selama I bulan, lalu dilakukan
penumpatan sesuai indikasi
- Bila dentin yang menutup pulpa sudah tipis dilakukan
pulp capping indirek:Ekskavasi dentin lunak (zona infeksi),
diberikan pelapis dentin Cа(OH)2 / MTA, dan dilakukan
penumpatan
g) Pemeriksaan Penunjang
Foto X Ray gigi sayap gigit (jika diperlukan)
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan standar,
- Bor untuk preparasi,
- Bahan tumpat bergantung letak dan macam giginya (resin
komposit, Glass Ionomer Cement (GIC))
- Alat poles,
- Larutan fluor
- Kapas gulung
- Butiran kapas
i) Lama perawatan
Tumpatan biasa, 1 kali kunjuangan
j) Faktor penyulit
Hipersalivasi
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Tidak ada keluhan klinis dan gigi berfungsi normal
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
kepatuhan kunjungan yang baik
o) Tingkat pembuktian
Grade B
12. DEMINERALISASI PERMUKAAN HALUS/APROKSIMAL KARIES
DINI / LESI PUTIH / KARIES EMAIL TANPA KAVITAS
No. ICD 10 : K02.51 White spot lesions (initial caries) on
pit and fissure surface of tooth
K02.61 White spot lesion (initial caries) on
smooth surface of tooth
B00.2 Herpesviral gingivostomatitis and
pharyngotonsilitis
a) Definisi
- Lesi pada permukaan gigi berupa bercak/bintik putih
kusam oleh karena proses demineralisasi.
- Lesi ini dapat kembali normal jika kadar kalsium,
phosphate, ion fluoride, dan kapasitas buffer saliva
meningkat.
b) Patofisiologi
Demineralisasi paling dini pada email gigi
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Bercak putih dan warna kusam tidak mengkilat, umumnya
tidak ada gejala.
- Pemeriksaan dengan sonde tumpul, penerangan yang baik,
gigi dikeringkan.
d) diagnosa banding
Hipoplasi Email
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- DHE: edukasi pasien tentang cara menggosok gigi,
pemilihan sikat gigi dan pastanya, serta pengaturan diet.
- Pembersihan gigi dari debris dan kalkulus dengan alat
skeling manual, diakhiri dengan sikat
- Isolasi daerah sekitar gigi
- Keringkan
- Kumur atau diulas dengan bahan fluor atau bahan
aplikatif yang mengandung fluor
- Terapi remineralisasi sesuai dosis
- Tunggu selama 2-3 menit
- Makan, minum sesudah 30 menit aplikasi
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnosa gigi/pemeriksaan lengkap,
- Kapas gulung,
- Butiran kapas,
- Alat poles,
- Larutan fluor,
- Bahan remineralisasi
i) Lama perawatan
- 1 kali kunjungan
- Evaluasi setiap 6 bulan
j) Faktor penyulit
- Kebersihan mulut jelek bergantung wawancara mengenai
faktor risiko
- Pasien masih anak-anak dan tidak bisa kooperatif, perlu
dirujuk pada spesialis KGA
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Proses karies tidak berkembang, lesi putih hilang dan
permukaan gigi kembali normal
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
- Pasien dengan kunjungan biasa, mempunyai tingkat
kesadaran rendah.
- Pasien anak-anak harus mempunyai tingkat kepatuhan
yang baik dan perlu dukungan orang tua
o) Tingkat pembuktian
Grade B
13. KARIES DENTIN
No. ICD10 : K02.52 Dental caries on pit and fissure surface
penetrating into dentin
K02.62 Dental caries on smooth surface
penetrating into dentin
a) Definisi
- Karies yang terjadi pada email sebagai lanjutan karies dini
yang lapisan permukaannya rusak
- Karies yang sudah berkembang mencapai dentin
- Karies yang umumnya terjadi pada individu yang
disebabkan oleh resesi gigi
b) Patofisiologi
- Bergantung pada keparahan proses kerusakan
- Jika sudah terdapat tubuli dentin yang terbuka akan
disertai dengan gejala ngilu, hal ini juga bergantung pada
rasa sakit pasien.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Perubahan warna gigi
- Permukaan gigi terasa kasar, tajam
- Terasa ada makanan yang mudah tersangkut
- Pemeriksaan sondasi dan tes vitalitas gigi masih baik
- Pemeriksaan perkusi dan palpasi jika ada keluhan
yang menyertai
- Pemeriksaan dengan pewarnaan deteksi karies gigi (bila
perlu)
- Jika akut disertai rasa ngilu, jika kronis umumnya tidak
ada rasa ngilu.
