• berasx.blogspot.com

    selamat datang di website ini....

  • kacangx.blogspot.com

    selamat datang di website ini....

  • coklatx.blogspot.com

    selamat datang di website ini....

Tampilkan postingan dengan label kejiwaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kejiwaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Desember 2024

kejiwaan




 Kesehatan jiwa merupakan bagian 

yang tidak terpisahkan dari kesehatan 

secara umum serta merupakan dasar bagi 

pertumbuhan dan perkembangan manusia. 

Kesehatan jiwa membuat perkembangan 

fisik, intelektual dan emosional seseorang 

berkembang optimal selaras dengan 

perkembangan orang lain (UU No 36, 

2009).

WHO (2009) memperkirakan 450 juta 

orang di seluruh dunia mengalami 

gangguan mental, sekitar 10% orang 

dewasa mengalami gangguan jiwa dan 

25% penduduk diperkirakan akan 

mengalami gangguan jiwa pada usia 

tertentu dalan rentang hidupnya yan 

biasanya terjadi pada dewasa muda antara 

usia 18-21 tahun. Menurut National 

institute of mental health, gangguan jiwa 

mencapai 13% dari penyakit secara 

keseluruhan dan diperkirakan akan 

berkembang menjadi 25% di tahun 2030. 

Gangguan jiwa menyebabkan hilangnya 

produktifitas, dan mudah kambuh 

sehingga meningkatkan biaya perawatan. 

Dampak gangguan jiwa menyebabkan 

keluarga kehilangan banyak waktu untuk 

merawat, mengalami beban emosional, 

dan sosial akibat stigma dari masyarakat 

(Hogan, 2008). Asmedi (2012), 

mengungkapkan di Indonesia gangguan 

jiwa menimbulkan kerugian ekonomi 

mencapai Rp 20 triliun, akibat hilangnya 

produktivitas, beban ekonomi dan biaya 

perawatan kesehatan yang harus 

ditanggung keluarga dan negara. Klien 

gangguan jiwa tidak hanya membutuhkan 

dukungan ekonomi saja tetapi juga 

memerlukan sistem dukungan sosial yang 

mencakup dukungan emosional, 

informasional, instrumental dan 

penilaian/penghargaan untuk menjalani 

program pemulihan (recovery) dan 

menghadapi stigma di masyarakat.

Skizofrenia adalah bentuk gangguan 

jiwa yang sering dijumpai dan 

multifaktorial, perkembangannya 

dipengaruhi oleh faktor genetik dan 

lingkungan serta ditandai dengan gejala 

positif, negatif dan defisit kognitif (Jones 

et al, 2011). Peristiwa yang penuh stres, 

akan mengaktifkan aksis hipotalamus￾hipofisis-adrenal dan merangsang 

pelepasan berbagai neurotransmitter otak, 

terutama dopamine dan norepinefrine, 

kejadian ini juga dianggap sebagai faktor

kunci terjadinya skizofrenia (Bobo et al, 

2008). 

Gejala positif meliputi waham, 

halusinasi, gaduh gelisah, perilaku aneh, 

sikap bermusuhan dan gangguan berpikir 

formal. Gejala negatif meliputi sulit

memulai pembicaraan, afek tumpul atau 

datar, kurangnya motivasi dan atensi, 

pasif, apatis dan penarikan diri secara 

sosial dan rasa tidak nyaman (Videbeck, 

2008). Gejala defisit kognitif meliputi: 

gangguan dalam attention, learning and 

memory, dan gangguan dalam execution 

function, kerusakan kognitif ini sering 

diperburuk dengan kondisi insight yang 

buruk (Stuart, 2013). 

Klien skizofrenia mengalami gejala 

positif, negatif dan defisit kognitif yang 

mempengaruhi pelaksanaan kegiatan 

harian dan penurunan fungsi sosial yang 

bermakna.

Skizofrenia membawa dampak bagi 

kehidupan individu, keluarga menghambat 

pelaksanaan pekerjaan, mengganggu 

masyarakat, dan merugikan negara. 

Adanya individu dengan gangguan jiwa 

(skizofrenia) meningkatkan cost dan 

beban ekonomi tidak hanya bagi 

keluarganya tetapi juga negara. Individu 

dengan skizofrenia tidak hanya kehilangan 

kesempatan untuk bekerja tetapi yang 

sudah bekerja juga dapat kehilangan 

pekerjaan.

Mosanya et al (2014) 

mengungkapkan kondisi klien yang tidak 

produktif, dan tidak berpenghasilan 

menimbulkan stigma di masyarakat bahkan 

keluarga dan mempengaruhi stigma diri 

sehingga klien cenderung mengalami 

harga diri rendah. Pendidikan rendah, 

tidak bekerja dan tidak ada penghasilan 

memberikan konstribusi menurunnya 

harga diri dan mempengaruhi kualitas 

hidup klien (Mosanya et al, 2014). 

Berdasarkan latar belakang di atas 

maka penulis tertarik untuk menganalisa 

faktor-faktor penyebab gangguan jiwa di 

Ruang Kresna (Ruang Akut) Wanita 

Rumah Sakit Dr. H. Marzoeki Mahdi 

Bogor.

Gangguan jiwa dapat terjadi pada 

siapa saja, baik yang berusia muda, 

dewasa maupun lansia. Gangguan jiwa 

juga dapat terjadi pada orang yang tinggal 

di perkotaan maupun di pedesaan. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 

usia terbanyak yang mengalami gangguan 

jiwa adalah usia dewasa. Usia dewasa 

merupakan usia produktif dimana mereka 

harus mampu secara mandiri menghidupi 

dirinya sendiri. Usia ini juga usia dimana 

seseorang telah berkeluarga, sehingga 

masalah yang dihadapi juga semakin

banyak, bukan hanya masalahnya sendiri 

namun harus memikirkan masalah 

anggota keluarganya. Hal ini 

memungkinkan orang dewasa mempunyai 

masalah yang lebih kompleks dan berisiko 

mengalami gangguan jiwa. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 

yang mengalami gangguan jiwa adalah 

yang tidak bekerja. Tidak bekerja bisa 

membuat orang kehilangan kesempatan 

untuk mempunyai penghasilan. Tidak 

bekerja juga bisa membuat orang 

kehilangan kesempatan untuk 

menunjukkan aktualisasi dirinya. Hal ini 

yang dapat membuat orang tidak 

melakukan suatu kegiatan, sehingga akan 

sangat memungkinkan orang mengalami 

harga diri rendah yang akan berdampak 

pada gangguan jiwa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 

faktor predisposisi biologis terbanyak 

adalah adanya gangguan jiwa sebelumnya. 

Ketika seorang klien sudah pernah 

mengalami gangguan jiwa sebelumnya, 

walau klien telah dinyatakan sembuh dan 

dapat kembali ke masyarakat, namun 

stigma negatif yang ada di masyarakat 

telah membuat klien ditolak atau tidak 

diperlakukan baik di masyarakat. 

Tipe kepribadian tertutup juga 

merupakan penyebab terbanyak orang 

mengalami gangguan jiwa. Orang dengan 

tipe kepribadian tertutup akan cenderung 

menyimpan segala permasalah sendiri, 

sehingga masalah akan semakin 

menumpuk. Hal ini yang akan membuat 

klien bukannya menyelesaikan 

permasalahannya, namun akan bingung 

dengan permasalahannya dan dapat 

membuat klien depresi.

Putus obat juga merupakan salah satu 

faktor presipitasi gangguan jiwa. Klien 

yang mengalami gangguan jiwa, 

kebanyakan harus minum obat seumur 

hidupnya. Hal ini yang menyebabkan 

klien merasa bosan minum obat dan akan 

menghentikan minum obat. Selain karena 

merasa bosan, klien yang mempunyai 

pengetahuan kurang juga akan 

menghentikan minum obat karena merasa 

sudah sembuh atau gejala tidak muncul. 

Hal ini yang akan memicu kekambuhan 

gangguan jiwa atau munculnya gangguan 

jiwa kembali.

Pengalaman tidak menyenangkan 

yang dialami klien misalnya adanya 

aniaya seksual, aniaya fisik, dikucilkan 

oleh masyarakat atau kejadian lain akan 

memicu klien mengalami gangguan jiwa. 

Klien yang mempunyai mekanisme 

koping maladaptif akan membuat klien 

mudah mengalami gangguan jiwa.

Selain itu konflik dengan teman atau 

keluarga misalnya karena harta warisan

juga dapat membuat klien mengalami 

gangguan jiwa. Konflik yang tidak 

terselesaikan dengan teman atau keluarga 

akan memicu klien mengalami stresor 

yang berlebihan. Jika klien yang 

mengalami stresor berlebihan namun 

mekanisme kopingnya buruk, maka akan 

membuat klien mengalami gangguan jiwa.


Kesehatan jiwa merupakan bagian 

yang tidak terpisahkan dari kesehatan 

secara umum serta merupakan dasar bagi 

pertumbuhan dan perkembangan manusia. 

penyebab gangguan jiwa terdiri dari faktor 

penyebab predisposisi dan presipitasi. 

Faktor ini ditinjau dari aspek biologis, 

psikologis dan sosial. 

Faktor predisposisi terbanyak pada 

aspek biologis adalah klien pernah 

mengalami gangguan jiwa sebelumnya, 

pada aspek psikologis adalah tipe 

kepribadian dan penyebab pada aspek 

sosial adalah klien tidak bekerja, 

sedangkan faktor presipitasi, penyebab 

pada aspek biologis terbanyak adalah 

putus obat, penyebab pada aspek 

psikologis terbanyak adalah pengalaman 

tidak menyenangkan dan penyebab pada 

aspek sosial terbanyak adalah konflik 

dengan keluarga atau teman.


Kesehatan merupakan hal yang begitu penting bagi

manusia.Ironisnya banyak sekali penyakit yang pada

akhirnya terlambat didiagnosa sehingga mencapai tahap

kronis yang membuatnya sulit untuk ditangani, belum

lagi kesalahan diagnosis yang dilakukan oleh para dokter

atau tenaga medis yang mengakibatkan kesalahan

penanganan awal pada pasien. Padahal setiap penyakit

sebelum mencapai tahap kronis/stadium tinggi umumnya

menunjukkan gejala-gejala dini penyakit yang telah

diderita oleh pasien tetapi masih dalam tahap ringan.

Untuk penderita gangguan jiwa tahap awal bisa

diketahui dengan sakit kepala, gelisah, sering

berhalusinasi dan merasa tidak nyaman dengan keadaan

sekitar [1]. Perkembangan sistem informasi yang begitu pesat kini

telah merambah ke berbagai sektor termasuk kesehatan.

Meskipun dunia kesehatan (medis) merupakan bidang

yang bersifat information-intensive, akan tetapi adopsi

teknologi informasi di Indonesia sendiri masih relatif

tertinggal. Sebagai contoh, ketika transaksi finansial

secara elektronik sudah menjadi salah satu prosedur

standar dalam dunia perbankan, sebagian besar rumah

sakit di Indonesia baru dalam tahap perencanaan

pengembangan billing system. Meskipun rumah sakit

dikenal sebagai organisasi yang padat modal-padat

karya, tetapi investasi teknologi informasi masih

merupakan bagian kecil [1] .

Sampai saat ini, psikiater kadang mengalami kesulitan

dalam menentukan apakah seorang pasien itu menderita

kelainan jiwa atau tidak. Hal yang dapat mereka lakukan

adalah dengan mendiagnosa secara manual, namun

sering mengalami kesulitan ataupun kesalahan yang

berdampak fatal yaitu terjadinya kesalahan penanganan

pada pasien. Ini disebabkan karena adanya keraguan

bahkan nilai ketidak pastian dalam memutuskan jenis

diagnosa yang akan diambil. Berdasarkan hal tersebut,

maka diperlukan alat bantu berbasis komputerisasi

berupa fizzy logic yang dirancang dalam suatu program

computer untuk menentukan nilai ketidak pastian

tersebut.

