Sabtu, 30 November 2024

kejiwaan

 

a. Seorang laki-laki umur 26 tahun datang ke poliklinik

jiwa dengan keluhan susah untuk memulai tidur dan

mempertahankan tidur sejak 2 bulan yang lalu sehingga

memicu  susah konsentrasi saat bekerja karena lemas.

Apa saja yang harus diajukan untuk menentukan penyebab

tidak bisa tidur tersebut? Bagaimana penatalaksanaan

selanjutnya?

b. Seorang laki laki berusia 50 tahun datang ke poliklinik jiwa

dengan keluhan susah tidur terutama sering terbangun di

pagi dini hari. Saat wawancara psikiatri pasien mengeluh

sangat sedih, putus asa karena sakit kencing manisnya dan

tampaktidakbersemangatmeneruskanterapinya.Apayang

harus dianjurkan untuk menentukan kondisi kesehatan

jiwanya? Bagaimana penatalaksaaan selanjutnya?

c. Seorang mahasiswa datang ke poliklinik karena nafas sering

sesak, jantung berdebar, dan gangguan lambung. Apa yang

harus dianjurkan untuk mengungkap faktor psikologis

yang mendasarinya? Bagaimana penatalaksaannya?

d. Ada pasien yang dirawat di bangsal dengan riwayat

demam lebih dari satu minggu yang menunjukkan gejala

kebingungan, merasa melihat bayangan yang menakutkan

dan berteriak-teriak. Pemeriksaan penunjang apakah yang

perlu dilakukan? Bagaimana membedakan apakah gejala

kejiwaan dan gejala fisik yang muncul yaitu  merupakan 

dua kondisi yang berdiri sendiri-sendiri yang muncul

bersamaan atau merupakan dua kondisi yang berhubungan

atau merupakan sebab akibat? Bagaimana penatalaksanaan

gangguannya?

e. Pasien mengeluh mulai sering lupa, terutama lupa akan hal￾hal yang baru saja terjadi, misalnya sudah diberi sarapan

oleh menantunya tetapi mengatakan belum. Gejala-gejala

gangguan apakah ini? Gejala lain apakah yang harus anda

cari? Pemeriksaan penunjang apa yang perlu anda lakukan?

Bagaimana membedakan apakah gejala ini disebabkan

karena proses psikologis atau dilatarbelakangi proses

organik? Penatalaksanaan kasus seperti ini bagaimana?

f. Pasien menunjukkan gejala kurus, tidak mau makan,

lebih suka berkumpul dengan kelompok sebaya daripada

menyelesaikan tugasnya. Di lengannya ada  bekas￾bekas tusukan yang berwarna kehitaman. Gejala gangguan

apakah ini? Pemeriksaan lainnya apakah yang perlu anda

lakukan? Bagaimana membedakan gejala ini apakah

disebabkan karena kondisi fisik atau karena psikologis atau 

saling berhubungan? Bagaimana penatalaksanaannya?

g. Jika pasien menunjukkan sikap tubuh yang “aneh”,

“mendengar suara- suara”di telinganya;lebih suka

menyendiri dan melamun. Gejala gangguan apa ini? Gejala

lain apa lagi yang harusAnda cari, yang biasanya menyertai

dua gejala di depan? Bagaimana penata- laksanaannya?h. Pasien datang dalam keadaan tangan terborgol dan dikawal

oleh polisi. Keluarga melaporkan bahwa pasien tiba-tiba

mengamuk dan menyerang siapa saja yang dijumpai. Akan

anda apakan pasien ini?

i. Seorang pasien kelihatan berseri-seri, merasa sangat

optimis, banyak bicara dengan topik meloncat-loncat dan

kebutuhan tidurnyapun berkurang. Gejala apakah ini?

Bagaimana penatalaksanaannya?

j. Pasien mengeluh sakit kepala, sakit perut, nyeri seluruh

tubuh, sulit tidur, berkurangnya nafsu makan, merasa

lemah, merasa bersalah, tidak bahagia; gejala gangguan apa

itu? Apa yang harus anda lakukan pada pasien tersebut?

Apa yang harus anda lakukan pada pasien tersebut? Apa

yang harus Anda lakukan pada keluarganya?

k. Hampir tiap menghadapi situasi yang “tidak dikehendaki”

tubuh jadi “kaku” atau pasien “semaput”, gejala gangguan

apa ini? Apa yang harus anda lakukan pada pasien dengan

gejala tersebut? Apa yang harus anda lakukan pada

keluarganya?

l. Seorang wanita merasa kehidupan perkawinannya tidak

bahagia, bahkan dia mau menuntut cerai dari suaminya.

Permasalahannya yaitu  bahwa setiap kali berhubungan

seksual isterinya tidak pernah mendapat kepuasan karena

suaminya cepat selesai. Apa yang akan anda lakukan pada

pasangan ini?

m. Seorang anak perempuan usia 5 tahun tetapi mesih belum

mampu berbicara seperti anak sebayanya. Penampilannya

spesifik, wajahnya khas, dan lidah menjulur keluar. 

Bagaimanaupayapromosi,prevensi,kurasi,danrehabilitasi

untuk gangguan ini?

n. Seorang anak selalu tampak banyak gerak, bahkan di

ruang praktek dokter sekalipun. Sampai ibunya kewalahan

menghadapinya. Gejala lain apa yang perlu anda cari?

Bagaimana penatalaksanaannya?

 Seorang penderita pada umumnya tenang, tetapi secara

tiba-tiba mengamuk dan sehabis itu dia tidak menyadari

apa yang dilakukannya. Pemeriksaan apa yang perlu

dilakukan?

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan

tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2minggu untuk

penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat

dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung

cepat.


Delirium

Delirium didefenisikan sebagai gangguan kognitif yang

berfluktuasi dengan onset akut disertai gangguan kesadaran. 

Delirium merupakan suatu sindrom, bukan penyakit, dan

mempunyai banyak penyebab yang kesemuanya menghasilkan

gambaran dalam tanda dan gejala klinis gangguan kesadaran dan

perubahan pada kognitif yang berkembang dalam waktu singkat,

biasanya muncul bersama-sama dengan gangguan fungsi kognitif

global. Perjalanan delirium bersifat singkat dan berfluktuasi, 

serta penyembuhan cepat bila penyakit yang mendasarinya dapat

diidentifikasi dan dieliminasi, tetapi gambaran karakteristik ini 

dapat bervariasi pada tiap individu.Delirium dikenal juga sebagai

Intensif Care Unit Psychosis, status konfusional akut, gagal otak

akut, ensefalitis, ensefalopati, status metabolic toksik, toksisitas

system saraf pusat, ensefalitis limbic paraneoplastik, sundowning, 

insufisiensi serebral dan sindrom otak organik. Gejala psikiatri 

yang umum berupa abnormalitas mood, persepsi dan perilaku;

serta gejala neurologi berupa tremor, asterixis, nistagmus,

inkoordinasi, dan inkontinensia urine.