d) diagnosa banding
Abrasi, atrisi, erosi, abfraksi
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
23.2 restoration of tooth by filling;
23.70 root canal, not otherwise specified
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Prosedur tergantung pada kondisi kedalaman dan bahan
yang akan digunakan (Bergantung pada lokasi )
- Karies email :
1) Jika mengganggu estetika, ditumpat
2) Jika tidak mengganggu, recontouring (diasah), poles,
ulas fluoruntuk meningkatkan remineralisasi
- Bila dentin yang menutup pulpa telah tipis
- Pulpcapping indirect, ekskavasi jaringan karies, berikan
pelapis dentin
- Semua perawatan yang dilakukan harus disertai edukasi
pasien (informasi penyebab, tata laksana perawatan dan
pencegahan)
- DHE: edukasi pasien tentang cara menggosok gigi,
pemilihan sikat gigi dan pastanya. Edukasi pasien untuk
pengaturan diet
Prosedur karies dentin tanpa disertai keluhan ngilu yang
mendalam:
Bahan tumpat Glass ionomer Cement (GIC):
1. Pembersihan gigi dari debris dan kalkulus dengan alat
skeling manual, diakhiri dengan brush/sikat,
menghasilkan outline form untuk melakukan tumpatan
yang mempunyai retensi dan resistensi yang optimal;
2. Bersihkan jaringan infeksi (jaringan lunak dan warna
coklat/hitam harus dibuang sampai gigi terlihat putih
bersih);
3. Jaringan email yang tidak di dukung dentin harus
dihilangkan;
4. Keringkan kavitas dengan kapas kecil;
5. Oleskan dentin conditioner;
6. Cuci/bilas dengan air yang mengalir;
7. Isolasi daerah sekitar gigi;
8. Keringkan kavitas sampai keadaan lembab/moist (tidak
boleh sampai kering sekali/berubah warna kusam/doff);
9. Aduk bahan GIC sesuai dengan panduan pabrik (rasio
powder terhadap liquid harus tepat, dan cara mengaduk
harus sampai homogen);
10. Aplikasikan bahan yang telah diaduk pada kavitas;
11. Bentuk tumpatan sesuai anatomi gigi;
12. Aplikasi bahan lalu diamkan selama 1-2 menit sampai
setting time selesai;
13. Rapikan tepi-tepi kavitas, cek gigitan dengan gigi
antagonis menggunakanarticulating paper;
14. Di bagian oklusal dapat di bantu dengan celluloid strip
atau tekan dengan jari menggunakan sarung tangan;
15. Poles.
Bahan Resin Komposit (RK) dengan bahan bonding generasi V:
1. Pembersihan gigi dari debris dan kalkulus dengan alat
skeling manual, diakhiri dengan brush/sikat;
2. Bentuk outline form untuk melakukan tumpatan yang
mempunyai retensi dan resistensi yang optimal;
3. Lakukan pembersihan jaringan infeksius pada karies gigi
(jaringan lunak dan warna coklat/hitam harus dibuang
sampai gigi terlihat putih bersih).Warna hitam yang
menunjukkan proses karies terhenti tidak perlu diangkat
jika tidak mengganggu estetik;
4. Jaringan email yang tidak di dukung dentin harus
dihilangkan;
5. Keringkan kavitas dengan kapas kecil;
6. Aplikasikan ETSA asam selama 30 detikatau sesuai
petunjuk penggunaan;
7. Cuci/bilas dengan air yang mengalir;
8. Isolasi daerah sekitar gigi;
9. Keringkan sampai keadaan lembab/moist (tidak boleh
sampai kering sekali/berubah warna kusam/doff)atau
sesuai petunjuk penggunaan;
10. Oleskan bonding/adhesive generasi V, lalu di
angin-anginkan (tidak langsung dekat kavitas),
dilakukan penyinaran dengan light curing unit selama 10-
20 detik;
11. Aplikasikan flowable resin komposit pada dinding
kavitas, lalu dilakukan penyinaran dengan light
curing unit selama 10-20 detik;
12. Aplikasikan packable resin komposit dengan sistem layer
by layer/ selapis demi selapisdengan ketebalan lapisan
maksimal 2 mm, setiap lapisan dilakukan penyinaran
dengan light curing unit selama 10-20 detik;
13. Bentuk tumpatan sesuai anatomi gigi;
14. Merapikan tepi-tepi kavitas, cek gigitan dengan gigi
antagonis menggunakan articulating paper;
15. Poles (catatan: jika perlu komposit yang dibentuk dengan
bantuan celluloid strip(klas III) memungkinkan tidak
perlu poles.).