Dengan berkembangnya teknologi ilmu komputer, saat

ini telah tercipta beberapa teknik pendekatan dalam

menyelesaikan suatu masalah yang disebut soft

computing. Soft Computing merupakan bagian dari

sistem cerdas yang yaitu suatu model pendekatan untuk

melakukan komputasi dengan meniru akal manusia dan

memiliki kemampuan untuk menalar dan belajar pada

lingkungan yang penuh dengan ketidakpastian dan

ketidaktepatan [2] dalam [3]. Komponen utama

pembentuk soft computing adalah sistem fuzzy (fuzzy

system), jaringan syaraf (neural network), algoritma

evolusioner (evolutionary algorithm), dan penalaran

dengan probabilitas (probabilistic reasoning)[3]. Salah satu metode yang akan digunakan dalam

melakukan diagnosis awal pada penderita penyakit jiwa

adalah metode Mamdani yang merupakan salah satu

metode system inferensi fuzzy.Metode Mamdani

menggukan aturan IF-THEN dalam representasi kasus

yang digunakan ke dalam himpunan fuzzy. Dengan

metode ini komputer difungsikan sebagai alat untuk

mendiagnosis[3]

Metode Mamdani [1]sering dikenal dengan nama metode

Max-Min. metode ini diperkenalkan oleh EbrahimMamdani pada tahun 1975. Metode ini menggunakan

empat tahapan untuk mendapatkan output, yaitu:

1. Pembentukan Himpunan fuzzy. 2. Aplikasi fungsi implikasi (aturan).

3. Komposisi aturan.

4. Penegasan (defuzzy).

Penelitian serupa telah banyak dilakukan sebelumnya

tetapi dengan penerapan pada kasus yang berbeda.

Apriansyah Putra, “Penentuan Penerima Beasiswa

Dengan Menggunakan Fuzzy Madm[4], menggunakan

metode mamdani dan berhasil membuktikan bahwa

penerapan metode ini dapat menentukan penerima

beasiswa dengan akurasi perhitungan yang cukup baik.

Dalam penelitian ini, akan dibangun suatu sistem yang

berfungsi sebagai alat bantu pskiater dalam mendiagnosa

penyakit jiwa berdasarkan data input berupa gejala

kelainan jiwa dengan menggunakan fuzzylogic metode

Mamdani. Penelitian ini diharapkan member manfaat

untuk:

1. Mengetahui kondisi mental pasien penyakit jiwa

secara dini.

2. Dapat dijadikan alat bantu untuk pskiater dalam

mendiagnosa.

3. Dengan mengetahui kondisi pasien secara akurat,

diharapkan psikiater dapat melakukan tindakan

lanjut sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pasien

sehingga dapat mencegah terjadinya mall-praktek.

1.1 Penyakit Jiwa

Gangguan mental atau penyakit jiwa adalah pola

psikologis atau perilaku yang pada umumnya terkait

dengan stres atau kelainan mental yang tidak dianggap

sebagai bagian dari perkembangan normal

manusia.Gangguan tersebut didefinisikan sebagai

kombinasi perilaku, komponen kognitif atau persepsi,

yang berhubungan dengan fungsi tertentu pada daerah

otak atau sistem saraf yang menjalankan fungsi sosial

manusia.

Penemuan dan pengetahuan tentang kondisi kesehatan

mental telah berubah sepanjang perubahan waktu dan

perubahan budaya, bahkan saat ini masih terdapat

perbedaan tentang definisi, penilaian dan klasifikasi,

meskipun kriteria pedoman standar telah digunakan

secara luas. Namun lebih dari sepertiga orang di

sebagian negara melaporkan masalah dalam hidup

mereka yang memenuhi kriteria salah satu atau beberapa

tipe umum dari kelainan mental [5]. Penyebab gangguan mental bervariasi dan pada beberapa

kasus tidak jelas, dan teori terkadang menemukan

penemuan yang rancu pada suatu ruang lingkup

lapangan. Layanan untk penyakit ini terpusat di Rumah

Sakit Jiwa atau di masyarakat sosial, dan penilaian

diberikan oleh psikiater, psikolog klinik, dan terkadang

psikolog pekerja sukarela, menggunakan beberapa

variasi metode tetapi sering bergantung pada observasi

dan tanya jawab [6]. Perawatan klinik disediakan oleh

banyak profesi kesehatan mental.Psikoterapi dan

pengobatan psikiatrik merupakan dua opsi pengobatan

umum, seperti juga intervensi sosial, dukungan

lingkungan, dan pertolongan diri.Pada beberapa kasus

terjadi penahanan paksa atau pengobatan paksa dimana

hukum membolehkan. Stigma atau diskriminasi dapat

menambah beban dan kecacatan yang berasosiasi dengan

kelainan mental (atau terdiagnosa kelainan mental atau

dinilai memiliki kelainian mental), yang akan mengarah

ke berbagai gerakan sosial dalam rangka untuk

meningkatkan pemahanan dan mencegah pengucilan

social.

Faktor jiwa dapat dikelompokkan menjadi dua macam,

yaitu Kusula: berari sehat dan Akusula: tidak sehat [7]. Penilaian faktor jiwa itu sehat atau tidak sehat, dicapai

secara empiris, berdasakan pengalaman kolektif dari

pasien yang pernah menjalankan tes kepribadian.

Tabel di bawah ini menunjukkan taksiran kasar jumlah

penderita beberapa jenis gangguan jiwa yang ada dalam

satutahun (2012) di Indonesia dengan penduduk 130 juta

orang.

Tabel 1: Jumlah Penderita Gangguan Jiwa Di Indonesia

Tahun 2012 [8]

Jenis Penyakit Jumlah Penderita

Psikosa fungsional 520.000 Pasien

Sindroma otak organik akut 65.000 Pasien

Sindroma otak menahun 130.000 Pasien

Retradasi mental 2.600.000 Pasien

Nerosa 6.500.000 Pasien

Psikosomatik 6.500.000 Pasien

Gangguan kepribadian 1.300.000 Pasien

Ketergantungan obat 1.000 Pasien

Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu

terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab

utamanya mungkin di badan (somatogenik),

dilingkungan sosial (sosiogenik) ataupunpsikogenik. Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan

tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai

unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan

terjadi bersamaan, menimbulkan gangguan badan

ataupun jiwa. Contohnya seorang dengan depresi,

karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah

seorang berkurang sehingga mengalami keradangan

tenggorokan atau seorang dengan mania mendapat

kecelakaan, sebaliknya seorang dengan penyakit

badaniah umpamanya peradangan yang melemahkan,

maka daya tahan psikologisnya pun menurun sehingga

ia mungkin mengalami depresi. Sudah lama diketahui

juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan

gangguan jiwa. Contoh lain ialah seorang anak yang

mengalami gangguan otak (karena kelahiran,

keradangan dan sebagainya) kemudian

menjadihiperkinetik dan sukar diasuh. Ia

mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan

anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi

terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi.

1.1.1 Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan mental yang

mempengaruhi sekitar 1% orang berusia di atas 18

tahun semua di seluruh dunia.Gangguan ini

menyebabkan beberapa gangguan dalam domain

kognitif seperti perhatian, memori, fungsi eksekutif dan

bahasa.Skizofrenia juga berhubungan dengan gejala

seperti halusinasi pendengaran, delusi dan emosional

disregulasi.Gabungan, gangguan kognitif dan gejala

gangguan tersebut berdampak signifikan pada hidup

pasien.[9] Sampai saat ini, diagnosis skizofrenia hanya

didasarkan pada pengamatan klinis dan laporkan

pengalaman pasien sendiri. Diagnosis skizofrenia masih

belum jelas karena tidak ada tanda-tanda biologis untuk

memvalidasi diagnosis klinis.[10]

Skizofrenia merupakan sebuah sindroma kompleks

yang dapat menimbulkan efek merusak pada kehidupan

penderita. Kesembuhan total dari skizofrenia jarang

terjadi karena adanya berbagai macam kombinasi gejala

seperti halusinasi, delusi, emosi dan gangguan bicara.

Menjelang akhir abad ke-19, seorang psikiater jerman

Emil Kraepelin mengemukakan tentang apa yang

dewasa ini masih tetap dianggap sebagai deskripsi dan

katagorisisasi skizofrenia. Pertama menggabungkan

beberapa gejala penyakit jiwa yang biasanya dianggap

merefleksikan gangguan-gangguan yang terpisah dan

berbeda, yaitu catatonia yang merupakan selang-seling

antara imobilitas dan agitasi yang riuh, hebepherenia (

emosionalitas yang dungu dan tidak matang), dan

paranoia (delusi) [11]. Tidak mudah untuk menyatakan seseorang menderita

skizofren, penilaian pertama dilakukan dengan

memperhatikan perilaku cara berfikir atau emosi

tertentu dari masing-masing gangguan. Depresi

senantiasa meilbatkan perasaan sedih, dan gangguan

panic selalu disertai oleh adanya perasaan cemas yang

intens tapi hal ini tidak tampak pada penderita

skizofren. Skizofren terdiri atas sejumlah perilaku atau

gejala yang tidak selalu dijumpain pada semua orang

yang didiagnosis dengan gangguan ini.Sebelum

mendeskrisikan tentang gejala-gejalanya hal pertama

yang dilakukan adalah mencermati ciri-ciri spesifik

pada penderita skizofren, para medis kesehatan jiwa

biasanya membedakan antara gejala-gejala positif dan

gejala-gejala negatif dari skizofren.Belum ada

kesepakatan universal tentang gejala-gejala mana yang

seharusnya masuk kedalam katagori skizofren.Gejala

positif secara umum meliputi manifestasi yang lebih

efektif dari perilaku abnormal termasuk delusi dan

halusinasi.Gejala negatif melibatkan defisit dalam

perilaku abnormal[12].

Fitur-fitur diagnosis awal skizofrenia meliputi (dengan

derajat yang berbeda, tergantung subtipenya)[12]. 1. Delusi

2. Halusinasi

3. Pembicaraan yang terdisorganisasi.

4. Perilaku katatonik atau sangan terdisorganisasi.

5. Gejala-gejala negatife seperti pendataran afeksi,

alogia, atau avolisi.

6. Disfungsi social dan okupasional.

7. Tidak memedulikan perawatan diri.

8. Persisten selama minimal 6 bulan.

1.1.2 Faktor Penyebab Skizofrenia

Hingga sekarang belum ditemukan penyebab (etilogi)

yang pasti mengapa seseorang menderita skizofrenia,

padahal orang lain tidak. Ternyata daripenelitian- penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan

faktor tunggal. Penyebab skizofrenia menurut

penelitian terdahulu antara lain [13]:

1. Faktor genetik.

2. Virus.

3. Auto antibody. 4. Malnutrisi. Dari penelitian diperoleh gambaran peran

genetic pada penderita skizofreniasebagai berikut

[9][10]:

(1) Studi terhadap keluarga menyebutkan pada orang

tua 5,6%, saudara kandung 10,1%; anak-anak

12,8%; dan penduduk secara keseluruhan 0,9%. [9]

[10].

(2) Studi terhadap orang kembar (twin) menyebutkan

pada kembar identik 59,20%; sedangkan kembar

fraternal 15,2%. [9] [10].

Penelitian lain menyebutkan bahwa gangguan pada

perkembangan otak janin juga mempunyai peran bagi

timbulnya skizofrenia kelak dikemudian hari.

Gangguan ini muncul, misalnya, karena kekurangan

gizi, infeksi, trauma, toksin dan kelainan hormonal.

Penelitianyang telah dilakukan menyebutkan bahwa

meskipuna ada gen yang abnormal, skizofrenia tidak

akan muncul kecuali disertai faktor-faktor lainnya yang

disebut epigenetik faktor. Kesimpulannya adalah bahwa

skizofrenia muncul bila terjadi interaksi antara

abnormal gen dengan[13]. (a) Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat

menganggu perkembangan otak janin;

(b) Menurunnya autoimun yang mungkin disebabkan

infeksi selama kehamilan;

(c) Komplikasi kandungan; dan

(d) Kekurangan gizi yang cukup berat, terutama pada

trimester kehamilan.