Menurut PPDGJ III, pedoman diagnostik untuk delirium

yang bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya (F.05):

Gangguan kesadaran dan perhatian

o Dari taraf kesadaran berkabut sampai koma

o Menurunnya kemampuan untuk mengarahkan,

memusatkan, mempertahankan dan mengaihkan

perhatian

Gangguan kognitif secara umum

o Distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi – seringkali

visual

o Hendaya daya pikir dan pengertian abstrak, dengan

atau tanpa waham yang bersifat sementara, tetapi

sangat khas ada  inkoherensi ringan

o Hendaya daya ingat segera dan jangka pendek, sedang

daya ingat jangka panjang relatif masih utuh

 o Disorientasi waktu,. Pada kasus berat, ada  juga

disorientasi tempat dan orang

Gangguan Psikomotor

o Hipo atau hiperaktivitas dan pengalihan aktivitas

yang tidak terduga dari satu ke yang lain

o Waktu bereaksi yang lebih panjang

o Arus pembicaraaan bertambah atau berkurang

o Reaksi terperanjat meningkat

• Gangguan siklus tidur-bangun:

o Insomnia atau pada kasus yang berat tidak dapat tidur

sama sekali, atau terbaliknya siklus tidur-bangun;

mengantuk pada siang hari

o Gejala memburuk pada malam hari. Mimpi yang

mengganggu atau mimpi buruk yang dapat berlanjut

menjadi halusinasi sesudah  bangun.

o Gangguan emosional:misalnya depresi, anxietas atau 

takut, lekas marah, euphoria, apatis atau kehilangan

rasa akal

o Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya hilang

timbul sepanjang hari, dan keadaan itu berlangsung

kurang dari 6 bulan

Gangguan Penyalahgunaan Zat

NAPZA atau narkoba yaitu  singkatan dari Narkotika,

PskikotropikadanZatadiktiflaindanobat-obatanyangberbahaya

yang sangat berguna dan diperlukan untuk kepentingan dunia

kedokteran sebagai pengobatan dan pelayanan.Penyalahgunaan

NAPZAsangatmembahayakantidakhanyamerugikankesehatan

tapijugaberdampakpadaekonomi, sosial,produktivitaskerjadan

biaya untuk pengobatan.Secara keseluruhan dapat berdampak

terhadap sosial kemasyarakatan, politik, budaya sehingga dapat

memperngaruhi jalannya perkembangan bangsa dan negara.

Ketergantungan zat merupakan sebuah kelainan

yang kompleks, dengan berbagai mekanisme biologis yang

mempengaruhi otak dan kemampuannya untuk mengontrol

penggunaanzat.Ketergantunganzattidakhanyadipengaruhioleh

faktor biologis dan genetika namun juga ada  komorbiditas

yang signifikan antara ketergantungan zat dan beberapa gangguan 

jiwa lainnya.Komorbiditas antara gangguan penggunaan zat dan

gangguan jiwa lainnya selayaknya dijadikan salah satu elemen

yang patut diperhatikan baik dalam penanganan terhadap

penyakit jiwa maupun ketergantungan zat.

Ketergantungan dapat ditangani secara efektif, sehingga

dapat menyelamatkan kehidupan, meningkatkan kesehatan

dari pasien dan keluarga mereka serta mengurangi biaya yang

menjadi beban masyarakat. Dengan latar belakang permasalahan

dan dampak yang diakibatkan dari penyalahgunaan NAPZA

yang demikian komplek terhadap individu, maka setiap anggota

didik perlu ditingkatkan pengetahuan dan pemahaman yang

cukup tentang bahaya NAPZA beserta sanksi hukumnya untuk

dapat menangani, sekaligus mencegah penyalahgunaan NAPZA

di masyarakat.

Skizofrenia

Skizofrenia yaitu  sindroma klinik yang ditandai oleh

psikopatologiberatdanberagam,mencakupaspekkognisi, emosi,

persepsi dan perilaku, dengan gangguan pikiran sebagai gejala

pokok. Awitan biasanya sebelum usia 25 tahun, berlangsung

seumur hidup dan bisa diderita oleh semua kalangan sosial￾ekonomi. Medikasi dengan obat antipsikotik merupakan terapi

utamaskizofrenia,sementaraintervensipsikososialmeningkatkan

hasil pengobatan. Hospitalisasi, dilakukan untuk memastikan

diagnosis, stabilisasi medikasi, menjaga keselamatan penderita,

optimalisasi perawatan diri dan membangun dasar-dasar

hubungan penderita dengan sistem dukungan di masyarakat.

Diagnosis Skizofrenia menurut PPDGJ III

a. “thought echo”, “thought insertion or withdrawal”,

“thought broadcasting”

b. waham dikendalikan, waham dipengaruhi  gerakan

tubuh, pikiran, perbuatan, perasaan

c. halusinasi yang membicarakan atau mengomentari

perbuatan penderita, halusinasi yang berasal dari salah

satu bagian tubuh

d. waham-waham menetap lain tema keagamaan, politik,

“kemampuan istimewa” yang tidak sesuai dengan latar

belakang budaya penderita

e. halusinasi yang menetap

f. alur pikir yang terputus, tersisip inkoherensi, irelevansi,

neologisme

g. perilaku katatonik  gaduh gelisah, “posturing”,

fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, stupor)

h. gejala-gejala “negatif”  apatis, hilangnya minat, respon

emosional tumpul, penarikan diri secara sosial, malas,

“self-absorbed attitude”

i. perubahan perilaku konsisten dan menyeluruh

Syarat diagnosis, sedikitnya ada satu (bila sangat jelas) atau

dua (bila kurang jelas) dari gejala kelompok a-d, atau sedikitnya

dua dari gejala kelompok e-h, selama kurun waktu satu bulan.

Pola perjalanan penyakit: berkelanjutan, episodik dengan 

kemunduran progresif, episodik dengan kemunduran stabil,

episodik berulang, remisi tidak sempurna, remisi sempurna, dan

lainnya, periode pengamatan kurang dari satu tahun.

Gangguan Mood

Depresi

Episoda depresi berlangsung paling sedikit dua minggu dan

sedikitnya ada empat dari gejala-gejala berikut : perubahan nafsu 

makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan kegiatan; rasa

bersalah, gangguan kemampuan berfikir dan sulit membuat 

keputusan, serta berulang ulang memikirkan kematian dan

bunuh diri.

Mania

Episoda mania ditandai oleh mood yang secara pervasif

meningkat, ekspansif atau iritabilitas, sedikitnya selama satu 

minggu atau bisa kurang bila pasien sampai harus menjalani

rawat inap; episoda hipomanik berlangsung sedikitnya selama

empat hari, gejala-gejalanya mirip mania, tetapi tidak sampai

mengganggu fungsi sosial atau okupasional dan juga tidak

didapatkan gejala-gejala psikotik. Baik pada mania maupun

hipomania didapat rasa percaya diri yang sangat meningkat,

kurangnya kebutuhan tidur, distraktibilitas, aktivitas fisik dan 

mental meningkat dan sangat terlibat pada kegiatan yang bersifat

menyenangkan.