Bahan Resin Komposit (RK) dengan bahan bonding generasi
VII (no rinse):
1. Pembersihan gigi dari debris dan kalkulus dengan alat
skeling manual, diakhiri dengan brush/sikat;
2. Bentukoutline form untuk melakukan tumpatan yang
mempunyai retensi dan resistensi yang optimal;
3. Lakukan pembersihan jaringan infeksius pada karies gigi
(jaringan lunak dan warna coklat kehitaman harus
dibuang sampai gigi terlihat putih bersih). Warna hitam
yang menunjukkan proses karies terhenti tidak perlu
diangkat jika tidak mengganggu estetik;
4. Jaringan email yang tidak di dukung dentin harus
dihilangkan;
5. Isolasi daerah sekitar gigi;
6. Keringkan sampai keadaan lembab/moist (tidak boleh
sampai kering sekali/berubah warna kusam/doff);
7. Oleskan bonding/adhesive generasi VII, lalu di
angin-anginkan (tidak langsung dekat kavitas),
dilakukan penyinaran dengan ligh curingunit selama 10-
20 detik;
8. Aplikasikan flowable resin komposit pada dinding
kavitas, lalu dilakukan penyinaran dengan light
curingunit selama 10-20 detik;
9. Aplikasikan Packable resin komposit dengan sistem layer
by layer/ selapis demi selapis dengan ketebalan lapisan
maksimal 2 mm, setiap lapisan dilakukan penyinaran
dengan light curingunit selama 10-20 detik;
10. Bentuk tumpatan sesuai anatomi gigi;
11. Merapikan tepi-tepi kavitas, cek gigitan dengan gigi
antagonis;
12. Poles;
g) Pemeriksaan Penunjang
Xray gigi periapikal bila diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan standar,
- Set alat ART
- Enamel Access Cutter, hatchet, carver, excavator spoon
besar, sedang dan kecil
- Bor untuk preparasi,
- Bahan tumpat tergantung letak dan macam giginya (resin
komposit, GIC, kompomer),
- Bahan pelapis dentin / bahan pulp capping,
- Alat poles,
- Larutan fluor.
i) Lama perawatan
1– 2 kali kunjungan
j) Faktor penyulit
- Hipersalivasi
- Letak kavitas
- Lebar permukaan mulut
- Pasien tidak kooperatif
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
- Klinis tidak ada keluhan, tidak terbentuk karies sekunder
atau kebocoran.
- Pulp capping: klinis tidak ada keluhan,pemeriksaan
radiografik terbentuk dentinreparatif.
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik.
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
- Pasien dengan kunjungan biasa, mempunyai tingkat
kesadaran rendah.
- Pasien anak-anak harus mempunyai tingkat kepatuhan
yang baik dan perlu dukungan orang tua.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
14. KARIES MENCAPAI PULPA VITAL GIGI SULUNG
No. ICD 10 : B00.2Herpesviral gingivostomatitis and
pharyngotonsilitis
a) Definisi
Lesi mencapai pulpa akibat karies, pulpa terbuka diameter
lebih dari 1 mm perdarahan terkontrol, vital, sehat.