1.2 Fuzzy Logic

Fuzzy diperkenalkan dalam paper yang dibuat oleh Lofti

A Zadeh, dimana Zadeh memperkenalkan teori yang

memiliki obyek-obyek dari himpunan fuzzy yangmemiliki batasan yang tidak pretisi dan keanggotaan

dalam himpunan fuzzy, bukan dalam bentuk logika benar

(true) atau salah (false), tetapi dinyatakan dalam bentuk

derajat. Konsep ini disebut Fuzziness dan teorinya

dinamakan Fuzzy Set Theory.Fuzzy logic merupakan

studi tentang metode dan prinsip-prinsip pemikiran

dimana pemikiran tersebut menghasilkan preposisi yang

baru dari preposisi yang lama. Pada logika lama,

preposisi diperlukan diantara true dan false, nilai

kebenaran dari preposisi tersebut antara 1 atau 0. Fuzzy

logic membuat pernyataan umum dari dua nilai logika

lama dengan cara menyertakan nilai kebenaran dari

sebuah preposisi untuk dijadikan sembarang angka

diantara interval [fuzzy mamdani] [3]. Salah satu metode yang akan digunakan dalam

melakukan diagnosis awal pada penderita penyakit jiwa

adalah metode Mamdani yang merupakan salah satu

metode system inferensi fuzzy. Metode Mamdani

menggukan aturan IF-THEN dalam representasi kasus

yang digunakan ke dalam himpunan fuzzy. Dengan

metode ini komputer difungsikan sebagai alat untuk

mendiagnosis. Metode Mamdani sering dikenal dengan nama metode

Max-Min. metode ini diperkenalkan oleh Ebrahim

Mamdani pada tahun 1975. Metode ini menggunakan

empat tahapan untuk mendapatkan output, yaitu:

5. Pembentukan Himpunan fuzzy. 6. Aplikasi fungsi implikasi (aturan).

7. Komposisi aturan.

8. Penegasan (defuzzy)

2. Pembahasan

Penelitian ini menggunakan medote fuzzy

Mamdani.Adapun langkah operasional yang dilakukan

adalah sebagai berikut: a. Menentukan input

Input berupa fitur-fitur diagnosis awal skizofrenia

meliputi:

1. Delusi

2. Halusinasi

3. Pembicaraan yang terdisorganisasi

4. Perilaku katatonik atau sangan terdisorganisasi

5. Gejala-gejala negatife seperti pendataran afeksi,

alogia, atau avolisi.

6. Disfungsi social dan okupasional.

7. Tidak memedulikan perawatan diri.

8. Persisten selama minimal 6 bulan.

b. Fuzzifikasi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap fuzzifikasi

adalah: mengambil masukan nilai crisp dari input,

membentuk himpunan fuzzy, membagi variable input

maupun variabel output menjadi satu atau lebih

himpunan fuzzy, menentukan derajat dimana nilai￾nilai tersebut menjadi anggota dari setiap himpunan

fuzzy yang sesuai dengan fungsi keanggotaan. c. Inferensi

Yaitu mengaplikasikan aturan pada masukan fuzzy

yang dihasilkan dalam proses fuzzifikasi, mengevaluasi tiap aturan dengan masukan yang

dihasilkan dari proses fuzzyfikasi dengan

mengevaluasi hubungan atau derajat keanggotaan

anteceden/premis setiap aturan. Derajat

keanggotaan/nilai kebenaran dari premis digunakan

untuk menentukan nilai kebenaran bagian

consequent/kesimpulan.

d. Proses penentuan Output Crisp

Output berupa suatu bilangan pada domain himpunan

fuzzy yang telah ditentukan. e. Implementasi ke dalam program komputer.

Seperti ditunjukkan pada flowchart di bawah ini:

2.1 Data Input

Sumber data dari sistem pengambilan keputusan

dapat dikatagorikan menjadi dua yaitu data eksternal dan

data internal. Untuk pembangunan sistem pendukung

keputusan klinis, diperlukan diagnosa gangguan jiwa

sebagai sumber data ini.

a. Data eksternal

Data eksternal merupakan data yang tidak

berhubungan langsung dengan penyakit atau gangguan

jiwa yang dialami oleh pasien tetapi mempengaruhi

sistem dalam melakukan keputusan klinis. Adapun data

eksternal adalah:  Data identitas pasien (Kartu Tanda Penduduk).  Data lingkungan tempat tinggal.

b. Data Internal

Data internal merupakan data yang berhubungan

langsung dengan klinis gangguan jiwa untuk mendukung

sistem pegambilan keputusan dalam mendiagnosis

pasien. Adapun yang tergolong ke dalam data internal

adalah:  Data rekam medis pasien.

Berdasarkan pengelompokan tersebut, maka tabel 3

hasil fuzzifikasi di atas menunjukkan bahwa, dari 21

sampel data input pasien terdapat 9 pasien yang

mengalami gangguan jiwa ringan, 8 pasien yang

mengalami gangguan jiwa sedang dan 3 pasien yang

mengalami gangguan jiwa berat.

Tiga pasien yang mengalami gangguan jiwa berat

diperoleh dari kategori input data awal pada pasien

pertama yaitu x1: 0.71, x2: 0.87, x3: 0.92, x4: 0.79,

pasien kedua x1: 0.63, x2:0.65, x3:0.73, x4: 0.82 dan

pasien ke 3 x1: 0.74, x2:0.65, x3:0.43, x4:0.98.

Hasil output yang diperoleh pada tabel 3 terlihat bahwa

pasien yang menderita gangguan jiwa berat berada pada

nilai rata-rata x1,x2,x3 dan x4 di atas 0.5.sedangkan

pasien yang mengalami gangguan jiwa ringan berada

pada nilai x1,x2,x3 dan x4 dibawah 0.2.

Dari hasil pengujian yang dilakukan dengan

menggunakan metode fuzzy Mamdani menunjukkan

bahwa output yang didapat dalam proses melakukan

diagnosa dini gangguan jiwa sesuai dengan hasil

diagnosis pskiater yang telah melakukan diagnosa secara

manual dilihat dari rekap medis pasien yang dijadikan

sampel pada penelitian ini. Diagnosa pskiater menunjukkan pasien yang mengalami

gangguan tingkat depresi, halusinasi, berbicara ngawur

dan katatonik tinggi beresiko mengalami gangguan jiwa

berat, hal ini sesuai dengan output yang didapat dari

hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan

metode fuzzy Mamdani yaitu pada saat nilai x1, x2, x3

dan x4 berada pada nilai rata-rata di atas 0.5 pasien

dinyatakan menderita gangguan jiwa berat.


Berbagai upaya dilakukan untuk 

mengurangi jumlah penderita penyakit 

gangguan jiwa di Bali, salah satunya adalah 

mengintensifkan pemeriksaan terhadap 

penderita penyakit gangguan jiwa. Penyakit 

ini memang sama pentingnya seperti 

penyakit fisik. Namun, dalam naan 

praktiknya, dokter hanya dapat menangani 

2-3 pasien, tidak seperti penyakit fisik, 

dimana dalam sekali pemeriksaan dokter 

dapat menangani belasan pasien. Hal ini 

disebabkan karena dalam menangani 

penyakit gangguan jiwa memerlukan waktu 

yang intensif bagi dokter untuk mengenali 

dan mendiagnosa penyakit yang diderita 

pasien gangguan jiwa. Agar tidak terjadi 

ambigu dalam mendiagnosa gejala penyakit 

gangguan jiwa, keberadaan suatu sistem 

pendukung keputusan dibutuhkan oleh 

pakar dalam mendiagnosa dan 

menanggulangi penyakit gangguan jiwa. 

Salah satu dokter yang ada di Kota 

Denpasar yaitu Ibu dr. Putu Asih Primatanti, 

SpKJ.

Berdasarkan hal tersebut peneliti 

termotivasi untuk mengembangkan aplikasi 

“Sistem Pendukung Keputusan Diagnosa 

Penyakit Gangguan Jiwa dengan Metode 

Dempster-Shafer” sebagai asisten dokter 

dalam mengambil keputusan penderita 

gangguan kejiwaan. Metode dempster￾shafer merupakan metode yang pertama 

kali dikembangkan oleh Arthur P. Dempster 

dan Glenn Shafer. Metode ini merupakan 

salah satu metode multi hipotesa, dimana 

dapat menghasilkan lebih dari 1 hipotesis. 

Dempster-Shafer Theory adalah 

diberlakukan sebagai suatu formula untuk 

menangani klasifikasi yang tidak pasti. DST 

juga digunakan untuk merepresentasikan 

keraguan, apakah ketidakpastian secara 

total, ataupun ketidaktahuan secara 

sebagian. Aturan DS merupakan aturan 

yang sempurna untuk ini. [3] Penderita 

gangguan jiwa sangat mungkin menderita 

lebih dari satu penyakit yang dalam hal ini 

disebut “komorbiditas”. Maka dari itu, 

peneliti menggunakan metode Dempster￾Shafer untuk memberikan nilai kepastian. 

Sistem ini juga akan dibangun berbasis web 

sehingga dapat diakses oleh dokter 

kapanpun dan dimanapun dengan berbagai 

platform. Diharapkan nantinya sistem ini 

dapat membantu pakar dalam melakukan 

diagnosa dan penanggulangan terhadap 

gangguan kejiwaan lebih efektif. 

KAJIAN TEORI 

A. Ilmu Jiwa dan Gangguan Kejiwaan 

Ilmu jiwa atau psikologi adalah suatu 

cabang dari ilmu pengetahuan yang 

mempelajari, menyelidiki, atau membahas 

fungsi – fungsi kejiwaan dari orang yang 

sehat. Atau dengan perkataan lain psikologi 

mempelajari aktivitas kehidupan kejiwaan 

dari orang normal. Psikologi (Ilmu Jiwa) 

ialah ilmu yang mempelajari segala 

aktivitas jiwa, yaitu yang mencakup segala 

sesuatu yang diperbuat oleh manusia yang 

terwujud dalam kegiatan manusia (human 

activities). [4] Sedangkan, sakit jiwa adalah 

gangguan mental yang berdampak kepada 

mood, pola pikir, hingga tingkah laku 

secara umum. Seseorang disebut 

mengalami sakit jiwa jika gejala yang 

dialaminya menyebabkan sering stres dan menjadikannya tidak mampu melakukan 

aktivitas sehari-hari secara normal. 

Penggolongan penyakit gangguan jiwa 

menurut PPDGJ III dapat dilihat pada 

Gambar 2.

B. Sistem Pendukung Keputusan 

1. Definisi SPK 

Menurut Alter (2002) SPK merupakan 

sistem informasi interaktif yang 

menyediakan informasi, pemodelan, dan 

pemanipulasian data. Selain itu digunakan 

untuk membantu pengambilan keputusan 

dalam situasi semi terstruktur dan situasi 

yang tidak terstruktur, dimana tak seorang 

pun tahu secara pasti bagaimana 

keputusan seharusnya dibuat. [6] 

Sistem pendukung keputusan 

(Inggris: decision support systems disingkat

DSS) adalah bagian dari sistem informasi 

berbasis komputer (termasuk sistem 

berbasis pengetahuan (manajemen 

pengetahuan) yang dipakai untuk 

mendukung pengambilan keputusan dalam 

suatu organisasi atau perusahaan. Dapat 

juga dikatakan sebagai sistem komputer 

yang mengolah data menjadi informasi 

untuk mengambil keputusan dari masalah 

semi-terstruktur yang spesifik. [7] 

SPK adalah pendekatan berbasis 

komputer atau metodologi untuk 

mendukung pengambilan keputusan. 

Bagian paling penting dari SPK khas 

adalah data warehouse, yang merupakan 

subjek berorientasi, terpadu, waktu-varian,


Sabtu, 30 November 2024

kejiwaan

 

a. Seorang laki-laki umur 26 tahun datang ke poliklinik

jiwa dengan keluhan susah untuk memulai tidur dan

mempertahankan tidur sejak 2 bulan yang lalu sehingga

memicu  susah konsentrasi saat bekerja karena lemas.

Apa saja yang harus diajukan untuk menentukan penyebab

tidak bisa tidur tersebut? Bagaimana penatalaksanaan

selanjutnya?

b. Seorang laki laki berusia 50 tahun datang ke poliklinik jiwa

dengan keluhan susah tidur terutama sering terbangun di

pagi dini hari. Saat wawancara psikiatri pasien mengeluh

sangat sedih, putus asa karena sakit kencing manisnya dan

tampaktidakbersemangatmeneruskanterapinya.Apayang

harus dianjurkan untuk menentukan kondisi kesehatan

jiwanya? Bagaimana penatalaksaaan selanjutnya?

c. Seorang mahasiswa datang ke poliklinik karena nafas sering

sesak, jantung berdebar, dan gangguan lambung. Apa yang

harus dianjurkan untuk mengungkap faktor psikologis

yang mendasarinya? Bagaimana penatalaksaannya?

d. Ada pasien yang dirawat di bangsal dengan riwayat

demam lebih dari satu minggu yang menunjukkan gejala

kebingungan, merasa melihat bayangan yang menakutkan

dan berteriak-teriak. Pemeriksaan penunjang apakah yang

perlu dilakukan? Bagaimana membedakan apakah gejala

kejiwaan dan gejala fisik yang muncul yaitu  merupakan 

dua kondisi yang berdiri sendiri-sendiri yang muncul

bersamaan atau merupakan dua kondisi yang berhubungan

atau merupakan sebab akibat? Bagaimana penatalaksanaan

gangguannya?

e. Pasien mengeluh mulai sering lupa, terutama lupa akan hal￾hal yang baru saja terjadi, misalnya sudah diberi sarapan

oleh menantunya tetapi mengatakan belum. Gejala-gejala

gangguan apakah ini? Gejala lain apakah yang harus anda

cari? Pemeriksaan penunjang apa yang perlu anda lakukan?