Gangguan bipolar

Pada gangguan bipolar, gejala gangguan emosi terbagi

dalam dua kelompok besar, yaitu kutub gembira/mania dan

kutub sedih/depresi. Pada pola standar, masing masing kutub

emosi secara bergantian tampil dominan mewarnai kondisi

psikis dan perilaku penderita selama rentang masa tertentu.

Episoda mania ditandai oleh emosi yang gembira, banyak

bicara, aktivitas fisik meningkat, kebutuhan tidur berkurang, 

harga diri dan rasa percaya diri sangat berlebihan, pengelolaan

keuangan buruk, boros, pengendalian diri juga buruk. Episoda

mania berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, rata-rata

sekitar empat bulan. Episoda depresi ditandai oleh gejala-gejala

yang berlawanan, yaitu emosi yang sedih, hilangnya minat dan

kegembiraan, merasa lelah sehingga kegiatan menjadi terbatas,

daya konsentrasi menurun, harga diri dan rasa percaya diri

menurun, merasa bersalah dan tidak berguna, masa depan

suram, sukar tidur, nafsu makan (dan berat badan) menurun,

ada gagasan atau upaya bunuh diri. Episoda depresi berlangsung

lebih lama, tetapi jarang sampai lebih dari satu tahun, rata-rata

sekitar enam bulan.

Selain pola standar, berdasarkan tampilan gejala, gangguan

bipolar ada yang bersifat campuran (didapatkan gabungan

gejala-gejala mania dan depresi), rapid cycle (sekurang

kurangnya ada empat episoda gangguan emosi dalam satu

tahun) dan ultra rapid cycle (episoda-episoda gangguan

emosi bergantian secara cepat dalam hitungan hari)

Baik episoda mania maupun episoda depresi bisa disertai

gejala-gejala yang sebenarnya hanya khayalan tetapi

diyakini kebenarannya oleh penderita.

• Gangguan bipolar terdiri dari 4 kelompok, yaitu gangguan 

bipolar I (ada gejala mania dan depresi yang jelas), bipolar

II ( ada gejala mania ringan/hipomania dan depresi yang

jelas), gangguan siklotimik (kondisi emosi yang tidak stabil,

ditandai oleh banyak emosi mania dan depresiringan) serta

gangguan bipolar lainnya (gejala-gejala tidak spesifik). 

Pada perjalanan penyakit gangguan bipolar I didapatkan

satu atau beberapa episoda mania dan kadang-kadang

ada episoda depresi; pada episoda campuran didapatkan

episodamaniadandepresisepanjanghari,selamasedikitnya

satu minggu; kondisi yang ditandai oleh beberapa episoda

depresi berat dan hipomania, disebut sebagai bipolar II.

Distimia dan siklotimia

Pada keduanya didapatkan gejala-gejala depresi yang

lebih ringan dari pada depresi berat maupun bipolar I.Distimia ditandai oleh mood depresi sedikitnya selama dua tahun yang

tidak seberat depresi berat.Siklotimia ditandai oleh sedikitnya

selama dua tahun terjadi gejala-gejala hipomania yang tidak

cukup untuk diagnosis episoda mania dan gejala-gejala depresi

yang tidak cukup untuk diagnosis episoda depresi berat.

Depresi terselubung

Pada tahun 1974, dilakukan penelitian terhadap sekitar 

10.000 orang dokter di Eropa, dan didapatkan bahwa sekitar

10% penderita yang datang berobat yaitu  penderita depresi

dan pada setengah di antaranya, depresi tersebut terselubung.

Depresi terselubung yaitu  depresi yang tertutupi/terselubungi

oleh keluhan/gejala-gejala lain, biasanya yang bersifat jasmani.

Akibatnya sering pada awalnya penderita diperlakukan dan

diobati sebagai penderita gangguan jasmani.

Diagnosis Gangguan Mood menurut PPDGJ III

Episode manik

Merupakan episode tunggal dengan tiga derajat

keparahan

Hipomania

Peningkatan ringan suasana perasaan (mood), energi,

aktivitas, ada perasaan sejahtera, peningkatan kemampuan

bergaul dan bercakap, keakraban berlebihan, peningkatan

seksualitas, pengurangan kebutuhan tidur

Euforik, kadang-kadang mudah marah, sombong, tidak

sopan, membual, melawak berlebihan

Konsentrasi dan daya perhatian terganggu, sehingga

kurang mampu bekerja dengan baik, agak boros dan suka

mencoba kegiatan-kegiatan baru

Berlangsung sekurangnya beberapa hari terus menerus

Mania tanpa gejala psikotik

1. Suasana perasaan meninggi,tidak sepadan dengan keadaan

yang sesungguhnya

2. Energi meningkat, aktivitas berlebihan, bicara banyak￾cepat, kebutuhan tidur berkurang

3. Kendali perilaku sosial tidak ada, perhatian sangat mudah

beralih, harga diri membumbung, optimistis dan banyak

memiliki pikiran yang hebat-hebat yang dikemukakan

secara terbuka

4. Mungkin ada gangguan persepsi : apresiasi warna yang 

berlebihan, perhatian berlebih pada detil, hiperakusis,

punya banyak rencana yang tidak praktis, boros, agresif,

atau penuh cinta kasih, berkelakar pada suasana yang tidak

tepat, mudah tersinggung, curiga

5. Awitan biasanya apada usia 15-30 tahun, bisa pada rentang

usia akhir masa anak sampai dasawarsa ketujuh atau

kedelapan

6. Episoda berlangsung sedikitnya selama satu minggu, cukup

berat sehingga praktis mengacaukan pekerjaan maupun

aktivitas sosial

Mania dengan gejala psikotik

Gambaran klinis mania lebih berat dari mania tanpa gejala

psikotik

Ada waham kebesaran, waham curiga

Bicara bisa sangat cepat sehingga tidak dapat dipahami

• Aktivitas fisik sangat meningkat, bisa menjurus ke 

agresivitas,disertaimengabaikankebutuhanmakanminum

sehingga bisa mengakibatkan dehidrasi

Gangguan afektif bipolar

Episode berulang (sekurangnya dua) gangguan suasana

perasaan, yang pada suatu masa meningkat, pada masa lain

menurun

• Episoda manik terjadi secara tiba tiba, selama 2 minggu-4/5 

bulan, biasanya sekitar 4 bulan

Episoda depresi berlangsung lebih lama, biasanya sekitar

6 bulan (pada lanjut usia mungkin berlangsung lebih dari

satu tahun)

Terjadi (tidak selalu) sesudah  mengalami stresor kehidupan

berat

Episoda pertama bisa terjadi pada rentang usia masa anak

sampai masa tua

Kambuhan, remisi makin lama makin singkat dan sesudah 

usia pertengahan depresi cenderung lebih sering terjadi

dan lebih lama

Episode depresif

Ada tiga tingkat keparahan (ringan, sedang, berat) dengan

gejala pokok yaitu  mood yang depresif, hilangnya minat

dan kegembiraan, energi berkurang, mudah lelah, aktivitas

berkurang, gejala-gejala lain seperti konsentrasi dan perhatian

berkurang; harga diri dan kepercayaan diri berkurang; merasa

bersalah, tidak berguna; pesimistik, masa depan suram; ada

gagasan dan perbuatan membahayakan diri sendiri (bunuh diri);

tidur terganggu; nafsu makan berkurang.