b) Patofisiologi
Invasi toksin bakteri dalam pulpa sampai saluran akar dan
jaringan periapeks
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Sakit spontan
- Sondase positif
- Perdarahan positif
- Tekanan negative
- Perkusi negative
- Derajat kegoyangan gigi
d) diagnosa banding
- Fraktur mahkota, pulpa terbuka vital
- Amelogenesis imperfekta
- Dentinogenesis imperfekta
- Rampant caries
- Nursing bottle caries
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental Examination
23.70 root canal NOS
23.2 restoration of tooth by filling
23.42Application of crown
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Pulpotomi dan restorasi
1. Pembuatan foto rontgent gigi;
2. Sterilisasi daerah kerja;
3. Anestesi lokal atau blok injeksi;
4. Pembersihan jaringan karies;
5. Pembukaan atap pulpa;
6. Pembuangan jaringan pulpa vital dalam kamar pulpa
dengan eksavator sendok;
7. Irigasi, keringkan kavitas, isolasi;
8. Penghentian perdarahan;
9. Peletakan formokresol pellet 1-3 menit;
10. Pengisian kamar pulpa dengan semen ZOE sampai
penuh dan berfungsi sebagai tumpatan sementara;
11. Restorasi mahkota tiruan (logam/ resin komposit).
- Terapi alternatif
- Pulpektomi vital atau devitalisasi pulpektomi
- Ekstraksi jika foto x ray menunjukkan sudah
waktunya gigi ini tanggal
g) Pemeriksaan Penunjang
Foto X-ray gigi periapikal bila diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan standar,
- Bor untuk preparasi,
- Alat endodontik,
- Bahan tumpat (tergantung letak dan macam giginya (resin
komposit, GIC),
- Alat pembuatan mahkota (logam/ KR), KR.
i) Lama perawatan
2-3 kali kunjungan
j) Faktor penyulit
- Sikap kooperatif anak
- Sosial ekonomi
- Kasus membutuhkan space maintainer sesudah ekstraksi
dirujuk ke SpKGA
k) Prognosis
- Baik
- Kontrol periodik 6 bulan
l) Keberhasilan perawatan
Keluhan hilang, gigi bisa berfungsi
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Sikap kooperatif baik dari pasien anak dan orang tuanya
dalam ketaatan untuk kunjungan beberapa kali ke dokter gigi.
o) Tingkat pembuktian
Grade C
15. ATRISI, ABRASI, EROSI
No. ICD 10 : K03.0 Excessive attrition of teeth
K03.1 Abrasion of teeth
K03.2 Erosion of teeth
a) Definisi
Ausnya jaringan keras gigi yang disebabkan oleh karena
fungsinya, karena kebiasaan buruk, cara menyikatgigi yang
salah atau karena asam dan karena trauma oklusi.
Hilangnya permukaan jaringan keras gigi yang bukan
disebabkan oleh karies atau trauma dan merupakan akibat
alamiah dari proses penuaan.
- Atrisi :
Hilangnya permukaan jaringan keras gigi yang disebabkan
oleh proses mekanis yang terjadi pada gigi yang saling
berantagonis (sebab fisiologis pengunyahan.)
- Abrasi :
Hilangnya permukaan jaringan keras gigi disebabkan oleh
faktor mekanis dan kebiasaan buruk
- Erosi :
Hilangnya permukaan jaringan keras gigi yang disebabkan
oleh proses kimia dan tidak melibatkan bakteri.
Gambar 11
Penampang frontal dan oklusal gigi erosi pada pasien dengan
GERD (Dr. A. Dickson dalam J Clin Exp Dent. 2012;4(1): 48-53
Clinical measurement of tooth wear: Tooth wear indices (Lopez-
Frias, dkk)
b) Patofisiologi
- Hilangnya permukaan jaringan keras(email, dentin
sementum ) pada setiap permukaa`n gigi yang disebabkan
asam , bahan kimia dan mekanis
- Hilangnya permukaan jaringan keras(email, dentin
sementum ) tergantung pada lokasi, kebiasaan bisa
disertai dentin hipersensitif
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Kadang disertai rasa ngilu oleh karena hipersensitif dentin
d) diagnosa banding
Hipersensitif dentin
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental examination;
23.2 Restoration of tooth by filling
23.3 Restoration of tooth by inlay
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Rehabilitasi gigi tergantung lokasi dan keparahan jika
perlu pada atrisi didahului dengan peninggian gigitan.
lalu direstorasi dengan tumpatan direk/indirek.