Bagaimana membedakan apakah gejala ini disebabkan

karena proses psikologis atau dilatarbelakangi proses

organik? Penatalaksanaan kasus seperti ini bagaimana?

f. Pasien menunjukkan gejala kurus, tidak mau makan,

lebih suka berkumpul dengan kelompok sebaya daripada

menyelesaikan tugasnya. Di lengannya ada  bekas￾bekas tusukan yang berwarna kehitaman. Gejala gangguan

apakah ini? Pemeriksaan lainnya apakah yang perlu anda

lakukan? Bagaimana membedakan gejala ini apakah

disebabkan karena kondisi fisik atau karena psikologis atau 

saling berhubungan? Bagaimana penatalaksanaannya?

g. Jika pasien menunjukkan sikap tubuh yang “aneh”,

“mendengar suara- suara”di telinganya;lebih suka

menyendiri dan melamun. Gejala gangguan apa ini? Gejala

lain apa lagi yang harusAnda cari, yang biasanya menyertai

dua gejala di depan? Bagaimana penata- laksanaannya?h. Pasien datang dalam keadaan tangan terborgol dan dikawal

oleh polisi. Keluarga melaporkan bahwa pasien tiba-tiba

mengamuk dan menyerang siapa saja yang dijumpai. Akan

anda apakan pasien ini?

i. Seorang pasien kelihatan berseri-seri, merasa sangat

optimis, banyak bicara dengan topik meloncat-loncat dan

kebutuhan tidurnyapun berkurang. Gejala apakah ini?

Bagaimana penatalaksanaannya?

j. Pasien mengeluh sakit kepala, sakit perut, nyeri seluruh

tubuh, sulit tidur, berkurangnya nafsu makan, merasa

lemah, merasa bersalah, tidak bahagia; gejala gangguan apa

itu? Apa yang harus anda lakukan pada pasien tersebut?

Apa yang harus anda lakukan pada pasien tersebut? Apa

yang harus Anda lakukan pada keluarganya?

k. Hampir tiap menghadapi situasi yang “tidak dikehendaki”

tubuh jadi “kaku” atau pasien “semaput”, gejala gangguan

apa ini? Apa yang harus anda lakukan pada pasien dengan

gejala tersebut? Apa yang harus anda lakukan pada

keluarganya?

l. Seorang wanita merasa kehidupan perkawinannya tidak

bahagia, bahkan dia mau menuntut cerai dari suaminya.

Permasalahannya yaitu  bahwa setiap kali berhubungan

seksual isterinya tidak pernah mendapat kepuasan karena

suaminya cepat selesai. Apa yang akan anda lakukan pada

pasangan ini?

m. Seorang anak perempuan usia 5 tahun tetapi mesih belum

mampu berbicara seperti anak sebayanya. Penampilannya

spesifik, wajahnya khas, dan lidah menjulur keluar. 

Bagaimanaupayapromosi,prevensi,kurasi,danrehabilitasi

untuk gangguan ini?

n. Seorang anak selalu tampak banyak gerak, bahkan di

ruang praktek dokter sekalipun. Sampai ibunya kewalahan

menghadapinya. Gejala lain apa yang perlu anda cari?

Bagaimana penatalaksanaannya?

 Seorang penderita pada umumnya tenang, tetapi secara

tiba-tiba mengamuk dan sehabis itu dia tidak menyadari

apa yang dilakukannya. Pemeriksaan apa yang perlu

dilakukan?

Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan

tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2minggu untuk

penegakan diagnosis, akan tetapi periode lebih pendek dapat

dibenarkan jika gejala luar biasa beratnya dan berlangsung

cepat.


Delirium

Delirium didefenisikan sebagai gangguan kognitif yang

berfluktuasi dengan onset akut disertai gangguan kesadaran. 

Delirium merupakan suatu sindrom, bukan penyakit, dan

mempunyai banyak penyebab yang kesemuanya menghasilkan

gambaran dalam tanda dan gejala klinis gangguan kesadaran dan

perubahan pada kognitif yang berkembang dalam waktu singkat,

biasanya muncul bersama-sama dengan gangguan fungsi kognitif

global. Perjalanan delirium bersifat singkat dan berfluktuasi, 

serta penyembuhan cepat bila penyakit yang mendasarinya dapat

diidentifikasi dan dieliminasi, tetapi gambaran karakteristik ini 

dapat bervariasi pada tiap individu.Delirium dikenal juga sebagai

Intensif Care Unit Psychosis, status konfusional akut, gagal otak

akut, ensefalitis, ensefalopati, status metabolic toksik, toksisitas

system saraf pusat, ensefalitis limbic paraneoplastik, sundowning, 

insufisiensi serebral dan sindrom otak organik. Gejala psikiatri 

yang umum berupa abnormalitas mood, persepsi dan perilaku;

serta gejala neurologi berupa tremor, asterixis, nistagmus,

inkoordinasi, dan inkontinensia urine.

Menurut PPDGJ III, pedoman diagnostik untuk delirium

yang bukan akibat alkohol dan zat psikoaktif lainnya (F.05):

Gangguan kesadaran dan perhatian

o Dari taraf kesadaran berkabut sampai koma

o Menurunnya kemampuan untuk mengarahkan,

memusatkan, mempertahankan dan mengaihkan

perhatian

Gangguan kognitif secara umum

o Distorsi persepsi, ilusi dan halusinasi – seringkali

visual

o Hendaya daya pikir dan pengertian abstrak, dengan

atau tanpa waham yang bersifat sementara, tetapi

sangat khas ada  inkoherensi ringan

o Hendaya daya ingat segera dan jangka pendek, sedang

daya ingat jangka panjang relatif masih utuh

 o Disorientasi waktu,. Pada kasus berat, ada  juga

disorientasi tempat dan orang

Gangguan Psikomotor

o Hipo atau hiperaktivitas dan pengalihan aktivitas

yang tidak terduga dari satu ke yang lain

o Waktu bereaksi yang lebih panjang

o Arus pembicaraaan bertambah atau berkurang

o Reaksi terperanjat meningkat

• Gangguan siklus tidur-bangun:

o Insomnia atau pada kasus yang berat tidak dapat tidur

sama sekali, atau terbaliknya siklus tidur-bangun;

mengantuk pada siang hari

o Gejala memburuk pada malam hari. Mimpi yang

mengganggu atau mimpi buruk yang dapat berlanjut

menjadi halusinasi sesudah  bangun.

o Gangguan emosional:misalnya depresi, anxietas atau 

takut, lekas marah, euphoria, apatis atau kehilangan

rasa akal

o Onset biasanya cepat, perjalanan penyakitnya hilang

timbul sepanjang hari, dan keadaan itu berlangsung

kurang dari 6 bulan

Gangguan Penyalahgunaan Zat

NAPZA atau narkoba yaitu  singkatan dari Narkotika,

PskikotropikadanZatadiktiflaindanobat-obatanyangberbahaya

yang sangat berguna dan diperlukan untuk kepentingan dunia

kedokteran sebagai pengobatan dan pelayanan.Penyalahgunaan

NAPZAsangatmembahayakantidakhanyamerugikankesehatan

tapijugaberdampakpadaekonomi, sosial,produktivitaskerjadan

biaya untuk pengobatan.Secara keseluruhan dapat berdampak

terhadap sosial kemasyarakatan, politik, budaya sehingga dapat

memperngaruhi jalannya perkembangan bangsa dan negara.

Ketergantungan zat merupakan sebuah kelainan

yang kompleks, dengan berbagai mekanisme biologis yang

mempengaruhi otak dan kemampuannya untuk mengontrol

penggunaanzat.Ketergantunganzattidakhanyadipengaruhioleh

faktor biologis dan genetika namun juga ada  komorbiditas

yang signifikan antara ketergantungan zat dan beberapa gangguan 

jiwa lainnya.Komorbiditas antara gangguan penggunaan zat dan

gangguan jiwa lainnya selayaknya dijadikan salah satu elemen

yang patut diperhatikan baik dalam penanganan terhadap

penyakit jiwa maupun ketergantungan zat.

Ketergantungan dapat ditangani secara efektif, sehingga

dapat menyelamatkan kehidupan, meningkatkan kesehatan

dari pasien dan keluarga mereka serta mengurangi biaya yang

menjadi beban masyarakat. Dengan latar belakang permasalahan

dan dampak yang diakibatkan dari penyalahgunaan NAPZA

yang demikian komplek terhadap individu, maka setiap anggota

didik perlu ditingkatkan pengetahuan dan pemahaman yang

cukup tentang bahaya NAPZA beserta sanksi hukumnya untuk

dapat menangani, sekaligus mencegah penyalahgunaan NAPZA

di masyarakat.

Skizofrenia

Skizofrenia yaitu  sindroma klinik yang ditandai oleh

psikopatologiberatdanberagam,mencakupaspekkognisi, emosi,

persepsi dan perilaku, dengan gangguan pikiran sebagai gejala

pokok. Awitan biasanya sebelum usia 25 tahun, berlangsung

seumur hidup dan bisa diderita oleh semua kalangan sosial￾ekonomi. Medikasi dengan obat antipsikotik merupakan terapi

utamaskizofrenia,sementaraintervensipsikososialmeningkatkan

hasil pengobatan. Hospitalisasi, dilakukan untuk memastikan

diagnosis, stabilisasi medikasi, menjaga keselamatan penderita,

optimalisasi perawatan diri dan membangun dasar-dasar

hubungan penderita dengan sistem dukungan di masyarakat.

Diagnosis Skizofrenia menurut PPDGJ III

a. “thought echo”, “thought insertion or withdrawal”,

“thought broadcasting”

b. waham dikendalikan, waham dipengaruhi  gerakan

tubuh, pikiran, perbuatan, perasaan

c. halusinasi yang membicarakan atau mengomentari

perbuatan penderita, halusinasi yang berasal dari salah

satu bagian tubuh

d. waham-waham menetap lain tema keagamaan, politik,

“kemampuan istimewa” yang tidak sesuai dengan latar

belakang budaya penderita

e. halusinasi yang menetap

f. alur pikir yang terputus, tersisip inkoherensi, irelevansi,

neologisme

g. perilaku katatonik  gaduh gelisah, “posturing”,

fleksibilitas serea, negativisme, mutisme, stupor)

h. gejala-gejala “negatif”  apatis, hilangnya minat, respon

emosional tumpul, penarikan diri secara sosial, malas,

“self-absorbed attitude”

i. perubahan perilaku konsisten dan menyeluruh

Syarat diagnosis, sedikitnya ada satu (bila sangat jelas) atau

dua (bila kurang jelas) dari gejala kelompok a-d, atau sedikitnya

dua dari gejala kelompok e-h, selama kurun waktu satu bulan.

Pola perjalanan penyakit: berkelanjutan, episodik dengan 

kemunduran progresif, episodik dengan kemunduran stabil,

episodik berulang, remisi tidak sempurna, remisi sempurna, dan

lainnya, periode pengamatan kurang dari satu tahun.

Gangguan Mood

Depresi

Episoda depresi berlangsung paling sedikit dua minggu dan

sedikitnya ada empat dari gejala-gejala berikut : perubahan nafsu 

makan dan berat badan, perubahan pola tidur dan kegiatan; rasa

bersalah, gangguan kemampuan berfikir dan sulit membuat 

keputusan, serta berulang ulang memikirkan kematian dan

bunuh diri.