Gangguan Ansietas Fobik

Fobia yaitu  suatu ketakutan yang tidak rasional yang

memicu  penghindaran yang disadari terhadap objek,

aktivitas atau situasi yang ditakuti.Fobia spesifik dapat berupa 

takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb.

Sedangkan fobia sosial berupa takut terhadap rasa memalukan

di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di depan

umum, dsb.

Pedoman diagnosis Gangguan Ansietas Fobik

Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak

beralasan (obyek /situasi)

Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu

mencetuskan kecemasan

Menyadari bahwa rasa takut yaitu  berlebihan

Situasi fobik dihindari

Fobia spesifik

A. Rasa takut yang jelas dan menetap yang berlebihan atau

tidak masuk akal ditandai dengan adanya antisipasi

terhadap objek atau situasi spesifik (mis. Naik pesawat 

terbang, ketinggian, binatang, mendapat suntikan, melihat

darah)

B. Pemaparan dengan stimulus fobia hampir selalu

mencetuskan kecemasan yang dapat berupa serangan

panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan

oleh situasi. Catatan: Pada anak-anak, kecemasan dapat 

diekspresikan dengan menangis, tantrum.

C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan

atau tidak beralasan Catatan: pada anak-anak, gambaran 

ini tidak harus ada

D. Situasi fobik dihindari, atau jika tidak dapat dihindari,

dihadapi dengan kecemasan atau penderitaan yang kuat

E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam

situasifobia secara bermakna mengganggu rutinitas normal

seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas sosial dan

hubungan dengan orang lain, atau ada  penderitaan

yang jelas akibat menderita fobia.

F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung

sekurangnya selama 6 bulan

G. Kecemasan, serangan panik, atau penghindaran fobik tidak

lebih baik dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti

gangguan obsesif kompulsif, gangguan strs pasca trauma,

gangguan cemas perpisahan, fobia sosial, gangguan panik

denganagorafobia, atauagorafobia tanpa riwayat gangguan

panik.

Fobia sosial

A. Rasa takut yang jelas dan menetap terhadap satu atau

lebih situasi sosial, saat seseorang dihadapkan pada orang

yang tidak dikenal/tidak akrab atau pada situasi yang

memungkinkan ia akan diperhatikan oleh orang lain.

Orang tersebut merasa takut akan berperilaku dengan cara

yang merendahkan atau memalukan dirinya.

B. Pemaparan dengan situasi sosial yang ditakuti hampir

selalu mencetuskan kecemasan yangdapat berupa serangan

panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan

oleh situasi.

C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan

atau tidak beralasan.

D. Situasi sosial atau situasi yang ditakuti dihindari, atau jika

tidak dapat dihindari, dihadapi dengan kecemasan atau

penderitaan yang kuat.

E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam

situasi sosial atau kinerja secara bermakna mengganggu

rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas

sosial dan hubungan dengan orang lain, atau ada 

penderitaan yang jelas akibat menderita fobia.

F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung

sekurangnya selama 6 bulan

G. Rasa takut atau penghindaran yaitu  bukan karena obat￾obatan atau kondisi medik umum.

H. Bila ada  gangguan kondisi medik umum atau

gangguan psikiatrik lain, rasa takut pada kriteria A tidak

berkaitan dengan hal tersebut.

Agorafobia

A. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi yang

kemungkinan akan sulit meloloskan diri(atau merasa malu)

atau mungkin tidak ada  pertolongan jika mengalami

panik atau gejala mirip panik. Rasa takut pada agorafobia

secara khas mencakup situasi berada di luar rumah

sendirian, berada di kerumunan, berada di atas jembatan,

menempuh perjalanan dengan bis, kereta api atau mobil.

B. Situasi yang ditakuti dihindari, atau dihadapi dengan

penderitaan atau kecemasan yang kuat akan mendapatkan

serangan panik atau gejala mirip panik, atau perlu

didampingi teman.

C. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik

dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti fobia sosial,

fobia spesifik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres 

pasca trauma, atau gangguan cemas perpisahan.

Gangguan Panik

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda

mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang

terjadi sesudah  luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas 

seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk

mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului

serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala

yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental

utama yaitu  ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman

kematiandankiamat.Pasienbiasanya tidakmampumenyebutkan

sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan

mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik 

yaitu  takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien

seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya

berlangsung 20 sampai 30 menit.

Gejala penyerta

Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik

dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi

ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik.  Penelitian

telah menemukan bahwa risiko bunuh diri selama hidup pada

orang dengan gangguan panik yaitu  lebih tinggi dibandingkan

pada orang tanpa gangguan mental.

Agorafobia

Pasiendengan agorafobia akan menghindari situasidimana

ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa

bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.

Ada dua kriteria gangguan panik:

gangguan panik tanpa agorafobia

gangguan panik dengan agorofobia

Diagnosis Gangguan panik tanpa agorafobia

A. Memenuhi kriteria (1) dan (2):

(1) Serangan panik berulang yang tidak diharapkan

Gejala panik terjadi secara tiba-tiba dan mencapai

puncaknya dalam waktu 10 menit

(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh salah satu

berikut ini selama 1 bulan/ lebih:

(a) Kekhawatiran yang menetap akan mengalami

serangan tambahan

(b) Kekhawatiran terhadap suatu serangan atau

akibatnya

(c) Perubahan bermakna pada perilaku yang

berhubungan dengan Serangan

B. Tidak ada  agoraphobia

C. Bukan karena efek fisiologis langsung dari zat atau suatu 

kondisi medik umum

D. Serangan panik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan

mental lain, seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan

obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, cemas

perpisahan.

Diagnosis Gangguan panik dengan agorafobia

A. Memenuhi kriteria 1 dan 2

(1) Serangan panik berulang yang tidak diharapkan Gejala

panik terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya

dalam waktu 10 menit.

(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh salah satu

berikut ini selama 1 bulan/ lebih:

(a) Kekhawatiran yang menetap akan mengalami

serangan tambahan?

(b) Kekhawatiran terhadap suatu serangan atau

akibatnya

(c) Perubahan bermakna pada perilaku yang

berhubungan dengan serangan

B. ada  agoraphobia

C. Bukan karena efek fisiologis langsung dari zat atau suatu 

kondisi medik umum

D. Serangan panik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan

mental lain, seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan 

obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, cemas

perpisahan.