- Perlu diingat bahwa rehabilitasi tidak akan berhasil
jika kebiasaan buruk tidak dihilangkan
- DHE: edukasi pasien tentang cara menggosok gigi,
pemilihan sikat gigi dan pastanya. Edukasi pasien konsul
diet, konsultasi psikologis pada pasien Bulimia.
- Tindakan preventif: bila masih mengenai email dengan
aplikasi fluor topikal/CPPACP untuk meningkatkan
remineralisasi
- Tindakan kuratif:
1) Bergantung lokasi dan keparahan jika perlu pada atrisi
didahului dengan peninggian gigit
2) Pada kasus abfraksi perlu dilakukan Oclusal
Adjusment
3) Bergantung pada keparahan hilangnya permukaan
jaringan keras dan lokasi, bila di servikal dilakukan
ART dengan bahan GIC, Bila di oklusal direstorasi
mahkota
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan standar,
- Bor untuk preparasi,
- Cotton roll,
- Cotton pellet,
- Alat fluor,
- Larutan fluor/CPPACP,
- Bahan tumpat (tergantung letak dan macam giginya (resin
komposit, GIC, atau inlay resin komposit).
i) Lama perawatan
Bergantung keparahan (2-3 kali kunjungan)
j) Faktor penyulit
- Pasien tidak kooperatif
- Pasien dengan kebiasaan bruxism karena kondisi
psikologis
k) Prognosis
Baik jika penderita kooperatif dan dapat menghilangkan
kebiasaan buruk
l) Keberhasilan perawatan
Atrisi, abrasi, erosi berhenti (tidak berlanjut), Kebiasaan
buruk hilang
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Wajib, minimal lisan dan dicatat dalam rekam medik
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Pasien menyadari bahwa ada kebiasaan buruk yang
dilakukannya dan bersedia bekerja sama untuk berupaya
menghilangkan kebiasaan ini .
o) Tingkat pembuktian
Grade C
16. ORAL HYGIENE BURUK
No. ICD 10 : K03.6 Deposit [accretion] of teeth
a) Definisi
Endapan atau pewarnaan yang terjadi pada dataran luar gigi
disebabkan oleh berbagai faktor.
b) Gejala klinis dan pemeriksaan
Klinis tidak ada keluhan namun secara visual gigi berubah
warna.
c) diagnosa banding
Tidak ada
d) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
96.54 Dental scalling and polishing, plaque removal,
prophylaxis
e) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Bergantung penyebab endapan lunak plak dengan DHE.
Jika ada karang gigi dilakukan skeling;
- Dilakukan pewarnaan pada gigi dengan bahan disclosing;
- Melakukan pembersihan debris, kalkulus, semua elemen
gigi dimulai dari yang supra gingiva, dilanjutkan pada
subgingival jika ada;
- sesudah semua elemen selesai dibersihkan, lakukan
finishing;
- Polishingdilakukan menggunakan bahan polish yang
dicampur dengan pasta gigi untuk skeling;
- Perawatan diakhiri dengan memberikan povidone iodine
atau chlorhexidine untuk mencegah infeksi.
f) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan
g) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat pemeriksaan lengkap,
- Kapas gulung,
- Kapas butir,
- Disclosing (pewarna plak),
- Larutan povidone iodine,
- Chlorhexidine digluconate,
- Bahan polish,
- Pasta gigi, dan
- Alat skeling.
h) Lama perawatan
1 kali kunjungan
i) Faktor penyulit
Bergantung pada tingkat keparahan
j) Prognosis
Baik
k) Keberhasilan perawatan
Warna dan bentuk gusi sehat dan warna gigi sesuai dengan
gigi lain yang normal.
l) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan/ Dinyatakan
m) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Pasien yang masih sulit untuk menghilangkan kebiasaan
buruknya, sehingga sulit untuk kooperatif.
n) Tingkat pembuktian
Grade B
17. PERUBAHAN WARNA EKSTERNAL
No. ICD 10 : K03.7 Posteruptive color changes of dental
hard tissues
a) Definisi
Perubahan warna yang terjadi di permukaan email gigi oleh
karena berbagai faktor dari luar.