Mania

Episoda mania ditandai oleh mood yang secara pervasif

meningkat, ekspansif atau iritabilitas, sedikitnya selama satu 

minggu atau bisa kurang bila pasien sampai harus menjalani

rawat inap; episoda hipomanik berlangsung sedikitnya selama

empat hari, gejala-gejalanya mirip mania, tetapi tidak sampai

mengganggu fungsi sosial atau okupasional dan juga tidak

didapatkan gejala-gejala psikotik. Baik pada mania maupun

hipomania didapat rasa percaya diri yang sangat meningkat,

kurangnya kebutuhan tidur, distraktibilitas, aktivitas fisik dan 

mental meningkat dan sangat terlibat pada kegiatan yang bersifat

menyenangkan.

Gangguan bipolar

Pada gangguan bipolar, gejala gangguan emosi terbagi

dalam dua kelompok besar, yaitu kutub gembira/mania dan

kutub sedih/depresi. Pada pola standar, masing masing kutub

emosi secara bergantian tampil dominan mewarnai kondisi

psikis dan perilaku penderita selama rentang masa tertentu.

Episoda mania ditandai oleh emosi yang gembira, banyak

bicara, aktivitas fisik meningkat, kebutuhan tidur berkurang, 

harga diri dan rasa percaya diri sangat berlebihan, pengelolaan

keuangan buruk, boros, pengendalian diri juga buruk. Episoda

mania berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, rata-rata

sekitar empat bulan. Episoda depresi ditandai oleh gejala-gejala

yang berlawanan, yaitu emosi yang sedih, hilangnya minat dan

kegembiraan, merasa lelah sehingga kegiatan menjadi terbatas,

daya konsentrasi menurun, harga diri dan rasa percaya diri

menurun, merasa bersalah dan tidak berguna, masa depan

suram, sukar tidur, nafsu makan (dan berat badan) menurun,

ada gagasan atau upaya bunuh diri. Episoda depresi berlangsung

lebih lama, tetapi jarang sampai lebih dari satu tahun, rata-rata

sekitar enam bulan.

Selain pola standar, berdasarkan tampilan gejala, gangguan

bipolar ada yang bersifat campuran (didapatkan gabungan

gejala-gejala mania dan depresi), rapid cycle (sekurang

kurangnya ada empat episoda gangguan emosi dalam satu

tahun) dan ultra rapid cycle (episoda-episoda gangguan

emosi bergantian secara cepat dalam hitungan hari)

Baik episoda mania maupun episoda depresi bisa disertai

gejala-gejala yang sebenarnya hanya khayalan tetapi

diyakini kebenarannya oleh penderita.

• Gangguan bipolar terdiri dari 4 kelompok, yaitu gangguan 

bipolar I (ada gejala mania dan depresi yang jelas), bipolar

II ( ada gejala mania ringan/hipomania dan depresi yang

jelas), gangguan siklotimik (kondisi emosi yang tidak stabil,

ditandai oleh banyak emosi mania dan depresiringan) serta

gangguan bipolar lainnya (gejala-gejala tidak spesifik). 

Pada perjalanan penyakit gangguan bipolar I didapatkan

satu atau beberapa episoda mania dan kadang-kadang

ada episoda depresi; pada episoda campuran didapatkan

episodamaniadandepresisepanjanghari,selamasedikitnya

satu minggu; kondisi yang ditandai oleh beberapa episoda

depresi berat dan hipomania, disebut sebagai bipolar II.

Distimia dan siklotimia

Pada keduanya didapatkan gejala-gejala depresi yang

lebih ringan dari pada depresi berat maupun bipolar I.Distimia ditandai oleh mood depresi sedikitnya selama dua tahun yang

tidak seberat depresi berat.Siklotimia ditandai oleh sedikitnya

selama dua tahun terjadi gejala-gejala hipomania yang tidak

cukup untuk diagnosis episoda mania dan gejala-gejala depresi

yang tidak cukup untuk diagnosis episoda depresi berat.

Depresi terselubung

Pada tahun 1974, dilakukan penelitian terhadap sekitar 

10.000 orang dokter di Eropa, dan didapatkan bahwa sekitar

10% penderita yang datang berobat yaitu  penderita depresi

dan pada setengah di antaranya, depresi tersebut terselubung.

Depresi terselubung yaitu  depresi yang tertutupi/terselubungi

oleh keluhan/gejala-gejala lain, biasanya yang bersifat jasmani.

Akibatnya sering pada awalnya penderita diperlakukan dan

diobati sebagai penderita gangguan jasmani.

Diagnosis Gangguan Mood menurut PPDGJ III

Episode manik

Merupakan episode tunggal dengan tiga derajat

keparahan

Hipomania

Peningkatan ringan suasana perasaan (mood), energi,

aktivitas, ada perasaan sejahtera, peningkatan kemampuan

bergaul dan bercakap, keakraban berlebihan, peningkatan

seksualitas, pengurangan kebutuhan tidur

Euforik, kadang-kadang mudah marah, sombong, tidak

sopan, membual, melawak berlebihan

Konsentrasi dan daya perhatian terganggu, sehingga

kurang mampu bekerja dengan baik, agak boros dan suka

mencoba kegiatan-kegiatan baru

Berlangsung sekurangnya beberapa hari terus menerus

Mania tanpa gejala psikotik

1. Suasana perasaan meninggi,tidak sepadan dengan keadaan

yang sesungguhnya

2. Energi meningkat, aktivitas berlebihan, bicara banyak￾cepat, kebutuhan tidur berkurang

3. Kendali perilaku sosial tidak ada, perhatian sangat mudah

beralih, harga diri membumbung, optimistis dan banyak

memiliki pikiran yang hebat-hebat yang dikemukakan

secara terbuka

4. Mungkin ada gangguan persepsi : apresiasi warna yang 

berlebihan, perhatian berlebih pada detil, hiperakusis,

punya banyak rencana yang tidak praktis, boros, agresif,

atau penuh cinta kasih, berkelakar pada suasana yang tidak

tepat, mudah tersinggung, curiga

5. Awitan biasanya apada usia 15-30 tahun, bisa pada rentang

usia akhir masa anak sampai dasawarsa ketujuh atau

kedelapan

6. Episoda berlangsung sedikitnya selama satu minggu, cukup

berat sehingga praktis mengacaukan pekerjaan maupun

aktivitas sosial

Mania dengan gejala psikotik

Gambaran klinis mania lebih berat dari mania tanpa gejala

psikotik

Ada waham kebesaran, waham curiga

Bicara bisa sangat cepat sehingga tidak dapat dipahami

• Aktivitas fisik sangat meningkat, bisa menjurus ke 

agresivitas,disertaimengabaikankebutuhanmakanminum

sehingga bisa mengakibatkan dehidrasi

Gangguan afektif bipolar

Episode berulang (sekurangnya dua) gangguan suasana

perasaan, yang pada suatu masa meningkat, pada masa lain

menurun

• Episoda manik terjadi secara tiba tiba, selama 2 minggu-4/5 

bulan, biasanya sekitar 4 bulan

Episoda depresi berlangsung lebih lama, biasanya sekitar

6 bulan (pada lanjut usia mungkin berlangsung lebih dari

satu tahun)

Terjadi (tidak selalu) sesudah  mengalami stresor kehidupan

berat

Episoda pertama bisa terjadi pada rentang usia masa anak

sampai masa tua

Kambuhan, remisi makin lama makin singkat dan sesudah 

usia pertengahan depresi cenderung lebih sering terjadi

dan lebih lama

Episode depresif

Ada tiga tingkat keparahan (ringan, sedang, berat) dengan

gejala pokok yaitu  mood yang depresif, hilangnya minat

dan kegembiraan, energi berkurang, mudah lelah, aktivitas

berkurang, gejala-gejala lain seperti konsentrasi dan perhatian

berkurang; harga diri dan kepercayaan diri berkurang; merasa

bersalah, tidak berguna; pesimistik, masa depan suram; ada

gagasan dan perbuatan membahayakan diri sendiri (bunuh diri);

tidur terganggu; nafsu makan berkurang.

Gangguan Ansietas Fobik

Fobia yaitu  suatu ketakutan yang tidak rasional yang

memicu  penghindaran yang disadari terhadap objek,

aktivitas atau situasi yang ditakuti.Fobia spesifik dapat berupa 

takut terhadap binatang, badai, ketinggian, penyakit, cedera, dsb.

Sedangkan fobia sosial berupa takut terhadap rasa memalukan

di dalam berbagai lingkungan sosial seperti berbicara di depan

umum, dsb.

Pedoman diagnosis Gangguan Ansietas Fobik

Rasa takut yang jelas, menetap dan berlebihan atau tidak

beralasan (obyek /situasi)

Pemaparan dengan stimulus fobik hampir selalu

mencetuskan kecemasan

Menyadari bahwa rasa takut yaitu  berlebihan

Situasi fobik dihindari

Fobia spesifik

A. Rasa takut yang jelas dan menetap yang berlebihan atau

tidak masuk akal ditandai dengan adanya antisipasi

terhadap objek atau situasi spesifik (mis. Naik pesawat 

terbang, ketinggian, binatang, mendapat suntikan, melihat

darah)

B. Pemaparan dengan stimulus fobia hampir selalu

mencetuskan kecemasan yang dapat berupa serangan

panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan

oleh situasi. Catatan: Pada anak-anak, kecemasan dapat 

diekspresikan dengan menangis, tantrum.

C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan

atau tidak beralasan Catatan: pada anak-anak, gambaran 

ini tidak harus ada

D. Situasi fobik dihindari, atau jika tidak dapat dihindari,

dihadapi dengan kecemasan atau penderitaan yang kuat

E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam

situasifobia secara bermakna mengganggu rutinitas normal

seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas sosial dan

hubungan dengan orang lain, atau ada  penderitaan

yang jelas akibat menderita fobia.

F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung

sekurangnya selama 6 bulan

G. Kecemasan, serangan panik, atau penghindaran fobik tidak

lebih baik dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti

gangguan obsesif kompulsif, gangguan strs pasca trauma,

gangguan cemas perpisahan, fobia sosial, gangguan panik

denganagorafobia, atauagorafobia tanpa riwayat gangguan

panik.

Fobia sosial

A. Rasa takut yang jelas dan menetap terhadap satu atau

lebih situasi sosial, saat seseorang dihadapkan pada orang

yang tidak dikenal/tidak akrab atau pada situasi yang

memungkinkan ia akan diperhatikan oleh orang lain.

Orang tersebut merasa takut akan berperilaku dengan cara

yang merendahkan atau memalukan dirinya.

B. Pemaparan dengan situasi sosial yang ditakuti hampir

selalu mencetuskan kecemasan yangdapat berupa serangan

panik yang berkaitan dengan situasi atau dipredisposisikan

oleh situasi.

C. Orang tersebut menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan

atau tidak beralasan.

D. Situasi sosial atau situasi yang ditakuti dihindari, atau jika

tidak dapat dihindari, dihadapi dengan kecemasan atau

penderitaan yang kuat.

E. Penghindaran, antisipasi cemas atau penderitaan dalam

situasi sosial atau kinerja secara bermakna mengganggu

rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan, atau aktivitas

sosial dan hubungan dengan orang lain, atau ada 

penderitaan yang jelas akibat menderita fobia.

F. Pada individu di bawah usia 18 tahun, berlangsung

sekurangnya selama 6 bulan

G. Rasa takut atau penghindaran yaitu  bukan karena obat￾obatan atau kondisi medik umum.

H. Bila ada  gangguan kondisi medik umum atau

gangguan psikiatrik lain, rasa takut pada kriteria A tidak

berkaitan dengan hal tersebut.

Agorafobia

A. Kecemasan berada di dalam suatu tempat atau situasi yang

kemungkinan akan sulit meloloskan diri(atau merasa malu)

atau mungkin tidak ada  pertolongan jika mengalami

panik atau gejala mirip panik. Rasa takut pada agorafobia

secara khas mencakup situasi berada di luar rumah

sendirian, berada di kerumunan, berada di atas jembatan,

menempuh perjalanan dengan bis, kereta api atau mobil.

B. Situasi yang ditakuti dihindari, atau dihadapi dengan

penderitaan atau kecemasan yang kuat akan mendapatkan

serangan panik atau gejala mirip panik, atau perlu

didampingi teman.

C. Kecemasan atau penghindaran fobik tidak lebih baik

dijelaskan oleh gangguan psikiatrik lain, seperti fobia sosial,

fobia spesifik, gangguan obsesif kompulsif, gangguan stres 

pasca trauma, atau gangguan cemas perpisahan.