Diagnosis Serangan panik

A. Merasa takut yang kuat, diikuti oleh gejala-gejala berikut

ini yang terjadi secara tiba tiba dan mencapai pundaknya

dalam waktu 10 menit.

(1) Palpitasi

(2) Berkeringat

(3) Gemetar atau bergoncang

(4) Rasa sesak nafas atau tertahan

(5) Perasaan tercekik

(6) Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman

(7) Mual atau gangguan perut

(8) Perasaan pusing, bergoyang atau akan pingsan

(9) Derealisasi atau depersonalisasi

(10) Ketakutan hilang kendali atau menjadi gila

(11) Rasa takut mati

(12) Parestesia

(13) Menggigil atau perasaan panas

Gangguan Cemas Menyeluruh

Gambaran esensial dan gangguan ini yaitu  adanya

ansietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama). Gejala

yang dominan sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang

berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala

terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastrik

yaitu  keluhan-­keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa

dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan

mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan

yang seringkali diungkapkan.

Pedoman diagnosis gangguan cemas menyeluruh

Pasien harus menunjukan gejala primer ansietas yang

berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu,

bahkan biasanya sampai beberapa bulan

• Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut: 

kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik,

overaktivitas otonomik.

A. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan, yang

lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama

sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah kejadian atau

aktivitas.

B. Orang tersebut merasa sulit mengendalikan

kekhawatirannya.

C. Kecemasan dan kekhawatiran disertai oleh 3 dari 6 gejala

berikut ini:

(1) Kegelisahan, perasaan tegang, gugup

(2) Merasa mudah lelah

(3) Sulit berkonsentrasi/pikiran menjadi kosong

(4) Cepat marah

(5) Ketegangan otot

(6) Gangguan tidur

(7) Kelelahan atau berkurangnya energi

D. Fokus kecemasan dan kekhawatiran tidak berkaitan dengan

gangguan lain pada aksis I.

E. Kecemasan, kekhawatiran, gejala fisik memicu  

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan

pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

F. Gangguan bukan merupakan akibat langsung dari efek

fisiologis suatu zat atau kondisi medik umum dan tidak 

hanya terjadi selama suatu gangguan mood, gangguan

psikotik, atau gangguan perkembangan pervasif.

Gangguan Obsesif Kompusif

Gangguan obsesif-kompulsif yaitu  salah satu gangguan

mental yang sering mengikis sumber daya maupun energi

penderitadalammenghadapikehidupannyasehari-hari.Penderita

gangguan obsesif-kompulsif tersiksa oleh pikiran-pikiran yang

terus-menerus memaksanya melakukan tindakan tertentu secara

berulang tanpa ia kehendaki. Pikiran yang terus berulang dan

sulit ditepis ini yang disebut sebagal obsesi. Bila pikiran ini sudah

diwujudkan dalam bentuk tindakan berulang -yang sebenarnya

tidak perlu- ini disebut kompulsi. Penderita biasanya menyadari

bahwa tindakannya berlebihan dan menghambat aktivitas sehari￾hari. Mencuci tangan terus-menerus, membuka dan mengunci

pintu hingga puluhan kali sebelum tidur, berjalan bolak-balik

setiap hari melewati tempat tertentu dan dengan cara melangkah

yang agak aneh pula, menganggukkan kepala puluhan kali ke

arah tembok dan mengusap tembok sebelum meninggalkan

rumah yaitu  beberapa contoh yang mungkin dilakukan.

Betapa banyak waktu dan biaya yang terbuang percuma

karena penderita “harus” melakukan ritual yang menyiksa

dan kurang masuk akal ini. Namun, kesadaran penderita akan

ketidakefektifan perilakunya tak secara otomatis membuatnya

mampu melepaskan diri dari tindakan-tindakan aneh ini. Ada

kalanya usaha yang keras menghindarkan gangguan pikiran

seperti ini justru mengakibatkan penderita makin terjebak dalam

ritual yang mungkin lebih parah lagi.

Diagnosis Gangguan Obsesif Kompulsif

A. Pikiran obsesi atau kompulsi

Pikiran obsesi

(1) Pikiran-pikiran, impuls atau bayangan-bayangan yang

berulang dan menetap yang dialami, pada suatu saat

selama gangguan, yang intrusif dan tidak sesuai, dan

memicu  kecemasan dan penderitaan yang jelas

(2) Pikiran-pikiran, impuls atau bayangan-bayangan tidak

semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang

masalah kehidupan yang nyata

(3) Orang tersebut berusaha mengabaikan atau menekan

pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut

untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan

lain.

(4) Orang tersebut menyadari bahwa pikiran, impuls atau 

bayangan-bayangan obsesional yaitu  keluar dari

pikirannya sendiri.

Kompulsi

(1) Perilaku atau tindakan mental yang berulang yang

dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai

respons terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan

yang harus dipatuhi secara kaku (2) Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah

atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu

kejadian atau situasi yang manakutkan.

B. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang

tersebut telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsinya

berlebihan atau tidak beralasan.

C. Obsesi atau kompulsi memicu  penderitaan yang jelas,

menghabiskan waktu atau secara bermakna mengganggu

rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan atau aktivitas

atau hubungan sosial yang biasanya.

D. Jika ada  gangguan aksis I lain, isi pikiran obsesif dan

kompulsif tidak terbatas pada gangguan aksis I tersebut.

E. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat atau kondisi

medik umum.

Reaksi Stres Akut

Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi

pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata,

sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar 

biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari.

Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar

biasa. Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri

memegang peranan dalam terjadinya dan keparahan suatu reaksi

stres akut.

Pedoman diagnosis reaksi stres akut

A. Orang tersebut dihadapkan pada peristiwa traumatik dan

mengalami kedua hal berikut ini:

(1) Orang tersebut mengalami, menyaksikan atau

dihadapkanpada suatukejadianyangberupa ancaman

kematian atau kematian yang sesungguhnya atau

cedera yang serius, atau ancaman terhadap integritas

fisik diri sendiri atau orang lain

 (2) Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat,

rasa tidak berdaya atau horor.

B. Baik ketika sedang mengalami atau sesudah  mengalami

peristiwa yang menekan, seseorang mengalami tiga (atau

lebih) gejala-gejala disosiatif berikut:

(1) Perasaan subjektif tentang penumpulan perasaan,

terpisah, atau tidak ada respons emosi.

(2) Pengurangan kesadaran tentang lingkungannya

(misalnya, “sedang dalam kebingungan”)

(3) Derealisasi

(4) Depersonalisasi

(5) Amnesia disosiatif(misalnya, ketidakm ampuan untuk

mengingat aspek penting dari suatu peristiwa)

C. Peristiwa traumatik secara menetap dialami kembali berupa

satu (atau lebih) cara berikut: Bayangan, pikiran, mimpi, 

episode kilas balik, atau rasa tertekan bila terpapar oleh hal

yang mengingatkan pada kejadian traumatik.