b) Patofisiologi
Iritasi kimiawi atau mekanis dari luar menyebabkan
masuknya zat warna, terutama matriks email sebagai email
menjadi porus dan terjadilah perubahan warna pada email
hingga ke dentin.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Gigi berubah warna di email dan dentin
d) diagnosa banding
- Dentinogenesis imperfecta
- Fluorosis
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental examination
24.99 Other (other dental operation)
23.41 Application of crown
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Persiapan pasien:
Pasien harus diberi tahu tentang faktor penyebab, letak
pewarnaan, rencana perawatannya serta prognosisnya,
sehingga pasien tidak boleh mengharapkan hasil
perawatan yang tidak mungkin dicapai.
g) Prosedur pemeriksaan:
Bleaching, mahkota selubung estetik
h) Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada
i) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap
- Restorasi Estetik lengkap
- Home bleaching
- Office bleaching dengan plasma dan laser
- Kamera Intra Oral, foto ekstra oral, electro pulp tester
j) Lama perawatan
1 kali atau lebih kunjungan
k) Faktor penyulit
Hipersensitivitas dan keterbatasan pasien
l) Prognosis
Baik
m) Keberhasilan perawatan
Warna gigi sesuai dengan gigi lain yang normal, namun jika
dibandingkan dengan pemutihan secara internal hasilnya
kurang memuaskan.
n) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan
o) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Tidak ada
p) Tingkat pembuktian
Grade B
18. DENTIN HIPERSENSITIF
No. ICD 10 : K03.80 Sensitive dentin
a) Definisi
Peningkatan sensitivitas akibat terbukanya dentin
b) Patofisiologi
Terbukanya tubulus dentin
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
Pasien merasa giginya linu jika terkena rangsangan
mekanis, thermis dan kimia tetapi gigi tidak karies.
d) diagnosa banding
Atrisi, abrasi, dan erosi.
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
89.31 Dental examination;
23.2 Restoration of tooth by filling
24.99 Other (other dental operation)
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Promotif dan preventif;
- Edukasi pasien (DHE) yang bersifat intervensi preventif;
- Pemberian fluor topikal/CPPACP untuk meningkatkan
remineralisasi/menutup tubuli dentin;
- jika diperlukan dilakukan tumpatan gigi menggunakan
bahan GIC/RK.
g) Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnosa gigi/pemeriksaan lengkap.
i) Lama perawatan
1 kali kunjungan
j) Faktor penyulit
Bila pasien tidak kooperatif
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Bila gigi sdh tidak sensitif lagi
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Pasien tidak mengalami kecemasan yang berlebihan dan
dapat bekerjasama untuk mendukung perawatan dapat di
aplikasikan dengan sempurna.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
19. HYPEREMIA PULPA GIGI TETAP MUDA
No. ICD 10 : K04.00 Initial (hyperaemia)
a) Definisi
Lesi karies/trauma mengenai email/dentin, dasar kavitas
keras/ lunak, pulpa belum terbuka.
b) Patofisiologi
Pulpitis akut/eksaserbasi, periodentitis karena pulpitis,
kronik/non vital.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Sakit menetap kurang darisatu menit bila minuman
dingin/makan manis/asam,
- Karies dentin,
- Sondase positif,
- Perkusi negatif,
- Tekanan negatif.
d) diagnosa banding
- Pulpitis akut/ eksaserbasi
- Periodontitis akut/ eksaserbasi
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
23.2 Restoration of tooth by filling
23.70 Root canal NOS
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Pembuatan foto rontgen dental;
- Pembuangan jaringan karies;
- Preparasi sesuai materi tumpatan;
- Cuci dan keringkan kavitas, isolasi;
- Aplikasikan pasta kalsium hidroksida;
- Letakkan tumpatan tetap;
- Cek oklusi;
- Polis;
- Kontrol setiap 3 bulan.