Gangguan Panik

Serangan panik pertama seringkali spontan, tanpa tanda

mau serangan panik, walaupun serangan panik kadang-kadang

terjadi sesudah  luapan kegembiraan, kelelahan fisik, aktivitas 

seksual atau trauma emosional. Klinisi harus berusaha untuk

mengetahui tiap kebiasaan atau situasi yang sering mendahului

serangan panik.  Serangan sering dimulai dengan periode gejala

yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Gejala mental

utama yaitu  ketakutan yang kuat, suatu perasaan ancaman

kematiandankiamat.Pasienbiasanya tidakmampumenyebutkan

sumber ketakutannya. Pasien mungkin merasa kebingungan dan

mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian. Tanda fisik 

yaitu  takikardia, palpitasi, sesak nafas dan berkeringat. Pasien

seringkali mencoba untuk mencari bantuan. Serangan biasanya

berlangsung 20 sampai 30 menit.

Gejala penyerta

Gejala depresi seringkali ditemukan pada serangan panik

dan agorafobia, pada beberapa pasien suatu gangguan depresi

ditemukan bersama-sama dengan gangguan panik.  Penelitian

telah menemukan bahwa risiko bunuh diri selama hidup pada

orang dengan gangguan panik yaitu  lebih tinggi dibandingkan

pada orang tanpa gangguan mental.

Agorafobia

Pasiendengan agorafobia akan menghindari situasidimana

ia akan sulit mendapatkan bantuan. Pasien mungkin memaksa

bahwa mereka harus ditemani setiap kali mereka keluar rumah.

Ada dua kriteria gangguan panik:

gangguan panik tanpa agorafobia

gangguan panik dengan agorofobia

Diagnosis Gangguan panik tanpa agorafobia

A. Memenuhi kriteria (1) dan (2):

(1) Serangan panik berulang yang tidak diharapkan

Gejala panik terjadi secara tiba-tiba dan mencapai

puncaknya dalam waktu 10 menit

(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh salah satu

berikut ini selama 1 bulan/ lebih:

(a) Kekhawatiran yang menetap akan mengalami

serangan tambahan

(b) Kekhawatiran terhadap suatu serangan atau

akibatnya

(c) Perubahan bermakna pada perilaku yang

berhubungan dengan Serangan

B. Tidak ada  agoraphobia

C. Bukan karena efek fisiologis langsung dari zat atau suatu 

kondisi medik umum

D. Serangan panik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan

mental lain, seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan

obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, cemas

perpisahan.

Diagnosis Gangguan panik dengan agorafobia

A. Memenuhi kriteria 1 dan 2

(1) Serangan panik berulang yang tidak diharapkan Gejala

panik terjadi secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya

dalam waktu 10 menit.

(2) Sekurangnya 1 serangan telah diikuti oleh salah satu

berikut ini selama 1 bulan/ lebih:

(a) Kekhawatiran yang menetap akan mengalami

serangan tambahan?

(b) Kekhawatiran terhadap suatu serangan atau

akibatnya

(c) Perubahan bermakna pada perilaku yang

berhubungan dengan serangan

B. ada  agoraphobia

C. Bukan karena efek fisiologis langsung dari zat atau suatu 

kondisi medik umum

D. Serangan panik tidak lebih baik dijelaskan oleh gangguan

mental lain, seperti fobia sosial, fobia spesifik, gangguan 

obsesif kompulsif, gangguan stres pasca trauma, cemas

perpisahan.

Diagnosis Serangan panik

A. Merasa takut yang kuat, diikuti oleh gejala-gejala berikut

ini yang terjadi secara tiba tiba dan mencapai pundaknya

dalam waktu 10 menit.

(1) Palpitasi

(2) Berkeringat

(3) Gemetar atau bergoncang

(4) Rasa sesak nafas atau tertahan

(5) Perasaan tercekik

(6) Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman

(7) Mual atau gangguan perut

(8) Perasaan pusing, bergoyang atau akan pingsan

(9) Derealisasi atau depersonalisasi

(10) Ketakutan hilang kendali atau menjadi gila

(11) Rasa takut mati

(12) Parestesia

(13) Menggigil atau perasaan panas

Gangguan Cemas Menyeluruh

Gambaran esensial dan gangguan ini yaitu  adanya

ansietas yang menyeluruh dan menetap (bertahan lama). Gejala

yang dominan sangat bervariasi, tetapi keluhan tegang yang

berkepanjangan, gemetaran, ketegangan otot, berkeringat, kepala

terasa ringan, palpitasi, pusing kepala dan keluhan epigastrik

yaitu  keluhan-­keluhan yang lazim dijumpai. Ketakutan bahwa

dirinya atau anggota keluarganya akan menderita sakit atau akan

mengalami kecelakaan dalam waktu dekat, merupakan keluhan

yang seringkali diungkapkan.

Pedoman diagnosis gangguan cemas menyeluruh

Pasien harus menunjukan gejala primer ansietas yang

berlangsung hampir setiap hari selama beberapa minggu,

bahkan biasanya sampai beberapa bulan

• Gejala-gejala ini biasanya mencakup hal-hal berikut: 

kecemasan tentang masa depan, ketegangan motorik,

overaktivitas otonomik.

A. Kecemasan atau kekhawatiran yang berlebihan, yang

lebih banyak terjadi dibandingkan tidak terjadi selama

sekurangnya 6 bulan, tentang sejumlah kejadian atau

aktivitas.

B. Orang tersebut merasa sulit mengendalikan

kekhawatirannya.

C. Kecemasan dan kekhawatiran disertai oleh 3 dari 6 gejala

berikut ini:

(1) Kegelisahan, perasaan tegang, gugup

(2) Merasa mudah lelah

(3) Sulit berkonsentrasi/pikiran menjadi kosong

(4) Cepat marah

(5) Ketegangan otot

(6) Gangguan tidur

(7) Kelelahan atau berkurangnya energi

D. Fokus kecemasan dan kekhawatiran tidak berkaitan dengan

gangguan lain pada aksis I.

E. Kecemasan, kekhawatiran, gejala fisik memicu  

penderitaan yang bermakna secara klinis atau gangguan

pada fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi penting lain.

F. Gangguan bukan merupakan akibat langsung dari efek

fisiologis suatu zat atau kondisi medik umum dan tidak 

hanya terjadi selama suatu gangguan mood, gangguan

psikotik, atau gangguan perkembangan pervasif.

Gangguan Obsesif Kompusif

Gangguan obsesif-kompulsif yaitu  salah satu gangguan

mental yang sering mengikis sumber daya maupun energi

penderitadalammenghadapikehidupannyasehari-hari.Penderita

gangguan obsesif-kompulsif tersiksa oleh pikiran-pikiran yang

terus-menerus memaksanya melakukan tindakan tertentu secara

berulang tanpa ia kehendaki. Pikiran yang terus berulang dan

sulit ditepis ini yang disebut sebagal obsesi. Bila pikiran ini sudah

diwujudkan dalam bentuk tindakan berulang -yang sebenarnya

tidak perlu- ini disebut kompulsi. Penderita biasanya menyadari

bahwa tindakannya berlebihan dan menghambat aktivitas sehari￾hari. Mencuci tangan terus-menerus, membuka dan mengunci

pintu hingga puluhan kali sebelum tidur, berjalan bolak-balik

setiap hari melewati tempat tertentu dan dengan cara melangkah

yang agak aneh pula, menganggukkan kepala puluhan kali ke

arah tembok dan mengusap tembok sebelum meninggalkan

rumah yaitu  beberapa contoh yang mungkin dilakukan.

Betapa banyak waktu dan biaya yang terbuang percuma

karena penderita “harus” melakukan ritual yang menyiksa

dan kurang masuk akal ini. Namun, kesadaran penderita akan

ketidakefektifan perilakunya tak secara otomatis membuatnya

mampu melepaskan diri dari tindakan-tindakan aneh ini. Ada

kalanya usaha yang keras menghindarkan gangguan pikiran

seperti ini justru mengakibatkan penderita makin terjebak dalam

ritual yang mungkin lebih parah lagi.

Diagnosis Gangguan Obsesif Kompulsif

A. Pikiran obsesi atau kompulsi

Pikiran obsesi

(1) Pikiran-pikiran, impuls atau bayangan-bayangan yang

berulang dan menetap yang dialami, pada suatu saat

selama gangguan, yang intrusif dan tidak sesuai, dan

memicu  kecemasan dan penderitaan yang jelas

(2) Pikiran-pikiran, impuls atau bayangan-bayangan tidak

semata-mata kekhawatiran yang berlebihan tentang

masalah kehidupan yang nyata

(3) Orang tersebut berusaha mengabaikan atau menekan

pikiran, impuls, atau bayangan-bayangan tersebut

untuk menetralkannya dengan pikiran atau tindakan

lain.

(4) Orang tersebut menyadari bahwa pikiran, impuls atau 

bayangan-bayangan obsesional yaitu  keluar dari

pikirannya sendiri.

Kompulsi

(1) Perilaku atau tindakan mental yang berulang yang

dirasakannya mendorong untuk melakukannya sebagai

respons terhadap suatu obsesi, atau menurut dengan aturan

yang harus dipatuhi secara kaku (2) Perilaku atau tindakan mental ditujukan untuk mencegah

atau menurunkan penderitaan atau mencegah suatu

kejadian atau situasi yang manakutkan.

B. Pada suatu waktu selama perjalanan gangguan, orang

tersebut telah menyadari bahwa obsesi atau kompulsinya

berlebihan atau tidak beralasan.

C. Obsesi atau kompulsi memicu  penderitaan yang jelas,

menghabiskan waktu atau secara bermakna mengganggu

rutinitas normal seseorang, fungsi pekerjaan atau aktivitas

atau hubungan sosial yang biasanya.

D. Jika ada  gangguan aksis I lain, isi pikiran obsesif dan

kompulsif tidak terbatas pada gangguan aksis I tersebut.

E. Tidak disebabkan oleh efek langsung suatu zat atau kondisi

medik umum.

Reaksi Stres Akut

Suatu gangguan sementara yang cukup parah yang terjadi

pada seseorang tanpa adanya gangguan jiwa lain yang nyata,

sebagai respons terhadap stres fisik maupun mental yang luar 

biasa dan biasanya menghilang dalam beberapa jam atau hari.

Stresornya dapat berupa pengalaman traumatik yang luar

biasa. Kerentanan individu dan kemampuan menyesuaikan diri

memegang peranan dalam terjadinya dan keparahan suatu reaksi

stres akut.

Pedoman diagnosis reaksi stres akut

A. Orang tersebut dihadapkan pada peristiwa traumatik dan

mengalami kedua hal berikut ini:

(1) Orang tersebut mengalami, menyaksikan atau

dihadapkanpada suatukejadianyangberupa ancaman

kematian atau kematian yang sesungguhnya atau

cedera yang serius, atau ancaman terhadap integritas

fisik diri sendiri atau orang lain

 (2) Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat,

rasa tidak berdaya atau horor.

B. Baik ketika sedang mengalami atau sesudah  mengalami

peristiwa yang menekan, seseorang mengalami tiga (atau

lebih) gejala-gejala disosiatif berikut:

(1) Perasaan subjektif tentang penumpulan perasaan,

terpisah, atau tidak ada respons emosi.

(2) Pengurangan kesadaran tentang lingkungannya

(misalnya, “sedang dalam kebingungan”)

(3) Derealisasi

(4) Depersonalisasi

(5) Amnesia disosiatif(misalnya, ketidakm ampuan untuk

mengingat aspek penting dari suatu peristiwa)

C. Peristiwa traumatik secara menetap dialami kembali berupa

satu (atau lebih) cara berikut: Bayangan, pikiran, mimpi, 

episode kilas balik, atau rasa tertekan bila terpapar oleh hal

yang mengingatkan pada kejadian traumatik.

D. Penghindaran yang menetap terhadap stimulus yang ada

hubungannya dengan trauma (misalnya pikiran, perasan,

percakapan, aktivitas, tempat, orang)

E. Gejala kecemasan yang mencolok

F. Gangguan memicu  penderitaan yang bermakna

secara klinik atau hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan

atau bidang penting lainnya, menurunkan kemampuan

individu untuk melakukan tugas-tugas penting, seperti

mendapatkan bantuan yang diperlukan atau memobilisasi

sumber-sumber pribadi dengan menceritakan kepada

anggota keluarga tentang pengalaman traumatik.