D. Penghindaran yang menetap terhadap stimulus yang ada

hubungannya dengan trauma (misalnya pikiran, perasan,

percakapan, aktivitas, tempat, orang)

E. Gejala kecemasan yang mencolok

F. Gangguan memicu  penderitaan yang bermakna

secara klinik atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan

atau bidang penting lainnya, menurunkan kemampuan

individu untuk melakukan tugas-tugas penting, seperti

mendapatkan bantuan yang diperlukan atau memobilisasi

sumber-sumber pribadi dengan menceritakan kepada

anggota keluarga tentang pengalaman traumatik.

G. Gangguan berlangsung minimum dua hari dan maksimum

empat minggu dan terjadi dalam empat minggu peristiwa

traumatik.

H. Gangguan tidak disebabkan pengaruh fisiologik langsung 

suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi)

atau kondisi medik umum, tidak dapat diterangkan sebagai

Gangguan Psikosis Singkat, dan tidak hanya semata-mata

suatu eksaserbasi gangguan pada aksis I atau aksis II.

Gangguan Stres Pasca Trauma

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari pengalaman

kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang

persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan

responsivitas pada penderitaan tersebut, kesadaran berlebihan

dan persisten. Gejala penyerta yang sering dari gangguan stres

pasca-trauma yaitu  depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif

(contoh pemusatan perhatian yang buruk).

Diagnosis Gangguan Stres Pasca Trauma

A. Orang tersebut dihadapkan pada peristiwa traumatik dan

mengalami kedua hal berikut ini:

(1) Orang tersebut mengalami, menyaksikan atau

dihadapkanpada suatukejadianyangberupa ancaman

kematian atau kematian yang sesungguhnya atau

cedera yang serius, atau ancaman terhadap integritas

fisik diri sendiri atau orang lain.

(2) Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat,

rasa tidak berdaya atau horor.

B. Peristiwa traumatik secara menetap dialami kembali berupa

satu (atau lebih) cara berikut:

(1) Ingatan yang menimbulkan penderitaan berulang

dan mengganggu tentang kejadian tersebut, termasuk

bayangan, pikiran atau persepsi.

(2) Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian

(3) Berperilaku atau merasa seakan-akan kejadian

traumatik terjadi kembali

(4) Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan 

tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau

menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. (5) Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda

internal atau eksternal yang menyimbolkan atau

menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.

C. Penghindaran yang menetap terhadap stimulus yang ada

hubungannya dengan trauma dan responsivitas umum

yang kaku seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih)

hal berikut ini:

(1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan atau

percakapan yang berhubungan dengan trauma.

(2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang

yang mengingatkan pada trauma.

(3) Tidak mampu mengingat aspek penting dari trauma

(4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam 

aktivitas yang bermakna

(5) Perasaan terlepas atau asing dari orang lain

(6) Rentang afek yang terbatas

(7) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek

D. Gejala-gejala menetap yang tidak didapatkan sebelum

terjadinya trauma, berupa dua atau lebih dari hal berikut

(1) Kesulitan untuk masuk tidur atau tetap tertidur

(2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan

(3) Sulit berkonsentrasi

(4) Kewaspadaan berlebihan

(5) Respons kejut yang berlebihan

E. Lama gangguan lebih dari satu bulan

F. Gangguan memicu  penderitaan yang jelas, atau

secara bermakna mengganggu fungsi pekerjaan, sosial,

atau fungsi penting lainnya.

Gangguan Penyesuaian

Gangguan penyesuaian yaitu  gejala-gejala emosional dan

perilaku yang timbul sebagai reaksi terhadap stresor yang jelas

dan timbul dalam waktu 3 bulan dari terjadinya stresor. Gejala

ini menetap paling lama 6 bulan sesudah  berakhirnya stresor. Reaksi ini bisa dalam bentuk distres yang jelas melebihi yang

diperkirakan atau terganggunya secara bermakna dalam fungsi

sosial atau pekerjaan.Sumber stres (stresor) termasuk hal-hal

yang berhubungan dengan faktor finansial, penyakit fisik atau 

masalah interpersonal atau intrapersonal.

Diagnosis Gangguan Penyesuaian

A. Perkembangan gejala emosi dan perilaku sebagai respons

terhadap stresor yang dapat diidentifikasi yang terjadi 

selama 3 bulan onset stresor.

B. Gejala-gejala ini atau perilaku secara klinis bermakna,

dibuktikan oleh salah satu kejadian berikut ini:

(1) Penderitaan nyata akibat dari paparan stresor

(2) Hendaya bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan

(akademik)

C. Gangguanyang berhubungandenganstres tidakmemenuhi

kriteria untuk gangguan aksis I tertentu dan tidak semata￾mata merupakan eksaserbasi dari gangguan aksis I atau

aksis II yang telah ada sebelumnya.

D. Gejala-gejala bukan merupakan bereavement (berkabung)

E. Jika stresor (dan konsekuensinya) telah berakhir, gejala

tidak menetap lebih lama dari 6 bulan.

Subtipe:

Dengan mood depresif

Dengan ansietas

Dengan campuran ansietas dan mood depresi

Dengan gangguan perilaku

Dengan gangguan campuran emosi dan perilaku

Tidak khas (keluhan fisik, penarikan diri secara sosial, 

hambatan bekerja/akademik)

Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform yaitu  suatu kelompok gangguan

yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan

pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang

adekuat. Gejala dan keluhan somatik yaitu  cukup serius untuk

memicu  penderitaan emosional yang bermakna pada

pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi

di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis

gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa

faktor psikologis yaitu  suatu penyumbang besar untuk onset,

keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform yaitu 

gangguan yang tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari

atau gangguan buatan.

Ada lima gangguan somatoform yang spesifik yaitu :

1. Gangguan somatisasi, ditandai oleh banyak keluhan fisik 

yang mengenai banyak sistem organ.

2. Gangguan konversi, ditandai oleh satu atau dua keluhan

neurologis.

3. Hipokondriasis, ditandai oleh fokus gejala yang lebih

ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita

penyakit tertentu.

4. Gangguan dismorfik tubuh, ditandai oleh kepercayaan 

palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu

bagian tubuh mengalami cacat.

5. Gangguan nyeri, ditandai oleh gejala nyeri yang semata￾mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara

bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi

A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 

30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun

dan membutuhkan terapi, yang memicu  gangguan

bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi

penting lain.

B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala

individual yang terjadi pada sembarang waktu selama

perjalanan gangguan:

1. Empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berhubungan 

dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang

berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,

anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi,

selama hubungan seksual, atau selama miksi)

2. Dua gejala gastrointestinal : riwayat sekurangnya dua 

gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual,

kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare,

atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)

3. Satu gejala seksual : riwayat sekurangnya satu gejala 

seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya

indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,

menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi

berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

4. Satu gejala pseudoneurologis : riwayat sekurangnya 

satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada 

kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri

(gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau

keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,

sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia,

retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri,

pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala

disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran

selain pingsan).