g) Pemeriksaan Penunjang
Xray gigi periapikal
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnostik standar,
- Alat dan bahan tumpat Komposit/ GIC
i) Lama perawatan
2-3 kali kunjungan
j) Faktor penyulit
Pada anak tidak kooperatif, rujuk ke SpKGA
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Keluhan hilang
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Kesadaran akan kesehatan gigi dan mulut
o) Tingkat pembuktian
Grade B
20. IRITASI PULPA GIGI TETAP MUDA
No. ICD 10 : K04.0 Acute pulpitis
a) Definisi
Lesi karies/ akibat trauma yang mengenai email gigi tetap
muda (akar belum sempurna).
b) Patofisiologi
Hiperemia pulpa bila terjadi infasi bakteri/rangsang
kimia/termis.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Kadang-kadang sakit bila minum dingin/ makan manis/
asam,
- Karies email/dentin,
- Sondase negatif,
- Perkusi negatif,
- Tekanan negatif.
d) diagnosa banding
Pulpitis irreversibel
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
23.2 restoration of tooth by filling
23.70 root canal NOS
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Bersihkan daerah kerja;
- Preparasi seminimal mungkin;
- Cuci dan keringkan, lalu isolasi;
- Beri varnish/ basis bagian dentin terbuka;
- Tumpat dengan Komposit Resin / GIC sesuai kaidah kerja;
- Lakukan penutupan pit dan fisur di sekitarnya;
- Cek oklusi;
- Polis;
- Cek sesudah 1 minggu, 3-6 bulan.
g) Pemeriksaan Penunjang
Xray gigi periapikal bila diperlukan.
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnostik standar,
- Alat dan bahan tumpat Komposit/ GIC.
i) Lama perawatan
1-2 kali kunjungan
j) Faktor penyulit
Pada anak tidak kooperatif, rujuk ke SpKGA
k) Prognosis
Baik
l) Keberhasilan perawatan
Keluhan hilang
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Pasien tidak mengalami kecemasan pada saat menerima
perawatan.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
21. PULPITIS IREVERSIBEL
No. ICD 10 : K04.0 Irreversibel pulpitis
a) Definisi
Kondisi inflamasi pulpa yang menetap, dan simtomatik atau
asimptomatik yang disebabkan oleh suatu jejas, dimana pulpa
tidak dapat menanggulangi inflamasi yang terjadi sehingga
pulpa tidak dapat kembali ke kondisi sehat.
b) Patofisiologi
Inflamasi pulpa akibat proses karies yang lama/jejas. Jejas
ini dapat berupa kuman beserta produknya yaitu toksin
yang dapat mengganggu sistem mikrosirkulasi pulpa sehingga
odem, syaraf tertekan dan akhirnya menimbulkan rasa nyeri
yang hebat.
c) Gejala klinis dan pemeriksaan
- Nyeri tajam, berlangsung cepat dan menetap, dapat hilang
dan timbul kembali secara spontan (tanpa rangsangan),
serta secara terus menerus. Nyeri tajam, yang berlangsung
terus menerus menjalar kebelakang telinga.
- Nyeri juga dapat timbul akibat perubahan
temperatur/rasa, terutama dingin, manis dan asam
dengan ciri khas rasa sakit menetap lama.
- Penderita kadang-kadang tidak dapat menunjukkan gigi
yang sakit dengan tepat.
- Kavitas dalam yang mencapai pulpa atau karies dibawah
tumpatan lama, dilakukan anamnesis menunjukkan
pernah mengalami rasa sakit yang spontan, klinis terlihat
kavitas profunda, dan tes vitalitas menunjukkan rasa sakit
yang menetap cukup lama.
d) diagnosa banding
Pulpitis awal/reversibel, bedanya pada pulpitis reversibel
muncul jika ada rangsangan (bukan spontan) dan tidak
bersifat menetap.
e) Klasifikasi Terapi ICD 9 CM
24.99other dental operation(other);
23.70 root canal, not otherwise specified;
87.12 Other dental x-ray (root canal x-ray);
23.2 Restoration of tooth by filling/ 23.3 Restoration of tooth
by inlay/ 23.41 Application of crown.
f) Prosedur Tindakan Kedokteran Gigi
- Pada pelayanan kesehatan tingkat pertama kasus seperti
ini dimasukkan dalam tindakan endodontik darurat untuk
mengurangi rasa sakit (karena tekanan) dengan cara
pulpektomi pada gigi berakar tunggal dan pulpotomi
untuk gigi berakar ganda, perlu segera dilakukan anestesi
lokal dan ekstirpasi jaringan pulpa.