G. Gangguan berlangsung minimum dua hari dan maksimum

empat minggu dan terjadi dalam empat minggu peristiwa

traumatik.

H. Gangguan tidak disebabkan pengaruh fisiologik langsung 

suatu zat (misalnya obat yang disalahgunakan, medikasi)

atau kondisi medik umum, tidak dapat diterangkan sebagai

Gangguan Psikosis Singkat, dan tidak hanya semata-mata

suatu eksaserbasi gangguan pada aksis I atau aksis II.

Gangguan Stres Pasca Trauma

Gangguan stres-pasca trauma terdiri dari pengalaman

kembali trauma melalui mimpi dan pikiran, penghindaran yang

persisten oleh penderita terhadap trauma dan penumpulan

responsivitas pada penderitaan tersebut, kesadaran berlebihan

dan persisten. Gejala penyerta yang sering dari gangguan stres

pasca-trauma yaitu  depresi, kecemasan dan kesulitan kognitif

(contoh pemusatan perhatian yang buruk).

Diagnosis Gangguan Stres Pasca Trauma

A. Orang tersebut dihadapkan pada peristiwa traumatik dan

mengalami kedua hal berikut ini:

(1) Orang tersebut mengalami, menyaksikan atau

dihadapkanpada suatukejadianyangberupa ancaman

kematian atau kematian yang sesungguhnya atau

cedera yang serius, atau ancaman terhadap integritas

fisik diri sendiri atau orang lain.

(2) Respon orang tersebut berupa rasa takut yang kuat,

rasa tidak berdaya atau horor.

B. Peristiwa traumatik secara menetap dialami kembali berupa

satu (atau lebih) cara berikut:

(1) Ingatan yang menimbulkan penderitaan berulang

dan mengganggu tentang kejadian tersebut, termasuk

bayangan, pikiran atau persepsi.

(2) Mimpi menakutkan yang berulang tentang kejadian

(3) Berperilaku atau merasa seakan-akan kejadian

traumatik terjadi kembali

(4) Penderitaan psikologis yang kuat saat terpapar dengan 

tanda internal atau eksternal yang menyimbolkan atau

menyerupai suatu aspek kejadian traumatik. (5) Reaktivitas psikologis saat terpapar dengan tanda

internal atau eksternal yang menyimbolkan atau

menyerupai suatu aspek kejadian traumatik.

C. Penghindaran yang menetap terhadap stimulus yang ada

hubungannya dengan trauma dan responsivitas umum

yang kaku seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih)

hal berikut ini:

(1) Usaha untuk menghindari pikiran, perasaan atau

percakapan yang berhubungan dengan trauma.

(2) Usaha untuk menghindari aktivitas, tempat atau orang

yang mengingatkan pada trauma.

(3) Tidak mampu mengingat aspek penting dari trauma

(4) Hilangnya minat atau peran serta yang jelas dalam 

aktivitas yang bermakna

(5) Perasaan terlepas atau asing dari orang lain

(6) Rentang afek yang terbatas

(7) Perasaan bahwa masa depan menjadi pendek

D. Gejala-gejala menetap yang tidak didapatkan sebelum

terjadinya trauma, berupa dua atau lebih dari hal berikut

(1) Kesulitan untuk masuk tidur atau tetap tertidur

(2) Iritabilitas atau ledakan kemarahan

(3) Sulit berkonsentrasi

(4) Kewaspadaan berlebihan

(5) Respons kejut yang berlebihan

E. Lama gangguan lebih dari satu bulan

F. Gangguan memicu  penderitaan yang jelas, atau

secara bermakna mengganggu fungsi pekerjaan, sosial,

atau fungsi penting lainnya.

Gangguan Penyesuaian

Gangguan penyesuaian yaitu  gejala-gejala emosional dan

perilaku yang timbul sebagai reaksi terhadap stresor yang jelas

dan timbul dalam waktu 3 bulan dari terjadinya stresor. Gejala

ini menetap paling lama 6 bulan sesudah  berakhirnya stresor. Reaksi ini bisa dalam bentuk distres yang jelas melebihi yang

diperkirakan atau terganggunya secara bermakna dalam fungsi

sosial atau pekerjaan.Sumber stres (stresor) termasuk hal-hal

yang berhubungan dengan faktor finansial, penyakit fisik atau 

masalah interpersonal atau intrapersonal.

Diagnosis Gangguan Penyesuaian

A. Perkembangan gejala emosi dan perilaku sebagai respons

terhadap stresor yang dapat diidentifikasi yang terjadi 

selama 3 bulan onset stresor.

B. Gejala-gejala ini atau perilaku secara klinis bermakna,

dibuktikan oleh salah satu kejadian berikut ini:

(1) Penderitaan nyata akibat dari paparan stresor

(2) Hendaya bermakna dalam fungsi sosial dan pekerjaan

(akademik)

C. Gangguanyang berhubungandenganstres tidakmemenuhi

kriteria untuk gangguan aksis I tertentu dan tidak semata￾mata merupakan eksaserbasi dari gangguan aksis I atau

aksis II yang telah ada sebelumnya.

D. Gejala-gejala bukan merupakan bereavement (berkabung)

E. Jika stresor (dan konsekuensinya) telah berakhir, gejala

tidak menetap lebih lama dari 6 bulan.

Subtipe:

Dengan mood depresif

Dengan ansietas

Dengan campuran ansietas dan mood depresi

Dengan gangguan perilaku

Dengan gangguan campuran emosi dan perilaku

Tidak khas (keluhan fisik, penarikan diri secara sosial, 

hambatan bekerja/akademik)

Gangguan Somatoform

Gangguan somatoform yaitu  suatu kelompok gangguan

yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan

pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang

adekuat. Gejala dan keluhan somatik yaitu  cukup serius untuk

memicu  penderitaan emosional yang bermakna pada

pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi

di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis

gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa

faktor psikologis yaitu  suatu penyumbang besar untuk onset,

keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform yaitu 

gangguan yang tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari

atau gangguan buatan.

Ada lima gangguan somatoform yang spesifik yaitu :

1. Gangguan somatisasi, ditandai oleh banyak keluhan fisik 

yang mengenai banyak sistem organ.

2. Gangguan konversi, ditandai oleh satu atau dua keluhan

neurologis.

3. Hipokondriasis, ditandai oleh fokus gejala yang lebih

ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita

penyakit tertentu.

4. Gangguan dismorfik tubuh, ditandai oleh kepercayaan 

palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu

bagian tubuh mengalami cacat.

5. Gangguan nyeri, ditandai oleh gejala nyeri yang semata￾mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara

bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Somatisasi

A. Riwayat banyak keluhan fisik yang dimulai sebelum usia 

30 tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun

dan membutuhkan terapi, yang memicu  gangguan

bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau fungsi

penting lain.

B. Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, dengan gejala

individual yang terjadi pada sembarang waktu selama

perjalanan gangguan:

1. Empat gejala nyeri : riwayat nyeri yang berhubungan 

dengan sekurangnya empat tempat atau fungsi yang

berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi,

anggota gerak, dada, rektum, selama menstruasi,

selama hubungan seksual, atau selama miksi)

2. Dua gejala gastrointestinal : riwayat sekurangnya dua 

gejala gastrointestinal selain nyeri (misalnya mual,

kembung, muntah selain dari selama kehamilan, diare,

atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)

3. Satu gejala seksual : riwayat sekurangnya satu gejala 

seksual atau reproduktif selain dari nyeri (misalnya

indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,

menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi

berlebihan, muntah sepanjang kehamilan).

4. Satu gejala pseudoneurologis : riwayat sekurangnya 

satu gejala atau defisit yang mengarahkan pada 

kondisi neurologis yang tidak terbatas pada nyeri

(gejala konversi seperti gangguan koordinasi atau

keseimbangan, paralisis atau kelemahan setempat,

sulit menelan atau benjolan di tenggorokan, afonia,

retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri,

pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala

disosiatif seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran

selain pingsan).

C. Salah satu (1) atau (2) :

1. sesudah  penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam

kriteria B tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh

sebuah kondisi medis umum yang dikenal atau

efek langsung dan suatu zat (misalnya efek cedera,

medikasi, obat, atau alkohol)

2. Jika ada  kondisi medis umum, keluhan fisik atau 

gangguan sosial atau pekerjaan yang ditimbulkannya

yaitu  melebihi apa yang diperkirakan dan

riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan 

laboratorium.

D. Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat

(seperti gangguan buatan atau pura-pura).

Kriteria diagnostik untuk Gangguan Konversi

A. Satu atau lebih gejala atau defisit yang mengenai fungsi 

motorik volunter atau sensorik yang mengarahkan pada

kondisi neurologis atau kondisi medis lain.

B. Faktor psikologis dipertimbangkan berhubungan dengan

gejala atau defisit karena awal atau eksaserbasi gejala atau 

defisit yaitu  didahului oleh konflik atau stresor lain.

C. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau 

dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura￾pura).

D. Gejala atau defisit tidak dapat, sesudah  penelitian yang 

diperlukan, dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis

umum, atau oleh efek langsung suatu zat, atau sebagai

perilaku atau pengalaman yang diterima secara kultural.

E. Gejala atau defisit memicu  penderitaan yang 

bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial,

pekerjaan, atau fungsi penting lain atau memerlukan

pemeriksaan medis.

F. Gejala atau defisit tidak terbatas pada nyeri atau disfungsi 

seksual, tidak terjadi semata-mata selama perjalanan

gangguan somatisasi, dan tidak dapat diterangkan dengan

lebih baik oleh gangguan mental lain.

Sebutkan tipe gejala atau defisit :

- Dengan gejala atau defisit motorik

- Dengan gejala atau defisit sensorik

- Dengan kejang atau konvulsi

- Dengan gambaran campuran

Kriteria Diagnostik untuk Hipokondriasis

A. Pereokupasi dengan ketakutan menderita, atau ide bahwa

ia menderita suatu penyakit serius didasarkan pada

interpretasi keliru orang tersebut terhadap gejala­gejala

tubuh.

B. Preokupasimenetapwalaupuntelahdilakukanpemeriksaan

medis yang tepat dan penentraman.

C. Keyakinan dalam kriteria A tidak memiliki intensitas

waham (seperti gangguan delusional, tipe somatik) dan

tidak terbatas pada kekhawatiran tentang penampilan

(seperti pada gangguan dismorfik tubuh).

D. Preokupasi memicu  penderitaan yang bermakna

secara kilnis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,

atau fungsi penting lain.

E. Lama gangguan sekurangnya 6 bulan.

F. Preokupasitidakdapatditerangkanlebihbaikolehgangguan

kecemasan umum, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan

panik, gangguan depresif berat, cemas perpisahan, atau

gangguan somatoform lain.

Sebutkan jika :

Dengan tilikan buruk : jika untuk sebagian besar waktu 

selama episode berakhir, orang tidak menyadari bahwa

kekhawatirannya tentang menderita penyakit serius yaitu 

berlebihan atau tidak beralasan.

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Dismorfik Tubuh

A. Preokupasi dengan bayangan cacat dalam penampilan.

Jika ditemukan sedikit anomali tubuh, kekhawatiran orang

tersebut yaitu  berlebihan dengan nyata.

B. Preokupasi memicu  penderitaan yang bermakna

secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,

atau fungsi penting lainnya.

C. Preokupasi tidak dapat diterangkan lebih baik oleh

gangguan mental lain (misalnya, ketidakpuasan dengan

bentuk dan ukuran tubuh pada anorexia nervosa).

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Nyeri

A. Nyeri pada satu atau lebih tempat anatomis merupakan

pusat gambaran klinis dan cukup parah untuk memerlukan

perhatian klinis.

B. Nyeri memicu  penderitaan yang bermakna secara

klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lain.

C. Faktor psikologis dianggap memiliki peranan penting

dalam onset, kemarahan, eksaserbasi atau bertahannya

nyeri.

D. Gejala atau defisit tidak ditimbulkan secara sengaja atau 

dibuat-buat (seperti pada gangguan buatan atau berpura￾pura).

E. Nyeri tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan

mood, kecemasan, atau gangguan psikotik dan tidak

memenuhi kriteria dispareunia.

Tuliskan seperti berikut : 

Gangguan nyeri berhubungan dengan faktor psikologis :

faktor psikologis dianggap memiliki peranan besar dalam onset,

keparahan, eksaserbasi, dan bertahannya nyeri.