C. Salah satu (1) atau (2) :

1. sesudah  penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam

kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh

sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau

efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,

medikasi, obat, atau alkohol)

2. Jika ada  kondisi medis umum, keluhan fisik atau 

gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya

yaitu  melebihi apa yang diperkirakan dan

riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan 

laboratorium.

D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat

(seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi

A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi 

motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada

kondisi neurologis atau kondisi medis lain.

B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan

gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau 

defisit yaitu  didahului oleh konflik atau stresor lain.

C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau 

dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura￾pura).

D. Gejala atau defisit tidak dapat, sesudah  penelitian yang 

diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis

umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai

perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.

E. Gejala atau defisit memicu  penderitaan yang 

bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,

pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan

pemeriksaan medis.

F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi 

seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan

gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan

lebih baik oleh gangguan mental lain.

Sebutkan tipe gejala atau defisit :

- Dengan gejala atau defisit motorik

- Dengan gejala atau defisit sensorik

- Dengan kejang atau konvulsi

- Dengan gambaran campuran

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis

A. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa

ia menderita suatu penyakit serius didasarkan pada

interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala­gejala

tubuh.

B. Preokupasimenetapwalaupuntelahdilakukanpemeriksaan

medis yang tepat dan penentraman.

C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas

waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan

tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan

(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).

D. Preokupasi memicu  penderitaan yang bermakna

secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,

atau fungsi penting lain.

E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.

F. Preokupasitidakdapatditerangkanlebihbaikolehgangguan

kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan

panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau

gangguan somatoform lain.

Sebutkan jika :

Dengan tilikan buruk : jika untuk sebagian besar waktu 

selama episode berakhir, orang tidak menyadari bahwa

kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius yaitu 

berlebihan atau tidak beralasan.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh

A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan.

Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang

tersebut yaitu  berlebihan dengan nyata.

B. Preokupasi memicu  penderitaan yang bermakna

secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,

atau fungsi penting lainnya.

C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh

gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan

bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri

A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan

pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan

perhatian klinis.

B. Nyeri memicu  penderitaan yang bermakna secara

klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lain.

C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting

dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannya

nyeri.

D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau 

dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura￾pura).

E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan

mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak

memenuhi kriteria dispareunia.

Tuliskan seperti berikut : 

Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis :

faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset,

keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.

Sebutkan jika :

- akut, durasi kurang dari 6 bulan

- kronik, durasi 6 bulan atau lebih

Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor 

psikologls maupun kondisi medis umum.

Sebutkan jika :

- akut, durasi kurang dari 6 bulan

- kronik, durasi 6 bulan atau lebih

Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak 

Digolongkan

A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya 

kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan

gastrointestinal atau saluran kemih)

B. Salah satu (1) atau (2) :

1. sesudah  pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat

dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum

yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat

(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)

2. Jika ada  kondisi medis umum yang berhubungan,

keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan 

yang ditimbulkannya yaitu  melebihi apa yang

diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan

fisik, atau temuan laboratonium.

C. Gejala memicu  penderitaan yang bermakna secara

klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lainnya.

D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.

E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh

gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform,

disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan,

gangguan tidur, atau gangguan psikotik).

F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat

(seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

Retardasi Mental

Retardasi mental merupakan suatu keadaan

perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap,yang

terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan

selamamasa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat

kecerdasansecara menyeluruh, seperti kemampuan kognitif,

bahasa, motorik, dansosial.Retardasi mental dapat terjadi

dengan atau tanpa gangguan jiwaatau gangguan fisik lainnya.

Retardasi mantal merupakan bagian dari individu yang memiliki

kebutuhankhusus.Adapun cirinya yaitu  memiliki kecerdasan di

bawah rata-rata,sehingga kemampuan akademiknya mengalami

keterlambatan jikadibandingkan dengan individu normal yang

seusianya.Individu kurang dapatmenyesuaikan diri terhadap

lingkungan sosial, dan miskin dalamperbendaharaan kata.

Namun, individu memiliki perkembangan fisik yangsama 

dengan anak normal pada umumnya.

Kriteria diagnosis untuk retardasi mental Menurut PPDGJ III:

1. Fungsi intelektual umum secara bermakna dibawah rata￾rata IQ 70 atau lebih rendah pada tes yang dilakukan

individual (pada bayi karena tes intelegensi yang tersedia

tidak dapat dinilai dengan angka, fungsi intelektual rata￾rata dapat dibuat berdasarkan pertimbangan klinik).

2. Bersamaan dengan itu, ada  kekurangan atau hendaya

dalam perilaku adaptif yang dipertimbangkan menurut

umur dan budaya.

3. Timbul sebelum usia 18 tahun

Ketentuan subtipe retardasi mental meliputi:

Ringan Taraf IQ : 50-69

Sedang Taraf IQ : 35-49

Berat Taraf IQ : 20-34

Sangat Berat Taraf IQ : dibawah 20

Lainnya

bilapenilaiandaritingkatretardasimentaldenganmemakai

prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena

adanya gangguan sensorik atau fisik misalnya buta, bisu tuli dan 

penderita yang perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak 

mampu.

Yang Tidak Tergolongkan (unspecified) 

bilajelasada retardasimental,tetapitidakadainformasi

yang cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori

tersebut diatas.Untuk klasifikasi yang tidak tergolongkan 

dipakai apabila ada  dugaan kuat adanya retardasi mental

tetapi individu tidak dapat dites dengan tes intelegensi standar

karena gangguannya terlalu berat atau mereka tidak kooperatif

untuk dites.Keadaan ini dapat terjadi pada anak, remaja atau

dewasa.Pada bayi karena tes yang tersedia tidak menghasilkan

nilai IQ menurut angka, maka penggolongan kedalam diagnosis

ini dapat juga dilakukan bila ada  pertimbangan klinik yang

menunjukkan fungsi intelektual dibawah rata-rata.

Gangguan Seksual

Gangguan seksual merupakan perilaku seksual yang

destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain, yang tidak dapat

di arahkan kepada seseorang pasangan, yang diluar stimulasi

organ seks primer, dan yang di sertai dengan rasa bersalah

dan kecemasan yang tidak sesuai, atau konfulsif. Gangguan

ini merupakan suatu penyimpangan perilaku seksual yang

disebut dengan parafilia.Parafilia yaitu  dorongan seksual yang 

mendalam dan berulang yang menimbulkan fantasi seksual yang

difokuskan pada objek yang bukan pada manusia saja, penderita

atau penghinaan diri sendiri atau partnernya, atau anak-anak

atau orang-orang yang tidak mengizinkan. Parafilia di golongkan 

kriteria tingkat ringan yaitu bila penderita hanya mengalami

dorongan parafilia yang kuat tetapi tidak melakukannya.Di

anggap sedang bila melakukan kadang- kadang dan di anggap

berat bila berulang-ulang dilakukan.