- Perawatan endodontik disesuaikan dengan keadaan gigi,
yaitu gigi apeks terbuka dan gigi apeks tertutup.
- Pada dewasa muda dengan pulpitis ringan dilakukan
Pulpotomi.
- Pada gigi dewasa dengan perawatan saluran akar
(pulpektomi) dan dilanjutkan restorasi yang sesuai.
1. Pulpototomi
Anastesi, isolasi (rubberdam), desinfeksi gigi, preparasi
kavitas, pembukaan atap pulpa, pulpotomi dengan
eksavator tajam, penghentian pendarahan, aplikasi
Ca(OH)2, sementasi dengan aplikasi pasta dan
tumpatan tetap.
2. Pulpektomi dan perawatan saluran akar:
- Anastesi, pengukuran panjang kerja, preparasi
kavitas, pembukaan atap pulpa, pengambilan
pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator tajam,
pendarahan ditekan dengan kapas steril, ekstirpasi
pulpa, pembentukan saluran akar denganjarum
endodontik yang sesuai, irigasi NaOCL,
pengeringan saluran akar dengan paper point,
pengobatan saluran akar. Pada kunjungan
berikutnya pengisian saluran akar dengan guttap
point dan sealer (bergantung kondisi).
- Tumpatan tetap dengan onlay, crown, atau resin
komposit (bergantung sisa / keadaan jaringan
keras gigi).
g) Pemeriksaan Penunjang
Xray gigi periapikal bila diperlukan
h) Peralatan dan bahan/obat
- Dental unit lengkap,
- Alat diagnosa lengkap,
- Alat dan bahan untuk perawatan endodontik lengkap
(cairan irigasi, desinfektan, jarum endodontik, paper point,
kapas steril, guttap point, root canal sealer, tumpatan
sementara dan tumpatan tetap).
i) Lama perawatan
2 - 4 kali kunjungan bergantung derajat kesukaran
j) Faktor penyulit
- Pasien tidak kooperatif dan disiplin dalam kunjungan
untuk mendapatkan perawatan.
- Selain kasus pada gigi akar tunggal, dan gigi akar ganda
yang lurus dengan sudut pandang kerja pada orifice tidak
terhalang (yaitu, bila saluran akar gigi terlalu bengkok,
atau sempit/buntu, letak gigi terlalu distal dan apeks
lebar) dokter gigi harus merujuk ke spesialis konservasi
gigi.
k) Prognosis
Bergantung daya tahan jaringan, pemulihan pertama 3 bulan.
Evaluasi perlu dilakukan secara periodik.
l) Keberhasilan perawatan
- Nyeri hilang segera sesudah perawatan.
- Kesembuhan Pulpotomi jaringan pulpa yang berkontak
langsung dengan mengalami nekrosis superfisial,
dibawahnya akan terbentuk jembatan dentin dan terjadi
apekso-genesis
- Kesembuhan Pulpektomi: Klinis tidak ada keluhan dan
pada pemeriksaan radiografik tidak ada kelainan
periapeks
m) Persetujuan Tindakan Kedokteran
Lisan
n) Faktor sosial yang perlu diperhatikan
Kepatuhan pasien yang tinggi. Tinggi atau rendahnya
kepedulian pasien terhadap keadaan dan kondisi giginya.
Kerjasama dan sifat kooperatif pasien diperlihatkan pada saat
kunjungan sesudah devitalisasi pulpa, agar mendapatkan hasil
perawatan yang sempurna.
o) Tingkat pembuktian
Grade B
22. PULPITIS REVERSIBEL/PULPITIS AWAL/PULPA PADA GIGI
SULUNG ATAU GIGI PERMANEN, PASIEN DEWASA MUDA
No. ICD 10 : K04.0 Reversible pulpitis
a) Definisi
Inflamasi pulpa ringan dan jika penyebabnya dihilangkan,
inflamasi akan pulih kembali dan pulpa akan kembali sehat.
b) Patofisiologi
Ditimbulkan oleh stimulasi ringan seperti karies erosi servikal,
atrisi oklusal, prosedur operatif, karetase periodontium yang