Sebutkan jika :

- akut, durasi kurang dari 6 bulan

- kronik, durasi 6 bulan atau lebih

Gangguan nyeri berhubungan baik dengan faktor 

psikologls maupun kondisi medis umum.

Sebutkan jika :

- akut, durasi kurang dari 6 bulan

- kronik, durasi 6 bulan atau lebih

Diagnostik untuk Gangguan Somatoform yang Tidak 

Digolongkan

A. Satu atau lebih keluhan fisik (misalnya 

kelelahan, hilangnya nafsu makan, keluhan

gastrointestinal atau saluran kemih)

B. Salah satu (1) atau (2) :

1. sesudah  pemeriksaan yang tepat, gejala tidak dapat

dijelaskan sepenuhnya oleh kondisi medis umum

yang diketahui atau oleh efek langsung dan suatu zat

(misalnya efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)

2. Jika ada  kondisi medis umum yang berhubungan,

keluhan fisik atau gangguan sosial atau pekerjaan 

yang ditimbulkannya yaitu  melebihi apa yang

diperkirakan menurut riwayat penyakit, pemeriksaan

fisik, atau temuan laboratonium.

C. Gejala memicu  penderitaan yang bermakna secara

klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan, atau

fungsi penting lainnya.

D. Durasi gangguan sekurangnya enam bulan.

E. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh

gangguan mental lain (misalnya gangguan somatoform,

disfungsi seksual, gangguan mood, gangguan kecemasan,

gangguan tidur, atau gangguan psikotik).

F. Gejala tidak ditimbulkan dengan sengaja atau dibuat-buat

(seperti pada gangguan buatan atau berpura-pura)

Retardasi Mental

Retardasi mental merupakan suatu keadaan

perkembangan mental yang terhenti atau tidak lengkap,yang

terutama ditandai oleh terjadinya hendaya keterampilan

selamamasa perkembangan, sehingga berpengaruh pada tingkat

kecerdasansecara menyeluruh, seperti kemampuan kognitif,

bahasa, motorik, dansosial.Retardasi mental dapat terjadi

dengan atau tanpa gangguan jiwaatau gangguan fisik lainnya.

Retardasi mantal merupakan bagian dari individu yang memiliki

kebutuhankhusus.Adapun cirinya yaitu  memiliki kecerdasan di

bawah rata-rata,sehingga kemampuan akademiknya mengalami

keterlambatan jikadibandingkan dengan individu normal yang

seusianya.Individu kurang dapatmenyesuaikan diri terhadap

lingkungan sosial, dan miskin dalamperbendaharaan kata.

Namun, individu memiliki perkembangan fisik yangsama 

dengan anak normal pada umumnya.

Kriteria diagnosis untuk retardasi mental Menurut PPDGJ III:

1. Fungsi intelektual umum secara bermakna dibawah rata￾rata IQ 70 atau lebih rendah pada tes yang dilakukan

individual (pada bayi karena tes intelegensi yang tersedia

tidak dapat dinilai dengan angka, fungsi intelektual rata￾rata dapat dibuat berdasarkan pertimbangan klinik).

2. Bersamaan dengan itu, ada  kekurangan atau hendaya

dalam perilaku adaptif yang dipertimbangkan menurut

umur dan budaya.

3. Timbul sebelum usia 18 tahun

Ketentuan subtipe retardasi mental meliputi:

Ringan Taraf IQ : 50-69

Sedang Taraf IQ : 35-49

Berat Taraf IQ : 20-34

Sangat Berat Taraf IQ : dibawah 20

Lainnya

bilapenilaiandaritingkatretardasimentaldenganmemakai

prosedur biasa sangat sulit atau tidak mungkin dilakukan karena

adanya gangguan sensorik atau fisik misalnya buta, bisu tuli dan 

penderita yang perilakunya terganggu berat atau fisiknya tidak 

mampu.

Yang Tidak Tergolongkan (unspecified) 

bilajelasada retardasimental,tetapitidakadainformasi

yang cukup untuk menggolongkannya dalam salah satu kategori

tersebut diatas.Untuk klasifikasi yang tidak tergolongkan 

dipakai apabila ada  dugaan kuat adanya retardasi mental

tetapi individu tidak dapat dites dengan tes intelegensi standar

karena gangguannya terlalu berat atau mereka tidak kooperatif

untuk dites.Keadaan ini dapat terjadi pada anak, remaja atau

dewasa.Pada bayi karena tes yang tersedia tidak menghasilkan

nilai IQ menurut angka, maka penggolongan kedalam diagnosis

ini dapat juga dilakukan bila ada  pertimbangan klinik yang

menunjukkan fungsi intelektual dibawah rata-rata.

Gangguan Seksual

Gangguan seksual merupakan perilaku seksual yang

destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain, yang tidak dapat

di arahkan kepada seseorang pasangan, yang diluar stimulasi

organ seks primer, dan yang di sertai dengan rasa bersalah

dan kecemasan yang tidak sesuai, atau konfulsif. Gangguan

ini merupakan suatu penyimpangan perilaku seksual yang

disebut dengan parafilia.Parafilia yaitu  dorongan seksual yang 

mendalam dan berulang yang menimbulkan fantasi seksual yang

difokuskan pada objek yang bukan pada manusia saja, penderita

atau penghinaan diri sendiri atau partnernya, atau anak-anak

atau orang-orang yang tidak mengizinkan. Parafilia di golongkan 

kriteria tingkat ringan yaitu bila penderita hanya mengalami

dorongan parafilia yang kuat tetapi tidak melakukannya.Di

anggap sedang bila melakukan kadang- kadang dan di anggap

berat bila berulang-ulang dilakukan.

Jenis-jenis parafilia:

a. Pedofilia

yaitu  kelainan seks dengan melakukan seksual untuk

memenuhi hasratnya dengan cara menyetubuhi (pencabulan)

anak-anak dibawah umur. Hal ini dilakukan oleh orang dewasa

(16 tahun keatas) terhadap anak-anak secara seksual belum

matang (biasanya dibawah 13 tahun).Hampir semua yang

mengalami gangguan ini yaitu  pria.Untuk menarik perhatian

anak, penderita bertingkah laku baik misalnya sangat dermawan

ada juga yang berperilaku kasar dan mengancam.

Umumnya penderita pedopilia yaitu  orang yang takut

gagal dalam berhubungan secara normal terutama menyangkut

hubungan seks dengan wanita yang berpengalaman. Akibatnya

ia mengalihkan pada anak-anak karena kepolosan anak tidak

mengancam harga dirnya. Disamping itu ketika anak-anak,

perilaku meniru dari model atau contoh yang buruk. Ada tiga

macam penggangu dalam berfantasi:

1. pengganggu situasional (situasional molester) yaitu

mempunyai perkembangan dan perhatian seksual yang

normal, tetapi keadaan tertentu seperti stress timbul

keinginan seksual terhadap anak dan sesudah  melakukan

merasa tertekan.

2. pengganggu yang menjadi pilihan (preference

molester) merupakan kepribadian dan gaya hidupnya.

3. pemerkosa anak merupakan perbuatan dari dorongan

seksual yang bersifat musuh.

b. Exibionisme

yaitu  dorongan untuk mendapatkan stimulasi dan

kepuasan seksual atau untuk membangkitkan fantasi-fantasi

dengan memperlihatkan alat genital terhadap orang yang tidak

dikenal.

c. Voyeurisme

Berasal dari bahasa prancis yaitu kata ‘voir’ artinya melihat,

yaitu untuk mendapatkan kepuasan dengan cara melihat organ

seks orang lain atau orang yang sedang melakukan katifitas 

seksual, yang tidak menyadari seseorang sedang di intip.

d. Sadomasokisme

Istilah sadisme berasal dari marquis de sade seorang penulis

pada abad ke delapan belas, ia menggambarkan seorang tokoh

yang memperoleh kepuasan seks dengan menyiksa pasangannya

secara kejam, sadisme seksual yaitu  kepuasan seksual didapat

dari aktifitas atau dorongan menyakiti pasangan. Siksaan bisa 

secara fisik (menendang, memperkosa, dan memukul) maupun 

psikis (menghina, memaki-maki), penderitaan korban inilah

yang bisa membuatnya merasa bergairah dan puas.

e. Masokhisme

gangguan ini memiliki ciri mendapatkan kegairahan dan

kepuasan seksual yang didapat dari perangsangan dengan cara

diperlakukan secara kejam baik secara fisik maupun psikis. 

Perlakuan kejam bisa dilakukan sendiri atau dilakukan oleh

pasangannya.

f. Fetisisme

Ciri utama gangguan ini yaitu  penderita menggunakan

benda sebagai cara untuk menimbulkan gairah atau kepuasan

seksual, benda yang umum digunakan yaitu  benda aksesoris

milik wanita misalnya pakaian dalam wanita, sepatu, kaus kaki

dll.

g. Transvestisme

Gangguan ini hanya terjadi pada laki-laki yang perilakunya

seperti wanita, gambaran utamanya yaitu  penderita

mendapatkan gairah atau kepuasan seksual bila ia berpakaian

seperti lawan jenisnya, ketika seang berpakaian seperti wanita,

penderita melakukan masturbasi lalu sambil membayangkan

seoran laki-laki tertarik pada dirinya sebagai seorang wanita.

h. Zofilia

Gangguan ini juga disebut dengan Bestiality, ciri utamanya

yaitu  penderita mendapatkan gairah atau kepuasan seksual

dengan cara melakukan kegiatan seksual dengan binatang.

i. Froterisme

Ciriutamagangguaniniyaitu doronganuntukmenyentuh,

meremas-ramas dan menggesek-gesekkan organ seks kepada

orang tak dikenal, penderita umumnya senang berada ditempat

yang penuh sesak dimana ia bisa melarikan diri dengan mudah,

bisanya yang menjadi korban yaitu  wanita yang sangat menarik

dengan pakaian yang sangat ketat.

j. Homoseksual

Homoseksual yaitu penderita memilih pasangan seksual

yang sama jenis dengan dirinya yaitu pria dengan pria dan wanita

dengan wanita (lesbian).Dikatakan sebagai gangguan apabila

mereka merasa tidak nyaman dengan hubungan yang terjadi.

Disfungsi Seksual

Disfungsi seksual merupakan gangguan seksual yang

bukan disebabkan oleh penyakit organik, namun sebagai sindrim

perilaku yang berhubungan dengan gangguan fisiologis dan 

faktor fisik

a. Gangguan keinginan seksual yaitu kurangnya atau

tidak adanya keinginan untuk melakukan hubungan

seks. Hilangnya gairah seks bisa bersifat global maupun

situasional. Yang global, penderita bisa tidak mempunyai

gairah sama sekali bahkan dalam bentuk fantasi sekalipun,

contohnya wanita trauma pasca korban pemerkosaan.

Sedangkan yang situasional yaitu terjadi pada laki￾laki berdasarkan situasi psikologisnya aman. Untuk

mendiagnosaperludiperhatikanfaktorusia,ketidakpuasan

seks, lingkungan yang menimbulkan ketidak inginan untuk

berhubungan seks dan frekuensi hubungan seks.

b. Gangguan hasrat seksual ditandai oleh defisiensi atau 

tidak adanya fantasi seksual dan hasrat untuk aktivitas

seksual. Ciri utamanya yaitu  kegagalan untuk mencapai

atau mempertahankan arousal atau excitement dalam

berhubungan seks.Pada wanita gangguan ini disebut

frigiditas yang ditandai tidak tercapainya lubrikasi

(pelumasan) dan membuka vagina.

c. Orgasme terhambat (Inhibited Orgasm)

Ciri utamanya yaitu  penderita tidak mencapai fungsi

orgasme, gangguan ini bisa terjadi pada pria maupun

wanita.

d. Ejakulasi dini (premature ejaculation)

Ciri utamanya yaitu  penderita tidak mampu mengontrol

atau mengendalikan ejakulasi selama aktifitas seks 

berlangsung.

e. Dispareunia (Dyspareunia)

Ciri utama yaitu  penderita mengalami kesakitan selama

berhubungan seksual.Gangguan ini terjadi pada wanita,

gangguan ini bisa disebabkan oleh faktor organis misalnya

adanya infeksi pada vagina dan cervic.

f. Vaginismus

Ciri utamanya yaitu  terjadinya spasme atau kontraksi

otot pada vagina yang sangat kuat sehingga mengganggu

senggama.