Jenis-jenis parafilia:

a. Pedofilia

yaitu  kelainan seks dengan melakukan seksual untuk

memenuhi hasratnya dengan cara menyetubuhi (pencabulan)

anak-anak dibawah umur. Hal ini dilakukan oleh orang dewasa

(16 tahun keatas) terhadap anak-anak secara seksual belum

matang (biasanya dibawah 13 tahun).Hampir semua yang

mengalami gangguan ini yaitu  pria.Untuk menarik perhatian

anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan

ada juga yang berperilaku kasar dan mengancam.

Umumnya penderita pedopilia yaitu  orang yang takut

gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut

hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya

ia mengalihkan pada anak-anak karena kepolosan anak tidak

mengancam harga dirnya. Disamping itu ketika anak-anak,

perilaku meniru dari model atau contoh yang buruk. Ada tiga

macam penggangu dalam berfantasi:

1. pengganggu situasional (situasional molester) yaitu

mempunyai perkembangan dan perhatian seksual yang

normal, tetapi keadaan tertentu seperti stress timbul

keinginan seksual terhadap anak dan sesudah  melakukan

merasa tertekan.

2. pengganggu yang menjadi pilihan (preference

molester) merupakan kepribadian dan gaya hidupnya.

3. pemerkosa anak merupakan perbuatan dari dorongan

seksual yang bersifat musuh.

b. Exibionisme

yaitu  dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan

kepuasan seksual atau untuk membangkitkan fantasi-fantasi

dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tidak

dikenal.

c. Voyeurisme

Berasal dari bahasa prancis yaitu kata ‘voir’ artinya melihat,

yaitu untuk mendapatkan kepuasan dengan cara melihat organ

seks orang lain atau orang yang sedang melakukan katifitas 

seksual, yang tidak menyadari seseorang sedang di intip.

d. Sadomasokisme

Istilah sadisme berasal dari marquis de sade seorang penulis

pada abad ke delapan belas, ia menggambarkan seorang tokoh

yang memperoleh kepuasan seks dengan menyiksa pasangannya

secara kejam, sadisme seksual yaitu  kepuasan seksual didapat

dari aktifitas atau dorongan menyakiti pasangan. Siksaan bisa 

secara fisik (menendang, memperkosa, dan memukul) maupun 

psikis (menghina, memaki-maki), penderitaan korban inilah

yang bisa membuatnya merasa bergairah dan puas.

e. Masokhisme

gangguan ini memiliki ciri mendapatkan kegairahan dan

kepuasan seksual yang didapat dari perangsangan dengan cara

diperlakukan secara kejam baik secara fisik maupun psikis. 

Perlakuan kejam bisa dilakukan sendiri atau dilakukan oleh

pasangannya.

f. Fetisisme

Ciri utama gangguan ini yaitu  penderita menggunakan

benda sebagai cara untuk menimbulkan gairah atau kepuasan

seksual, benda yang umum digunakan yaitu  benda aksesoris

milik wanita misalnya pakaian dalam wanita, sepatu, kaus kaki

dll.

g. Transvestisme

Gangguan ini hanya terjadi pada laki-laki yang perilakunya

seperti wanita, gambaran utamanya yaitu  penderita

mendapatkan gairah atau kepuasan seksual bila ia berpakaian

seperti lawan jenisnya, ketika seang berpakaian seperti wanita,

penderita melakukan masturbasi lalu sambil membayangkan

seoran laki-laki tertarik pada dirinya sebagai seorang wanita.

h. Zofilia

Gangguan ini juga disebut dengan Bestiality, ciri utamanya

yaitu  penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual

dengan cara melakukan kegiatan seksual dengan binatang.

i. Froterisme

Ciriutamagangguaniniyaitu doronganuntukmenyentuh,

meremas-ramas dan menggesek-gesekkan organ seks kepada

orang tak dikenal, penderita umumnya senang berada ditempat

yang penuh sesak dimana ia bisa melarikan diri dengan mudah,

bisanya yang menjadi korban yaitu  wanita yang sangat menarik

dengan pakaian yang sangat ketat.

j. Homoseksual

Homoseksual yaitu penderita memilih pasangan seksual

yang sama jenis dengan dirinya yaitu pria dengan pria dan wanita

dengan wanita (lesbian).Dikatakan sebagai gangguan apabila

mereka merasa tidak nyaman dengan hubungan yang terjadi.

Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual merupakan gangguan seksual yang

bukan disebabkan oleh penyakit organik, namun sebagai sindrim

perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan 

faktor fisik

a. Gangguan keinginan seksual yaitu kurangnya atau

tidak adanya keinginan untuk melakukan hubungan

seks. Hilangnya gairah seks bisa bersifat global maupun

situasional. Yang global, penderita bisa tidak mempunyai

gairah sama sekali bahkan dalam bentuk fantasi sekalipun,

contohnya wanita trauma pasca korban pemerkosaan.

Sedangkan yang situasional yaitu terjadi pada laki￾laki berdasarkan situasi psikologisnya aman. Untuk

mendiagnosaperludiperhatikanfaktorusia,ketidakpuasan

seks, lingkungan yang menimbulkan ketidak inginan untuk

berhubungan seks dan frekuensi hubungan seks.

b. Gangguan hasrat seksual ditandai oleh defisiensi atau 

tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas

seksual. Ciri utamanya yaitu  kegagalan untuk mencapai

atau mempertahankan arousal atau excitement dalam

berhubungan seks.Pada wanita gangguan ini disebut

frigiditas yang ditandai tidak tercapainya lubrikasi

(pelumasan) dan membuka vagina.

c. Orgasme terhambat (Inhibited Orgasm)

Ciri utamanya yaitu  penderita tidak mencapai fungsi

orgasme, gangguan ini bisa terjadi pada pria maupun

wanita.

d. Ejakulasi dini (premature ejaculation)

Ciri utamanya yaitu  penderita tidak mampu mengontrol

atau mengendalikan ejakulasi selama aktifitas seks 

berlangsung.

e. Dispareunia (Dyspareunia)

Ciri utama yaitu  penderita mengalami kesakitan selama

berhubungan seksual.Gangguan ini terjadi pada wanita,

gangguan ini bisa disebabkan oleh faktor organis misalnya

adanya infeksi pada vagina dan cervic.

f. Vaginismus

Ciri utamanya yaitu  terjadinya spasme atau kontraksi

otot pada vagina yang sangat kuat sehingga mengganggu

senggama.



Related Posts:

  • kejiwaan Kesehatan jiwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara umum serta merupakan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan manusia. Kesehatan jiwa membuat perkembangan fisik, inte… Read More
  • kejiwaan a. Seorang laki-laki umur 26 tahun datang ke poliklinikjiwa dengan keluhan susah untuk memulai tidur danmempertahankan tidur sejak 2 bulan yang lalu sehinggamemicu  susah konsentrasi saat bekerja karena lemas.Apa … Read More